24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan

Jaswanto by Jaswanto
July 23, 2024
in Ulas Pentas
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan

Tari Wiranjaya Sanggar Wahana Santhi | Foto: Jaswanto

DI panggung bagian utara, di sisi kiri patung Singa Ambara Raja, para penabuh gong kebyar Sanggar Wahana Santhi dari Desa Umejero, Busungbiu, Buleleng, menempati posisi masing-masing. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan yang masih muda. Campur. Menjunjung kesetaraan khas zaman baru yang keluar dari sekat-sekat norma lama yang membatasi perempuan.

Sedangkan, masih di panggung yang sama, di sisi kanan patung tersebut, penabuh-penabuh muda dari Sanggar Seni Santhi Budaya Singaraja juga sudah berada di posisi masing-masing. Kedua sanggar tersebut, Wahana Santhi dan Santhi Budaya, bersiap untuk mebarung dalam pagelaran Festival Kebyar Kasih Pertiwi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB di Taman Bung Karno Singaraja, Minggu (21/7/2024) malam.

Penabuh perempuan Sanggar Wahana Santhi | Foto: Son

Lampu sorot mengarah ke sisi kiri, di mana penabuh Sanggar Wahana Santhi berada. Penonton bergeming. Menunggu gamelan kebyar dimainkan. Dan dengan sekali entakan, Tabuh Kreasi Palguna Warsa dimainkan. Tabuh ini menjadi pembuka gong mebarung malam itu.

Palguna Warsa, sebagaimana sinopsis yang dibacakan pembawa acara sebelum pertunjukan dimulai, diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1968. Secara kompositorik, komposisi ini dirangkai oleh interupsi tekstur gineman yang terfragmentasi ke dalam kelompok melodi singkat kontra-siklis.

Seakan tak mau kalah, setelah Palguna Warsa—komposisi gubahan ketiga yang dibawakan dengan tekstur kebyar, setelah sebelumnya Wayan Lotring mengaransemen komposisi yang sama untuk ensambel palegongan itu—dituntaskan, penabuh Santhi Budaya menyambutnya dengan Tabuh Suara Bang.

Penabuh Sanggar Seni Santhi Budaya | Foto: Son

Tabuh tersebut diciptakan oleh Wayan Gede Arnawa pada tahun 2005. Suara Bang terinspirasi dari tabuh-tabuh pemungkah, seperti Jaya Semara untuk memberi kesan semangat, berani, singkat, padat, dan tegas dalam mengawali suatu acara. Dalam tabuh ini, ada gerakan-gerakan dan sorakan-sorakan dari penabuh. Sepertinya itu tak sekadar tempelan, tapi penggenap semangat suka-cita yang barangkali menjadi karakter tabuh ini.

Setelah sama-sama memainkan satu tabuh, kini saatnya kedua sanggar menampilkan tari-tarian. Masing-masing sanggar mementaskan dua tarian. Sanggar Wahana Santhi memilih Tari Mregapati (1942) karya Nyoman Kaler dan Tari Wiranjaya karya Ketut Merdana. Sedangkan Santhi Budaya mementaskan Tari Tenun (1957) karya I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes dan Tari Trunajaya karya Gde Manik.

Tari Mregapati | Foto: Jaswanto

Di atas panggung, para penari dan penabuh saling unjuk kebolehan. Fokus dan tak ingin membuat kesalahan. Anak-anak muda itu bersuka-cita memainkan karya-karya yang mereka warisi dari seniman terhahulu.

Ya, tak ada karya baru yang dipentaskan malam itu. Hanya saja komposisi Wiranjaya yang ditampilkan adalah hasil rekonstruksi dari rekaman yang dilakukan oleh seorang etnomusikolog UCLA bernama Ruby Ornstein di Desa Kedis tahun 1964.

Tari Tenun | Foto: Jaswanto

Bebas yang Dibatasi

Karena mementaskan karya “warisan” seniman di masa lalu, para penabuh dan penari itu—pula pembinanya—tentu saja tak benar-benar “berkreasi” kecuali pada tampilan fisik—itu pun masih dalam batas-batas tertentu.

Mereka hanya menampilkan pengulangan-pengulangan dari materi yang sudah ada—atau boleh jadi sudah selesai? Yang tak lagi membutuhkan penggalian untuk mencipta diskursus baru? Bukankah salah satu ketakutan terbesar seniman adalah berhentinya kreativitas dalam menciptakan karya selanjutnya?

Tetapi hal tersebut barangkali tak sungguh benar. Pada sinopsis Tari Wiranjaya, misalnya, Wahana Santhi berusaha mencipta narasi yang mengagetkan dan berani, anggap saja begitu, setelah tegangan antarkelompok kesenian di Singaraja atas bentuk utuh Wiranjaya yang sebenar-benarnya baru saja agak mereda—walaupun tampaknya kata damai jauh panggang dari api karena antarkelompok sama-sama memiliki tafsir.

Tari Wiranjaya | Foto: Jaswanto

Coba simak tiga paragraf di bawah ini:

Perkenalkan, namaku “Wiranjaya”. 77 tahun lalu aku disegani dalam bentuk paripurnaku sebagai Kebyar Buleleng Dauh Enjung, dilahirkan dari rahim seorang ibu yang hanya bertuhan pada waktu, namun selalu diributkan oleh pewarisnya.

Apa daya, ibuku dizalimi waktu, sekadar untuk pulang ke Rumah Abadi. Hari ini, setelah sekian tahun lamanya dari kelahiran baru, ibuku mati lagi untuk kedua kalinya—mati tak kuasa menahan malu. Malu karena tersandra perlakuan saudaraku.

Jika kalian ingin tahu siapa aku, datanglah pada waktu—karena pada dasarnya sikap dan pendirian mereka yang menceritakanku tergantung sepenuhnya oleh waktu.

Dalam hal ini, secara tersurat narasi Wahana Santhi di atas dapat dimaknai sebagai penanda atas penerimaan akan hal baru (artinya penggalian atas Wiranjaya belum sepenuhnya final), tetapi secara tersirat kita dapat melihat bahwa mereka juga tak benar-benar berani mengatakannya, terlebih jika melihat konstum penari mereka malam itu.

Tari Trunajaya | Foto: Jaswanto

Tentu narasi tersebut dapat ditafsir-ganda (multi-interpretation), dengan dimaknai sebagai perjalanan, dan juga dapat dimaknai sebagai petanda akan Wiranjaya yang bergelimang pengaruh hingga berliput paradoks.

Jika kita mengikuti perkembangan wacana Tari Wiranjaya belakangan ini, mudah saja kita mengetahui ke mana arah narasi itu hendak ditujukan. Tetapi itu barangkali juga sebatas kemungkinan. Hanya si pembuat narasi-lah yang benar-benar tahu hendak dibawa ke mana wacana tersebut.

Saya kira, mohon maaf jika saya salah, seniman muda Buleleng hari ini sedang mencari kebenaran atau kebaruan—atau katakanlah menyingkap keutuhan Wiranjaya sebagai salah satu contoh—dalam kondisi yang kontras, antara kungkungan dan kebebasan. Bebas menafsir sekaligus dibatasi “klaim” atas nama gelar akademik, trah keluarga, atau ketokohan seseorang. Perbedaan kondisi tersebut dapat dibaca sebagai konstelasi zaman yang berubah.

Singkat kata, Wiranjaya terasa sangat membingungkan, bercampur baur tanpa kesadaran, hingga pada titik paradoks. Dan naasnya, dengan bangga beberapa orang memetik paradoksal tersebut tanpa daya kritis yang menyertainya.[T]

“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB
Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi
Membicarakan Kembali Identitas Musikal Dangin Njung dan Dauh Njung di Bali Utara
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja
Wayan Gde Yudane, Burung Phoenix dan Gong Kebyar – Catatan Jelang “Mebarung” di Singaraja
Tags: Balai Pelestarian KebudayaanBPK Wilayah XV Bali-NTBFestival Kebyar Kasih Pertiwigong mebarungSanggar Seni Santhi BudayaSanggar Wahana Santhi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menunggu Kiprah DPR Baru untuk Benahi Pariwisata

Next Post

Arja “Alas Langit Peteng”: Manis & Pangus — Catatan TA Mahasiswa Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Arja “Alas Langit Peteng”: Manis & Pangus — Catatan TA Mahasiswa Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Arja “Alas Langit Peteng”: Manis & Pangus -- Catatan TA Mahasiswa Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co