23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan by Ananda Sukarlan
April 27, 2024
in Esai
JOKPINIANA | Obituari dari Ananda Sukarlan

Joko Pinurbo | Majalah Tempo

SEBAGAI komponis yang “kebiasaan” mengobrak-abrik puisi orang untuk menjadikannya musik, sebetulnya saya belum merasa puas mengutak-utik puisi Joko Pinurbo. Well, banyak sih puisinya yang saya jadikan musik, hanya saja beberapa puisi itu menjadi satu karya utuh, dan bukan “tembang puitik” seperti yang biasa saya bikin, tapi karya untuk paduan suara.

Saya ingat, tahun 2009 paduan suara Institut Teknologi Bandung meminta saya untuk membuat suatu karya yang “beda” (yahhh, apa sih yang diharapkan dari saya, kecuali memang musik saya cukup “beda” hahaha) untuk mereka nyanyikan di kompetisi di dalam dan luar negeri.

Nah, karena saya pikir saya harus lebih beda lagi daripada musik-musik beda saya yang lain, saya mencari puisi yang beda. Jatuhlah pilihan saya ke puisi-puisi Joko “Jokpin” Pinurbo. Dan bukan satu puisi, tapi banyak puisi yang semua sangat-sangat pendek. Salah satunya hanya satu baris: “Ayo buku, baca mataku!” Dan judul karya saya, karena terdiri dari banyak puisi Jokpin, tentu tidak bisa mengambil judul salah satu saja dari puisinya. Jadilah “Jokpiniana no. 1”.

Jokpiniana no. 1 ini adalah eksperimen saya yang cukup memuaskan secara artistik, karena saya “belajar sesuatu yang baru” yang tidak bisa dipelajari sebelumnya, hanya bisa “learning by doing”. Ibaratnya saya pergi ke hutan yang asing tanpa bekal, tanpa peta (karena memang hutan itu belum dipetakan), dan belajar survival dengan mempelajari situasi hutan itu.

Saya bilang eksperimen karena saya mencoba menggabungkan beberapa puisi yang saling tidak berhubungan, dan itu tidak mudah, dan berpotensi …. well, tambal sulam. Saya rasa belum pernah ada karya musik klasik seperti ini, dan hanya Joko Pinurbo yang bisa menyediakan material untuk hal ini. Sama sekali tidak ada model untuk saya pelajari sebelumnya. Sekarang, banyak penyair yang sudah meniru Jokpin, walaupun tentu dengan karakter artistik yang tidak sekuat Jokpin. Maunya beda, tapi jadi semuanya sama.

Bisnis urusan beda-beda dengan puisi Jokpin yang bisa dibilang sukses ini membuat beberapa paduan suara lain meminta saya untuk membikin karya serupa, sehingga jadilah Jokpiniana no. 2 dan 3. Itu sebabnya saya jarang sekali memainkan puisi Jokpin di berbagai konser piano saya, karena memang saya tidak pernah menggubah puisinya menjadi Tembang Puitik, yang artinya untuk satu solo vokal diiringi instrumen (biasanya piano).

Saya selalu buat untuk paduan suara, karena puisinya menyediakan ruang untuk bermain dengan efek antifonal paduan suara tersebut. Ehhh, pernah kok saya bikin tembang puitik! Dua puisi pendeknya yang nyeleneh, “Naik Bus di Jakarta” dan “Kekasihku” (yang mulai dengan “pacar kecil duduk manis di jendela”), bisa dicari saja dengan kata kunci itu di YouTube.

Dalam karya-karya paduan suara serial “Jokpiniana”, cara saya menggunakan motif adalah dengan bereksperimen dengan distorsi, seperti yang dilakukan Pablo Picasso misalnya di lukisan “Les Demoiselles d’Avignon”, yang merepresentasikan objek yang terfragmentasi secara radikal. Pendekatan inovatif ini memecah komponen-komponen unsur musik (yang berasal dari unsur puisi Joko Pinurbo) menjadi beberapa segi tersendiri, menghadirkan beberapa aspek berbeda pada satu objek (bisa berupa melodi, atau progresi harmoni, atau pola ritme) dari berbagai sudut secara bersamaan.

Saya juga menyandingkan atmosfir yang berbeda, seringkali kontras, (sekali lagi, berasal dari beberapa puisi dengan “mood” yang kontras) sambung-menyambung. Yang ingin saya tekankan berulang kali, terutama kepada para penulis dan kritikus yang selalu salah memahami cara berpikir kreatif saya, adalah bahwa saya tidak sekadar membaca puisi kata demi kata dan menjadikannya melodi.

Proses saya beda sekali dengan “musikalisasi puisi” yang cukup populer di Indonesia. Saya berkonsentrasi pada warna dan suasana puisi secara keseluruhan. Begitu saya mendapatkan musiknya, kata-kata (atau frasa) menjadi (agak) kurang penting.

Meski demikian, saya tidak pernah menggunakan unsur fonetik di luar puisi: misalnya, kata “dang” dan “dut” di Jokpiniana no. 1 itu memang ada dalam puisi “Dangdut” itu sendiri. Saya hanya menggunakannya sebagai elemen independen, memperlakukannya murni sebagai bunyi dan bukan sebagai kata yang mempunyai makna. Saya selalu menganggap penyair hebat sebagai pelukis hebat: mereka tahu bagaimana memilih kata yang tepat untuk “cat” sebagai bahan untuk membuat gambarnya.

Jadi, jangan salah paham: kata-kata individual adalah hal yang paling penting bagi saya di awal proses kreatif, tetapi menjadi sekunder dalam hasil sebuah karya musik. Lukisan yang bagus tidak hanya dibuat dengan warna primer, bukan?

Kehebatannya terletak pada cara sang pelukis memadukan warna, dan bagaimana hasilnya dapat mengungkapkan apa yang ingin ia komunikasikan kepada pengamatnya (dan pendengar, dalam kasus saya dan para komponis lain). Dan Jokpin menyediakan kekuatan itu: dengan fonetik yang unik, ia dapat mengekspresikan suasana dengan sangat mengena. Bingung? Coba deh dengarkan saja Jokpiniana no. 1, kalau dengar musiknya, semua penjelasan ini pasti jadi jelas: https://www.youtube.com/watch?v=vkC4V3fWDWk

Sebetulnya saya juga sangat tertarik dengan bukunya “Perjamuan Khong Guan”, tapi belum sempat membuat apa-apa dari situ. Sejak puisi-puisi awalnya seperti di kumpulan puisi “Celana” sampai tahun-tahun terakhir ini, puisi-puisi Joko Pinurbo selalu tentang memutarbalikkan kehidupan sehari-hari menjadi renungan yang lucu dan menyindir secara linguistik. Tragedi dan komedi menyatu dengan harmonis.

Kini, dengan keseharian kita tidak lepas dari gadget, intisarinya dapat dilihat pada sebagian besar puisinya di Perjamuan Khong Guan: dari bagian pertama hingga terakhir, meratapi kegilaan terhadap smartphone dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan komunikasi kita—dengan orang-orang nyata dalam kehidupan nyata. Sang penyair juga menyentil situasi negara kita yang tidak bisa dikatakan “baik-baik saja”. Dan kebanyakan dalam puisi yang berdurasi yang (sangat) singkat. Seperti usianya, sayangnya, yang meninggalkan kita di usia 61 tahun.

Yang saya menyesal adalah saat saya ke Jogja terakhir kali, bulan Februari lalu. Memang niat saya adalah untuk “nyepi” karena saya harus menulis bagian dari opera baru saya yang cukup kompleks (dan intens sih karena temanya tentang perdagangan manusia).

Dari stasiun kereta saya langsung menuju ke tempat nyepi saya yang ternyata enak banget, di tepi sawah (saya ga kasih tau namanya ya, nanti rame deh semua penulis mau kesana hahaha) dan selama seminggu itu semua janjian bertemu teman dan semua orang akhirnya batal karena fokus saya ke komposisi opera itu.

Saya dengar bahwa Jokpin sakit baru setelah saya balik ke Jakarta, itu pun belum parah. Terakhir saya bertemu dengannya ya sebelum pandemi. Yah, penyesalan selalu datang belakangan, kalau duluan namanya pendaftaran…

Salam buat para idola saya di surga: Pak Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Emily Dickinson, Federico Garcia Lorca, dll. Ya, Joko Pinurbo. Berbahagialah bersama mereka yang telah membuat dunia ini lebih indah saat meninggalkannya.[T]

————————————

Ananda Sukarlan adalah Komponis dan pianis, seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin. Semangat inovasinya “terdeteksi” pada tahun 2000 oleh surat kabar Sydney Morning Herald yang menulisnya sebagai “Salah satu pianis terkemuka di dunia yang berada di garis depan dalam memperjuangkan musik piano baru”.

Ananda dianugerahi penghargaan sipil tertinggi di Italia “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” dari Presiden Sergio Mattarella, dan pada tahun 2022 ditunjuk sebagai pendiri dan direktur artistik G20 Orchestra yang menjadi warisan Indonesia di bidang budaya untuk G20. Selain itu, Yang Mulia Raja Felipe VI dari Spanyol juga menganugerahkan gelar Orden of Merit Real Oficial Orden de Isabel la Catolica kepada Ananda Sukarlan tahun 2003.

Ia adalah komponis Indonesia yang paling banyak menciptakan genre “Tembang Puitik” baik dari para penyair berbahasa Inggris, Spanyol, dan kini ratusan puisi dari penyair Indonesia: Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo sampai generasi muda seperti Ewith Bahar, Emi Suy, Muhammad Subhan dan puluhan lainnya.

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo
Menemukan Semangat Berkarya Melalui “Srimenanti” Joko Pinurbo
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci
Tags: in memoriamJoko Pinurboobituari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”

Next Post

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan

Komponis dan pianis, seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin. Semangat inovasinya "terdeteksi" pada tahun 2000 oleh surat kabar Sydney Morning Herald yang menulisnya sebagai "Salah satu pianis terkemuka di dunia yang berada di garis depan dalam memperjuangkan musik piano baru".

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co