6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenyataannya, Manusia itu Menipu Diri Sendiri – Sentilan dari Pemikiran Sigmund Freud

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi dari google

MEMBAHAS struktur dan sistem tata pola perilaku pada manusia, beberapa ahli dan cendekiawan, utamanya dalam bidang psikologi sangatlah beragam. Beberapa mengajukan susunan yang agaknya sangatlah mengkhayal, beberapa juga mengatakannya dengan berdasarkan sejumlah data-data agar dapat lebih disebut empiris, katanya. Namun pada dasarnya, semua adalah usaha untuk lebih memahami dan mencari rahasia unik dalam diri manusia dan patut kita telaah lebih-lebih kita kritisi dan koreksi.

Dalam salah satu aliran psikologi yang dipelopori oleh seorang dokter asal Austria yang lebih dikenal dengan nama Sigmend Freud, aliran tersebut sering disebut sebagai aliran psikoanalisa. Dalam aliran psikoanalisa, perilaku manusia adalah suatu tindakan yang tibul dari proses interaksi dan hasil kerja dari ketiga sistem yang ada pada manusia. Ketiganya terbentuk dari kedua sisi manusia, yaitu sisi sosial dan sisi individual manusia sendiri. Ketiga struktur sistem tersebut adalah Id, Ego, dan Super Ego.

Beberapa orang bisa saja salah mengartikan ketiga hal tersebut, misalnya (contoh yang paling banyak) mereka mengartikan dan menganggap bahwa id hanya sebatas dorongan seksual saja, pada kenyataannya hal itu sangatlah dapat dibilang terlalu sederhana. Id sendiri secara simpel adalah dorongan dasar kemanusian yang menjadi pemicu terjadinya perilaku dan tindakan manusia. Sebagai contoh adalah hal seperti lapar, haus, keinginan seksual, dan hal-hal lain semacam keinginan lainnya. Dari sanalah titik awal timbulnya perilaku, jika dilogikakan, saat manusia merasa lapar mereka akan sesegera mungkin atau paling tidak bagaimana caranya manusia akan menghilangkan rasa laparnya. Nah, rasa lapar yang menjadi titik awal dan pemicu timbulnya perilaku itulah yang dinamakan dengan id.

Walaupun id adalah sumber dan titik mula timbulnya perilaku, akan tetapi id tidak bisa merealisasikan keinginannya (dorongan) dalam bentuk kenyataan. Id hanya sebatas dorongan, sebagaimana keinginan hanya akan menjadi keinginan tanpa adanya tindakan. Saya tegaskan lagi, id hanya sekedar dorongan, dia tidak tahu bagaimana cara memenuhinya. sebab pada dasarnya, prinsip id adalah prinsip kesenangan (pleasure principle) dan memiliki sifat untuk sesegera mungkin dapat dipenuhi dan menghindari kesengsaraan. Kesengsaraan di sini dapat dipahami sebagai ketidakpuasan, sebab kembali lagi pada prinsip id yaitu prinsip kesenangan atau kepuasan. Semisal ketika dorongan dari id datang, contohkan saja lapar, akan tetapi pada kenyataannya ketika dalam usaha memenuhi dorongan tersebut (lapar) ternyata ada masalah semisal katakan saja mulut sakit gara-gara sariawan, maka dorongan yang datang dari id itu akan “memaksa” agar sebisa mungkin menghindari sakitnya mulut yang pada contoh tadi itu adalah ketidakpuasan.

Dikarenakan id tidak tahu cara memenuhi dorongannya, karena memang id hanya sekedar dorongan, maka urutan kedua dari ketiga struktur sistem tadi adalah ego. Di siniah ego yang bertugas dan berfungsi sebagai pengeksekusi dan pelaksana dari segala dorongan yang datang dari id tadi. Ego banyak dimaknai sebagai akal pikir secara simpel. Ego akan mengeksekusi dan akan menjalankan segala dorongan yang datang dari id.

Sebagaimana kata orang-orang, cinta itu buta, tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya, kalau sudah rindu berarti sebisa mungkin untuk bisa bertemu. Begitu pula id, id juga tidak ikut campur dan tidak tahu-menahu apa yang ada di sekitarnya, entah itu makanan haram, entah itu makanan halal, kalau sudah lapar maka sesegera mungkin doronan itu untuk dipenuhi. Id memang lebih condong pada sisi individualitas kemanusiaan. Sebab manusia selain makhluk yang individualis, mereka juga menyandang pangkat sebagai makhluk yang sosialis, juga berhubungan dan berinteraksi dengan sesama, terikat hukum-hukum sekitar. Maka sisi sosial yang berupa hukum-hukum dan moral yang dianut dan ada disekitar tadi itu adalah super ego, urutan terakhir dari ketiga sistem tadi.

Id berhak dan memang harus dipenuhi setiap dorongannya. Akan tetapi satu sistem lain yang disebut super ego menuntut agar pengaplikasian dan pelaksanaan dorongan-dorongan id agar sebisa mungkin dapat ditempatkan sebenar-benarnya dan disesuaikan, dalam artian dilaksanakan pada waktu dan tepat yang benar menurut super ego. Super ego juga bisa diartikan sebagai peraturan-peraturan “secara sederhana” yang terbentuk dari sitem sosial dan hal lain semacamnya yang dianut. Jadi, ketika tuntutan dari id datang semisal lapar yang harus dipenuhi, di sisi lain super ego juga menuntut agar tidak melewati batas-batas aturan yang telah ditetapkannya. Ketika dorongan id berupa rasa lapar datang, maka ego akan mengintruksikan agar mencari nasi (misalnya), kemudian setelah menemukan nasi, super ego akan berkata “apakah nasi itu berhak dimakan atau tidak” sebagai suatu alasan “kemanusiaan” yang biasa disebut moral, maka ego juga akan melaksanakan tugas sebagai pengerem dan penghabat laju dari dorongan id agar tidak melewati pagar-pagar super ego.

Seperti biasa, manusia, demi sesuatu yang dinamakan kedamaian dan ketentraman, mereka membuat aturan dan batasan-batasan sesuka hati dan kemauan mereka, yah, hitung-hitung demi dan sebagai makhluk yang dikatakan beradab-lah. Sedikit mengutip ungkapan seorang filsuf yang berkata bahwa “manusia adalah hewan yang berkal”. Dari sini, seorang teman pernah berkata atau paling pas mengajukan sebuah pertanyaan, apa sih bedanya binatang dan hewan, dia pun menjawabnya sendiri bahwa kata ‘binatang’ adalah suatu ungkapan untuk menyatakan hewan yang selain manusia. Yah, toh manusia sebenarnya secara kebanyakan atau bisa saja semuanya tidak akan mau kalau dikatakan hewan.

Kembali lagi ke Freud, bahwa kedua sistem tersebut antara id dan super ego sama-sama menuntut, antara sisi individualitas dan sisi sosial bertarung, maka penengah antara kedua kubu itu agar tidak terjadi konflik adalah sistem yang kedua, yaitu ego. Ego selain bertugas untuk memenuhi tuntutan id juga memenuhi agar tidak melampaui batasan-batasan dari super ego. Secara sederhana tugas ego adalah menjembatani antara id dan super ego agar tidak terjadi konflik baik salah satu ataupun keduanya.

Dalam pertumbuhan antara ke tiganya id lah yang timbul terlebih dahulu, sebab dia hanya sekedar dorongan, maka id sudah tumbuh dan berkembang sejak baru lahir dari tahap petumbuhan manusi. Baru setelah akal pikirnya mulai berkembang ego juga turut berkembang. Kemudian setelah interaksi antar manusia dan sesamanya mulai berkembang, di sanalah super ego kemudaian timbul.

Jika diibaratkan antara id, ego, dan super ego, sama halnya dengan sebuah jembatan. Satu ujung bernama id dan yang satu lagi disebut super ego. Lantas yang berperan sebagai jembatan yang menghubungkan antara keduanya adalah ego. Sebagai suatu entitas yang bebas bergerak dan juga penengah agar kedua sisi tidak terjadi konflik yang berakibatkan suatu kekacauan yang akan berimbas pada abnormalitas tingkah laku manusia.

Sebagai entitas dan aspek yang menjadi penengah, ego haruslah memiliki sejumlah strategi untuk menyelaraskan dan menyamaratakan antara tuntutan kedua belah pihak. Strategi itulah yang Freud sebut sebagai defense mechanism (mekanisme pertahanan ego). Mekanisme tersebut terdiri dari 9 macam.

Toh, walaupun ada pendapat-pendapat yang mengatakan ada lebih dari 9 macam mekanisme, pada intinya mekanisme-mekasnisme itu yang digunakan ego sebagai strategi sekalugus senjata “perdamaian” antara kedua kubu. Represi, regresi, reaksi formasi, rasionalisasi, sublimasi, kompensasi, dan semacamnya adalah macam-macam defense mechanism dari ego.

Semisal dalam contoh pendemonstrasian sublimasi bahwa seorang petinju menjadi petinju misalnya, dikarenakan menekan atau mengarahkan ke arah lain dorongan-dorongan id yang ada pada dirinya yang berupa keinginan untuk memukul orang lain. Keinginan untuk memukul orang lain yang menjadi suatu dorongan id kemudian dibelokkan oleh mekanisme ego yang berupa sublimasi agar tidak terjadi konflik dengan super ego yang bahwasanya dalam moral dan akhlak sosial, berkelahi dan memukul orang tanpa adanya suatu sebab tidaklah dibenarkan.

Contoh lain dalam hal kompensani, bahwa ketika seorang yang tidak punya uang alias kere, melihat temannya berangkat kuliah pakai speda motor, toh sepedanya hanya sekedar sepeda Vega R 110 cc tahun 2003 dan dia menyadari bahwa dia adalah orang kere, mau gebet cewek muka pas-pasan, uang pun tak ada, maka dia mengkompensasi alias memikirkan hal-hal kelebihan dalam dirinya, alias menutupi kesadarannya bahwa dia hidup dalam keadaaan yang pas-pasan dan kere dengan pikiran-pikiran bahwa bukan hanya itu yang dilihat dari hidup seseorang, muka boleh jelek, harta boleh kere, tapi dia bilang bahwa otak berani diadu.

Dua sistem merupakan hal yang ada dan tidak bisa dikendalikan oleh manusia, yaitu id yang merupakan dorongan-dorongan dasar kemanusian yang memang ada diluar kehendak manusia, kemudian yang satu adalah sistem yang terbentuk akibat interaksi dan hubungan-hubungan sosial dan juga dapat dikatakan bukan kehendak setiap individu, maka hal satu-satunya yang bisa manusia kendalikan dan atur adalah ego.

Dengan sedemikian rupa mekanisme yang dihadirkan oleh ego, apakah bukan merupakan suatu ungkapan yang benar bahwa manusia itu pada kenyataannya menipu diri sendiri? Bukan hanya menipu diri sendiri, akan tetapi menipu diri sendiri dengan dirinya sendiri. Manusia digambarkan oleh Freud sebagai wadah suatu konflik, yaitu konflik antara tuntutan id dan super ego, dan ego merupakan aktor super hero yang mendamaikan antara keduanya. Sebuah teori yang barangkali sangat dramatis dari seorang ilmuwan ternama. Terimakasih. (T)

Tags: PendidikanPengetahuanPsikologiSigmund Freud
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Saya Penonton Sepak Bola atau Suporter Pilkada?

Next Post

Menerka Nasib Drama Gong Lewat Koetkoetbi

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post

Menerka Nasib Drama Gong Lewat Koetkoetbi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co