24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menerka Nasib Drama Gong Lewat Koetkoetbi

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Ulasan

Pementasan Drama Gong dengan judul Koetkoetbi oleh Kampung Seni Banyuning di Pesta Kesenian Bali 23 Juni 2017./ Foto=foto: Agus Wiryadhi Saidi

KOETKOETBI dan Ragoesa melarikan diri! Mereka lari ke tengah hutan yang kian lama kian terasa kelam. Sepasang kekasih yang tengah mengenyam pendidikan di pesraman Mpu Agni itu terus saja berlari. Memburu nafas, menanggalkan cemas di setiap depa langkah pelariannya. Alih-alih sampai di muara hutan, yang datang justru sosok Mpu Agni sendiri, yang cemburu atas hubungan mereka. Ragoesa dibunuh. Koetkoetbi dikutuk membatu. Mpu Agni pun memilih menjelma batu. Sampai tiba suatu masa, seseorang berhasil melepaskan kutukan dan Mpu Agni kembali menjadi manusia, kembali untuk merebut hati Koetkoetbi.

Sebagai adegan pembuka drama gong, tentu akan terasa asing bagi penonton dengan cerita “Koetkoetbi” karya Ir. Soekarno. Mungkin tak banyak pula yang tahu, sosok Ir. Soekarno, bapak proklamator juga merupakan seorang seniman teater. Ia kerap menulis drama dan mementaskan pertunjukan terutama saat masa pengasingannya di Ende dan Bengkulu.

Ini tentu menjadi daya tarik penonton untuk menikmati drama gong yang digarap oleh Teater Kampung Seni Banyuning, Buleleng dalam acara PKB ke-39 di Kalangan Madya Mandala Art Centre, Denpasar, 23 Juni 2017 lalu. Putu Satriya Kusuma sang sutradara, mengadaptasi naskah “Koetkoetbi” dalam bahasa Bali dengan judul “Koetkoetbi:  Pengwales Bangke Idup”.

Selama tiga jam, penonton dibuat mengikuti alur cerita. Selama itu pula, para pemain dengan sabar merajut satu persatu adegan. Rasa penasaran akan cerita dijaga begitu ketat dan rapi. Dalam hal ini, plot dan perkembangan karakter tokoh di atas panggung menjadi momen berharga yang ditawarkan para pemain kepada penontonnya.

Tokoh Koetkoetbi yang diperankan Ayu Damayanti misalnya, pada babak pertama tampak bermain begitu kalem, polos, dan mendayu. Ia menjadi Koetkoetbi, perempuan yang begitu lemah mengahadapi kuasa Mpu Agni, gurunya sendiri, yang ingin menikahinya.

Sedang di pertengahan adegan, Ayu berubah 180 derajat. Pasca terlepas dari kutukan batu 500 tahun kemudian, ia menjadi sangat liar, sadis, dan berapi-api. Gesture, vocal, dan mimik wajah Ayu mampu membius penonton kendati berhadapan langsung dengan pemain senior seperti Sugita yang berperan Mpu Agni dan Nengah Wijana sebagai Dokter Amir. Pengembangan karakter ini terjadi pula pada Ketut Warta yang berperan sebagai tokoh Dokter Muzaki, yang secara tak sengaja melepaskan kutukan batu Koetkoetbi. Ia yang semula ramah sekaligus takut pada kekasih, seketika berubah menjadi tangkas dan gagah berani semenjak diguna-gunai oleh Koetkoetbi.

Tawaran akting seperti ini, sejatinya bukanlah barang baru dalam dunia pemanggungan khususnya dalam teater modern. Sayangnya, hal serupa begitu jarang ditemui dalam teater tradisi saat ini. Para pemain pada umumnya seolah begitu nyaman dengan temuan karakter masing-masing dan segala improvisasi yang dimiliki. Padahal, jika ada sedikit saja kesadaran dalam mencermati struktur dramatik teks dan karakterisasi penokohan, tentu akan menambah wawasan sekaligus memperkaya kosatubuh, tawaran akting, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang sekiranya menjadi tawaran baru buat penonton menikmati pentas.

Tiga Kemungkinan

Dari pentas drama gong “Koetkoetbi” Teater Kampung Seni Banyning itu, setidaknya ada tiga hal yang dapat dicermati dan menjadi kemungkinan dalam pengembangan drama gong.

Yang pertama adalah bentuk pemanggungan. Gaya Bali Utara boleh jadi mendominasi bentuk permainan jika dilihat dari pilihan backdrop lukisan yang berganti di setiap babak, penggunaan bahasa kepara yang dilakukan pemainnya, serta penyikapan kostum dan pola permainan yang cenderung realis. Putu Satriya pun juga membuka ruang bermain dengan kemungkinan gaya lain dalam pertunjukannya. Seperti pola alienasi brechtian, yang dilakukan saat para pemain  meminta batuan sekaa gong karena kesulitan menggotong Mpu Agni yang berubah batu. Juga saat Mpu Agni meminta tanggapan penonton apakah dirinya melakukan hal yang benar atau salah. Semua itu adalah usaha membuat penonton sadar bahwa yang ditontonnya hanyalah sebuah pentas.

Putu Satriya sendiri sebagai sutradara pun tak bisa dikata berdiri sendiri. Setidaknya, sebagai seorang peteater kawakan yang mencecap begitu banyak panggung di tingkat daerah dan nasional, tentu begitu banyak refrensi pertunjukan, bacaan yang ia miliki. Meski tak semuanya terasa secara gamblang dan harafiah, namun semua itu juga tak bisa dipungkiri kehadirannya. Elemen-elemen ini saling jalin menjalin, kait mengkait menjadi pertunjukan yang begitu apik.

Kedua adalah naskah. Suatu hal yang menarik bila mencermati semangat Teater Kampung Seni Banyuning dalam mengembangkan pola Drama Gong masa kini terutama soal naskah. Setahun yang lalu, di Kalangan Ayodya pada event yang sama, mereka mengadaptasi novel “Sukreni Gadis Bali” karya A.A Panji Tisna menjadi drama gong dalam rangka merespon Bali yang tak mengenal identitasnya sendiri. Kini, adaptasi juga dilakukan menggunakan naskah drama Ir. Soekarno yang semula bahasa Indonesia, menjadi bahasa Bali. Masalah utama bukanlah semata-mata persoalan adaptasi teks saja. Melainkan bagaimanakah agar teks menemukan konteksnya. Sejauh manakah perjuangan sekaa drama gong mampu membawa penonton ke dalam lapisan kontemplasi pertunjukan.

Pentas Koetkoetbi karya Ir. Soekarno kali ini, telah mengingatkan kita pada perjuangan generasi terdahulu membentuk dasar negara pancasila di tengah konflik rasisme terhadap agama yang melanda Indonesia sekarang. Pada adegan akhir, diceritakan Koetkoetbi mati karena dendam masa lalunya sendiri, Mpu Agni mati karena keserakahannya. Posisi Tuhan dalam konteks ini sama-sama menghukum mereka tanpa  memerdulikan siapa dan apa agama yang dipunya.

Ketiga, pembinaan terhadap pemain. Menyaksikan drama gong Koetkoetbi, adalah menyaksikan pluraritas kesenian Bali. Yang Utara dan yang Selatan, yang tua dan yang muda, yang tradisi dan yang modern, semua saling  rangkul jadi satu panggung. Menariknya, semua itu dijembatani bukan karena kepiawaian improvisasi semata. Melainkan kesadaran memahami naskah, memainkannya, serta saling membagi wawasan dan pengalaman satu sama lain. Ini tak akan pernah terjadi hanya dengan satu dua kali latihan saja. Teater Kampung Seni Banyuning membawa kita pada pemahaman drama gong sebagai sebuah seni proses, seni tumbuh dan berkembang antarsesama pemainnya. Bukan cuma seni ngebanyol asal penonton bisa ketawa, sebagaimana yang diamini oleh pertunjukan pada umumnya.

Titik Kulminasi

Drama gong, yang sejak tahun 50-an berdiri sejatinya merupakan titik kulminasi, pertemuan kesenian tradisi dan modern. Semua menjadi satu, berbaur dalam estetika tradisi yang berangkat dari rakyat sekaligus mengemban semangat dan pemikiran modern, yang saat itu telah menjadi sumber gerakan pembaharuan dalam kesenian di Bali.

Pada PKB XXXIX ini, kita cukup beruntung menyaksikan semangat sejarah kesenian drama gong kembali hidup dalam acara Parade Drama Gong se-Bali, khususnya dalam pentas “Koetkoetbi”. Pertanyaan selanjutnya, mampukah drama gong berjalan terus melintasi zaman. Selalu berbenah dan menggenapi hal-hal yang dirasa kurang, atau akan tetap menunggu uluran tangan pemerintah dalam setiap proyek kesenian? Berharap selalu dikasihi lewat celetukannya yang membumi, “Drama Gong jani sube sekarat. Sing ada anak ane ngupah!” Betapa ironisnya, jika drama gong yang dulu kerap mengocok perut penonton, kini jadi bahan olok-olok pemainnya sendiri. (T)

Singaraja, 2017

Tags: bulelengdrama gongPesta Kesenian Baliseni pertunjukanSoekarno
Share48TweetSendShareSend
Previous Post

Kenyataannya, Manusia itu Menipu Diri Sendiri – Sentilan dari Pemikiran Sigmund Freud

Next Post

“Dag Dig Dug” Sebelum Main “HP” – Curhat Kecil Aktris Monolog Pemula

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Dag Dig Dug” Sebelum Main “HP” – Curhat Kecil Aktris Monolog Pemula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co