13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menerka Nasib Drama Gong Lewat Koetkoetbi

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Ulasan

Pementasan Drama Gong dengan judul Koetkoetbi oleh Kampung Seni Banyuning di Pesta Kesenian Bali 23 Juni 2017./ Foto=foto: Agus Wiryadhi Saidi

KOETKOETBI dan Ragoesa melarikan diri! Mereka lari ke tengah hutan yang kian lama kian terasa kelam. Sepasang kekasih yang tengah mengenyam pendidikan di pesraman Mpu Agni itu terus saja berlari. Memburu nafas, menanggalkan cemas di setiap depa langkah pelariannya. Alih-alih sampai di muara hutan, yang datang justru sosok Mpu Agni sendiri, yang cemburu atas hubungan mereka. Ragoesa dibunuh. Koetkoetbi dikutuk membatu. Mpu Agni pun memilih menjelma batu. Sampai tiba suatu masa, seseorang berhasil melepaskan kutukan dan Mpu Agni kembali menjadi manusia, kembali untuk merebut hati Koetkoetbi.

Sebagai adegan pembuka drama gong, tentu akan terasa asing bagi penonton dengan cerita “Koetkoetbi” karya Ir. Soekarno. Mungkin tak banyak pula yang tahu, sosok Ir. Soekarno, bapak proklamator juga merupakan seorang seniman teater. Ia kerap menulis drama dan mementaskan pertunjukan terutama saat masa pengasingannya di Ende dan Bengkulu.

Ini tentu menjadi daya tarik penonton untuk menikmati drama gong yang digarap oleh Teater Kampung Seni Banyuning, Buleleng dalam acara PKB ke-39 di Kalangan Madya Mandala Art Centre, Denpasar, 23 Juni 2017 lalu. Putu Satriya Kusuma sang sutradara, mengadaptasi naskah “Koetkoetbi” dalam bahasa Bali dengan judul “Koetkoetbi:  Pengwales Bangke Idup”.

Selama tiga jam, penonton dibuat mengikuti alur cerita. Selama itu pula, para pemain dengan sabar merajut satu persatu adegan. Rasa penasaran akan cerita dijaga begitu ketat dan rapi. Dalam hal ini, plot dan perkembangan karakter tokoh di atas panggung menjadi momen berharga yang ditawarkan para pemain kepada penontonnya.

Tokoh Koetkoetbi yang diperankan Ayu Damayanti misalnya, pada babak pertama tampak bermain begitu kalem, polos, dan mendayu. Ia menjadi Koetkoetbi, perempuan yang begitu lemah mengahadapi kuasa Mpu Agni, gurunya sendiri, yang ingin menikahinya.

Sedang di pertengahan adegan, Ayu berubah 180 derajat. Pasca terlepas dari kutukan batu 500 tahun kemudian, ia menjadi sangat liar, sadis, dan berapi-api. Gesture, vocal, dan mimik wajah Ayu mampu membius penonton kendati berhadapan langsung dengan pemain senior seperti Sugita yang berperan Mpu Agni dan Nengah Wijana sebagai Dokter Amir. Pengembangan karakter ini terjadi pula pada Ketut Warta yang berperan sebagai tokoh Dokter Muzaki, yang secara tak sengaja melepaskan kutukan batu Koetkoetbi. Ia yang semula ramah sekaligus takut pada kekasih, seketika berubah menjadi tangkas dan gagah berani semenjak diguna-gunai oleh Koetkoetbi.

Tawaran akting seperti ini, sejatinya bukanlah barang baru dalam dunia pemanggungan khususnya dalam teater modern. Sayangnya, hal serupa begitu jarang ditemui dalam teater tradisi saat ini. Para pemain pada umumnya seolah begitu nyaman dengan temuan karakter masing-masing dan segala improvisasi yang dimiliki. Padahal, jika ada sedikit saja kesadaran dalam mencermati struktur dramatik teks dan karakterisasi penokohan, tentu akan menambah wawasan sekaligus memperkaya kosatubuh, tawaran akting, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang sekiranya menjadi tawaran baru buat penonton menikmati pentas.

Tiga Kemungkinan

Dari pentas drama gong “Koetkoetbi” Teater Kampung Seni Banyning itu, setidaknya ada tiga hal yang dapat dicermati dan menjadi kemungkinan dalam pengembangan drama gong.

Yang pertama adalah bentuk pemanggungan. Gaya Bali Utara boleh jadi mendominasi bentuk permainan jika dilihat dari pilihan backdrop lukisan yang berganti di setiap babak, penggunaan bahasa kepara yang dilakukan pemainnya, serta penyikapan kostum dan pola permainan yang cenderung realis. Putu Satriya pun juga membuka ruang bermain dengan kemungkinan gaya lain dalam pertunjukannya. Seperti pola alienasi brechtian, yang dilakukan saat para pemain  meminta batuan sekaa gong karena kesulitan menggotong Mpu Agni yang berubah batu. Juga saat Mpu Agni meminta tanggapan penonton apakah dirinya melakukan hal yang benar atau salah. Semua itu adalah usaha membuat penonton sadar bahwa yang ditontonnya hanyalah sebuah pentas.

Putu Satriya sendiri sebagai sutradara pun tak bisa dikata berdiri sendiri. Setidaknya, sebagai seorang peteater kawakan yang mencecap begitu banyak panggung di tingkat daerah dan nasional, tentu begitu banyak refrensi pertunjukan, bacaan yang ia miliki. Meski tak semuanya terasa secara gamblang dan harafiah, namun semua itu juga tak bisa dipungkiri kehadirannya. Elemen-elemen ini saling jalin menjalin, kait mengkait menjadi pertunjukan yang begitu apik.

Kedua adalah naskah. Suatu hal yang menarik bila mencermati semangat Teater Kampung Seni Banyuning dalam mengembangkan pola Drama Gong masa kini terutama soal naskah. Setahun yang lalu, di Kalangan Ayodya pada event yang sama, mereka mengadaptasi novel “Sukreni Gadis Bali” karya A.A Panji Tisna menjadi drama gong dalam rangka merespon Bali yang tak mengenal identitasnya sendiri. Kini, adaptasi juga dilakukan menggunakan naskah drama Ir. Soekarno yang semula bahasa Indonesia, menjadi bahasa Bali. Masalah utama bukanlah semata-mata persoalan adaptasi teks saja. Melainkan bagaimanakah agar teks menemukan konteksnya. Sejauh manakah perjuangan sekaa drama gong mampu membawa penonton ke dalam lapisan kontemplasi pertunjukan.

Pentas Koetkoetbi karya Ir. Soekarno kali ini, telah mengingatkan kita pada perjuangan generasi terdahulu membentuk dasar negara pancasila di tengah konflik rasisme terhadap agama yang melanda Indonesia sekarang. Pada adegan akhir, diceritakan Koetkoetbi mati karena dendam masa lalunya sendiri, Mpu Agni mati karena keserakahannya. Posisi Tuhan dalam konteks ini sama-sama menghukum mereka tanpa  memerdulikan siapa dan apa agama yang dipunya.

Ketiga, pembinaan terhadap pemain. Menyaksikan drama gong Koetkoetbi, adalah menyaksikan pluraritas kesenian Bali. Yang Utara dan yang Selatan, yang tua dan yang muda, yang tradisi dan yang modern, semua saling  rangkul jadi satu panggung. Menariknya, semua itu dijembatani bukan karena kepiawaian improvisasi semata. Melainkan kesadaran memahami naskah, memainkannya, serta saling membagi wawasan dan pengalaman satu sama lain. Ini tak akan pernah terjadi hanya dengan satu dua kali latihan saja. Teater Kampung Seni Banyuning membawa kita pada pemahaman drama gong sebagai sebuah seni proses, seni tumbuh dan berkembang antarsesama pemainnya. Bukan cuma seni ngebanyol asal penonton bisa ketawa, sebagaimana yang diamini oleh pertunjukan pada umumnya.

Titik Kulminasi

Drama gong, yang sejak tahun 50-an berdiri sejatinya merupakan titik kulminasi, pertemuan kesenian tradisi dan modern. Semua menjadi satu, berbaur dalam estetika tradisi yang berangkat dari rakyat sekaligus mengemban semangat dan pemikiran modern, yang saat itu telah menjadi sumber gerakan pembaharuan dalam kesenian di Bali.

Pada PKB XXXIX ini, kita cukup beruntung menyaksikan semangat sejarah kesenian drama gong kembali hidup dalam acara Parade Drama Gong se-Bali, khususnya dalam pentas “Koetkoetbi”. Pertanyaan selanjutnya, mampukah drama gong berjalan terus melintasi zaman. Selalu berbenah dan menggenapi hal-hal yang dirasa kurang, atau akan tetap menunggu uluran tangan pemerintah dalam setiap proyek kesenian? Berharap selalu dikasihi lewat celetukannya yang membumi, “Drama Gong jani sube sekarat. Sing ada anak ane ngupah!” Betapa ironisnya, jika drama gong yang dulu kerap mengocok perut penonton, kini jadi bahan olok-olok pemainnya sendiri. (T)

Singaraja, 2017

Tags: bulelengdrama gongPesta Kesenian Baliseni pertunjukanSoekarno
Share48TweetSendShareSend
Previous Post

Kenyataannya, Manusia itu Menipu Diri Sendiri – Sentilan dari Pemikiran Sigmund Freud

Next Post

“Dag Dig Dug” Sebelum Main “HP” – Curhat Kecil Aktris Monolog Pemula

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Dag Dig Dug” Sebelum Main “HP” – Curhat Kecil Aktris Monolog Pemula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co