23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenyataannya, Manusia itu Menipu Diri Sendiri – Sentilan dari Pemikiran Sigmund Freud

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi dari google

MEMBAHAS struktur dan sistem tata pola perilaku pada manusia, beberapa ahli dan cendekiawan, utamanya dalam bidang psikologi sangatlah beragam. Beberapa mengajukan susunan yang agaknya sangatlah mengkhayal, beberapa juga mengatakannya dengan berdasarkan sejumlah data-data agar dapat lebih disebut empiris, katanya. Namun pada dasarnya, semua adalah usaha untuk lebih memahami dan mencari rahasia unik dalam diri manusia dan patut kita telaah lebih-lebih kita kritisi dan koreksi.

Dalam salah satu aliran psikologi yang dipelopori oleh seorang dokter asal Austria yang lebih dikenal dengan nama Sigmend Freud, aliran tersebut sering disebut sebagai aliran psikoanalisa. Dalam aliran psikoanalisa, perilaku manusia adalah suatu tindakan yang tibul dari proses interaksi dan hasil kerja dari ketiga sistem yang ada pada manusia. Ketiganya terbentuk dari kedua sisi manusia, yaitu sisi sosial dan sisi individual manusia sendiri. Ketiga struktur sistem tersebut adalah Id, Ego, dan Super Ego.

Beberapa orang bisa saja salah mengartikan ketiga hal tersebut, misalnya (contoh yang paling banyak) mereka mengartikan dan menganggap bahwa id hanya sebatas dorongan seksual saja, pada kenyataannya hal itu sangatlah dapat dibilang terlalu sederhana. Id sendiri secara simpel adalah dorongan dasar kemanusian yang menjadi pemicu terjadinya perilaku dan tindakan manusia. Sebagai contoh adalah hal seperti lapar, haus, keinginan seksual, dan hal-hal lain semacam keinginan lainnya. Dari sanalah titik awal timbulnya perilaku, jika dilogikakan, saat manusia merasa lapar mereka akan sesegera mungkin atau paling tidak bagaimana caranya manusia akan menghilangkan rasa laparnya. Nah, rasa lapar yang menjadi titik awal dan pemicu timbulnya perilaku itulah yang dinamakan dengan id.

Walaupun id adalah sumber dan titik mula timbulnya perilaku, akan tetapi id tidak bisa merealisasikan keinginannya (dorongan) dalam bentuk kenyataan. Id hanya sebatas dorongan, sebagaimana keinginan hanya akan menjadi keinginan tanpa adanya tindakan. Saya tegaskan lagi, id hanya sekedar dorongan, dia tidak tahu bagaimana cara memenuhinya. sebab pada dasarnya, prinsip id adalah prinsip kesenangan (pleasure principle) dan memiliki sifat untuk sesegera mungkin dapat dipenuhi dan menghindari kesengsaraan. Kesengsaraan di sini dapat dipahami sebagai ketidakpuasan, sebab kembali lagi pada prinsip id yaitu prinsip kesenangan atau kepuasan. Semisal ketika dorongan dari id datang, contohkan saja lapar, akan tetapi pada kenyataannya ketika dalam usaha memenuhi dorongan tersebut (lapar) ternyata ada masalah semisal katakan saja mulut sakit gara-gara sariawan, maka dorongan yang datang dari id itu akan “memaksa” agar sebisa mungkin menghindari sakitnya mulut yang pada contoh tadi itu adalah ketidakpuasan.

Dikarenakan id tidak tahu cara memenuhi dorongannya, karena memang id hanya sekedar dorongan, maka urutan kedua dari ketiga struktur sistem tadi adalah ego. Di siniah ego yang bertugas dan berfungsi sebagai pengeksekusi dan pelaksana dari segala dorongan yang datang dari id tadi. Ego banyak dimaknai sebagai akal pikir secara simpel. Ego akan mengeksekusi dan akan menjalankan segala dorongan yang datang dari id.

Sebagaimana kata orang-orang, cinta itu buta, tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya, kalau sudah rindu berarti sebisa mungkin untuk bisa bertemu. Begitu pula id, id juga tidak ikut campur dan tidak tahu-menahu apa yang ada di sekitarnya, entah itu makanan haram, entah itu makanan halal, kalau sudah lapar maka sesegera mungkin doronan itu untuk dipenuhi. Id memang lebih condong pada sisi individualitas kemanusiaan. Sebab manusia selain makhluk yang individualis, mereka juga menyandang pangkat sebagai makhluk yang sosialis, juga berhubungan dan berinteraksi dengan sesama, terikat hukum-hukum sekitar. Maka sisi sosial yang berupa hukum-hukum dan moral yang dianut dan ada disekitar tadi itu adalah super ego, urutan terakhir dari ketiga sistem tadi.

Id berhak dan memang harus dipenuhi setiap dorongannya. Akan tetapi satu sistem lain yang disebut super ego menuntut agar pengaplikasian dan pelaksanaan dorongan-dorongan id agar sebisa mungkin dapat ditempatkan sebenar-benarnya dan disesuaikan, dalam artian dilaksanakan pada waktu dan tepat yang benar menurut super ego. Super ego juga bisa diartikan sebagai peraturan-peraturan “secara sederhana” yang terbentuk dari sitem sosial dan hal lain semacamnya yang dianut. Jadi, ketika tuntutan dari id datang semisal lapar yang harus dipenuhi, di sisi lain super ego juga menuntut agar tidak melewati batas-batas aturan yang telah ditetapkannya. Ketika dorongan id berupa rasa lapar datang, maka ego akan mengintruksikan agar mencari nasi (misalnya), kemudian setelah menemukan nasi, super ego akan berkata “apakah nasi itu berhak dimakan atau tidak” sebagai suatu alasan “kemanusiaan” yang biasa disebut moral, maka ego juga akan melaksanakan tugas sebagai pengerem dan penghabat laju dari dorongan id agar tidak melewati pagar-pagar super ego.

Seperti biasa, manusia, demi sesuatu yang dinamakan kedamaian dan ketentraman, mereka membuat aturan dan batasan-batasan sesuka hati dan kemauan mereka, yah, hitung-hitung demi dan sebagai makhluk yang dikatakan beradab-lah. Sedikit mengutip ungkapan seorang filsuf yang berkata bahwa “manusia adalah hewan yang berkal”. Dari sini, seorang teman pernah berkata atau paling pas mengajukan sebuah pertanyaan, apa sih bedanya binatang dan hewan, dia pun menjawabnya sendiri bahwa kata ‘binatang’ adalah suatu ungkapan untuk menyatakan hewan yang selain manusia. Yah, toh manusia sebenarnya secara kebanyakan atau bisa saja semuanya tidak akan mau kalau dikatakan hewan.

Kembali lagi ke Freud, bahwa kedua sistem tersebut antara id dan super ego sama-sama menuntut, antara sisi individualitas dan sisi sosial bertarung, maka penengah antara kedua kubu itu agar tidak terjadi konflik adalah sistem yang kedua, yaitu ego. Ego selain bertugas untuk memenuhi tuntutan id juga memenuhi agar tidak melampaui batasan-batasan dari super ego. Secara sederhana tugas ego adalah menjembatani antara id dan super ego agar tidak terjadi konflik baik salah satu ataupun keduanya.

Dalam pertumbuhan antara ke tiganya id lah yang timbul terlebih dahulu, sebab dia hanya sekedar dorongan, maka id sudah tumbuh dan berkembang sejak baru lahir dari tahap petumbuhan manusi. Baru setelah akal pikirnya mulai berkembang ego juga turut berkembang. Kemudian setelah interaksi antar manusia dan sesamanya mulai berkembang, di sanalah super ego kemudaian timbul.

Jika diibaratkan antara id, ego, dan super ego, sama halnya dengan sebuah jembatan. Satu ujung bernama id dan yang satu lagi disebut super ego. Lantas yang berperan sebagai jembatan yang menghubungkan antara keduanya adalah ego. Sebagai suatu entitas yang bebas bergerak dan juga penengah agar kedua sisi tidak terjadi konflik yang berakibatkan suatu kekacauan yang akan berimbas pada abnormalitas tingkah laku manusia.

Sebagai entitas dan aspek yang menjadi penengah, ego haruslah memiliki sejumlah strategi untuk menyelaraskan dan menyamaratakan antara tuntutan kedua belah pihak. Strategi itulah yang Freud sebut sebagai defense mechanism (mekanisme pertahanan ego). Mekanisme tersebut terdiri dari 9 macam.

Toh, walaupun ada pendapat-pendapat yang mengatakan ada lebih dari 9 macam mekanisme, pada intinya mekanisme-mekasnisme itu yang digunakan ego sebagai strategi sekalugus senjata “perdamaian” antara kedua kubu. Represi, regresi, reaksi formasi, rasionalisasi, sublimasi, kompensasi, dan semacamnya adalah macam-macam defense mechanism dari ego.

Semisal dalam contoh pendemonstrasian sublimasi bahwa seorang petinju menjadi petinju misalnya, dikarenakan menekan atau mengarahkan ke arah lain dorongan-dorongan id yang ada pada dirinya yang berupa keinginan untuk memukul orang lain. Keinginan untuk memukul orang lain yang menjadi suatu dorongan id kemudian dibelokkan oleh mekanisme ego yang berupa sublimasi agar tidak terjadi konflik dengan super ego yang bahwasanya dalam moral dan akhlak sosial, berkelahi dan memukul orang tanpa adanya suatu sebab tidaklah dibenarkan.

Contoh lain dalam hal kompensani, bahwa ketika seorang yang tidak punya uang alias kere, melihat temannya berangkat kuliah pakai speda motor, toh sepedanya hanya sekedar sepeda Vega R 110 cc tahun 2003 dan dia menyadari bahwa dia adalah orang kere, mau gebet cewek muka pas-pasan, uang pun tak ada, maka dia mengkompensasi alias memikirkan hal-hal kelebihan dalam dirinya, alias menutupi kesadarannya bahwa dia hidup dalam keadaaan yang pas-pasan dan kere dengan pikiran-pikiran bahwa bukan hanya itu yang dilihat dari hidup seseorang, muka boleh jelek, harta boleh kere, tapi dia bilang bahwa otak berani diadu.

Dua sistem merupakan hal yang ada dan tidak bisa dikendalikan oleh manusia, yaitu id yang merupakan dorongan-dorongan dasar kemanusian yang memang ada diluar kehendak manusia, kemudian yang satu adalah sistem yang terbentuk akibat interaksi dan hubungan-hubungan sosial dan juga dapat dikatakan bukan kehendak setiap individu, maka hal satu-satunya yang bisa manusia kendalikan dan atur adalah ego.

Dengan sedemikian rupa mekanisme yang dihadirkan oleh ego, apakah bukan merupakan suatu ungkapan yang benar bahwa manusia itu pada kenyataannya menipu diri sendiri? Bukan hanya menipu diri sendiri, akan tetapi menipu diri sendiri dengan dirinya sendiri. Manusia digambarkan oleh Freud sebagai wadah suatu konflik, yaitu konflik antara tuntutan id dan super ego, dan ego merupakan aktor super hero yang mendamaikan antara keduanya. Sebuah teori yang barangkali sangat dramatis dari seorang ilmuwan ternama. Terimakasih. (T)

Tags: PendidikanPengetahuanPsikologiSigmund Freud
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Saya Penonton Sepak Bola atau Suporter Pilkada?

Next Post

Menerka Nasib Drama Gong Lewat Koetkoetbi

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post

Menerka Nasib Drama Gong Lewat Koetkoetbi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co