12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saya Penonton Sepak Bola atau Suporter Pilkada?

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi dari google

LAGA leg kedua perempat final Liga Europa yang mempertemukan Liverpool dan Borussia Dortmund di Stadion Anfield, Liverpool, Jumat 15 April 2016 berlangsung dramatis. Gol demi gol tersaji dalam pertandingan penentuan tersebut. Di babak pertama kemenangan bak menjauhi kubu tuan rumah. Klub wakil Jerman Dortmund unggul dua gol lebih dulu melalui Henrikh Mkhitaryan dan Pierre-Emerick Aubameyang. The Reds Liverpool memperkecil skor melalui Divock Origi, namun Dortmund kembali menjauh melalui gol Marco Reus.

Philippe Coutinho memangkas jarak skor menjadi 2-3. Momen ajaib The Redstiba usai Mamadou Sakho menyamakan skor 3-3,Dejan Lovren muncul bak pahlawan melalui golnya di masa injury. Anfield bergemuruh.Skor 4-3 menjadi hasil akhir laga ini. Liverpool melaju ke semifinal dengan skor agregat 5-4. Air mata kekecewaan dan kegembiraan. Rasa kecewa, kesal, duka cita tampak jelas di raut penonton, suporter, followers, fans dan flaneurs sekalipun karena tim kesayangan tersingkir. Sebaliknya, ada wajah-wajah dengan ekspresi senang, gembira, suka cita karena timnya menuju dan tampil di final. Laga itu juga menambah statistik sebagai comebackdramatis Liverpool.

Emosi penonton dan pendukung terkuras sepanjang pertandingan. Pendukung The Redsyang dikenal punya sejarah panjang perjalanan suporter di Inggris tampak antusias menyambut hasil tersebut. Pendukung Dortmund yang dikenal sangat fanatik berlalu meninggalkan stadion.

Di luar pertandingan tersebut, satu momentyang patut dicatat dan akan selalu diingat kedua pendukung Liverpool dan Dortmund. Pemandangan yang membuat hati berdetak kagum dan bergetar. Sebelum kick off, seperti biasanya pendukung The Reds menyanyikan chant You’ll Never Walk Alone (YNWA). Suasana semakin sendu karena hari itu mengenang tragedi Hillsborough 15 April 1989 silam yang menewaskan 96 fans The Reds. Namun bukan hanya pendukung Liverpudlian (sebutan suporter Liverpool) yang bernyanyi, suporter Dortmund bergabung sebagai bentuk solidaritas. Kedua pendukung sepak bola itu seakan tak ada rivalitas. Di dalam stadion bergemuruh bernyanyi bersama. Berdiri dan membentangkan syal. Mereka bersatu tak ada lagi perbedaan, perselisihan, dan persaingan, serta revalitas.

Aksi tersebut menuai respon positif dari dunia sepak bola. FIFA sebagai induk organsasi tertinggi sepak bola menganugerahkan Fan Award at Best FIFA Football Awards. Aksi suporter Liverpool dan Dortmund mengalahkan dua kandidat lainnya. Suporter ADO Den Haag di Eredivisie Belandayang melemparkanhadiah boneka kepada fans Feyenoord. Juga aksi koreografi suporter Islandia pada perempat final EURO 2016.

Di Indonesia pendukung dan suporter sedikit demi sedikit mengubah image, disiplin, tertib menaati peraturan. Mereka menghindari nyanyian bernada rasis dan SARA. Juga jauh dari aksi benturan fisik antarsuporter. Menerima hasil akhir, meski timnya kalah di kandang.

Lalu bagaimana penonton dan pendukung dalam ajang Pilkada?

Penonton Pilkada khususnya Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2017 ini tak ubahnya suporter dalam sepak bola. Pilgub Jakarta tak hayalnya sebuah laga klasik yang harus melibatkan se-nusantara “Pilgub Rasa Pilpres”. Alasan etalase Indonesia menjadi titik poin agar harus mendukung. Apalagi setelah tinggal dua pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang melaju ke putaran kedua.

Pertarungan head to head ini benar-benar menguras emosi bukan hanya masyarakat Jakarta tetapi di pelosok daerah merasakan begitu hebatnya. Kekuatan dan adu strategi dipraktikkan untuk memenangkan calon gubernur (Cagub) dan calon wakil gubernur (Cawagub). Melibat dan dilibatkan masyarakat luas dan para tokoh. Perbincangan calon yang menang dan menjadi orang nomor satu di Jakarta hangat bahkan terasa panas di daerah. Di jalan, rumah makan, bahkan di tempat ibadah membincangkan topik Pilgub Jakarta. Penonton Pilgub DKI Jakarta begitu riuh. Tidak layaknya sebagai penonton, namun telah menjadi simpatisan, suporter, hingga fans.

Mereka yang awalnya berstatus penonton menjelma menjadi suporter yang hampir setiap hari meramaikan media sosial dan media konvensional. Mereka seolah-olah menjadi fans betul meski hanya follower.

Dalam paparan Munro yang mengutip Giulianotti dan ditulis Iswandi Syahputra (KPG:2016)membagi tipe khalayak sepak bola. Spectators (penonton), supporters (pendukung), followers (pengikut), fans (penggemar), dan flaneurs dengan masing-masing identifikasinya. Spectators adalah orang netral yang menonton untuk mencari hiburan. Supporters adalah penonton yang memberikan dukungan terhadap satu klub sepak bola yang sedang bertanding. Mereka bisa saja berasal dari fans klub sepak bola atau bukan. Mendukung karena bersifat simpati atau tertarik sesaat. Sedangkan followers adalah orang yang menonton atau mendukung satu klub sepak bola karena ikut-ikutan. Fans penggemar bola satu klub sepak bola yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan klub. Sedangkan flaneurs kelompok yang tidak memiliki tujuan pasti dan motivasi yang jelas dalam menonton atau mendukung sepak bola.

Petinggi partai, ulama, ustaz hingga selebriti turun gelanggang pada laga Pilgub ini. Belum lagi adu media massa dan televisi dengan daya ledaknya mirip gas beracun atau bom atom sekalipun.Mirisnya lagi para wartawan ikut nimbrung sebagai suporter. Bukan lagi menjaga independensinya namun tidak lebih sebagai buzzer.

Sejak awal dimulai pencalonan hingga menjelang pencoblosan berbagai isu diangkat ke permukaan. Suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) seolah sasaran empuk para pendukung. Belum lagi, begitu riuhnya di grup media sosial. Medsos seakan menjadi ajang saling hujat, gunjing, dan merasa paling benar serta membela jagoannya. Mereka antusias menyebarkan berita, kabar yang tidak jelas asal-muasalnya. Racun hoax pun disebar begitu saja. Benih-benih perpecahan secara nasional seakan-akan telah nyata tampak di depan mata. Kekhawatiran nasib bangsa Indonesia begitu mendalam.

Komunikasi Parpol

Pilgub DKI Jakarta digadang-gadang citarasa pilpres. Inilah kemudian yang mengharuskan semua harus terlibat baik yang di Jakarta maupun di seluruh nusantara. Kader-kader partai politik (parpol) harus “iuran” baik tenaga maupun dana.  Apalagi kader yang menjadi anggota DPRD di masing-masing daerah diwajibkan setor iuran finansial.

Tjipta Lesmana (Gramedia: 2013) menyebutkan, strategi sepak bola dan politik mempunyai persamaan. Intinya, alat (mean) apa yang dipakai untuk memperkuat barisan dengan trik dan manuver-manuver tertentu demi mencapai tujuan. Banyak cara yang dilakukan untuk memenangkan dalam sebuah pertandingan perebutan kekuasaan.

Satu di antaranya surat perintah partai. Instruksi berupa surat resmi dari masing-masing DPP parpol pengusung Cagub dan Cawagub dikirim ke tingkat DPC. Mereka diwajibkan menyumbangkan dana untuk keperluan kampanye. Mau tidak mau mereka yang di daerah membicarakan tentang Pilgub DKI. Belum lagi bagaimana bagi kader yang mempunyai jabatan di daerah dan punya komunitas atau perkumpulan berdasarkan asal daerah, maka diwajibkan melakukan konsolidasi dan pengorganisiran agar memilih kepada calon tertentu. Para kader parpol terpaksa mencari dana dan tenaga agar menyumbangkan suara pada Pilgub Jakarta.

Hal ini memicu para kader dan konstituennya membicarakan kabar, informasi, suasana, dan perkembangan terkini Pilgub Jakarta. Jika kabar benar maka tidak masalah, namun kemudian terjadi misscomunication dan penggiringan opini sehingga bias ke mana-mana di daerah. Bukan hanya membincangkan sebagai pengamat, namun berbicara atas nama suporter dan berfikir bagaimana pasangan calon tertentu menang. Pilgub Jakarta begitu riuh diperbincangkan di daerah.

Peran Media

Pemberitaan di berbagai media terkait Pilgub Jakarta memiliki porsi khusus. Bahkan beberapa televisi nasional membuat acara khusus atau segmen khusus Pilgub Jakarta. Bisa dimaklumi karena lokasi paling dekat dengan masing-masing kantor media baik elektronik dan massa. Selain itu, secara news value Pilgub Jakarta termasuk dan layak diberitakan. Selain itu adu strategi pemenangan juga strategi dalam komunikasi politik.

Tokoh-tokoh politik, ulama, ustaz, dan artis memberikan statement terkait Pilgub dan pesan. Belum lagi, Presiden, DPR, MPR, Polri, TNI dan lembaga pemerintah yang lainnya. Mereka masih sadar, peranan media massa masih efektif digunakan untuk berbagai tujuan terutama untuk kampanye politik, advertensi, dan propaganda. Media massa masih sangat esensial dalam politik di Indonesia.

Tidak semua yang disampaikan merupakan informasi, mendidik, apalagi hiburan. Justru adanya ajakan, bujuk rayu, propaganda atau justru saling mencari kesalahan antarpasangan. Kondisi serupa terjadi pada saat Pemilihan umum legislatif dan Pemilihan presiden 2014 lalu.

Pertarungan media pada Pilgub Jakarta juga terasa kental. Media nasional sekalipun terbelah secara tajam. Media yang seharusnya menjadi sarana pendidikan justru menjadi sumber propaganda. Berita tanpa konfirmasi tampak begitu banyak yang terpenting calon yang “diusung” media akan menang. Tujuan kampanye tersebar luas pun berhasil dilakukan. Terbukti setiap orang yang memiliki televisi baik di Jakarta maupun di mana saja, maka akan melihat aktivitas dan kejelekan para calon.

Hal ini juga faktor kecenderungan media massa di Jakarta dan Indonesia mempraktikkan politicizationof media. Dorongan besar pemilik media mendapatkan kekuasaan secara politik sehingga media melebar menjadi institusi politik. Praktik menggunakan media televisi di Indonesia untuk kepentingan politik praktis benar-benar terjadi dan sangat mencolok.

Noam Chomsky kritikus media pernah mengkhawatirkan kondisi media di era sekarang karena para elite kekuasaan dan elite bisnis telah berkolaborasi mengatur isi media. Akibatnya kebebasan pers yang dijiwai demokrasi telah disusupi corong-corong propaganda segelintir orang. Setiap keping informasi telah disusupi kepentingan tertentu. Setiap tayangan dan suara berita telah dimodali kekuatan politik dan bisnis.

Kondisi semakin diperkeruh dengan membanjirnya perbincangan dan informasi campur baur di media sosial. Para suporter yang seharusnya penonton saling memberikan argumentasi sebaik-baiknya untuk jagoannya. Di sisi lain mencela dan menfitnah lawan. Mereka secara masif meng-buzz status di media sosial, WhatAps, twitter, facebook, instagramsehingga memancing keriuhan.

Kini Pilgub Jakarta selesai, ada pemenang dan kalah. Wasit telah meniupkan peluit panjang tanda akhir pertandingan. Adu strategi Pertandingan sepak bola selama 90 menit. Ada pemenangdan kalah namun semuanya baik-baik saja. Pertandingan tidak hanya sekali dan ada pertemuan lagi. Daerah lain termasuk Bali juga akan menjalani Pilkada serentak pada 2018 nanti. Maka isu seperti dan carut-marut serta kisruh penonton Pilkada Jakarta tak perlu dibawa dan ditiru di daerah.

Aristoteles seperti dikutip Durant dan ditulis Tjipta Lesmana (Gramedia: 2013) sepak bola dan politik sesungguhnya sama-sama bertujuan menggapai kebahagaian (happiness), karena semua insan manusia berusaha keras mencapai kebahagian dalam kehidupannnya. (T)

Tags: media massaPilkadaPolitiksepakbola
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Tantri Bumi Bajra Sandhi di Festival ke Uma: Seakan Bukan Manusia

Next Post

Kenyataannya, Manusia itu Menipu Diri Sendiri – Sentilan dari Pemikiran Sigmund Freud

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Kenyataannya, Manusia itu Menipu Diri Sendiri - Sentilan dari Pemikiran Sigmund Freud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co