23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saya Penonton Sepak Bola atau Suporter Pilkada?

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi dari google

LAGA leg kedua perempat final Liga Europa yang mempertemukan Liverpool dan Borussia Dortmund di Stadion Anfield, Liverpool, Jumat 15 April 2016 berlangsung dramatis. Gol demi gol tersaji dalam pertandingan penentuan tersebut. Di babak pertama kemenangan bak menjauhi kubu tuan rumah. Klub wakil Jerman Dortmund unggul dua gol lebih dulu melalui Henrikh Mkhitaryan dan Pierre-Emerick Aubameyang. The Reds Liverpool memperkecil skor melalui Divock Origi, namun Dortmund kembali menjauh melalui gol Marco Reus.

Philippe Coutinho memangkas jarak skor menjadi 2-3. Momen ajaib The Redstiba usai Mamadou Sakho menyamakan skor 3-3,Dejan Lovren muncul bak pahlawan melalui golnya di masa injury. Anfield bergemuruh.Skor 4-3 menjadi hasil akhir laga ini. Liverpool melaju ke semifinal dengan skor agregat 5-4. Air mata kekecewaan dan kegembiraan. Rasa kecewa, kesal, duka cita tampak jelas di raut penonton, suporter, followers, fans dan flaneurs sekalipun karena tim kesayangan tersingkir. Sebaliknya, ada wajah-wajah dengan ekspresi senang, gembira, suka cita karena timnya menuju dan tampil di final. Laga itu juga menambah statistik sebagai comebackdramatis Liverpool.

Emosi penonton dan pendukung terkuras sepanjang pertandingan. Pendukung The Redsyang dikenal punya sejarah panjang perjalanan suporter di Inggris tampak antusias menyambut hasil tersebut. Pendukung Dortmund yang dikenal sangat fanatik berlalu meninggalkan stadion.

Di luar pertandingan tersebut, satu momentyang patut dicatat dan akan selalu diingat kedua pendukung Liverpool dan Dortmund. Pemandangan yang membuat hati berdetak kagum dan bergetar. Sebelum kick off, seperti biasanya pendukung The Reds menyanyikan chant You’ll Never Walk Alone (YNWA). Suasana semakin sendu karena hari itu mengenang tragedi Hillsborough 15 April 1989 silam yang menewaskan 96 fans The Reds. Namun bukan hanya pendukung Liverpudlian (sebutan suporter Liverpool) yang bernyanyi, suporter Dortmund bergabung sebagai bentuk solidaritas. Kedua pendukung sepak bola itu seakan tak ada rivalitas. Di dalam stadion bergemuruh bernyanyi bersama. Berdiri dan membentangkan syal. Mereka bersatu tak ada lagi perbedaan, perselisihan, dan persaingan, serta revalitas.

Aksi tersebut menuai respon positif dari dunia sepak bola. FIFA sebagai induk organsasi tertinggi sepak bola menganugerahkan Fan Award at Best FIFA Football Awards. Aksi suporter Liverpool dan Dortmund mengalahkan dua kandidat lainnya. Suporter ADO Den Haag di Eredivisie Belandayang melemparkanhadiah boneka kepada fans Feyenoord. Juga aksi koreografi suporter Islandia pada perempat final EURO 2016.

Di Indonesia pendukung dan suporter sedikit demi sedikit mengubah image, disiplin, tertib menaati peraturan. Mereka menghindari nyanyian bernada rasis dan SARA. Juga jauh dari aksi benturan fisik antarsuporter. Menerima hasil akhir, meski timnya kalah di kandang.

Lalu bagaimana penonton dan pendukung dalam ajang Pilkada?

Penonton Pilkada khususnya Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2017 ini tak ubahnya suporter dalam sepak bola. Pilgub Jakarta tak hayalnya sebuah laga klasik yang harus melibatkan se-nusantara “Pilgub Rasa Pilpres”. Alasan etalase Indonesia menjadi titik poin agar harus mendukung. Apalagi setelah tinggal dua pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang melaju ke putaran kedua.

Pertarungan head to head ini benar-benar menguras emosi bukan hanya masyarakat Jakarta tetapi di pelosok daerah merasakan begitu hebatnya. Kekuatan dan adu strategi dipraktikkan untuk memenangkan calon gubernur (Cagub) dan calon wakil gubernur (Cawagub). Melibat dan dilibatkan masyarakat luas dan para tokoh. Perbincangan calon yang menang dan menjadi orang nomor satu di Jakarta hangat bahkan terasa panas di daerah. Di jalan, rumah makan, bahkan di tempat ibadah membincangkan topik Pilgub Jakarta. Penonton Pilgub DKI Jakarta begitu riuh. Tidak layaknya sebagai penonton, namun telah menjadi simpatisan, suporter, hingga fans.

Mereka yang awalnya berstatus penonton menjelma menjadi suporter yang hampir setiap hari meramaikan media sosial dan media konvensional. Mereka seolah-olah menjadi fans betul meski hanya follower.

Dalam paparan Munro yang mengutip Giulianotti dan ditulis Iswandi Syahputra (KPG:2016)membagi tipe khalayak sepak bola. Spectators (penonton), supporters (pendukung), followers (pengikut), fans (penggemar), dan flaneurs dengan masing-masing identifikasinya. Spectators adalah orang netral yang menonton untuk mencari hiburan. Supporters adalah penonton yang memberikan dukungan terhadap satu klub sepak bola yang sedang bertanding. Mereka bisa saja berasal dari fans klub sepak bola atau bukan. Mendukung karena bersifat simpati atau tertarik sesaat. Sedangkan followers adalah orang yang menonton atau mendukung satu klub sepak bola karena ikut-ikutan. Fans penggemar bola satu klub sepak bola yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan klub. Sedangkan flaneurs kelompok yang tidak memiliki tujuan pasti dan motivasi yang jelas dalam menonton atau mendukung sepak bola.

Petinggi partai, ulama, ustaz hingga selebriti turun gelanggang pada laga Pilgub ini. Belum lagi adu media massa dan televisi dengan daya ledaknya mirip gas beracun atau bom atom sekalipun.Mirisnya lagi para wartawan ikut nimbrung sebagai suporter. Bukan lagi menjaga independensinya namun tidak lebih sebagai buzzer.

Sejak awal dimulai pencalonan hingga menjelang pencoblosan berbagai isu diangkat ke permukaan. Suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) seolah sasaran empuk para pendukung. Belum lagi, begitu riuhnya di grup media sosial. Medsos seakan menjadi ajang saling hujat, gunjing, dan merasa paling benar serta membela jagoannya. Mereka antusias menyebarkan berita, kabar yang tidak jelas asal-muasalnya. Racun hoax pun disebar begitu saja. Benih-benih perpecahan secara nasional seakan-akan telah nyata tampak di depan mata. Kekhawatiran nasib bangsa Indonesia begitu mendalam.

Komunikasi Parpol

Pilgub DKI Jakarta digadang-gadang citarasa pilpres. Inilah kemudian yang mengharuskan semua harus terlibat baik yang di Jakarta maupun di seluruh nusantara. Kader-kader partai politik (parpol) harus “iuran” baik tenaga maupun dana.  Apalagi kader yang menjadi anggota DPRD di masing-masing daerah diwajibkan setor iuran finansial.

Tjipta Lesmana (Gramedia: 2013) menyebutkan, strategi sepak bola dan politik mempunyai persamaan. Intinya, alat (mean) apa yang dipakai untuk memperkuat barisan dengan trik dan manuver-manuver tertentu demi mencapai tujuan. Banyak cara yang dilakukan untuk memenangkan dalam sebuah pertandingan perebutan kekuasaan.

Satu di antaranya surat perintah partai. Instruksi berupa surat resmi dari masing-masing DPP parpol pengusung Cagub dan Cawagub dikirim ke tingkat DPC. Mereka diwajibkan menyumbangkan dana untuk keperluan kampanye. Mau tidak mau mereka yang di daerah membicarakan tentang Pilgub DKI. Belum lagi bagaimana bagi kader yang mempunyai jabatan di daerah dan punya komunitas atau perkumpulan berdasarkan asal daerah, maka diwajibkan melakukan konsolidasi dan pengorganisiran agar memilih kepada calon tertentu. Para kader parpol terpaksa mencari dana dan tenaga agar menyumbangkan suara pada Pilgub Jakarta.

Hal ini memicu para kader dan konstituennya membicarakan kabar, informasi, suasana, dan perkembangan terkini Pilgub Jakarta. Jika kabar benar maka tidak masalah, namun kemudian terjadi misscomunication dan penggiringan opini sehingga bias ke mana-mana di daerah. Bukan hanya membincangkan sebagai pengamat, namun berbicara atas nama suporter dan berfikir bagaimana pasangan calon tertentu menang. Pilgub Jakarta begitu riuh diperbincangkan di daerah.

Peran Media

Pemberitaan di berbagai media terkait Pilgub Jakarta memiliki porsi khusus. Bahkan beberapa televisi nasional membuat acara khusus atau segmen khusus Pilgub Jakarta. Bisa dimaklumi karena lokasi paling dekat dengan masing-masing kantor media baik elektronik dan massa. Selain itu, secara news value Pilgub Jakarta termasuk dan layak diberitakan. Selain itu adu strategi pemenangan juga strategi dalam komunikasi politik.

Tokoh-tokoh politik, ulama, ustaz, dan artis memberikan statement terkait Pilgub dan pesan. Belum lagi, Presiden, DPR, MPR, Polri, TNI dan lembaga pemerintah yang lainnya. Mereka masih sadar, peranan media massa masih efektif digunakan untuk berbagai tujuan terutama untuk kampanye politik, advertensi, dan propaganda. Media massa masih sangat esensial dalam politik di Indonesia.

Tidak semua yang disampaikan merupakan informasi, mendidik, apalagi hiburan. Justru adanya ajakan, bujuk rayu, propaganda atau justru saling mencari kesalahan antarpasangan. Kondisi serupa terjadi pada saat Pemilihan umum legislatif dan Pemilihan presiden 2014 lalu.

Pertarungan media pada Pilgub Jakarta juga terasa kental. Media nasional sekalipun terbelah secara tajam. Media yang seharusnya menjadi sarana pendidikan justru menjadi sumber propaganda. Berita tanpa konfirmasi tampak begitu banyak yang terpenting calon yang “diusung” media akan menang. Tujuan kampanye tersebar luas pun berhasil dilakukan. Terbukti setiap orang yang memiliki televisi baik di Jakarta maupun di mana saja, maka akan melihat aktivitas dan kejelekan para calon.

Hal ini juga faktor kecenderungan media massa di Jakarta dan Indonesia mempraktikkan politicizationof media. Dorongan besar pemilik media mendapatkan kekuasaan secara politik sehingga media melebar menjadi institusi politik. Praktik menggunakan media televisi di Indonesia untuk kepentingan politik praktis benar-benar terjadi dan sangat mencolok.

Noam Chomsky kritikus media pernah mengkhawatirkan kondisi media di era sekarang karena para elite kekuasaan dan elite bisnis telah berkolaborasi mengatur isi media. Akibatnya kebebasan pers yang dijiwai demokrasi telah disusupi corong-corong propaganda segelintir orang. Setiap keping informasi telah disusupi kepentingan tertentu. Setiap tayangan dan suara berita telah dimodali kekuatan politik dan bisnis.

Kondisi semakin diperkeruh dengan membanjirnya perbincangan dan informasi campur baur di media sosial. Para suporter yang seharusnya penonton saling memberikan argumentasi sebaik-baiknya untuk jagoannya. Di sisi lain mencela dan menfitnah lawan. Mereka secara masif meng-buzz status di media sosial, WhatAps, twitter, facebook, instagramsehingga memancing keriuhan.

Kini Pilgub Jakarta selesai, ada pemenang dan kalah. Wasit telah meniupkan peluit panjang tanda akhir pertandingan. Adu strategi Pertandingan sepak bola selama 90 menit. Ada pemenangdan kalah namun semuanya baik-baik saja. Pertandingan tidak hanya sekali dan ada pertemuan lagi. Daerah lain termasuk Bali juga akan menjalani Pilkada serentak pada 2018 nanti. Maka isu seperti dan carut-marut serta kisruh penonton Pilkada Jakarta tak perlu dibawa dan ditiru di daerah.

Aristoteles seperti dikutip Durant dan ditulis Tjipta Lesmana (Gramedia: 2013) sepak bola dan politik sesungguhnya sama-sama bertujuan menggapai kebahagaian (happiness), karena semua insan manusia berusaha keras mencapai kebahagian dalam kehidupannnya. (T)

Tags: media massaPilkadaPolitiksepakbola
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Tantri Bumi Bajra Sandhi di Festival ke Uma: Seakan Bukan Manusia

Next Post

Kenyataannya, Manusia itu Menipu Diri Sendiri – Sentilan dari Pemikiran Sigmund Freud

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Kenyataannya, Manusia itu Menipu Diri Sendiri - Sentilan dari Pemikiran Sigmund Freud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co