24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Dody Widianto by Dody Widianto
March 9, 2024
in Cerpen
Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Ilustrasi tatkala.co

AKU masih terlalu polos untuk mengartikan jika apa yang tersembunyi di dalam selangkangan bukan barang dagangan. Dalam remang, kupeluk kedua lengan dalam dingin. Bawah mataku sembap. Beberapa tetes air yang nakal jatuh di atas rambutku yang kusut. Dari atas, banyak air bocor dari sambungan paralon. Kuremas rok hitam selutut yang basah. Hujan deras mengguyur kota ini sejak siang dan enggan berhenti bahkan ketika langit telah menggulita.

Kugigit bibir berkali-kali. Dalam sorot lampu yang menyilaukan mata, kulihat mobil sedan hitam mengilat mendekatiku perlahan. Sejujurnya aku ingin lari. Namun, perutku tak bisa diajak kompromi. Sudah dari tadi pagi lambungku belum terisi nasi. Hanya teh manis yang berhasil kusesap.

Pintu mobil terbuka, seseorang berjalan mendekatiku yang berdiri kaku di tepi trotoar dalam dingin. Sekali lagi, sejujurnya aku ingin berlari. Kota ini telah menimbulkan luka tak terperi yang tak ada dalam bayanganku dulu-dulu. Entah bisa-bisanya aku terdampar di kota ini. Dalam kebingungan, dalam kesialan. Andai saja aku menurut kata Emak dan mau menikah dengan anak musuh bebuyutan bapak. Kuakui Sajat memang tampan, tetapi aku tak suka dia hobi berjudi dan mabuk-mabukan.

Pria yang keluar dari mobil itu tetiba tersenyum padaku. Entah senyum asli atau palsu. Tak ada manusia yang bisa membaca isi hati. Kulit wajahnya terlalu bersih. Berbanding terbalik denganku yang saban hari di kampung hanya berkutat di kebun karet dan kopi. Ia membetulkan kacamatanya yang melorot, melihatku dengan saksama. Kukira tidak ada lagi yang lebih tampan dari Sajat. Di kota ini, ternyata banyak pria tampan menyaingi dirinya. Namun, barangkali bisa dihitung jari pria yang benar-benar baik dan tulus tak ingin menyakiti wanita.

Lesung pipi kirinya mengembang ketika ia menyapaku. Dalam remang, entah kenapa aku tetiba terpesona oleh senyumnya yang manis, semanis gula. Padahal, sejak aku berlari hingga di bawah kolong tol ini, sudah kukuatkan hati tak percaya lagi dengan yang namanya lelaki.

“Mau ke mana Neng? Kulihat kamu bingung dari tadi? Mana bajumu kuyup begitu.”

Jika aku menjawabnya, apa benar ia akan menolongku. Di kota besar ini, banyak sekali modus yang aku tak tahu. Bahkan aku terdampar di kota ini dalam kesialan juga hasil dari modus perekrutan biro kerja di kotaku. Aku tak ingin sial dua kali. Namun, bagaimana jika beliau di depanku benar-benar orang baik yang mau menolongku?”

“Aku mau pulang Om.”

“Pulang? Ke mana? Mau kuantar? Tak baik malam-malam begini keluyuran.”

Kulihat sekali lagi lelaki di depanku ini. Dia memang tak tinggi-tinggi amat. Namun, bentuk badannya yang sedang, tidak gemuk dan tidak kurus, ditambah matanya yang sipit berkacamata, entah kenapa, begitu cepat seperti tertarik padanya. Padahal, aku sadar diri siapa.

“Kalau mau, kuantar ya.”

Aku mengangguk saja. Masuk di pintu depan setelah dipersilakannya. Ia menyalakan lampu, mengambilkan selimut di kursi tengah, memasangkan sabuk di dadaku dengan perlahan sambil meminta maaf. Bahkan ia meminta maaf untuk memasang sabuk itu? Sedikit aku mulai percaya, barangkali ia lelaki baik-baik.

Mobil melaju, lalu ia menanyakan di mana rumahku. Aku tak tahu aku harus menjawab apa. Ke rumahku butuh enam belas jam perjalanan dari kota ini ditambah naik kapal di penyeberangan Merak-Bakauheni.

“Tidak usah sungkan Neng. Bilang saja nanti kuantar. Saya sering kok mengantar siapa saja yang kebingungan di kota ini. Kota ini mirip labirin atau lorong-lorong jalan membingungkan yang membuat sebagian orang bisa tersesat di dalamnya.”

Labirin? Kukira om ini punya pendapat yang benar. Dua hari aku kabur dari rumah yang menampungku, aku kadang bingung melewati jalanan yang saling tumpang tindih. Kereta di atas, di bawahnya kereta lagi, di bawahnya tol, di bawahnya jalan raya, di bawah lagi ada kolong jalan raya. Aku menggeleng kepala, bisa-bisanya manusia membuat jalan kolong dan lubang di sana-sini mirip tikus.

“Aku mau pulang Om. Tetapi aku tak punya ongkos.”

“Iya. Om antar kamu sekarang.”

“Om mau mengantar saya sekarang ke Lampung?”

Tak ada jawab. Hujan deras di luar tidak bisa membuat senyap di dalam kembali bersuara. Kulihat Om itu seolah bingung. Perlahan, ia memancingku untuk bercerita bagaimana ia terdampar dan tersesat di kota ini.

Maka, kuceritakan saja jika aku melihat temanku Mawar sering menelepon ibuku jika hidup di ibu kota enak. Ia yang dulu dekil dan kumal, sekarang wajahnya glowing dan ia makin cantik dan bohay. Aku tak menanyakan lebih dulu dia kerja sebagai apa. Aku hanya pamitan pada Emak jika aku ingin bekerja dan berusaha mengobati luka karena sering dihina miskin oleh keluarga Sajat pemilik perkebunan karet dan kopi di kampungku.

Hanya dengan bekal tekad, aku mendaftar ke biro jasa pekerjaan yang satu kantor dengan penyalur Mawar. Aku diberangkatkan dengan 12 belas gadis-gadis lain dan bilang akan dipekerjakan di pabrik, mal, atau kafe. Nanti tinggal ikuti tes saja. Namun, sungguh, aku tak menyangka jika tes pertama selalu membuatku ketakutan. Aku tak tahu jika pekerjaanku hanya diharuskan untuk mengangkang. Menjual apa yang tersembunyi dalam selangkangan.

Om itu melihat wajahku dalam serius. Wajah yang tadinya tersenyum manis mirip kecap, kali ini mendadak sayu dan mendung. Entah sedih, entah marah, entah malah senang dengan nasibku dan ia akan menambah kesialan itu jika ia seorang bunglon yang pandai bersandiwara di depanku. Namun, saat ia sering mencuri pandang melihatku, aku makin kikuk. Mendadak rasa takut kembali muncul di dada. Lepas dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Ya Tuhan, aku tak mau itu terjadi lagi.

“Vid. Iya. Aku titip kantor besok. Mungkin bisa tiga hari. Kamu yang pegang semuanya. Konfirmasi saja jika butuh bantuan. Oke. Ya. Terima kasih ya.”

Aku tak tahu ia bicara dengan siapa di teleponnya. Ia terus melajukan mobil di tengah jalan raya yang sedikit lengang di antara kerlip lampu-lampu gedung tinggi di ibu kota.

“Kita ke Lampung sekarang. Kuantar kamu pulang. Subuh semoga sudah sampai Merak. Mudah-mudahan tidak macet.”

Melewati daratan dan lautan, lalu kembali menjajaki daratan pulau Andalas, sejujurnya aku begitu bahagia ada orang asing yang dengan sudi mau membantuku. Bayangkan, aku yang mencoba melarikan diri, tanpa uang, tanpa alat komunikasi, mendadak aku dibelikan baju, disuruh makan di warung makan pinggir jalan. Entah apakah ini balasan doa ibu jika di kampung beliau selalu berkata padaku, “Berbuat baik ke orang lain itu mirip orang menanam pohon. Buah kebaikannya nanti jika bukan Emak yang makan, ya nanti untuk kamu dan anak-anakmu. Emak ingin di mana pun kamu berada saat dalam kesusahan., semoga ada malaikat yang baik hati segera menolongmu. Apa artinya sepiring nasi ini untuk tetangga yang sedang kelaparan. Emak memang tahu beras kita tinggal sedikit. Namun, sekali lagi Emak hanya ingin bilang, semoga kebaikan ini akan bertunas di kemudian hari dan engkau yang akan merasakannya.”

Aku menyeka sudut mata. Sungguh, aku kangen Emak dan mungkin dari doa beliau, aku bisa di posisi ini.

Enam belas jam bukan waktu yang singkat, tetapi itu bukan apa-apa untuk sebuah kata rindu. Maka, ketika sampai di rumah sederhana dengan tembok bata yang belum diplester semen, aku dipersilakannya masuk. Pintu terbuka, ibuku menyapa. Namun, entah kenapa ibuku malah terkejut melihatku. Ada noda darah di pelipisku. Ibuku terus menggeleng. Menggoyang-goyang tubuhku tak percaya. Lalu melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman telah penyok bagian depannya.

***

Seorang ibu bersimpuh di atas rerumputan. Pipinya sembab. Ia diapit dua pusara yang dibangun dengan tumpukan bata merah. Tangannya gesit membersihkan reumputan kecil di atas dua makam. Batu-batu kecil putih di atas makam ia lemparkan, ia rapikan di tengah. Ia sesenggukan. Anak dan menantunya datang lagi dalam mimpi. Ia tak tahu bagaimana mengobati rasa rindunya yang selalu bersembunyi. [T]

BACA cerpen lain di rubrik CERPEN

Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Next Post

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Dody Widianto

Dody Widianto

Lahir di Surabaya. Karyanya tersebar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co