14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Made Sugianto by Made Sugianto
February 13, 2026
in Cerpen
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh berisi rumput. Pikirannya berkecamuk. Di usia senja, pundaknya makin sarat beban. Sejak mendengar kabar dirinya dilaporkan ke Kantor Kepala Desa, ketenangan mendadak menjauh dari batinnya. Di bawah rimbun pohon asem, ia menyerahkan diri kepada dewa nasib yang akan membawanya entah ke mana.

Kakek tua itu terperanjat melihat kepala desa melangkah tergesa menuju tempatnya duduk di bawah pohon asem. Ketakutan melanda pikirannya, khawatir kepala desa akan menyalahkannya.

Dalam pikirannya, pemimpin desa itu masih muda, pastilah mudah terpengaruh oleh warga berada. Belum matang menimbang permasalahan. Ia melihat kepala desa mempercepat langkah kakinya dan memanggil namanya. Tak berselang lama, seorang lelaki muda duduk di sampingnya. Ia tidak perduli pakaian dinasnya yang bersih akan kotor duduk di rerumputan.

“Pak Kades datang ke sini mau menyalahkan saya?” tanya Wayan Brata, kakek tua itu. Ia menghela napas panjang dan hembusannya terdengar berat, menandakan ada ketakutan yang disembunyikan.

Kepala desa tahu kakek itu sedang dilanda masalah. Kedua tangannya meraih bahu renta itu dan menenangkannya. Ia menyampaikan, ada pengaduan masyarakat ke kantor desa. Dengan hati-hati pemimpin muda itu menjelaskan kepada Wayan Brata, bahwa ternaknya dituduh merusak tanaman padi petani.

“Saya ke sini bukan untuk menyalahkan Kakek. Saya tidak percaya dengan pengaduan masyarakat tani itu. Saya menemui Kakek untuk mencari tahu kebenarannya,” kata Made Arya, pemimpin muda di kampung itu.

Sebagai kepala desa, ia tidak boleh menjatuhkan vonis kepada teradu untuk disalahkan. Wajib melakukan klarifikasi, menanyakan kepada teradu atas tuduhan masyarakat. Semuanya harus jelas dan gamblang. Wayan Brata menghela napas lega, ketenangan kembali menemukan tempatnya. Ia merasa dipayungi oleh perlindungan kepala desa. Made Arya sesungguhnya iba dengan kakek yang hidup sendirian itu. Anak lelaki satu-satunya tega meninggalkannya. Memilih pamit dari tanah kelahiran untuk tinggal di rumah istri. Semenjak anaknya kawin nyentana, Wayan Brata hidup sebatang kara. Sehari-hari kerjanya hanya menyabit rumput dan mengembalakan ternak sapi. Meski sudah renta, semangatnya tak redup untuk menyambung hidup.

“Kakek banyak pelihara sapi?”

Pertanyaan kepala desa membuat Wayan Brata tergugah untuk bercerita. Dua ekor sapi betina bantuan pemerintah sudah beranak. Menjelang hari raya, anakan sapi akan dijual untuk modal upacara. Kedua anakan sapi itu belum dicucuk hidungnya. Dilepasliarkan agar bisa beradaptasi dengan lingkungan. Kepala desa senang mendengar cerita Wayan Brata yang menggebu-gebu. Ia senang karena lelaki tua itu tidak takut lagi padanya. Ia pun ingin melihat ternak sapi itu. Ia membantu Wayan Brata mengangkat keranjang penuh berisi rumput. Keranjang itu sungguh berat. Kakek itu dengan mudah memikulnya sambil berjalan beberapa ratus meter menuju kandang. Ia merasa tertampar. Walaupun rutin latihan beban di gym, namun ia kalah dengan lelaki tua itu.

Setiba di kebun, Wayan Brata menurunkan keranjang dengan enteng. Langkahnya ringan menggenggam rumput dan menaburkannya di depan ternak sapi. Kepala desa mengambil rumput dan membantu Wayan Brata. Indukan sapi lahap memamah rumput. Wayan Brata bersyukur diberi pinjam tempat oleh Anak Agung untuk menempatkan ternaknya. Ia tidak punya bada, sapi-sapinya diikatkan pada batang pohon cengkih. Kepala desa membuktikan sendiri, sapi-sapi peliharaan Wayan Brata tidak dilepasliarkan. Pertanda, sapi yang merusak lahan sawah warga bukanlah milik Wayan Brata.

Ada peternak lain yang sapi-sapinya dilepasliarkan. Fakta lapangan ini akan disampaikan kepada warga yang menuduh Wayan Brata sengaja melepaskan sapi dan merusak tanaman padi. Tak lupa, kepala desa mileneal itu memotret dua induk sapi yang diikatkan pada pohon cengkih. Ia juga memvideokan ternak Wayan Brata. Foto dan video itu akan dijadikan barang bukti untuk memperkuat argumentasinya membela kakek. Ia juga punya inisiatif memberikan tanda pada sapi-sapi itu untuk memudahkan mengenalinya kelak ketika ternak kakek kembali dituduh merusak sawah petani.

“Aku harus mencari tahu kebenarannya, kasihan kakek selalu kena tuduh,” kata hati Made Arya.

***

Suasana sangat tegang ketika kepala desa tiba di persawahan. Belasan petani memegang arit. Mereka marah karena tanaman padinya rusak. Empat ekor sapi masuk persawahan memakan tanaman padi yang baru berumur satu bulan. Sebagian lagi rusak karena terinjak sapi. Para petani menuduh Wayan Brata sebagai biang keladinya. Lelaki tua itu diduga melepasliarkan ternaknya karena tidak kuat lagi menyabit rumput.

“Hanya lelaki tua itu saja yang melepasliarkan sapi-sapinya,” teriak petani bertopi klangsah.

“Betul, kakek miskin itu tidak punya kandang. Sapi-sapinya sengaja diliarkan,” timpal petani lain berkacamata hitam.

Ketegangan merayap di hati kepala desa. Ia tidak terbiasa melihat seseorang yang emosinya meledak-ledak sambil membawa arit. Tubuhnya spontan bersiaga. Ia menenangkan diri dengan pranayama. Ketenangan kembali ia dapatkan saat pikirannya jernih, bahwa petani ke sawah pastilah membawa senjata. Ia pernah mendengar petani ribut dan bertengkar di sawah saat ada pencurian air. Meski saling bentak dan membawa arit maupun kelewang, belum pernah terjadi kasus kekerasan.

“Ayo kita cari si tua bangka itu. Kita harus adili perbuatannya,” kata petani bertopi klangsah.

“Setuju. Kita minta ganti rugi kepada si tua renta itu,” timpal petani berkacamata hitam.

Di bawah terik matahari yang memantik emosi, petani lainnya memberikan kesejukan. Mengingatkan teman-temannya untuk tidak gegabah dan main hakim sendiri. Harus cari tahu, selidiki siapa pemilik sapi perusak tanaman padi. Tidak adil tuduhan langsung dialamatkan kepada kakek tua itu.

“Siapa lagi kalau bukan dia. Tua bangka itu miskin, tidak punya bada. Pasti sapinya diliarkan,” balas petani bertopi klangsah.

Petani tua tampak tenang walaupun usulnya ditentang. Ia tetap meminta teman-temannya tidak datang ke kebun Anak Agung di mana Wayan Brata menempatkan sapi-sapinya. Ia yakin, ternak-ternak yang masuk ke lahan persawahan bukan milik kakek tua itu. Ia curiga ada peternak lain yang sengaja melepasliarkan sapi-sapinya. Kakek tua itu tidak banyak punya sapi. Sementara sapi yang makan padi lebih dari dua ekor. Ia pun meminta jalan keluar kepada kepala desa.

Perasaan kepala desa mendadak tidak tenang mendengar usul itu. Ia belum sempat berpikir sebelum mendatangi lokasi. Solusi apa yang harus ia berikan, sama sekali belum terlintas di pikirannya. Ini adalah pengalaman pertama yang dihadapinya.

“Sabar bapak-bapak. Izinkan saya menyelidiki kasus ini,” kata kepala desa.

Seperti ada yang menuntun untuk mengucapkan itu. Kalimat yang terlontar mampu meredakan emosi para petani. Petani bubar untuk kembali melanjutkan pekerjaan di sawah. Kepala desa juga pamit untuk melanjutkan misinya. Ia berharap keputusannya nanti membahagiakan semua pihak. Tidak ada warga yang merasa dirugikan. Dalam perjalanan pulang dari persawahan, ia menyadari pekerjaan kepala desa tidaklah mudah. Ia harus mampu jadi hakim bagi warganya agar permasalahan ini selesai dengan damai dan membuat kedua belah pihak menerima dengan senyuman.

***

Kepala desa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Kakek itu mengikatkan tali sapi pada pohon cengkih. Hanya dua godel berkeliaran. Sudah benderang, sapi yang merusak tanaman padi petani siang tadi milik orang lain. Siapa lagi yang beternak sapi di lokasi itu?

“Tiga orang, Pak Kades. Dua peternak punya bada. Hanya saya tidak punya dan mengikatkan sapi di pohon.”

Kakek bercerita, Putu Regen pelihara empat ekor sapi. Seluruh sapinya dikandangkan. Gusti Bagus punya sapi paling banyak. Ia menduga sapi-sapi itu sengaja dilepasliarkan agar bisa mendapatkan makanan sendiri. Dugaan itu diperkuat karena sebagai pegawai negeri sipil, Gusti Bagus kekurangan waktu menyabit rumput.

“Mungkin sapi milik Gusti Bagus diliarkan,” kata Wayan Brata.

Kepala desa terkejut dengan apa yang barusan didengarnya. Ya, untuk hari ini sudah terbukti bukan sapi Wayan Brata yang merusak persawahan. Mendadak kepalanya pening. Gusti Bagus yang disebut oleh Wayan Brata adalah pejabat tinggi di pemerintahan kabupaten. Dia juga yang membantu mendulang suara saat pemilihan kepala desa dulu. Lelaki itu berpengaruh. Warga desa menuruti perintah saat diarahkan mencoblos potret dirinya pada surat suara. Ia menduduki kursi kepala desa berkat peran sentral Gusti Bagus.

Tokoh berpengaruh yang diduga oleh kakek tua itu sengaja melepaskan sapi-sapinya. Baginya masuk akal, sebab untuk mengurus ternak sapinya, Gusti Bagus pantang menggunakan jasa orang lain. Semua dilakukannya sendiri. Maklum, derajat, kedudukan, dan pengaruh yang ada padanya semua bermula dari sapi. Berkat pelihara sapi ia bisa menempuh pendidikan tinggi. Diterima sebagai pegawai negeri juga berkat jasa sapi-sapinya. Lolos tiga besar hasil seleksi jabatan tinggi pratama juga berkat sapi. Hasil penjualan sapi dijadikan uang pelicin agar pemimpin kabupaten memberikannya surat keputusan sebagai pejabat tinggi pratama. Maka ia menjadikan sapinya ‘raja’, dicarikan rumput dan dirawat dengan baik. Semua dilakukan oleh Gusti Bagus seorang diri.

“Pak Kades kenapa diam?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Made Arya. Ia menarik napas panjang. Menghempaskannya perlahan, namun suaranya yang berat terdengar sarat beban. Wayan Brata mencuri pandang untuk mengamati wajah Made Arya. Dalam hati ia menduga kepala desa tidak mempercayainya. Atau percaya seratus persen namun gamang mengambil keputusan. Wayan Brata memaklumi itu. Kepala desa berusia muda tentu tak sanggup menghadapi pejabat tinggi dan berpengaruh di kampung.

Bibir kepala desa tercekat, tak mampu melontarkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Wayan Brata. Pandangannya kosong. Apa yang harus ia perbuat? Menasehati Gusti Bagus, ia khawatir memantik ketersinggungan. Dana dan usaha meloloskan dirinya menduduki kursi kepala desa pastilah diungkit-ungkit. Kalau didiamkan, Wayan Brata tambah menderita karena selalu disalahkan oleh petani lainnya. Made Arya memandangi sapi-sapi kakek tua itu yang diikatkan di pohon cengkih. Ia merasa dirinyalah sapi itu. Terikat oleh keadaan, tidak berdaya berhadapan dengan pejabat yang telah membantunya. Ia iri melihat dua godel berlarian dan memamah rumput sesukanya. Ia ingin bebas merdeka seperti anak sapi itu.

Wayan Brata menyadari, kepala desa gamang dengan pendiriannya. Tebakannya di awal tidaklah meleset. Ia iba melihat kepala desa di persimpangan jalan untuk memutuskan keadilan bagi dirinya. Lelaki tua itu mengambil keputusan. Menyarankan kepala desa untuk tidak melanjutkan perkara yang dilaporkan warga. Biarlah dirinya menjadi korban untuk menyelamatkan karir kepala desa yang masih panjang.

“Biarlah saya dicap buruk oleh warga. Biarkan cerita itu terus berkembang, bahwa sapi-sapi milik saya yang merusak sawah mereka. Saya sudah tua, anak juga tiada. Selamatkan jabatan Pak Kades, biarlah saya yang memikul semuanya.”

Hati Made Arya teriris mendengar kata-kata Wayan Brata, lelaki tua yang pernah dibantunya mendapatkan dua ekor sapi dari Dinas Sosial. Ia terharu mengetahui kakek tua itu siap berkorban untuk dirinya. Ia memang tak berdaya berhadapan dengan Gusti Bagus, tetapi ia tidak ingin Wayan Brata yang sudah renta, lagi pula tidak bersalah, harus menanggung derita. Ia menggenggam tangan kakek tua itu, meyakinkannya bahwa ia tidak akan menghadapi masalahnya seorang diri. [T]

Catatan

  • Bada = kandang
  • Godel = anak sapi
  • Klangsah = anyaman bambu
  • Nyentana = sistem perkawinan di Bali. Lelaki pamit dari orang tuanya untuk tinggal bersama keluarga istri. Status adat sebagai purusa (laki-laki) berubah jadi pradana (perempuan).
  • Pranayama = mengatur pernapasan

Penulis: I Made Sugianto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Next Post

Kebencian dan Iri Hati Pembunuh Utama Diri Sendiri —Renungan Hari Valentine

Made Sugianto

Made Sugianto

Lelaki sibuk. Selain sebagai penulis Sastra Bali Modern, juga mengelola penerbit indie Pustaka Ekspresi. Juga mengelola Majalah Ekspresi. Lama bekerja tetap sebagai wartawan di Nusa Bali, sebelum memutuskan rehat setelah ia dipilih menjadi Perbekel (Kepala Desa) di kampungnya di Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Kebencian dan Iri Hati Pembunuh Utama Diri Sendiri ---Renungan Hari Valentine

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co