3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

Safir Ahyanuddin by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
in Cerpen
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun.

Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku kotor oleh lumpur yang lengket, tetapi aku tidak peduli. Sekop kecil milik Ayah terasa berat di tanganku, meski gagangnya pendek dan sudah tumpul di ujungnya. Ketika kutancapkan ke tanah, sekop itu masuk dengan mudah, seolah tanah telah menunggu sentuhan itu sejak lama.

Tanahnya lembap dan mudah dibelah, seperti sudah sering disentuh tangan manusia. Setiap sodokan mengeluarkan bau yang tidak asing, bau tanah yang pernah basah oleh hujan, kering oleh matahari, lalu basah kembali oleh sesuatu yang lain. Aku tidak tahu apa itu saat itu. Aku hanya tahu tanah ini tidak keras, tidak menolak, seolah ia sudah siap sejak lama.

Aku menggali perlahan. Bukan karena lelah, tetapi karena aku ingin memastikan lubang itu rapi. Aku tidak tahu untuk apa rapi, tetapi rasanya lubang ini tidak boleh sembarangan. Setiap kali sekop mengenai batu kecil, bunyinya terdengar lebih keras dari seharusnya. Aku berhenti sebentar, memindahkan batu itu ke samping, lalu melanjutkan.

Ibu berdiri di kejauhan, di bawah pohon mangga. Pohon itu sudah tua dan daunnya lebat. Biasanya Ibu duduk di sana sore hari, memotong ujung daun kering atau sekadar menatap kebun. Hari itu ia berdiri, tidak bergerak, kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Wajahnya sulit kuterjemahkan. Bukan marah, bukan sedih. Lebih seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu selesai.

“Kau tidak perlu menggali terlalu dalam,” katanya akhirnya.

Suaranya tidak keras. Bahkan nyaris seperti berbicara pada diri sendiri.

Aku mengangguk, meski aku terus menggali. Aku tidak tahu apa arti terlalu dalam. Aku hanya ingin lubang itu cukup. Cukup untuk apa, aku juga tidak tahu.

Kubur itu untuk adikku.

Ia meninggal dua hari sebelumnya. Malam sebelum ia pergi, aku masih mendengar napasnya berat dan pendek. Aku berpikir ia hanya sedang tidur dengan cara yang aneh. Paginya, tubuhnya terasa ringan ketika diangkat. Terlalu ringan untuk seseorang yang biasanya menarik selimutku ketika tidur.

Orang-orang dewasa berkata ia sakit. Mereka juga berkata Tuhan lebih sayang padanya. Aku tidak memahami dua kalimat itu. Jika Tuhan sayang, mengapa Ia mengambilnya. Jika sakit, mengapa tidak disembuhkan saja. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Mereka hanya mengusap kepalaku dan menyuruhku bermain.

Kubur itu, kata Ayah, seharusnya digali oleh orang dewasa. Tetapi entah mengapa, sekop itu diberikan kepadaku. Tangannya gemetar sedikit ketika menyerahkannya.

“Mungkin agar kau belajar,” katanya.

Aku tidak bertanya apa yang harus kupelajari. Aku juga tidak bertanya mengapa aku yang dipilih. Aku menerima sekop itu seperti menerima tugas sekolah yang tidak bisa ditolak.

Tanah itu terus terbelah. Akar-akar kecil muncul, sebagian terputus, sebagian bertahan. Aku menariknya satu per satu. Ada yang putus dengan mudah, ada yang membuat tanganku pegal. Aku tidak marah pada akar-akar itu. Aku hanya ingin lubang ini cukup besar.

Sesekali aku mengelap keringat dengan punggung tangan. Tanganku kotor, kukuku hitam oleh tanah. Aku melihat ke arah Ibu. Ia masih di sana. Kali ini matanya menatap tanah yang kugali, bukan wajahku. Aku berpikir mungkin ia sedang menghitung sesuatu. Atau mungkin ia sedang menghafal bentuk lubang itu.

Ketika akhirnya tubuh adikku dibaringkan di dalam tanah, aku memperhatikannya lama. Wajahnya tampak tenang, seperti sedang tidur siang. Bibirnya sedikit terbuka. Aku menunggu dadanya naik turun. Aku menunggu terlalu lama.

Tidak ada.

Ibu menangis tanpa suara. Air matanya jatuh satu-satu, mengenai tanah di dekat kakinya. Ayah berdiri kaku, lalu menutup tanah dengan cepat, seolah lubang itu harus segera hilang dari pandangannya. Tangannya bergerak terburu buru, tidak serapi galianku tadi.

Aku berdiri di sana lebih lama dari yang lain. Ketika semua orang mulai pergi, aku masih menatap tanah yang baru ditutup itu. Tanahnya tampak lebih gelap dari sekitarnya. Lebih basah. Lebih hidup.

Hari-hari berlalu. Hujan datang dan pergi. Matahari kembali mengeringkan tanah. Aku sering kembali ke tempat itu. Tidak untuk menangis. Tidak juga untuk berdoa. Aku hanya duduk, menatap tanah yang kini tampak lebih subur dari bagian kebun yang lain. Rumput tumbuh lebih hijau di atasnya. Cacing sering muncul setelah hujan. Tanah itu hidup.

Aku mulai berpikir mungkin adikku masih ada di sana, bukan di dalam tanah, tetapi di tanah itu sendiri.

Suatu sore, ketika hujan baru saja berhenti, aku membawa sekop lagi.

Aku menggali di samping kubur adikku. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Aku ingin membuat lubang lain. Aku tidak tahu untuk apa. Tanganku bergerak sendiri, seperti mengingat sesuatu yang belum pernah kupelajari.

Tanahnya tetap mudah digali.

Aku teringat kata-kata Ibu dulu. Kau tidak perlu menggali terlalu dalam.

Aku menggali lebih dalam.

Ketika lubang itu cukup besar, aku berhenti. Aku duduk di pinggirnya, kaki menggantung. Tanah lembap menempel di tumitku. Aku membayangkan jika suatu hari aku harus berbaring di sana. Apakah tanah akan sama ramahnya. Apakah ia akan menerimaku seperti menerima adikku.

Malam itu aku bermimpi.

Dalam mimpiku, adikku duduk di dalam lubang itu. Bukan kuburnya, tapi lubang yang kugali. Bajunya kotor oleh tanah. Tangannya hitam, tetapi wajahnya cerah seperti dulu, sebelum ia sering terbaring.

“Kau salah tempat,” katanya.

Suaranya ringan, seperti sedang mengingatkanku pada kesalahan kecil.

Aku terbangun dengan napas terengah. Tanganku mencari sekop di samping tempat tidur, tetapi yang kutemukan hanya udara dingin dan bau tanah yang masih menempel di hidungku.

Sejak malam itu, aku sering menggali.

Bukan setiap hari. Kadang dua hari sekali, kadang hanya ketika hujan turun dan tanah menjadi lunak. Aku tidak selalu membawa sekop. Terkadang aku hanya memakai tangan, mengorek tanah perlahan, membiarkan kuku dan telapak tanganku kotor. Rasanya lebih dekat. Seolah aku sedang menyentuh sesuatu yang tidak boleh terlalu keras diperlakukan.

Ibu beberapa kali melihatku dari jauh. Ia tidak melarang. Ia juga tidak mendekat. Hanya berdiri di ambang dapur atau di bawah pohon mangga, memperhatikanku seperti seseorang yang sedang menghitung sisa tenaga. Sesekali ia memanggilku masuk ketika hari mulai gelap.

“Kau sudah cukup bermain tanah hari ini, Nak,” katanya.

Aku menurut. Aku selalu menurut. Tetapi keesokan harinya aku kembali.

Lubang-lubang kecil mulai muncul di kebun. Tidak teratur. Tidak membentuk pola. Ada yang dangkal, ada yang dalam. Aku mengingat letaknya dengan baik. Aku tahu lubang mana yang kugali setelah hujan pertama, lubang mana yang kubuat saat matahari terlalu terik, dan lubang mana yang kugali sambil menangis tanpa suara.

Tanah tidak pernah menolakku.

Kadang aku berpikir tanah ini lebih mengerti aku daripada orang orang dewasa.

Ayah jarang bicara setelah adikku pergi. Ia tetap berangkat pagi, pulang sore, duduk di kursi kayu sambil menatap halaman. Ia tidak pernah menanyakan lubang lubang itu. Tidak juga menegurku ketika melihat sekop berpindah tempat.

Suatu sore, aku duduk di dekatnya. Tanganku masih berbau tanah.

“Ayah,” kataku.

Ia menoleh. Matanya tampak lebih dalam dari sebelumnya, seperti lubang yang tidak sempat diisi apa pun.

“Apa, Nak?”

“Kalau orang mati, mereka ke mana?”

Ayah terdiam cukup lama. Angin menggerakkan daun mangga di atas kami. Beberapa daun kering jatuh dan mengenai tanah.

“Mereka pulang,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk. Aku tidak bertanya pulang ke mana. Aku sudah tahu jawabannya tidak akan membuatku lebih mengerti.

Musim berganti tanpa aku sadar. Hujan datang lebih jarang. Tanah mulai mengeras, tetapi tetap bisa dibelah. Rumput di atas kubur adikku tumbuh lebih tinggi dari rumput lain. Warnanya hijau pekat. Aku sering mencabutnya, lalu menyesal dan menanamnya kembali dengan hati-hati.

Aku mulai bermimpi tentang lubang-lubang itu tanpa melihat adikku lagi. Dalam mimpi, aku hanya berdiri di tepi lubang, menatap ke dalam, dan lubang itu menatap balik. Tidak ada suara. Tidak ada wajah. Hanya rasa bahwa aku sedang berada di tempat yang tepat.

Suatu hari, Ayah tidak pulang.

Ibu menunggu sampai malam. Lampu depan dinyalakan lebih awal. Aku duduk di lantai, menatap pintu. Ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah, aku berdiri, berharap Ayah masuk sambil membuka sepatu seperti biasa.

Yang masuk bukan Ayah.

Mereka bicara pelan. Ibu mengangguk, lalu duduk di kursi tanpa suara. Aku berdiri di sudut ruangan, memegang dinding agar tidak jatuh. Kata kecelakaan terdengar beberapa kali. Kata cepat. Kata tidak sempat.

Tubuh Ayah dibawa pulang dalam peti yang lebih besar. Orang-orang dewasa menggali kali ini. Aku tidak diberi sekop. Aku hanya berdiri, menatap tanah yang kembali dibelah. Lubangnya lebih besar, lebih dalam, tetapi tanahnya sama. Lembap. Menurut.

Aku memperhatikan cara mereka menggali. Terburu buru. Tidak rapi. Aku ingin memperbaikinya, tetapi tanganku kosong.

Setelah pemakaman, aku kembali ke kebun sendirian.

Aku mengambil sekop yang kusimpan di belakang gudang. Tanganku gemetar ketika menggenggamnya. Aku menggali lubang lain. Lebih besar. Lebih dalam. Aku tidak berhenti ketika lenganku pegal. Aku tidak berhenti ketika tanah mulai runtuh ke dalam lubang. Aku terus menggali sampai napasku pendek.

Saat aku berhenti, lubang itu sudah cukup untuk seseorang yang lebih besar dariku.

Aku duduk di tepinya, menatap ke dalam. Tidak ada apa pun di sana. Tetapi aku tahu lubang itu tidak kosong.

Di situlah aku menyadari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata sederhana.

Aku tidak menggali untuk orang yang mati.

Aku menggali untuk diriku sendiri. Untuk bagian-bagian diriku yang ikut dikubur setiap kali seseorang pergi. Untuk pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Untuk suara adikku yang masih tersisa di kepalaku. Untuk Ayah yang tidak sempat mengajariku banyak hal.

Kubur-kubur itu tidak kosong.

Mereka penuh.

Penuh oleh ingatan.

Penuh oleh rasa bersalah.

Penuh oleh hal-hal yang tidak bisa dikatakan oleh anak-anak.

Waktu berjalan tanpa meminta izin. Aku tumbuh. Tanganku membesar. Sekop itu akhirnya terasa kecil. Ibu menjadi semakin diam. Rumah terasa lebih luas dan lebih kosong.

Suatu hari, kebun itu dijual. Rumah diruntuhkan. Pohon mangga ditebang. Aku berdiri di pinggir tanah yang sudah rata, menatap bekas-bekas yang hanya bisa kulihat sendiri.

Aku tahu, di bawah tanah itu, lubang-lubang masih ada. Tidak tertutup. Tidak hilang. Tanahnya tetap subur. Selalu siap digali kembali.

Karena beberapa kubur tidak dibuat untuk mayat.

Beberapa kubur dibuat untuk menyimpan hidup yang terlalu cepat dipaksa dewasa. [T]

Penulis: Safir Ahyanuddin
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Next Post

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Safir Ahyanuddin

Safir Ahyanuddin

Penulis yang menaruh minat pada penulisan cerpen dan esai reflektif dengan fokus pada relasi keluarga, ingatan, tradisi, serta luka-luka sunyi yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Karyanya kerap bergerak dalam narasi pelan, menyorot hal-hal yang dianggap biasa namun menyimpan ketegangan batin dan persoalan kemanusiaan. Instagram: @safierahsfr

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co