14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

Safir Ahyanuddin by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
in Cerpen
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun.

Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku kotor oleh lumpur yang lengket, tetapi aku tidak peduli. Sekop kecil milik Ayah terasa berat di tanganku, meski gagangnya pendek dan sudah tumpul di ujungnya. Ketika kutancapkan ke tanah, sekop itu masuk dengan mudah, seolah tanah telah menunggu sentuhan itu sejak lama.

Tanahnya lembap dan mudah dibelah, seperti sudah sering disentuh tangan manusia. Setiap sodokan mengeluarkan bau yang tidak asing, bau tanah yang pernah basah oleh hujan, kering oleh matahari, lalu basah kembali oleh sesuatu yang lain. Aku tidak tahu apa itu saat itu. Aku hanya tahu tanah ini tidak keras, tidak menolak, seolah ia sudah siap sejak lama.

Aku menggali perlahan. Bukan karena lelah, tetapi karena aku ingin memastikan lubang itu rapi. Aku tidak tahu untuk apa rapi, tetapi rasanya lubang ini tidak boleh sembarangan. Setiap kali sekop mengenai batu kecil, bunyinya terdengar lebih keras dari seharusnya. Aku berhenti sebentar, memindahkan batu itu ke samping, lalu melanjutkan.

Ibu berdiri di kejauhan, di bawah pohon mangga. Pohon itu sudah tua dan daunnya lebat. Biasanya Ibu duduk di sana sore hari, memotong ujung daun kering atau sekadar menatap kebun. Hari itu ia berdiri, tidak bergerak, kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Wajahnya sulit kuterjemahkan. Bukan marah, bukan sedih. Lebih seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu selesai.

“Kau tidak perlu menggali terlalu dalam,” katanya akhirnya.

Suaranya tidak keras. Bahkan nyaris seperti berbicara pada diri sendiri.

Aku mengangguk, meski aku terus menggali. Aku tidak tahu apa arti terlalu dalam. Aku hanya ingin lubang itu cukup. Cukup untuk apa, aku juga tidak tahu.

Kubur itu untuk adikku.

Ia meninggal dua hari sebelumnya. Malam sebelum ia pergi, aku masih mendengar napasnya berat dan pendek. Aku berpikir ia hanya sedang tidur dengan cara yang aneh. Paginya, tubuhnya terasa ringan ketika diangkat. Terlalu ringan untuk seseorang yang biasanya menarik selimutku ketika tidur.

Orang-orang dewasa berkata ia sakit. Mereka juga berkata Tuhan lebih sayang padanya. Aku tidak memahami dua kalimat itu. Jika Tuhan sayang, mengapa Ia mengambilnya. Jika sakit, mengapa tidak disembuhkan saja. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Mereka hanya mengusap kepalaku dan menyuruhku bermain.

Kubur itu, kata Ayah, seharusnya digali oleh orang dewasa. Tetapi entah mengapa, sekop itu diberikan kepadaku. Tangannya gemetar sedikit ketika menyerahkannya.

“Mungkin agar kau belajar,” katanya.

Aku tidak bertanya apa yang harus kupelajari. Aku juga tidak bertanya mengapa aku yang dipilih. Aku menerima sekop itu seperti menerima tugas sekolah yang tidak bisa ditolak.

Tanah itu terus terbelah. Akar-akar kecil muncul, sebagian terputus, sebagian bertahan. Aku menariknya satu per satu. Ada yang putus dengan mudah, ada yang membuat tanganku pegal. Aku tidak marah pada akar-akar itu. Aku hanya ingin lubang ini cukup besar.

Sesekali aku mengelap keringat dengan punggung tangan. Tanganku kotor, kukuku hitam oleh tanah. Aku melihat ke arah Ibu. Ia masih di sana. Kali ini matanya menatap tanah yang kugali, bukan wajahku. Aku berpikir mungkin ia sedang menghitung sesuatu. Atau mungkin ia sedang menghafal bentuk lubang itu.

Ketika akhirnya tubuh adikku dibaringkan di dalam tanah, aku memperhatikannya lama. Wajahnya tampak tenang, seperti sedang tidur siang. Bibirnya sedikit terbuka. Aku menunggu dadanya naik turun. Aku menunggu terlalu lama.

Tidak ada.

Ibu menangis tanpa suara. Air matanya jatuh satu-satu, mengenai tanah di dekat kakinya. Ayah berdiri kaku, lalu menutup tanah dengan cepat, seolah lubang itu harus segera hilang dari pandangannya. Tangannya bergerak terburu buru, tidak serapi galianku tadi.

Aku berdiri di sana lebih lama dari yang lain. Ketika semua orang mulai pergi, aku masih menatap tanah yang baru ditutup itu. Tanahnya tampak lebih gelap dari sekitarnya. Lebih basah. Lebih hidup.

Hari-hari berlalu. Hujan datang dan pergi. Matahari kembali mengeringkan tanah. Aku sering kembali ke tempat itu. Tidak untuk menangis. Tidak juga untuk berdoa. Aku hanya duduk, menatap tanah yang kini tampak lebih subur dari bagian kebun yang lain. Rumput tumbuh lebih hijau di atasnya. Cacing sering muncul setelah hujan. Tanah itu hidup.

Aku mulai berpikir mungkin adikku masih ada di sana, bukan di dalam tanah, tetapi di tanah itu sendiri.

Suatu sore, ketika hujan baru saja berhenti, aku membawa sekop lagi.

Aku menggali di samping kubur adikku. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Aku ingin membuat lubang lain. Aku tidak tahu untuk apa. Tanganku bergerak sendiri, seperti mengingat sesuatu yang belum pernah kupelajari.

Tanahnya tetap mudah digali.

Aku teringat kata-kata Ibu dulu. Kau tidak perlu menggali terlalu dalam.

Aku menggali lebih dalam.

Ketika lubang itu cukup besar, aku berhenti. Aku duduk di pinggirnya, kaki menggantung. Tanah lembap menempel di tumitku. Aku membayangkan jika suatu hari aku harus berbaring di sana. Apakah tanah akan sama ramahnya. Apakah ia akan menerimaku seperti menerima adikku.

Malam itu aku bermimpi.

Dalam mimpiku, adikku duduk di dalam lubang itu. Bukan kuburnya, tapi lubang yang kugali. Bajunya kotor oleh tanah. Tangannya hitam, tetapi wajahnya cerah seperti dulu, sebelum ia sering terbaring.

“Kau salah tempat,” katanya.

Suaranya ringan, seperti sedang mengingatkanku pada kesalahan kecil.

Aku terbangun dengan napas terengah. Tanganku mencari sekop di samping tempat tidur, tetapi yang kutemukan hanya udara dingin dan bau tanah yang masih menempel di hidungku.

Sejak malam itu, aku sering menggali.

Bukan setiap hari. Kadang dua hari sekali, kadang hanya ketika hujan turun dan tanah menjadi lunak. Aku tidak selalu membawa sekop. Terkadang aku hanya memakai tangan, mengorek tanah perlahan, membiarkan kuku dan telapak tanganku kotor. Rasanya lebih dekat. Seolah aku sedang menyentuh sesuatu yang tidak boleh terlalu keras diperlakukan.

Ibu beberapa kali melihatku dari jauh. Ia tidak melarang. Ia juga tidak mendekat. Hanya berdiri di ambang dapur atau di bawah pohon mangga, memperhatikanku seperti seseorang yang sedang menghitung sisa tenaga. Sesekali ia memanggilku masuk ketika hari mulai gelap.

“Kau sudah cukup bermain tanah hari ini, Nak,” katanya.

Aku menurut. Aku selalu menurut. Tetapi keesokan harinya aku kembali.

Lubang-lubang kecil mulai muncul di kebun. Tidak teratur. Tidak membentuk pola. Ada yang dangkal, ada yang dalam. Aku mengingat letaknya dengan baik. Aku tahu lubang mana yang kugali setelah hujan pertama, lubang mana yang kubuat saat matahari terlalu terik, dan lubang mana yang kugali sambil menangis tanpa suara.

Tanah tidak pernah menolakku.

Kadang aku berpikir tanah ini lebih mengerti aku daripada orang orang dewasa.

Ayah jarang bicara setelah adikku pergi. Ia tetap berangkat pagi, pulang sore, duduk di kursi kayu sambil menatap halaman. Ia tidak pernah menanyakan lubang lubang itu. Tidak juga menegurku ketika melihat sekop berpindah tempat.

Suatu sore, aku duduk di dekatnya. Tanganku masih berbau tanah.

“Ayah,” kataku.

Ia menoleh. Matanya tampak lebih dalam dari sebelumnya, seperti lubang yang tidak sempat diisi apa pun.

“Apa, Nak?”

“Kalau orang mati, mereka ke mana?”

Ayah terdiam cukup lama. Angin menggerakkan daun mangga di atas kami. Beberapa daun kering jatuh dan mengenai tanah.

“Mereka pulang,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk. Aku tidak bertanya pulang ke mana. Aku sudah tahu jawabannya tidak akan membuatku lebih mengerti.

Musim berganti tanpa aku sadar. Hujan datang lebih jarang. Tanah mulai mengeras, tetapi tetap bisa dibelah. Rumput di atas kubur adikku tumbuh lebih tinggi dari rumput lain. Warnanya hijau pekat. Aku sering mencabutnya, lalu menyesal dan menanamnya kembali dengan hati-hati.

Aku mulai bermimpi tentang lubang-lubang itu tanpa melihat adikku lagi. Dalam mimpi, aku hanya berdiri di tepi lubang, menatap ke dalam, dan lubang itu menatap balik. Tidak ada suara. Tidak ada wajah. Hanya rasa bahwa aku sedang berada di tempat yang tepat.

Suatu hari, Ayah tidak pulang.

Ibu menunggu sampai malam. Lampu depan dinyalakan lebih awal. Aku duduk di lantai, menatap pintu. Ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah, aku berdiri, berharap Ayah masuk sambil membuka sepatu seperti biasa.

Yang masuk bukan Ayah.

Mereka bicara pelan. Ibu mengangguk, lalu duduk di kursi tanpa suara. Aku berdiri di sudut ruangan, memegang dinding agar tidak jatuh. Kata kecelakaan terdengar beberapa kali. Kata cepat. Kata tidak sempat.

Tubuh Ayah dibawa pulang dalam peti yang lebih besar. Orang-orang dewasa menggali kali ini. Aku tidak diberi sekop. Aku hanya berdiri, menatap tanah yang kembali dibelah. Lubangnya lebih besar, lebih dalam, tetapi tanahnya sama. Lembap. Menurut.

Aku memperhatikan cara mereka menggali. Terburu buru. Tidak rapi. Aku ingin memperbaikinya, tetapi tanganku kosong.

Setelah pemakaman, aku kembali ke kebun sendirian.

Aku mengambil sekop yang kusimpan di belakang gudang. Tanganku gemetar ketika menggenggamnya. Aku menggali lubang lain. Lebih besar. Lebih dalam. Aku tidak berhenti ketika lenganku pegal. Aku tidak berhenti ketika tanah mulai runtuh ke dalam lubang. Aku terus menggali sampai napasku pendek.

Saat aku berhenti, lubang itu sudah cukup untuk seseorang yang lebih besar dariku.

Aku duduk di tepinya, menatap ke dalam. Tidak ada apa pun di sana. Tetapi aku tahu lubang itu tidak kosong.

Di situlah aku menyadari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata sederhana.

Aku tidak menggali untuk orang yang mati.

Aku menggali untuk diriku sendiri. Untuk bagian-bagian diriku yang ikut dikubur setiap kali seseorang pergi. Untuk pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Untuk suara adikku yang masih tersisa di kepalaku. Untuk Ayah yang tidak sempat mengajariku banyak hal.

Kubur-kubur itu tidak kosong.

Mereka penuh.

Penuh oleh ingatan.

Penuh oleh rasa bersalah.

Penuh oleh hal-hal yang tidak bisa dikatakan oleh anak-anak.

Waktu berjalan tanpa meminta izin. Aku tumbuh. Tanganku membesar. Sekop itu akhirnya terasa kecil. Ibu menjadi semakin diam. Rumah terasa lebih luas dan lebih kosong.

Suatu hari, kebun itu dijual. Rumah diruntuhkan. Pohon mangga ditebang. Aku berdiri di pinggir tanah yang sudah rata, menatap bekas-bekas yang hanya bisa kulihat sendiri.

Aku tahu, di bawah tanah itu, lubang-lubang masih ada. Tidak tertutup. Tidak hilang. Tanahnya tetap subur. Selalu siap digali kembali.

Karena beberapa kubur tidak dibuat untuk mayat.

Beberapa kubur dibuat untuk menyimpan hidup yang terlalu cepat dipaksa dewasa. [T]

Penulis: Safir Ahyanuddin
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Next Post

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Safir Ahyanuddin

Safir Ahyanuddin

Penulis yang menaruh minat pada penulisan cerpen dan esai reflektif dengan fokus pada relasi keluarga, ingatan, tradisi, serta luka-luka sunyi yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Karyanya kerap bergerak dalam narasi pelan, menyorot hal-hal yang dianggap biasa namun menyimpan ketegangan batin dan persoalan kemanusiaan. Instagram: @safierahsfr

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co