22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Redaksi Tatkala Denpasar by Redaksi Tatkala Denpasar
February 11, 2024
in Panggung
“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Pertunjukan wayang cenk blonk serangkaian Bulan bahasa Bali 2024 di Taman Budaya Provinsi Bali

“Orang hidup untuk meyasa kerti, menjalani hidup dengan sepenuh hati. Maka itu, menjalani hidup dengan baik  untuk belajar mati. Dalam hidup agar selalu berbuat baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan lingkungan. Maka ketika mati, nama baik itu akan selalu dikenang, sehingga menjadi selalu hidup!”

Itu, antara lain, kalimat yang dilontarkan Tualen—tokoh punakawan Pandawa, dalam pementasan Wayang Cenk Blonk dengan Jero Dalang I Wayan Nardayana di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu malam, 10 Februari 2024.

Pertunjukan wayang itu merupakan program “Sesolahan” (Panggung Apresiasi Seni Sastra) serangkaian festival atau perayaan Bulan Bahasa Bali (BBB) VI yang diselenggarakan Pemprov Bali melalui Dinas Kebudayaan Bali.

Dialog antara Tualen dan Merdah—pasangan ayah-anak punakawan Pandawa itu—di tangan Jero Dalang Nardayana, memang selalu sarat dengan petuah-petuah tentang kehidupan yang dikemas lucu dan komunikatif. Bahasanya, tentu saja bahasa Bali, yang kadang kental dengan dialek Belayu-Marga, Tabanan, desa tempat tinggal Jero Dalang.

Barangkali karena itulah pertunjukan Wayang Cenk Blonk selalu ditunggu-tunggu, dan selalu ramai penonton.   

Pada Sabtu malam itu, penonton di Taman Budaya sudah berdatangan sejak sore, dan penuh hingga malam. Meski waktu pentasnya molor—jadwalnya pukul 20.00 Wita, namun baru bisa dimulai pukul 21.05 Wita karena lalulintas macet—namun penonton tetap sabar menunggu.

Malam itu, Wayang Cenk-Blonk menampilkan kisah dengan judul Dharma Wangsa Wijaya. Itu sesuai dengan tema BBB VI “Jana Kerthi Dharma Sadhu Nuraga”, tentang kualitas manusia yang menjadi kunci kesuksesan.

Dialog tentang kualitas manusia muncul dalam dialog Tualen dan Merdah, ketika dua punakawan itu mengikuti paruman bersama tokoh-tokoh Pandawa.

Tualen mengawali pujian terhadap pertemanan dan persaudaraan antara Dharma Wangsa Kresna. Itu sebuah pertemanan dan persaudaraan yang tulus, dengan keakraban yang sejati, tanpa kebohongan.

Sebagaimana gaya main Jero Dalang Nardayana, tokoh-tokoh punakawan selalu dimainkan untuk menyindir keadaan zaman di masa kini. Tualen menyindir, persahabatan para pemimpin di zaman ini yang tentu saja tidak tulus, hanya berdasarkan kepentingan pribadi.

Tualen kemudian mengingatkan untuk mencari “kesugihan” (kekayaan) itu dengan cara yang halal agar menjadi langgeng.

Di situlah Tualen kemudian bahwa mengingatkan orang hidup itu sesungguhnya untuk belajar mati. Ketika kita menjalani hidup dengan selalu berbuat baik, maka ketika mati, nama baik itu akan selalu dikenang, sehingga menjadi selalu hidup.

Selain Tualen dan Merdah, pasangan punakawan Korawa, Delem dan Sangut, yang muncul kemudian juga tak kalah lucunya. Delem dan Sangut keluar dan menari penuh riang. Delem menyanyikan dengan nada besar dan keras. Sangut melantunkan tembang berbahasa Indonesia tentang kisah reformasi yang kini mewarnai medos. Masih adanya kasus korupsi, para elit suka bersandiwara, dan harga barang yang telah naik. Ketika ada penonton yang tertawa, Sangut merespon, sehingga pertunjukan menjadi komunikatif.

Pasangan tokoh rakyat yang muncul kemudian benar-benar membuat suasana pecah. Mereka adalah Ceng dan Blong. Dua tokoh rakyat jelata itu keluar di tengah-tengah sengitnya pertempuran antara Pandawa dan Korawa. Ceng mengatakan, Pandawa Sakti itu karena dekat dengan Dewa (Tuhan), sementara Korawa justru menjauhi Tuhan.

Jero Dalang Nardayana menyatakan rasa terima kasihnya kepada pemerintah yang memberikan kesempatan untuk tampil dalam acara Bulan Bahasa Bali VI tahun 2024 ini. Melalui pertunjukan Wayang Bali ini, ia berharap Bahasa, Aksara dan Sastra Bali tak punah di Bali.

Bahasa, Aksara dan Sastra Bali itu, kata Jero Dalang Nardayana, merupakan identitas sebagai orang Bali. Maka, melalui pertunjukan wayang ini yang sebagian besar menggunakan bahasa Bali akan dapat menjadi pembelajaran bagi anak-anak muda agar bisa lebih memahami budaya warisan leluhurnya sendiri.

“Kami sudah mengetahui tidak semua dari audien yang mengetahui bahasa Bali, maka dalam pertunjukan wayang ini disisipkan dengan bahasa Indonesia, dan terkadang bahasa Inggris sebagai bentuk sajian yang mengikuti perkembangan jaman,” katanya.

Tujuannya untuk menciptakan pertunjukan yang lebih komunikatif. Setidaknya, dapat membimbing mereka untuk mengertri tentang bahasa itu sendiri. Kalau semua mamakai bahasa Bali, kami yakin tak semua penonton itu mengerti.

“Hal itu juga sebagai cara untuk memperkaya pertunjukan itu. Dengan demikian, masyarakat Bali akan lebih mencintai bahasanya sendiri. Tidak malu berbahasa Bali, karena itulah identitas, dan itulah ciri sebagai orang Bali,” katanya.

Jana Kerthi itu kualitas SDM yang digambarkan pada tokoh Dharma Wangsa. Kalau tidak memiliki SDM tinggi, Dharma Wangsa tidak akan mungkin mengalahkan Pemurtian Ludra. Kekuatan Salya akhirnya tak berdaya dihadapan senjata Kalimasada milik Dharma Wangsa.

“Dalam hidup ini, ada suka yakni kebahagiaan dan ada duka yaitu penderitaan. Hanya orang orang yang kuat, memiliki mental, pengetahuan, serta pribadi yang kuat yang akan bisa dan mampu lolos dari suka dan duka kehidupan ini,” jelas Nardayana.

Itu artinya, agar bisa melewati kehidupan ini harus terus mengisi diri dengan pengetahuan dan kepribadian. Karena hidup ini pasti berisi suka dan duka yang tak akan luput pula dengan rintangan dan hambatan. Semua itu, bagian dari pembelajaran agar lebih berkualitas.

“Dalam hal ini, bukan membicarakan tujuan, tetapi perjalanan proses ini yang dibicarakan. Kalau proses perjalanan itu sudah bagus, maka pasti hasilnya akan lebih baik. Penting kita mencari tujuan itu, tetapi jangan memikirkan itu saja tanpa menikmati prosesnya,” kata Jero Dalang Nardayana.

Kadang-kadang proses ini tidak dinikmati, maka gol tidak akan bisa didapat. Maka ada dua hal yang rugi. Pertama perjalanan tidak dinikmati, kedua gol tidak didapati.

“Maka itu, nikmatilah perjalanan suka dan duka itu, agar gol bisa didapat. Kalau suka duka itu sudah dinikmati, maka keduanya akan didapati, proses dan gol. Proses itu yang lebih penting, karena melalui proses akan menuju tujuan itu,” ujarnya. [T][Ado]

Dharma Pawayangan: “Saking Swara Nuju Iswara”
Membaca Ekosistem Pertunjukan Wayang Kulit di Buleleng
Wayang dan Elektron: Metafora Keseimbangan dan Spektrum Energi Dalam Wayang Kayonan
Tags: Bahasa BaliBulan Bahasa BaliJero Dalang Nardayanakesenian baliwayangwayang ceng blongwayang cenk blonk
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik

Next Post

Kapitan Lie Eng Tjie, Rumah Besar dan Jejak Kampung Pecinan di Singaraja

Redaksi Tatkala Denpasar

Redaksi Tatkala Denpasar

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Kapitan Lie Eng Tjie, Rumah Besar dan Jejak Kampung Pecinan di Singaraja

Kapitan Lie Eng Tjie, Rumah Besar dan Jejak Kampung Pecinan di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co