24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Jaswanto by Jaswanto
January 30, 2024
in Ulas Film
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Foto: Asian Film Archive

APA yang akan Anda katakan saat ditanya mengenai film India? Nyanyian, tarian, cengeng, romantis, penuh drama, pemandangan yang eksotis? Barangkali ini sedikit jawaban yang menggambarkan sinema nehi-nehi itu. Meski mungkin ada jawaban yang, bisa jadi, lebih panjang daripada itu. Tidak percaya? Silakan tanya kepada Mahfud Ikhwan.

“Seperti film porno, film India disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.” Ini kata Mahfud Ikhwan.  

Mengenai seluk-belum film India, mungkin tak ada orang Indonesia yang bisa sedalam, setahu, dan seserius seperti sastrawan asal Lamongan yang dekat dengan Warto Kemplung itu.

Bukan hanya menonton, atau mengakuinya secara terang-terangan di depan publik bahwa itu film yang disukainya, tapi ia juga menuliskannya, bahkan menerbitkannya menjadi dua jilid buku (serius) berjudul “Aku & Film India Melawan Dunia”.

(Saya menyukai film India. Tapi tentu derajat saya jauh lebih rendah daripada Mahfud Ikhwan.)

Baru-baru ini saya menonton film India yang lain, yang sama sekali jauh dari sedikit jawaban di paragraf pertama. Tak ada romantisme, tak ada tangis haru-biru, tak ada tarian, tak ada nyanyian, tak ada Shah Rukh Khan. Bukan saja karena itu, tapi juga sebab ini bukan film komersial. Ini film dokumenter pendek yang kebetulan dibikin oleh sutradara India dan tentang India—yang lain—pula.

Judulnya In the Forest One Thing Can Look Like Another—judul yang panjang untuk film berdurasi pendek. Film ini disutradarai Priyanka Chhabra, seorang sutradara perempuan yang menyukai tema tentang ingatan, lanskap, dan hubungan antara manusia dan tempat. Ia menyebut praktiknya sebagai sebuah arkeologi keheningan dengan menggali situs-situs yang dicirikan dengan trauma fisik maupun emosional.

Film In the Forest… terhimpun dalam program Monographs 2023 Asian Film Archive (AFA) bersama enam film pendek lainnya, yaitu Apat (2023), The Landscape of Sanatoriums (2023), Letter to T: in nuclearity we are connected (2023), mmm (2023), Precious. Rare. For Sale (2023), dan Swimming, Dancing (2023).

Saya menonton film In the Forest di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam sebuah acara nonton dan diskusi film yang diselenggarakan komunitas mikro sinema Singaraja Menonton yang bekerjasama dengan Minikino, Jumat (26/1/2023) malam.

Film ini berpusat pada kota yang terletak di negara bagian Himachal Pradesh, India: Manali. Saat menonton, saya seolah diajak Priyanka untuk membaca sebuah esai atau catatan perjalanan yang ditulisnya di buku catatan miliknya. Ya, film ini barangkali bisa disebut sebagai “video atau film esai”, anggap saja begitu, sebab narator memang seperti membacakan esai panjang tentang dirinya, sinema India, dan wajah Manali di layar kaca dan di dunia nyata.

(Saya sebut sebagai video esai karena memang, sebagaimana penjelasan singkat pihak Asian Film Archive (AFA), bahwa Monograf adalah serangkaian esai video dan teks tentang sinema Asia yang diproduksi pada masa merebaknya COVID-19. Edisi kedua Monographs terdiri dari 13 karya yang diproduksi—tujuh esai video dan enam esai tertulis—melalui konsultasi dengan pembuat film/editor Daniel Hui dan peneliti/kurator Matthew Barrington.)

Menampakkan yang Tak Tampak

In the Forest… merupakan video esai yang kritis terhadap industri film India yang selalu berusaha menampilkan keindahan alamnya tapi nyaris tak pernah menayangkan realitas di baliknya. Nama-nama tempat seperti  Ladakh, Manali, Rajasthan, Kalkuta, Shimla, New Delhi, Kashmir, Bombay, dan lain sebagainya, menjadi objek “eksploitasi”—jika bisa dikatakan demikian—industri film Bollywood.

Lihatlah adegan terakhir 3 Idiots (2009), atau lokasi di mana aktor manis dan pandai menangis Shah Rukh Khan menyimpan aktris cantik Anushka Sharma dalam Jab Tak Hai Jaan (2012), misalnya. Dalam dua film yang disebutkan, mata Anda dimanjakan dengan pemandangan indah Danau Pangong yang terletak di Ladakh.

Atau dalam Jab We Met (2007), yang menangkap keindahan Jalan Rohtang, Himachal Pradesh, dengan cara tertentu, mengabadikan bentangan seluloid yang diselimuti salju. Kabarnya film ini telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan perjalanan dengan ransel mereka, dan belajar menikmati perjalanan dengan cara terbaik, seperti Aditya Kashyap (Shahid Kapoor)—pengusaha muda patah hati—yang naik bus terbaik, pergi ke Stasiun Kereta Chatrapati Shivaji, naik kereta, dan bertemu dengan Geet Kaur Dhillon (Kareena Kapoor), lalu jatuh cinta.

Bertahun-tahun setelah film Rishi Kapoor Heena (1991) yang membawa Manali ke kanvas sinematik, Yeh Jawaani Hai Deewani (2013)—yang dibintangi Ranbir Kapoor—mengarahkan kota itu menjadi salah satu tujuan plesiran paling favorit.

Sejak Kashmir terus bergejolak, sebagaimana disampaikan Priyanka dalam In the Forest…, industri film Bollywood mulai melirik banyak tempat di belahan India lain, termasuk Manali. Priyanka tinggal di sana, di kota terpencil di pegunungan Himalaya itu. Dan atas konstruksi pengalaman pribadi tinggal di daerah itu lah, Priyanka memotret Manali yang lain—yang tak tampak dalam sinema Bollywood.

Secara historis, Manali merupakan destinasi populer yang kerap menjadi objek syuting lagu-lagu atau film Bollywood. Lanskap glasial Manali telah lama menjadi tempat bayangan perdesaan yang indah, yang sarat dengan kiasan petualangan, erotisme, dan romantisme.

Lain dengan film panjang komersiil yang menampilkan Manali dari sisi keindahannya saja, In the Forest… mencoba menginterogasi lapisan tipis dari praktik-praktik naratif tersebut; mencoba membangun tablo tentang pegunungan di dataran tinggi sebagai objek statis dan latar belakang fantasi perkotaan yang mengandaikan aspirasi kebahagiaan, sementara realitas yang genting tentang kehidupan di ekosistem yang sangat sensitif ini menggerakkan sebuah petualangan yang jauh dari angan-angan.

Manali, dalam beberapa film Bollywood, ditampilkan sebagai tempat yang nyaris sempurna. Hutan, lembah, padang rumput hijau dengan latar belakang gunung Himalaya, gletser, adalah gambaran imajinasi surga yang begitu nyata.

Manali dianggap sebagai tempat yang sempurna untuk menggambarkan kisah-kisah yang membahagiakan—sebagaimana ending film India. Namun, dan ini yang hendak disampaikan Priyanka dalam In the Forest…, nyaris tak ada film Bollywood yang menggambarkan Manali sebagaimana kenyataannya.

Pada kenyataannya, berdasarkan beberapa penelitian yang disebutkan dalam film In the Forest… terungkap bahwa Manali berada di wilayah yang memiliki potensi gempa seismik pada skala yang berbahaya. Selain itu, pembangunan dan eksploitasi berlebihan juga menyebabkan jalur menuju Manali sering mengalami banjir dan tanah longsor.

Pada 2023 di sekitar Manali, misalnya, lebih dari 700 jalan diblokir karena banjir dan tanah longsor. Wilayah ini sering menyaksikan dan merasakan tanah longsor dan banjir bandang yang merusak jalan dan bangunan. Beberapa distrik mengalami curah hujan sebulan penuh dalam satu hari. Di Manali, jalan-jalan tersapu banjir, membuat wisatawan dan beberapa kendaraan mereka terdampar.

Tetapi, orang macam apa yang mau menampilkan tragedi ekologis semacam itu di gemerlap industri layar sinema? Bukankah menampilkan yang baik-baik, indah-indah, merupakan salah satu tulang punggung kapital?

Rasanya akan sulit menemukan film Bollywood yang menampilkan situs warisan dunia Taj Mahal yang sudah pudar dan berlumut atau kondisi sungai penuh sampah yang mengapitnya. Atau jujur mengatakan bahwa cuaca di Danau Pangong, Ladakh, sebetulnya sangatlah ekstrem.   

Sebagai sebuah bentuk keprihatinan, film In the Forest One Thing Can Look Like Another setidaknya memberi sudut pandang baru, atau membuka mata kita atas sesuatu di balik yang indah-indah, bahwa realitas di balik layar bisa jauh terlihat lebih buruk dari gambaran idealnya.

Film ini barangkali juga mengajukan seruan untuk meningkatkan kesadaran ekologis orang-orang India, khususnya Manali, dan kita semua, manusia, makhluk yang harus bertanggungjawab atas hal-hal semacam itu.[T]

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65
Tags: filmfilm asiafilm dokumenterfilm pendekindiaMinikinoSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Music Celebration 2024” | Harmonious Echoes: Musik, Lingkungan, dan Kolaborasi Komunitas

Next Post

d’Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
d’Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

d'Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co