23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
January 28, 2024
in Ulas Buku
Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

SEBUAH karya sastra tercipta dari akumulasi beragam gagasan, ide, keinginan, hasrat yang berkecamuk di dalam diri seorang penulis. Gemuruh hati seorang penulis terwujud berupa karya sastra akan terus membara sepanjang ia menggeluti dunia kreatif. Ruang kreatif dalam cipta sastra bisa berbentuk puisi, cerpen, novel maupun drama. Ruang-ruang kreatif ini perlu diberdayakan bagi seorang pejalan sunyi. Pejalan sunyi untuk menemukan hakikat sebuah kata. Penemuan-penemuuan hakikat kata ini dicari oleh seorang pencipta puisi. Siapa yang mampu memenangkan sebuah hakikat kata itulah layak disebut sebagai pencipta karya kreatif.

Proses perjalanan seorang pencipta kreatif tidak sert-merta menjadi. Ia akan banyak mengalami tantangan baik itu tantangan dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Pengolahan emosi ini perlu dikendalikan oleh seorang penulis karya kreatif. Pemilihan kata, merunutkan alur pikiran menciptakan metafora-metofora baru adalah jalan panjang bagi seorang penulis puisi.

Proses panjang yang terkadang melelahkan ini perlu dipelajari hingga menjadi pemenang sebuah perjalanan meraih hakikat sebuah kata. I Komang Warsa dan  Natalino Muni Nepa Rassi telah berupaya menemukan hakikat  sebuah kata hingga tercipta sebuah kumpulan puisi Metamorfosis Imajinasi. Buku ini diterbitkan oleh Bukukatta,2023 di Solo.

Jika ditelisik metamorfosis imajinasi bermakna’perubahan bentuk dari sebuah imajinasi’. Perubahan imajinasi menjadi wujud sebuah puisi salah satunya. Beragam imajinasi beragam juga puisi yang tercipta. Kumpulan puisi karya guru kreatif ini agak unik karena satupun tidak ada judul puisi Metamorfosis Imajinasi. Tersirat ingin disampaikan bahwa puisi itu adalah metamorfosis dari imajinasi penulisnya.

Pencarian Diri Komang Warsa

Puisi-puisi Komang Warsa masih mencari bentuk yang bisa dikembangkan nantinya menjadi sebuah karya pusi yang lebih menantang. Dalam Metaforfosis Imajinasi Komang Warsa masih terpaut pada impresionisme atau kesan sesaat yang muncul dalam dirinya. Setelah mengalami pergumulan batin diciptakan menjadi sebuah puisi. Hampir setiap ada momen peringatan atau perjalanan diabadikan menjadi subuah puisi. Puisinya mencatatkan perjalanan yang dilakoninya.

Sentuhan rasa Komang Warsa dengan situasi sosial, alam, maupun suatu peristiwa membangkitkan imajinasinya. Catatan-catatan ini amat penting, paling tidak akan tercatat bahwa pada saat puisi itu tercipta ada momen ataupun peristiwa yang perlu diabadikan menjadi sebuah puisi. Alam ini puisi, untuk itulah, Komang Warsa memuisikan alam, misalnya Jembatan Tua di Tengah Kota, Kabut Rohani Pasar Agung, Kota Tua (Jakarta hari ini sebuah catatan rasa) Lembah Gunung Agung, Malam di Kuta, Menggurat Kecemasan Ibukota, Pelabuhan di Sunda Kecil, Senja di Toyabungkah, Mengenang Sudut Kampung nan Sepi.  Nada-nada impresionis tampak dalam puisi-puisi di atas.

Untuk mengabadikan seorang tokoh, Komang Warsa menjadikannya menjadi sebuah puisi. Kemulian, keagungan dan semangat nasionalisme seorang tokoh diabadikannya menjadi karya kreatif, misalnya dalam puisi  Chairil Anwar, R.A. Kartini maupun Sang Penyambung Lidah Rakyat. Termasuk sebuah peringatan atau perisitiwa, misalnya puisi 28 Oktober 1928 termasuk hari Ibu yang biasa diperingati setiap 22 Desember melahirkan sebuah puisi Ibu Sang Pelukis Jiwa (hlm.29).

Ada satu puisi yang membuat penulis tersentak saat membacanya, puisi Demokrasi Puisi (Lukisan Kata buat Sang Politisi). Puisi ini terasa mengalir, seperti tanpa beban saat menuliskannya.

Komang Warsa rasanya berada di dunia ini dalam penulisan puisi: Demokrasi berbalut konstitusi/Bukan untuk pasang aksi/demokrasi adalah organisasi/tempat berinovasi// Demokrasi bukan penampilan dasi/untuk menggapai ambisi/demokrasi rumah diskusi/untuk mencari solusi// Demokrasi bukan santap nasi/yang sudah basi di tangan politisi/demokrasi bukan transaksi/sebagai pasar gelap politisi// Demokrasi bukan lomba orasi/tiada pernah ada isi/demokrasi jangan emosi/karena merebut posisi// Negeri kami negeri demokrasi/ inspirasi motivasi membangun negeri nan serasi/yang bukan demokrasi puisi/yang penuh ilusi mimpi halusinasi// Demokrasi penuh imajinasi/lahir demokrasi puisi/beribu kata indah, beribu tafsir/lahir dari bermain diksi// Demokrasi rumah aspirasi/untuk diapresiasi/sang politikus/jangan sampai dimakan tikus-tikus//

Kerinduan Hati Natalino Muni Nepa Rassi

Ungkapan rasa syukur perlu terus tumbuh di hati setiap makhluk. Seorang Natalino mengungkapkan rasa syukurnya dalam puisi Jeritan-jeritan Ucapan Syukur. Ungkapan syukur kepada kebesasaran Tuhan atas karunia yang diberikan kepada aku lirik walau tantangan selalu datang yang diungkapkan dengan larik /terkadang angin timur, barat, utara dan selatan mengoyakanku/…// seorang Natalino selalu merasa bersyukur. Tantangan dijadikannya sebuah guru kehidupan hingga Natalino sampai pada,…/Namun, gada dan tongkatMu mengangkatku jauh lebih indah dari pelangi//

Ada dua sisi kehidupan yang diungkapkan Natalino dalam puisi ini, kesedihan, kedukaan yang dialami menjadikan lebih matang dan lebih kuat. Tantangan dijadikan cambuk untuk maju untuk meraih mimpi dan harapan yang lebih baik. Ungkapan syukur atas karunia yang diberikan Tuhan menjadikan hidup lebih bermakna dan lebih punya arti.

Rasa syukur itu akan menumbuhkan kecintaan dan kebahagiaan pada Tuhan (Juru Selamat). Puisi Dia Datang mewakili ungkapan hati Natalino. Tuhan akan selalu datang menyelamatkan umatnya selama ia selalu merundukkan hati dan egonya hingga benih-benih kemuliaan selalu tumbuh di hati umatnya…./kutakarkan semua rasa menjadi padu/menyongsong Sang Juru Selamat/robohkanlah gubuk kekhawatiran dan kegelisan/gantikan dengan menara kemenangan dan kedamaian//

Puisi Dia Datang seirama dengan puisi Desember Hitam Putih. Desember identik dengan Natal. Memuji Kebesaran Kristus sebagai Juru Selamat umat manusia. Sebagai manusia selalu ingin dekat dengan Tuhan. Kedamaian, cinta kasih Tuhan agar bisa menguatkan hatinya:…//Nantikanlah aku,teguhkanlah aku, kuatkan aku/pada janji-janji yang pernah terucap/aku berseru pada Tuhan/terseret dalam ruang dan waktu/aku ingin pulang//

Kerinduan pada tanah kelahiran adalah sesuatu yang umum dirasakan oleh setiap manusia. Cerita di tanah kelahiran akan terus membekas dalam memori kenangan di hati dan pikiran manusia. Kerinduan-kerinduan itu akan terus hidup begitu juga halnya Natalino yang rindu pada tanah kelahirannya. Akan tetapi, kerinduan Natalino diwujudkan dalam doa-doa. Doa-doa pada sahabat, doa pada orang tua, doa pada alam semesta….//kuisi bejana rindu ini dengan doa/getir hatiku berbalut tawa ria/berharap fajar satukan embun dan daun/bersua, hangat pelukmu kunantikan/sejuta cerita kususun rapi//

Pencarian dan penggalian perlu terus diupayakan bagi seorang pejalan di ranah pusi hingga menemukan hakikat dan jati dirinya dalam penulisan puisi. Pencarian ini perlu proses yang terus-menerus hingga pergumulan itu melahirkan puisi yang membuat pembaca menjadi tersentak.

Komang Warsa maupun Natalino tampaknya masih mencari daya ungkap yang bisa mewakili dirinya hingga gelora, hasrat, kerinduan, maupun cinta yang ingin diungkapkan dalam bentuk puisi bisa lebih intens. Metafora sebagai pembangun puisinya sudah memberikan ruang imajinasi bagi pembaca. Pembaca bisa menemukan ungkapan hati seorang Warsa maupun Natalino dalam kumpulan Metamorfosis Imajinasi. Selamat menikmati ruang batin Metamorfosis Imajinasi. [T]   

BACA artikel tentang ULAS BUKU lainnya di tatkala.co  

Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis
Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan
Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen
Tags: buku puisigurukumpulan puisiPuisipuisi gurusastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani

Next Post

Movieland sebagai Destinasi Wisata: Mungkinkah?

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Movieland sebagai Destinasi Wisata: Mungkinkah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co