22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Movieland sebagai Destinasi Wisata: Mungkinkah?

Chusmeru by Chusmeru
January 29, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PRODUKSI film nasional Indonesia mengalami pasang surut sepanjang masa. Ada masanya Indonesia menghasilkan film berbobot yang mendapat penghargaan internasional, namun sepi penonton.

 Ada pula film nasional yang laris manis di pasaran, namun kualitasnya dipertanyakan. Alhasil, investasi di sektor perfilman hanya mengejar target keuntungan; ditonton banyak orang, soal kualitas belakangan.

Begitu pula dengan produksi sinema elektronik atau sinetron di televisi. Dunia sinetron maupun sandiwara televisi sempat mengalami kejayaan. Serial televisi berjudul Losmen yang tayang tahun 1980-an medapat apresiasi penonton yang luar biasa.

Memasuki tahun 1990 hingga 2005 kembali tampil sinetron Keluarga Cemara yang juga ditonton banyak pemirsa. Tahun 1994 muncul pula Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang berlatar budaya Betawi dan Jawa. Beberapa contoh sinetron tersebut bukan hanya sukses lantaran banyak ditonton, tetapi juga sarat dengan nilai edukasi, moral, dan budaya.

Menyikapi perkembangan perfilman dan pertelevisian Tanah Air, beberapa investor membangun movieland di Lido City Bogor, Jawa Barat dan di Jababeka Cikarang, Jawa Barat. Movieland adalah pusat industri film dan televisi terintegrasi yang menyediakan semua fasilitas studio dan taman film seperti layaknya Universal Studio di Amerika Serikat.

Movieland dapat menjadi pilihan industri perfilman, baik film layar lebar, sinetron maupun iklan. Movieland di Jababeka misalnya, dilengkapi bangunan dan fasilitas yang membantu kebutuhan syuting, baik berlatarbelakang perkotaan, perkantoran, rumah, hingga pedesaan. (Berita Satu.com, 10 Juli 2023)

Akankah movieland dapat menjadi destinasi wisata? Paling tidak, itulah harapan Menteri Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Saat meresmikan Jababeka Movieland, dia berharap akan menjadi pusat perfilman dan destinasi pariwisata baru dengan basis perfilman dan industri keratif.

Potensi

Persaingan para pengembang kawasan untuk membangun movieland di Indonesia perlu disambut positif. Kehadiran movieland di Tanah Air akan membawa dampak sosial ekonomi maupun budaya. Movieland dapat membuka peluang lapangan kerja di daerah tersebut maupun nasional.

Movieland dapat pula menjadi sumber pendapatan daerah maupun devisa negara dari sektor perfilman dan industri kreatif. Keberadaan movieland juga dapat memacu produktivitas film nasional serta memacu proses berkesenian insan film Indonesia.

Potensi pengembangan movieland sebagai industri kreatif sangat besar, mengingat SDM perfilman di Indonesia sangat banyak. Kita memiliki banyak artis nasional dan daerah, mulai dari usia anak, remaja, maupun artis senior.

 Indonesia memiliki sutradara-sutradara handal yang telah banyak menghasilkan film-film berkualitas dan  box office. Produser yang menganggap film sebagai industri bisnis yang menguntungkan juga banyak.

Terkait minat produser dan sutradara nasional sangat tergantung dari disain dan harga sewa movieland. Apakah secara arsitektural disain movieland bisa mendekati kondisi natural Indonesia? Jangan sampai movieland yang ada sangat kentara artfisialnya.

Misalkan saja, film yang bertematik Bali. Akan sulit dilakukan syuting film di movieland, karena bukan hanya menyangkut alam dan pemandangan fisik yang bisa direkayasa secara arsitektural. Perlu gambaran tentang kehidupan sosial, budaya, dan adat  seperti yang dilakukan masyarakat Bali sehari-hari.

Biaya sewa movieland juga akan berpengaruh pada demand sutradara dan produser. Semestinya biaya sewa movieland bisa kompetitif dibandingkan lokasi syuting di daerah aslinya. Oleh sebab itu pengembang perlu memberi insentif kepada para sineas terkait biaya.

Pemerintah pusat dan daerah perlu mendorong movieland untuk menjadi destinasi wisata alternatif maupun wisata edukasi. Movieland bisa menjadi produk wisata yang bisa dijual ke pasar wisata domestik maupun mancanegara.

Politik Kebudayaan

Sesungguhnya yang diperlukan bukan hanya movieland. Indonesia membutuhkan politik kebudayaan yang mendukung perfilman sebagai ekosistem pariwisata dan industri kreatif. Politik kebudayaan diperlukan untuk melakukan counter culture terhadap beragam produk budaya asing.

Secara ideal, politik kebudayaan perfilman  diharapkan dapat menciptakan Indonesian Wave, sebagaimana Korea Selatan telah menghasilkan Korean Wave. Industri kreatif perfilman Korea telah sukses menghasilkan film dan drama Korea yang digemari masyarakat di berbagai negara.

Imbasnya, angka kunjungan wisata ke Korea Selatan melonjak, karena wisatawan ingin napak tilas mengunjungi lokasi syuting, menikmati kuliner, dan membeli busana Korea. Selain menjadi destinasi wisata alam, Korea Selatan juga menjadi destinasi wisata drama.

Banyak produksi film nasional yang mempromosikan alam dan budaya. Film Laskar Pelangi yang diproduksi tahun 2008 mampu menyedot banyak penonton, dan menjadikan Kepulauan Bangka Belitung menjadi destinasi wisata baru.

Begitu pun dengan film Denias, Senandung di Atas Awan. Film yang diproduksi tahun 2006 ini bercerita tentang anak-anak, pendidikan, alam, dan budaya di kaki pegunungan Jayawijaya, Papua. Film ini juga telah mengangkat citra pariwisata di Papua dan kabupaten lain.

Terbaru, serial web Gadis Kretek yang diproduksi tahun 2023 telah mampu menciptakan destinasi wisata baru di Indonesia. Drama seri yang tayang di Netflix ini dibintangi oleh artis papan atas seperti Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Arya Seloka, dan Putri Marino. Lokasi syuting Gadis Kretek menjadi sasaran wisatawan domestik.

Politik kebudayaan dan movieland Indonesia harus membuka peluang kepada para sineas luar negeri untuk melakukan pembuatan film di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan sinergi berbagai kementerian, seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perdagangan, Kementerian Dikbudristek, Kementerian Dalam Negeri,  BUMN, pengembang  movieland serta para sineas.

Para pengembang sendiri diharapkan dapat memberi insentif kepada sineas soal biaya pemanfaatan movieland. Sinergi bersama ini didukung olek politik kebudayaan yang jelas arahnya akan dapat menghasilkan produksi film dan pariwisata sebagai satu paket.

Mungkinkah movieland dapat menjadi destinasi wisata Indonesia? Tidak ada yang tak mungkin dalam industri pariwisata.  Kuburan massal Holocaust di Jerman menjadi destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai negara. Mengapa movieland tidak? [T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Berkomunikasi Lewat Busana
Tren Wisata 2024: Catatan Akhir Tahun Pariwisata Indonesia
Klaim Desa Wisata Demi Kue Pariwisata
Baduy, Penolakan Internet, dan Pariwisata
Jembatan Kaca dan Penyimpangan Pariwisata Berkelanjutan
Tags: filmfilm pariwisatamovielandPariwisatapariwisata film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

Next Post

Melihat Wajah Desa Baktiseraga di Tangan Ajik Armada

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Wajah Desa Baktiseraga di Tangan Ajik Armada

Melihat Wajah Desa Baktiseraga di Tangan Ajik Armada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co