3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jembatan Kaca dan Penyimpangan Pariwisata Berkelanjutan

Chusmeru by Chusmeru
November 15, 2023
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

INSIDEN pecahnya jembatan kaca di wahana wisata The Geong, Limpakuwus, Kabupaten Banyumas, Jawa Tenggah pada 25 Oktober 2023 lalu mengundang keprihatinan bagi pariwisata Indonesia. Insiden tersebut menyebabkan dua orang luka dan satu orang meninggal dunia.

Jembatan kaca merupakan wahana wisata yang banyak dijumpai di Indonesia. Sebagai bagian dari wisata luar ruang (outdoor), jembatan kaca dan wahana permaian lain memang rawan terjadi kecelakaan. Beberapa kasus kecelakaan di objek dan daya tarik wisata sering terjadi, karena sulit untuk dilakukan pengawasan kepada wisatawan.

Secara umum, ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan di objek wisata. Pertama, faktor alam dan cuaca. Contohnya hujan badai, petir, banjir, tanah longsor, puting beliung, gempa bumi, dan sebagainya. Musibah yang disebabkan faktor ini sulit untuk dihindari wisatawan. Karenanya mitigasi bencana sangat diperlukan dalam pariwisata.

Kedua, faktor sarana dan prasarana di objek wisata. Misal, konstruksi wahana wisata yang jelek, keropos, maupun tidak sesua standar. Kasus pecahnya jembatan kaca di Kabupaten Banyumas antara lain disebabkan kualitas kaca yang jelek dan ketebalan kaca yang tidak layak; hanya 1,2 cm.

Ketiga, faktor pengelola yang tidak profesional dalam mengelola objek wisata. Banyak objek wisata yang tidak memiliki Standard Operational Procedure (SOP) yang jelas. Padahal setiap objek wisata semestinya memiliki SOP. Pengelola juga tidak melakukan pengawasan kepada wisatawan serta tidak melakukan pengecekan wahana wisata secara rutin.

Keempat, faktor pengunjung atau wisatawan yang lengah dan lalai dalam berwisata. Kadang wisatawan abai terhadap rambu-rambu yang sudah dipasang di objek wisata. Kecelakaan juga sering terjadi karena wisatawan asyik berswafoto di objek wisata tanpa memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan jiwanya.

Distorsi Visual

Jatuhnya wisatawan dari jembatan kaca di Kabupaten Banyumas dapat dijadikan pelajaran bagi para pemangku kepentingan sektor pariwisata. Pengelola wahana wisata seperti jembatan kaca dan wisatawan yang berkunjung perlu memperhatikan tiga hal, yaitu keamanan, keselamatan, dan kenyamanan dalam berwisata.

Faktor keamanan akan berkaitan dengan konstruksi jembatan dan bahan baku jembatan yang terbuat dari kaca. Perlu ada hasil uji laboratorium terlebih dahulu sebelum jembatan kaca dijadikan wahana untuk wisatawan. Bagaimana kekuatan konstruksinya, ketebalan dan kekuatan kacanya, dan daya tamping maksimal pengunjungnya. Jangan sampai jembatan kaca mudah pecah dan kelebihan pengunjung.

Oleh sebab itu, pengelola perlu memastikan bahwa jembatan layak dikunjungi wisatawan dengan secara rutin mengecek kondisi jembatan setiap hari. Pengelola juga harus membatasi jumlah pengunjung yang menggunakan jembatan kaca agar tidak sarat beban.

Wisatawan sendiri juga perlu memperhatikan keselamatan jiwanya. Jangan memaksakan diri untuk untuk menggunakan wahana itu jika jumlah pengunjung sudah terlalu banyak. Kecenderungan wisatawan untuk swafoto acapkali mengabaikan keselamatan.

Pemerintah sebaiknya perlu mempertimbangkan kembali pembangunan jenis wahana wisata seperti jembatan kaca. Selain sangat beresiko terhadap faktor keamanan, banyak jembatan kaca di berbagai objek wisata alam justru menimbulkan distorsi visual. Objek wisata alam akan kehilangan view yang indah dengan adanya jembatan kaca itu.

Dalam perspektif ekologis, jembatan kaca sangat tidak sesuai dengan prinsip pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Jembatan kaca tidak ramah lingkungan. Jembatan kaca di daerah juga tidak mendukung keberlanjutan dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat sekitar.

Sertifikasi

Banyak hal yang mesti diperhatikan dalam menjajakan wahana wisata, termasuk jembatan kaca. Setiap wahana wisata selayaknya memiliki SOP yang jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan wisatawan serta apa yang harus dilakukan pengelola harus jelas. Rambu-rambu maupun papan informasi harus dipasang jelas untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Fasilitas K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) harus tersedia di semua objek wisata yang memiliki wahana. Dengan adanya fasilitas K3, wisatawan akan merasa tenang dan nyaman saat berwisata. Fasilitas K3 juga menujukkan kesiapan pengelola untuk memberikan pertolongan darurat ketika terjadi musibah. Banyak kasus kecelakaan di objek wisata yang tidak tertangani karena tidak adanya fasilitas K3 seperti tandu untuk mengangkut korban maupun obat-obatan.

Pencegahan terhadap kecelakaan di wahana wisata dapat dilakukan sedari awal dengan melibatkan unsur pemerintah dan pengelola. Peran masing-masing harus diatur dengan jelas. Sehingga ketika terjadi musibah di wahana wisata masing-masing tidak saling tuding dan saling lempar tanggung jawab.

Kelalaian yang menyebabkan wisatawan celaka bisa datang dari kecerobohan wiasatawan, pengelola yang tidak memenuhi standar operasional, maupun pihak pemerintah yang tidak melakukan monitoring dan evaluasi terhadap objek wisata di daerahnya. Jika memang wahana jembatan kaca tidak memenuhi kelayakan, maka pemerintah dapat menutupnya. Sehingga ketika terjadi musibah tidak menimbulkan kegaduhan saling melempar tanggung jawab.

Oleh sebab itulah, studi kelayakan sangat diperlukan. Studi kelayakan harus melibatkan berbagai pihak yang berkompeten dalam pembangunan jembatan kaca. Jika perlu, sebelum beroperasi perlu uji laboratorium terlebih dahulu untuk memastikan faktor keamanan dan keselamatan.

Tak kalah penting, setiap wahana wisata semestinya sudah lolos sertifikasi dari pihak-pihak terkait. Sertifikasi menjadi syarat wajib bagi semua wahana wisata. Jika memang ada wahana yang tidak lolos sertifikasi, maka pemerintah tidak perlu ragu untuk menutupnya.

Jangan sampai terjadi “main mata” antara pemerintah, investor, dan pengelola wahana wisata yang tidak lolos uji sertifikasi. Atau upaya “tutup mata” pihak pemerintah. Wahana wisata yang belum studi kelayakan dan uji sertifikasi dibiarkan beroperasi. Dan ketika terjadi musibah, pihak pengelola yang selalu dijadikan tersangka. Sedangkan pemerintah lepas dari tanggung jawab.

Sekali lagi, ini semua demi keselamatan dan keamanan wisatawan. Sangat menyedihan jika wisatawan yang bertujuan mencari kesenangan justru menjumpai kematian. [T]

  • BACA artikel tentang PARIWISATA atau artikel lain dari penulis CHUSMERU
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

                                                                                               

Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali
Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perangi Hoaks Jelang Pemilu, 30 Jurnalis dari Lima Provinsi Berlatih Cek Fakta AMSI di Bali

Next Post

Teknik Long Exposure Untuk Mengabadikan Aliran Air Selembut Kapas dalam Fotografi

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Teknik Long Exposure Untuk Mengabadikan Aliran Air Selembut Kapas dalam Fotografi

Teknik Long Exposure Untuk Mengabadikan Aliran Air Selembut Kapas dalam Fotografi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co