6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Aqilah Mumtaza by Aqilah Mumtaza
December 23, 2023
in Ulas Pentas
Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Penampilan Buktu dan para penonton yang berkerumun di depan panggung | Foto: Tim Dokumentasi Tapssu

“MERANTAU” menjadi kata yang dipilih sebagai tema utama pada pertunjukan malam itu. Namun, kata yang berkonotasi pergi jauh dari rumah tersebut justru membawa salah satu bentuk kesenian untuk pulang ke kampung halamannya, Yogyakarta.

Disebutkan dalam berbagai sumber bahwa kota yang dijuluki kota pelajar tersebut merupakan tempat lahirnya sebuah bentuk seni yang menggabungkan musik dan puisi. Orang-orang akrab menyebutnya dengan ‘musikalisasi puisi’.

Dibidani oleh para pegiat sastra di Yogyakarta tahun 1970-an, musikalisasi puisi lahir dengan sebutan poetry singing. Pergelaran musikalisasi puisi pun kerap diselenggarakan pada acara-acara sastra.

Pada tahun 2013-2019 perhelatan musikalisasi puisi giat diadakan oleh komunitas maupun lembaga kesenian, sebut saja “Pergelaran Musikalisasi Sastra” yang diadakan Taman Budaya Yogyakarta ataupun “Gelaran Musik Puisi: Duduk Bersama” yang diadakan komunitas Ngopinyastro. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perhelatan serupa jarang terdengar gaungnya.

Tapssu (Tak Perlu Sedu Sedan itu) yang diadakan oleh media alternatif Hiruk Pikuk berkolaborasi dengan komunitas sastra Jejak Imaji seolah menjadi perhelatan yang mengembalikan spirit kerja kolaborasi musik dan sastra, sekaligus menghadirkan kembali acara pertunjukan khusus musikalisasi puisi di Yogyakarta.

Setelah sukses melangsungkan edisi pertamanya pada 26 Juli 2023 di Cerita Makna Coffee & Space, Tapssu kembali digelar. Edisi kedua yang diadakan pada 17 Desember 2023 kali ini berusaha merengkuh audiens di bagian utara kota Yogyakarta dengan memilih venue di Dua Arah Coffee.

Sebagai bentuk penghormatan pada seorang penyair, penyelenggara Tapssu #2 mengkurasi puisi-puisi karya Indrian Koto untuk dialihwahanakan. Lima puisi yang diambil dari antologi puisi “Pleidoi Malin Kundang” diberikan pada lima penampil untuk dipertunjukkan dalam bentuk lain.

Merujuk pada identifikasi bentuk musikalisasi puisi oleh Hamdy Salad dalam buku Panduan Wacana & Apresiasi Musikalisasi Puisi, puisi yang ditampilkan pada Tapssu #2 dibawakan dalam bentuk instrumentalisasi puisi (puisi dibaca sambil diiringi musik), laguisasi puisi (puisi diberi nada menjadi melodi layaknya sebuah lagu), dan kombinasi dari keduanya.

Roji Luji membuka acara dengan hangat | Foto: Tim Dokumentasi Tapssu

Penampil pertama, yakni Roji Luji membawakan puisi berjudul “Ke Langgai, Ke Asal Leluhur”. Regina Gandes Mutiary sebagai vokalis melantunkan nyanyian lembut sambil memetikkan gitar, diiringi efek suara dari perangkat elektronik yang dioperasikan oleh partner-nya, Azaro Verdo Nuary. Musik bertempo lambat tersebut menjadi sajian pembuka yang hangat untuk menyapa para penonton agar berkenan menetap hingga akhir acara.

Puisi “Yogya: Kelahiran Kedua bagian I” diinstrumentalisasikan dan dilagukan oleh penampil kedua, Notula. Pembagian suara vokalis laki-laki dan perempuan menyaru dalam harmonisasi yang manis dan selaras.

Mereka menggunakan instrumen gitar, keyboard, serta piano sebagai pengiring. Lantunan puisi yang dikemas menjadi musik indah oleh Notula menelisik masuk secara sopan ke telinga para hadirin yang mendengarkan.

Penampilan Noire dengan musik metal | Foto: Tim Dokumentasi Tapssu

Seolah membangunkan audiens yang terbuai dengan alunan musik sendu nan merdu, penampil selanjutnya hadir menggertak panggung. Noire, kelompok musik yang melabeli diri dengan genre post-rock, emo, dan skramz tersebut menginstrumentalisasikan puisi “Kota Luka” dengan dibacakan dan diringi musik metal.

Sesuatu yang unik dari penampilan Noire adalah penggunaan teknik scream oleh sang vokalis dalam membacakan puisi. Penampilan ini memberikan dinamika suasana yang kontras dari penampil-penampil sebelumnya. Nuansa hangat yang dirasakan para penonton bergeser menjadi perasaan menggebu yang berapi-api.

Serupa ombak di lautan usai terhantam badai, penonton kembali dibawa pada suasana tenang namun menghanyutkan. Kelompok musik Skena Futura membawakan beberapa buah karyanya serta puisi “Hujan buat Ibu” dengan warna musik groovy pop/chill pop.

Sesuai dengan genrenya, puisi dilagukan dalam jalinan musik groove bertempo lambat. Skena Futura berhasil mengemas sebuah lagu yang ditujukan pada sosok ibu secara sentimental. Sederhana, namun mengena.

Skena Futura dengan musik groovy pop/chill pop| Foto: Tim Dokumentasi Tapssu

Penampil penutup pada malam itu lagi-lagi membawa ambiens pertunjukan kembali memanas. Ialah Buktu, kelompok musik yang digawangi oleh Bodhi IA tersebut memang sudah tidak asing dengan bentuk instrumentalisasi puisi.

Malam itu mereka membawakan puisi “Malam Pengembara” dengan musik post-rock eksperimental. Efek-efek suara tidak hanya digunakan sebagai pegiring, tetapi juga digunakan untuk mengubah suara mic yang digunakan Bodhi IA dalam membacakan narasi.

Suasana dibangun secara perlahan menuju permainan musik yang liar dan lepas. Anggukan kepala dan ketukan kaki tak mampu tertahankan oleh para penonton, mereka berkerubung di depan panggung dan enggan menyudahi sajian dari Buktu dengan terus meminta repertoar lebih.

Acara Tapssu #2 pada malam itu pun berakhir sudah. Kata “pecah” agaknya mampu menggambarkan keberhasilan para panitia penyelenggara dalam mengelola sebuah event, mulai dari pemilihan penampil, pemilihan tempat, penataan panggung, maupun susunan acara. Predikat tersebut juga pantas disematkan pada setiap penampil yang mampu mengombang-ambing penonton dalam berbagai atmosfer yang berbeda.

Acara ini juga menandakan bahwa musikalisasi puisi tidak pernah kehilangan tempat di tengah skena permusikan dan sastra di Yogyakarta, khususnya dalam lingkup anak-anak muda seperti para panitia dan audiens yang memenuhi venue pada malam tersebut.

Sejauh apa pun ia “merantau”, Yogyakarta selalu menjadi tempat pulang yang akan tetap menyambutnya dengan pintu terbuka.[T]

Menyimak Bunyi-bunyian Karya Manusia dan Kecerdasan Buatan dalam konser Artificial Intelligence
Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli
Tags: musikalisasi puisisastraYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dia Sedang Berjuang | Cerpen Putri Santiadi

Next Post

Tradisi Berburu Ulat Jati di Awal Musim Penghujan

Aqilah Mumtaza

Aqilah Mumtaza

Lahir di Cilacap, tumbuh dan besar di Yogyakarta. Lulusan prodi S-1 Musik di ISI Yogyakarta. Pernah bergabung dalam beberapa organisasi jurnalistik di kampus. Dapat disapa melalui Instagram @aqilahmumtaz

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Berburu Ulat Jati di Awal Musim Penghujan

Tradisi Berburu Ulat Jati di Awal Musim Penghujan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co