23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Adityawarman: Jejak Budaya Minangkabau yang Memukau

Ulfah Nurul Wahidah by Ulfah Nurul Wahidah
December 17, 2023
in Tualang
Museum Adityawarman: Jejak Budaya Minangkabau yang Memukau

Museum Adityawarman | Foto: Dok. Ulfah

TIGA September lalu, sebagai peserta pertukaran mahasiswa merdeka di Kota Padang bersama teman kelompok Modul Nusantara lain, saya berkesempatan mengunjungi Museum Adityawarman yang terletak di Kota Padang.  Meskipun panas matahari membakar tubuh dan rasa gerah menyerang kami sampai berkeringat, semangat kami tetap membara layaknya bara api yang berkobar.

Perjalanan terasa menyenangkan karena diselingi canda dan tawa sehingga tidak terasa membosankan. Sebelum sampai ke museum Adityawarman, kami sempat berhenti di Jembatan Siti Nurbaya untuk melakukan dokumentasi dan mendapat pengetahuan bahwa jembatan ini adalah pelabuhan tempat VOC dan Jepang pertama kali datang ke Padang.

(Dinamakan Jembatan Siti Nurbaya karena katanya di atas bukit dekat jembatan ini bersemayam makam Siti Nurbaya yang terkenal itu. Saya melihat tempat ini sebagai tempat bersejarah yang menyimpan banyak cerita di tengah Kota Padang.) Perjalanan menuju ke Museum Adityawarman dilanjutkan setelah kami berfoto ria di jembatan tersebut.

Kelompok Modul Nusantara foto di dekat Jembatan Siti Nurbaya / Foto: Dok. Ulfah

Ketika kami tiba di museum, jam telah menunjukkan pukul 09:50. Selanjutnya kami dikenalkan kepada kepada Kak Mega, salah seorang pemandu di Museum Adityawarman. Kami diajak berkeliling museum sembari mendengarkan penjelasan Kak Mega mengenai koleksi yang ada di museum.

Koleksi yang tersimpan di museum banyak menampilkan adat dan tradisi masyarakat Minang, mulai dari pakaian adat, aksesoris pernikahan, rumah adat asal Minang, dan rangkiang. Selain itu, museum ini juga menyimpan koleksi zaman purba, beberapa peninggalan zaman VOC, koleksi budaya Suku Mentawai, koleksi teknologika, serta museum khusus randang.

Museum Adityawarman dibangun atas inisiasi Gubernur Sumatera Barat, yaitu Harun Arrasyid pada tahun 1973. Selanjutnya, pada tahun 1977, museum ini diresmikan oleh Prof. Syarief Thayeb, Menteri Pendidikan Indonesia yang saat itu menjabat. Nama museum ini diambil dari nama raja Malayupura pada awal abad 14, yaitu Raja Adityawarman.

Museum Adityawarman masuk ke dalam kategori museum umum yang ada di bawah Dinas Kebudayaan Sumatera Barat. Untuk luas museum ini sekitar 2 hektare lebih. Sedangkan Koleksi museum ini meliputi sepuluh kategori, yaitu  geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filolo­gika, keramologika, seni rupa, dan teknologika.

***

Hal pertama yang diperlihatkan kepada kami adalah koleksi etnografika berupa adat dan kebudayaan Minangkabau. Kak Mega menjelaskan bahwa daerah Minang itu terbagi dua, yaitu daerah darek dan dan daerah rantau.

Daerah darek adalah daerah asli orang Minang yang meliputi daerah Tanah Datar, Agam, dan daerah Lima Puluh Kota. Sedangkan daerah rantau adalah daerah tempat orang Minang mencari penghasilan—daerah rantau ini adalah daerah selain dari tiga daerah darek tadi.

Selain menjelaskan perbedaan dua daerah tadi, Kak Mega juga mengatakan bahwa orang Minang yang menetap di rantau tidak boleh membangun rumah gadang atau rumah bagonjong, hal ini sebagai antisipasi jika orang rantau tak mau pulang. Maka, rumah gadang atau rumah bagonjong hanya bisa ditemui di daerah darek saja, tempat orang Minang pulang kampung.

Selanjutnya, Kak Mega menjelaskan mengenai kepemimpinan yang ada di lingkungan budaya Minang. “Luhak bapanghulu rantau barajo,”kata Kak Mega. Lebih lanjut Kak Mega mengartikan bahwa daerah darek itu dipimpin oleh seorang datuak dan daerah rantau itu dipimpin oleh seorang raja.

Pemilihan dan pengangkatan seorang datuak ini didasarkan pada tiga syarat kepemimpinan orang Minang, yaitu takah, tageh dan tokoh yang berarti berpenampilan baik, tegas, dan memiliki pengaruh di masyarakat.

Ketika seorang datuak dipilih dan diangkat, maka akan ada perayaan dengan menyembelih kerbau dan memasak randang atau rendang. Kemudian, Kak Mega menjelaskan bahwa pewaris gelar seorang datuak bukanlah anak kandung datuak, melainkan anak laki-laki dari saudara perempuan datuak. Tentulah hal ini dikarenakan budaya Minang yang menganut adat matrilineal, yaitu adat yang menilai hubungan kekerabatan bertumpu pada garis keturunan ibu.

Peran lain yang tak kalah penting dalam budaya Minang adalah adanya bundo kanduang—perempuan yang dituakan dan  bertanggung jawab atas kesejahteraan kaum. Seorang bundo kanduang memiliki hak dan kewajiban menjadi kepala para wanita yang tinggal di rumah gadang.

Seorang bundo kanduang tentulah harus wanita yang sudah menikah dan seorang bijaksana. Seorang bundo kanduang memiliki kedudukan penting dalam tradisi Minang

Selain sistem kepemimpinan dan adat matrilineal Minangkabau, kami juga diperlihatkan kepada rangkiang dan replika kamar khas Minang. Rangkiang adalah gudang penyimpanan yang memiliki pintu di atas. “Rangkiang ini adalah ciri dari pemikiran nenek moyang orang Minang yang bisa dikatakan visioner,” kata Kak Mega, menjelaskan.

Rangkiang ini tahan banjir, angin, dan pencuri karena jika ingin memasuki rangkiang haruslah memakai tangga terlebih dahulu. Selain itu, Kak Mega juga memberitahu kami bahwa dalam rumah gadang itu jumlah kamar disesuaikan dengan banyaknya anak perempuan dalam keluarga. Anak laki-laki tidak diberi kamar karena mereka tidur, belajar agama, dan silek di surau. Setelah beristri barulah laki-laki Minang ini memiliki kamar bersama istrinya.

Rangkiang di Museum Adityawarman / Foto: Dok. Ulfah

Setelah itu, kami diajak melihat berbagai aksesoris pernikahan dalam budaya Minang. Setiap daerah memiliki aksesoris dan perhiasan yang berbeda. Misalnya di daerah Agam, pakaian pengantin yang digunakan adalah baju Koto Gadang, hal ini tentu berbeda dengan daerah Padang dan Pariaman yang banyak menggunakan suntiang.

“Suntiang ini adalah lambang tanggung jawab yang akan diampu seorang perempuan apabila telah menikah, maka tak heran suntiang ini cukup berat jika digunakan di atas kepala,” ujar Kak Mega.

Setelah banyak mengetahui tradisi, adat, dan budaya Minang, Kak Mega mengajak kami ke Museum Randang yang baru selesai dibangun tahun 2020. Di dalam museum itu ada banyak informasi mengenai rendang, di antaranya  sejarah rendang, rempah yang digunakan untuk membumbui rendang, serta alat yang digunakan untuk memasak rendang.

Secara rinci, Kak Mega menjelaskan bahwa rempah yang digunakan untuk memasak rendang itu memiliki arti. Misalnya kelapa memiliki arti golongan cendikiawan, cabai merah memiliki arti para alim ulama yang senantiasa menegur untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang.

Kelompok Modul Nusantara foto di Museum Adityawarman / Foto: Dok. Ulfah

Selain daging, randang juga bisa berasal dari daun-daunan, ikan-ikanan, dan lain-lain. Lama memasak randang ini adalah sekitar 8 jam dan harus terus diawasi. Meskipun cara masaknya cukup membutuhkan kesabaran, randang ini cukup awet dan bisa bertahan sekitar 40 hari.

Di Museum Adityawarman ini kami juga diperlihatkan koleksi teknologika dan koleksi hewan-hewan yang diawetkan. Kunjungan kami di Museum Adityawarman diakhiri dengan makan siang bersama di pelataran museum. Sebuah kesempatan yang amat menyenangkan dan menambah wawasan untuk bisa mengunjungi museum ini.

Sebagai mahasiswa pertukaran dari luar Sumatera, saya jadi banyak belajar mengenai kebudayaan Minangkabau. Saya menyadari bahwa setiap budaya di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri-sendiri. Sebagai orang Sunda saya juga menyadari kekhasan budaya Sunda yang berbeda dengan budaya Minang.

Setelah kunjungan ke museum tersebut saya banyak mengkomparasikan kebudayaan daerah, menggali keunikannya dan kemudian merasa bangga bisa terlahir di tanah yang kaya akan budaya dan tradisi ini, Tanah Air kita, Indonesia.[T]

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Cerita dari Lombok: Teater, Tenun dan MotoGP
Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja
Tags: MuseumperjalananSumatera Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Next Post

B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

Ulfah Nurul Wahidah

Ulfah Nurul Wahidah

Mahasiswa FIB Unpad yang saat ini sedang melakukan pertukaran mahasiswa di Universitas Andalas, Sumatera Barat. Akun Ig: ulfahnw__

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co