23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja

Satria Aditya by Satria Aditya
October 31, 2023
in Tualang
Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja

THEATRE GAMES di Yogyakarta

THEATRE GAMES, begitu instruktur di Balai Besar Pengembangan Penjamin Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMVP Seni dan Budaya) di Ngaglik, Sleman, Yogyakarta menyebutnya. Ini adalah metode yang baru saya dengar. 

Ceritanya begini. Pada awal September 2023, saya tiba-tiba dihubungi Made Adnyana Ole, pendiri Komunitas Mahima. Saya diminta mengikuti diklat teater di Yogyakarta. Berangkat 2 Oktober. Saya langsung mengiyakan walaupun diklat itu dilaksanakan selama 16 hari.

Setelah mengiyakan itu, saya baru berpikir bahwa saya harus izin dari tempat bekerja selama 16 hari. Tetapi segala cara saya usahakan untuk dapat berangkat ke Yogyakarta, tempat impian saya sebelum menjadi mahasiswa dulu.

Waktu semakin dekat, hati semakin berkecamuk karena saya harus berangkat sendiri. Beberapa teman mungkin kesal saya tanyai bagaimana cara cek in saat di bandara nanti, kemana saya harus melaporkan tiket yang sudah saya pesan online itu saat berada di bandara nanti.

Untung saja, beberapa teman mau memberitahu saya kemana saya harus melaporkan tiket sampai ke detail harus berangkat jam berapa dan harus menunggu di mana nanti. Perasaan saya sedikit lega kala itu.

Barang-barang sudah saya kumpulkan sedemikian rapi di dalam koper. Pikir saya itu cukup untuk 2 minggu di Yogyakarta. Dilema semakin menyelimuti saat saya akan berangkat. Mungkin ini terlalu lebay tapi saya harus meninggalkan kekasih tercinta saya selama 2 minggu. Sedih memang, tapi untuk mencapai impian, memang harus memendam kerinduan.

Saya berangkat ke Yogyakarta, dengan rasa senang dan juga syukur saya akhirnya bisa berangkat ke Yogyakarta. Sampai di bandara Kulonprogo, ya Kulonprogo, membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk dapat sampai di Balai Diklat di Sleman. Sayangnya, saya sampai di Yogyakarta saat malam hari.

Agak sedih karena tidak bisa menikmati suasana dari Kulonprogo ke Sleman saat hari sedang terang. Karena beberapa waktu lalu sebelum berangkat ke Yogyakarta, saya membaca Twitter dan secara kebetulan saya membaca cerita mistis di Ringroad Jogja. Begitu sampai di Ringroad Jogja, pikiran-pikiran ngeri terbesit. Takutnya, sopir saya berubah menjadi sosok yang mengerikan atau di sebelah saya ada sosok yang mengerikan juga.

Singkat waktu, saya sampai di Balai Diklat yang sangat luas malam itu. Untuk menuju asrama yang akan saya tinggali dari gedung utama di depan membutuhkan waktu kurang lebih 7 menit jika berjalan. Untung satpam di Balai Diklat itu sigap membantu mengantar saya menuju gedung asrama. Pikir saya sebelumnya, saya tak akan nyaman dengan teman sekamar, takut tak ada obrolan yang seru dari saya.

Tetapi semua itu berubah semenjak saya masuk kamar. 2 orang teman sudah menunggu di dalam kamar, baru menghela nafas, kita langsung membicarakan kerja-kerja teater dan komunitas di daerah kita sendiri. Sedikit untuk untuk kawan pembaca, saya sekamar dengan orang Jakarta dan Indramayu. Beberapa praktek kerja teater dari daerah mereka masing-masing tergolong sama dengan apa yang ada di Bali.

Theatre Games

Saya adalah orang yang takut akan sesuatu yang baru pernah saya dengar. Misalkan kegiatan di Diklat Teater, saya takut bahwa kegiatan akan membosankan dan sangat membuat saya jenuh.

Tetapi semua itu berjalan tidak sesuai dengan pikiran saya. Setelah pengenalan teater secara teoritis, keesokan harinya kami, Bidang Seni Teater dengan 12 orang peserta berkumpul di gedung Seni Teater. Di dalam Balai Diklat, ada beberapa gedung yang dikhususkan untuk bidang-bidang tertentu. Misalkan, gedung Karawitan, Pedalangan, Musik dan gedung yang lain yang mencangkup seni dan budaya.

Kami sudah ditunggu oleh Mas Eko dan Mas Haris kala itu. Dengan secangkir kopi dan rokok yang sudah habis setengah, kami lantas ikut berbincang mengenai teater dan sedikit bercanda mengenai daerah kami sendiri-sendiri. Dari obrolan itu, kami menjadi saling berkenalan satu sama lain. Ada teman dari Lampung, Surabaya, Jogja, Kudus, Jepara, Tuban dan Banten.

Theatre Games sungguh sangat awam bagi saya. Karena selama ini, pola latihan hanya pada olah vokal A,I,U,E dan O, begitu pula olah tubuh dan olah rasa. Tetapi, ketika mempelajari Theatre Games pola pikir saya kepada teater berubah. Ternyata, teater bisa mengasyikkan jika pola latihan dibuat pula menarik. Pola latihan Theatre Games sangat cocok digunakan bagi saya, seorang pengajar yang juga mengajar extra teater di luar sekolah karena extra teater di sekolah sendiri dibubarkan.

Saya memutar otak sebelum adanya undangan untuk mengikuti diklat. Karena pola latihan yang itu-itu saja dan membuat anak-anak sekolah jenuh. Ditambah lagi, sampai hari ini, anak-anak sekolah di Denpasar tak tahu banyak teater, mereka lebih tahu operet yang memang mempunyai pasar besar di Denpasar. Tapi saya tidak menyalahkan itu, hanya saja, kerja saya menjadi bertambah untuk menjelaskan teater, tokoh yang terlibat dan teater “bagus” di Bali.

Pola-pola latihan Theatre Games seperti bermain anak-anak. Membuat lingkaran sembari menunjuk teman, begitu pula yang ditunjuk menunjuk teman lain dan seterusnya. Sampai akhirnya, kita berjalan ke arah teman yang ditunjuk, begitu pula seterusnya.

Posisi menjadi acak, kita menjadi bingung dari posisi teman sebelumnya dan bisa berubah seketika, apalagi ketika kita dituntut untuk menaikkan ritme gerak dan suara. Ternyata, pola latihan itu secara tidak sadar, kita dapat mengolah tubuh kita dengan bergerak, mengolah vokal ketika ketika menyebut nama teman dan dapat lebih peka terhadap lawan main nantinya di atas panggung.

Pola latihan ini yang sangat dibutuhkan untuk mengajar anak-anak sampai anak SMA. Karena, beberapa kali saya menemukan kejenuhan dalam latihan teater yang polanya begitu saja. Pemanasan, latihan vokal, olah tubuh lalu dilanjutkan ke latihan teks.

Tetapi berbeda dengan Theatre Games, pola latihan ini bisa saja digunakan sebelum latihan, di tengah-tengah latihan dan di akhir latihan. Sangat fleksibel tergantung kebutuhan dan metode sendiri-sendiri nantinya. Metode Theatre Games memang tidak langsung mengajarkan kita olah vokal, olah tubuh dan olah rasa secara sadar, namun ketika kita berada di atas panggung, vokal, tubuh dan rasa kita telah terbentuk seiring berjalannya proses.

Selama 9 hari, kami menerapkan metode itu sebelum Latihan untuk dipresentasikan pada magang industry nanti di Solo. Ya, Solo, tempat yang tidak pernah saya bayangkan. Dan pada akhirnya, 5 hari kami di Solo. Oemah Arturah menyambut kami di Taman Budaya Solo. Banyak pula yang kami dapat di sana.

Yang menarik adalah, ketika ada kunjungan ke sebuah tempat penyewaan busana, di sana saya sempat berpikir bahwa ini bukan bidang saya untuk merias, tetapi ternyata saat saya berada di Bali, saya tahu riasan apa yang harus diaplikasikan kepada pemain dan hanya memberitahu perias saat itu. Semua sangat berguna bagi saya yang masih banyak harus berproses ini. Begitu pula kami diajak untuk membuat sebuah property. Saya untuk pertama kalinya membuat wayang jawa. Unik, menarik dan pengalaman yang berkesan.

Pada akhirnya perpisahan adalah hal yang paling saya benci. Ya, saya harus segera kembali ke Bali karena jadwal pesawat yang mepet. Bandara terlampau jauh dari Balai Diklat. Saya hanya sempat mengucapkan salam perpisahan kepada beberapa teman di asrama sebelum penutupan berlangsung.

Mungkin saya tidak akan menjelaskan secara rinci, metode-metode yang digunakan saat Theatre Games, karena memang susah dijelaskan jika tidak praktek langsung. Tetapi, hal lain yang saya rasakan adalah saya bisa terus tumbuh melalui teater, mendapatkan teman baru, metode baru dan pencarian baru. Begitu pula mendapatkan oleh-oleh sebuah cerita yang dapat saya bagikan kepada mereka yang ingin belajar dan tumbuh bersama. 

Sekali lagi, Yogyakarta adalah tempat paling indah yang selalu ingin saya kunjungi. Tak hanya sekali dua kali saja, tetapi saya ingin mengunjunginya berkali-kali. [T]

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
“Dapur Bangsa”: Eksplorasi Kekayaan Kuliner Nusantara
“Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup”: Relasi Antara Pangan, Tubuh, dan Higienitas
Tags: TeaterYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup”: Relasi Antara Pangan, Tubuh, dan Higienitas

Next Post

Anak Muda, Literasi dan Golput

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Anak Muda, Literasi dan Golput

Anak Muda, Literasi dan Golput

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co