25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup”: Relasi Antara Pangan, Tubuh, dan Higienitas

Jaswanto by Jaswanto
November 1, 2023
in Ulas Pentas
“Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup”: Relasi Antara Pangan, Tubuh, dan Higienitas

Jacko dan Wail dalam pertunjukan "Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup" / Foto: Medy

DI ATAS dua karung berisi beberapa jagung, Wail duduk dengan santai. Ia membawa kitab bersampul oranye tanpa judul. Kupluk dan sarung yang ia kenakan seolah menegaskan ia berasal dari mana. Dan sesaat sebelum Wail membuka kitabnya, di samping kanan lantai pertunjukan, Jacko sedang memperagakan gerakan mencuci tangan, seperti orang sedang mengambil wudhu.

Sementara Jacko masih melakukan gerakan tersebut, Wail mulai membuka dan membaca isi kitab yang dibawanya. Suaranya melengking, merdu, menyayat, penuh nasihat. Kitab itu berbahasa Madura.

Potongan adegan di atas berasal dari pertunjukan bertajuk Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup karya yang dipentaskan Jacko Kaneko, Mohammad Wail, dan Ninok Sulistyowati. Karya ini digelar di Black Box Studio 1 Produksi Film Negara pada Kamis (26/10/2023) sore dalam program Laku Cipta pada gelaran Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

Di dalam karya ini, Jacko dkk. bekerja dengan Akbar Yumni (fasilitator); Tony Broer (dramaturg); Moch. Zam Zam Mubarok (penata cahaya/artistik); Heri Windi Anggara (musik); Palapa Cahaya Bintang (kru produksi); Medy Mahasena (dokumentasi); dan produser, yakni Agus Wiratama.

Secara teknis, dalam pandangan awam, jika Anda berkesempatan menonton pertunjukan Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup, barangkali Anda sepakat bahwa pertunjukan tersebut seolah menampilkan dua pertunjukan yang berbeda dalam satu panggung. Mohammad Wail, dengan segala kemampuannya mengolah suara dan tubuhnya, menampilkan isu pangan (jagung) di Madura, pulau kelahirannya, sedangkan Jacko Kaneko dan Ninok Sulistyowati menyuarakan tentang isu higienitas dan bagaimana riwayat pangan diolah langsung oleh tubuh—Jacko memberi contoh kedelai yang diproses menjadi tempe.

Jacko Kaneko dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Jacko, sebagai seorang koreografer, merepresentasikan gerak tubuh orang-orang mengolah tempe dan menjaga kebersihan diri (personal hygiene). Selama pertunjukan ia tak bergumam sedikit pun. Hanya saja, tubuhnya terus bergerak. Apa yang dilakukan Jacko sedikit banyak dijelaskan oleh monolog panjang Ninok Sulistyowati. Dan itu menarik. Ninok bukan pemain teater, ia seorang ibu pemilik rumah makan di Bali yang dekat, dan bersentuhan langsung dengan isu higienitas.

Pada karya Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup, sebagaimana telah di jelaskan dalam narasi pengantar pertunjukan, Jacko dkk. berangkat dari pembacaan atas pangan dan tubuh, yakni persepsi orang-orang terhadap tubuh yang kerap disejajarkan dengan simbol kekotoran, noda, dan materi.

Akibatnya, persepsi tersebut membentuk anggapan bahwa makanan yang bersentuhan langsung dengan tubuh dianggap telah tercemar—meskipun pada kenyataannya, tubuh berkaitan erat dengan pangan. Bahkan, kaitan tersebut, dalam proses pengolahan makanan secara tradisional, misalnya, tubuh menjadi ukuran, dan kebersihan bukan semata-mata tentang yang materi atau yang fisik.

Jacko Kaneko dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Alhasil eksplorasi ini menjadi satu refleksi yang baik. Jacko dkk. menantang stereotip negatif yang eksotis atas apa yang disebut keterbelakangan dan higienis-tak higienis, modern-tradisional, serta layak-tak layak. Mereka memilih jagung dan tempe sebagai representasi atas stigma tersebut. Kedua benda (baca: makanan) yang telah disebutkan, selama ini dipandang sebagai keterbelakangan di satu sisi, dan tidak higienis jika diolah secara tradisional, di sini lainnya.

Sebuah Keganjilan

Mengenai pangan, makanan pokok di suatu daerah dipengaruhi oleh hasil alamnya. Jika alamnya lebih banyak menghasilkan jagung, maka jagung menjadi makanan pokok. Seperti Madura, misalnya. Dulu, orang Madura menjadikan jangung sebagai makanan pokok di samping umbi-umbian, sesekali, sebagai penggantinya. Selama bertahun-tahun, lidah mereka telah menyatu dengan rasa nasi jagung yang khas.

Dalam karya Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup, Wail menghadirkan adegan orang Madura memipil jagung. Ia sampai harus mengeluarkan banyak tenaga untuk menggebuk-gebukkan beberapa jagung dalam karung ke lantai pertunjukkan. Sedangkan layar di belakangnya menampilkan sosok perempuan—yang wajahnya tak terlihat—sedang memipil jagung. (Dalam beberapa pertunjukan Wail memang selalu mengangkat lokalitas Madura, seperti dalam Biografi Garam atau Tabak—pertunjukan tentang tembakau Madura.)

Mohammad Wail dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Namun, saat ini tidak semua orang Madura menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Selain karena sudah ada beras, di daerah perkotaan, dengar-dengar, jagung memang sulit didapatkan. Apalagi ada stigma bagi masyarakat yang sehari-hari makan beras dengan makan jagung atau umbi-umbian. Masyarakat yang makanan pokoknya beras maka status sosialnya digolongkan lebih tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang makan jagung atau umbi-umbian status sosialnya dianggap lebih rendah atau digolongkan kelompok miskin.

Data Bapanas mengungkapkan, memang ada pergeseran pola pangan di Indonesia. Pada 2009, pola konsumsi pangan di wilayah timur Indonesia masih beragam. Selain makan beras, pada tahun itu orang masih dominan mengonsumsi jagung, ubi jalar, dan sagu. Namun, pada 2020 konsumsi beras dan terigu semakin mendominasi di Indonesia timur. Dan itu, mungkin, sedikit banyak dipengaruhi oleh beras-isasi pada masa pemerintahan Soeharto.

Banar. Dalam laporannya di tirtoi.d, Reja Hidayat mengungkapkan, beras-isasi pada masa pemerintahan Soeharto sedikit banyak memengaruhi sejarah keberagaman pangan masyarakat lokal di Indonesia. Beras menggusur Sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT), menggantikan Sagu di Papua. Diversifikasi ‘merangkak’ ini terjadi kira-kira selama dua dekade di masa Orde Baru, periode 1970 hingga 1980-an.

Mohammad Wail dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Ketika budaya beras masuk, lidah masyarakat—termasuk Madura—beralih yang awalnya biasa makan jagung kini harus nasi beras. Petani atau masyarakat pada umumnya, kalau belum makan nasi disebut belum makan—walaupun sudah makan ubi resbus sepiring.

Mengenai hal tersebut, beberapa orang menganjurkan untuk kembali mengonsumsi makanan lokal, tapi pada kenyataannya tidak mudah dilakukan. Butuh tenaga ekstra untuk mengubah cara berpikir masyarakat dan mengembalikan kepercayaan diri untuk mengonsumsi makanan lokal. Meskipun sejatinya mereka tahu, makan pangan lokal bukan berarti status sosialnya lebih rendah dibandingkan makan nasi.

Tetapi, bagi Wail, anjuran untuk kembali mengonsumsi pangan lokal ini adalah sebuah keganjilan. Hal itu menurutnya aneh. Dulu masyarakat seolah ‘dipaksa’ untuk mengonsumsi beras, sekarang, saat lidah orang desa sudah familiar dengan nasi putih, malah dianjurkan untuk kembali mengonsumsi pangan lokal. Ia merespon keganjilan tersebut dengan membaca dan menjelaskan isi kitab yang berbahasa Madura—yang bersampul oranye tanpa judul—dalam pertunjukan Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup.

Pangan, Tubuh, dan Higienitas

Seperti yang sudah disampai di awal, bahwa Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup merupakan pembacaan atas pangan dan tubuh, yakni persepsi orang-orang terhadap tubuh yang kerap disejajarkan dengan simbol kekotoran, noda, dan materi. Persepsi tersebut, sekali lagi, membentuk anggapan bahwa makanan yang bersentuhan langsung dengan tubuh dianggap telah tercemar—meskipun pada kenyataannya, tubuh berkaitan erat dengan pangan.

Mohammad Wail dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Relasi antara pangan dan tubuh sebenarnya sangat erat. Makanan atau pangan sangat mempengaruhi tubuh manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makanan merupakan bahan utama untuk mengatur seluruh proses dalam tubuh, mulai dari pembentukan energi hingga penggantian jaringan dalam tubuh. Meskipun begitu, tak semua makanan baik bagi tubuh manusia. Apalagi kalau makanan tersebut diolah tanpa mengindahkan aspek higienitas.

Upaya hygiene dan sanitasi makanan pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makanan, penyimpanan makanan, dan penyajian makanan.

Makanan yang tidak dikelola dengan baik dan benar oleh penjamah makanan, bagi beberapa orang, dapat menimbulkan dampak negatif seperti penyakit dan keracunan akibat bahan kimia, mikroorganisme, tumbuhan atau hewan, serta dapat pula menimbulkan alergi. Faktor kebersihan penjamah atau pengelola makanan yang biasa disebut hygiene personal merupakan prosedur menjaga kebersihan dalam pengolahan makanan yang aman dan sehat.

Sebagai orang yang secara langsung mengelola makanan, penjamah makanan akan sangat memungkinkan menjadi perantara masuknya suatu penyakit ke dalam makanan. Peran penjamah makanan sangat penting dan merupakan salah satu faktor dalam penyediaan makanan/minuman yang memenuhi syarat kesehatan. Personal hygiene dan perilaku sehat penjamah makanan harus diperhatikan.

Ninok Sulistyowati dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Narasi di atas barangkali hanya dipahami dan diperhatikan oleh orang-orang kelas menengah ke atas. Orang-orang desa-tradisional tak terlalu mengindahkan soal-soal demikian. Urusan higienitas adalah urusan ke sekian. Maka dari itu, dalam mengolah makanan, orang-orang di desa kadang masih menggunakan tubuh secara langsung, tanpa alat, tanpa mesin.

Dalam pertunjukkan Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup, Jacko menggunakan tempe sebagai objek laku ciptanya. Saya tidak paham betul atas pilihan tersebut, yang jelas, dalam konteks higienitas, produksi tempe, bagi sebagian orang, memang masih memiliki masalah tersendiri.

Benar. Pada kenyataannya, masih sedikit pengusaha tempe yang melakukan proses produksi dengan menggunakan peralatan secara modern dan bersih. Bahkan masih banyak proses produksi tradisonal yang, sekali lagi bagi sebagian orang, dilakukan secara tidak sehat seperti kedelai diinjak dengan kaki agar kulitnya terkelupas—dalam hal ini Jacko menampilkan gerakan menginjak-injak kedelai dengan artistik ke dalam pertunjukkanya.

Namun, menurut kacamata awam saya, dalam pertunjukkan ini Jacko seolah tak mau langsung membenarkan asumsi atau persepsi tersebut. Alih-alih ikut mengatakan bahwa hal tersebut tidak higienis, ia justru membuka ruang percakapan atas nilai sosial dan kultural yang melekat pada tubuh dan pangan. Seolah ia mengajukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab: Apa benar kedelai yang diinjak-injak itu otomatis tidak higienis? Bukankah dengan hadirnya mesin pengupas kulit kedelai justru kemudian menimbulkan  isu baru seperti segregasi antara modern-tradisional, layak-tak layak, atau higienis-tak higienis?

Ninok Sulistyowati dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Atau, siapa yang tahu jika makanan/minuman yang disajikan di restoran atau hotel bintang lima lantas diolah secara higienis? Bukankah, menurut cerita Ninok dalam pertunjukan, ia memiliki seorang teman yang pernah meludahi makanan yang hendak disajikan untuk tamunya? Lalu, siapa yang bisa menjamin higienitas?

Alih-alih memberi jawaban, dalam pertunjukannya Jacko seolah hanya melemparkan isu semata; hanya menjadi pemantik belaka. Sebagai penonton kita diajak untuk merefleksikan, merenungkan, dan menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan tersebut. Meski pada akhirnya, mungkin, kita tahu bahwa persoalan higienitas adalah urusan masing-masing. Namun, terlepas dari itu, yang jelas, sekali lagi, dalam sejarah peradaban manusia, pangan dan tubuh memang memiliki hubungan yang erat—bahkan tak bisa dipisahkan, sekalipun ada mesin yang siap menggantikannya.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain terkait PEKAN KEBUDAYAAN NASIONAL 2023 atau artikel lain yang ditulis JASWANTO

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
“Dapur Bangsa”: Eksplorasi Kekayaan Kuliner Nusantara
“Nge-GLITCH?”: Pertempuran antara Tubuh Digital dan Tubuh Manusia
Tags: pekan kebudayaan nasionalseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Riwayat dan Prestasi Tim Bola Voli Padang Bulia Serta Persoalan yang Dihadapinya

Next Post

Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja

Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co