23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Adityawarman: Jejak Budaya Minangkabau yang Memukau

Ulfah Nurul Wahidah by Ulfah Nurul Wahidah
December 17, 2023
in Tualang
Museum Adityawarman: Jejak Budaya Minangkabau yang Memukau

Museum Adityawarman | Foto: Dok. Ulfah

TIGA September lalu, sebagai peserta pertukaran mahasiswa merdeka di Kota Padang bersama teman kelompok Modul Nusantara lain, saya berkesempatan mengunjungi Museum Adityawarman yang terletak di Kota Padang.  Meskipun panas matahari membakar tubuh dan rasa gerah menyerang kami sampai berkeringat, semangat kami tetap membara layaknya bara api yang berkobar.

Perjalanan terasa menyenangkan karena diselingi canda dan tawa sehingga tidak terasa membosankan. Sebelum sampai ke museum Adityawarman, kami sempat berhenti di Jembatan Siti Nurbaya untuk melakukan dokumentasi dan mendapat pengetahuan bahwa jembatan ini adalah pelabuhan tempat VOC dan Jepang pertama kali datang ke Padang.

(Dinamakan Jembatan Siti Nurbaya karena katanya di atas bukit dekat jembatan ini bersemayam makam Siti Nurbaya yang terkenal itu. Saya melihat tempat ini sebagai tempat bersejarah yang menyimpan banyak cerita di tengah Kota Padang.) Perjalanan menuju ke Museum Adityawarman dilanjutkan setelah kami berfoto ria di jembatan tersebut.

Kelompok Modul Nusantara foto di dekat Jembatan Siti Nurbaya / Foto: Dok. Ulfah

Ketika kami tiba di museum, jam telah menunjukkan pukul 09:50. Selanjutnya kami dikenalkan kepada kepada Kak Mega, salah seorang pemandu di Museum Adityawarman. Kami diajak berkeliling museum sembari mendengarkan penjelasan Kak Mega mengenai koleksi yang ada di museum.

Koleksi yang tersimpan di museum banyak menampilkan adat dan tradisi masyarakat Minang, mulai dari pakaian adat, aksesoris pernikahan, rumah adat asal Minang, dan rangkiang. Selain itu, museum ini juga menyimpan koleksi zaman purba, beberapa peninggalan zaman VOC, koleksi budaya Suku Mentawai, koleksi teknologika, serta museum khusus randang.

Museum Adityawarman dibangun atas inisiasi Gubernur Sumatera Barat, yaitu Harun Arrasyid pada tahun 1973. Selanjutnya, pada tahun 1977, museum ini diresmikan oleh Prof. Syarief Thayeb, Menteri Pendidikan Indonesia yang saat itu menjabat. Nama museum ini diambil dari nama raja Malayupura pada awal abad 14, yaitu Raja Adityawarman.

Museum Adityawarman masuk ke dalam kategori museum umum yang ada di bawah Dinas Kebudayaan Sumatera Barat. Untuk luas museum ini sekitar 2 hektare lebih. Sedangkan Koleksi museum ini meliputi sepuluh kategori, yaitu  geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filolo­gika, keramologika, seni rupa, dan teknologika.

***

Hal pertama yang diperlihatkan kepada kami adalah koleksi etnografika berupa adat dan kebudayaan Minangkabau. Kak Mega menjelaskan bahwa daerah Minang itu terbagi dua, yaitu daerah darek dan dan daerah rantau.

Daerah darek adalah daerah asli orang Minang yang meliputi daerah Tanah Datar, Agam, dan daerah Lima Puluh Kota. Sedangkan daerah rantau adalah daerah tempat orang Minang mencari penghasilan—daerah rantau ini adalah daerah selain dari tiga daerah darek tadi.

Selain menjelaskan perbedaan dua daerah tadi, Kak Mega juga mengatakan bahwa orang Minang yang menetap di rantau tidak boleh membangun rumah gadang atau rumah bagonjong, hal ini sebagai antisipasi jika orang rantau tak mau pulang. Maka, rumah gadang atau rumah bagonjong hanya bisa ditemui di daerah darek saja, tempat orang Minang pulang kampung.

Selanjutnya, Kak Mega menjelaskan mengenai kepemimpinan yang ada di lingkungan budaya Minang. “Luhak bapanghulu rantau barajo,”kata Kak Mega. Lebih lanjut Kak Mega mengartikan bahwa daerah darek itu dipimpin oleh seorang datuak dan daerah rantau itu dipimpin oleh seorang raja.

Pemilihan dan pengangkatan seorang datuak ini didasarkan pada tiga syarat kepemimpinan orang Minang, yaitu takah, tageh dan tokoh yang berarti berpenampilan baik, tegas, dan memiliki pengaruh di masyarakat.

Ketika seorang datuak dipilih dan diangkat, maka akan ada perayaan dengan menyembelih kerbau dan memasak randang atau rendang. Kemudian, Kak Mega menjelaskan bahwa pewaris gelar seorang datuak bukanlah anak kandung datuak, melainkan anak laki-laki dari saudara perempuan datuak. Tentulah hal ini dikarenakan budaya Minang yang menganut adat matrilineal, yaitu adat yang menilai hubungan kekerabatan bertumpu pada garis keturunan ibu.

Peran lain yang tak kalah penting dalam budaya Minang adalah adanya bundo kanduang—perempuan yang dituakan dan  bertanggung jawab atas kesejahteraan kaum. Seorang bundo kanduang memiliki hak dan kewajiban menjadi kepala para wanita yang tinggal di rumah gadang.

Seorang bundo kanduang tentulah harus wanita yang sudah menikah dan seorang bijaksana. Seorang bundo kanduang memiliki kedudukan penting dalam tradisi Minang

Selain sistem kepemimpinan dan adat matrilineal Minangkabau, kami juga diperlihatkan kepada rangkiang dan replika kamar khas Minang. Rangkiang adalah gudang penyimpanan yang memiliki pintu di atas. “Rangkiang ini adalah ciri dari pemikiran nenek moyang orang Minang yang bisa dikatakan visioner,” kata Kak Mega, menjelaskan.

Rangkiang ini tahan banjir, angin, dan pencuri karena jika ingin memasuki rangkiang haruslah memakai tangga terlebih dahulu. Selain itu, Kak Mega juga memberitahu kami bahwa dalam rumah gadang itu jumlah kamar disesuaikan dengan banyaknya anak perempuan dalam keluarga. Anak laki-laki tidak diberi kamar karena mereka tidur, belajar agama, dan silek di surau. Setelah beristri barulah laki-laki Minang ini memiliki kamar bersama istrinya.

Rangkiang di Museum Adityawarman / Foto: Dok. Ulfah

Setelah itu, kami diajak melihat berbagai aksesoris pernikahan dalam budaya Minang. Setiap daerah memiliki aksesoris dan perhiasan yang berbeda. Misalnya di daerah Agam, pakaian pengantin yang digunakan adalah baju Koto Gadang, hal ini tentu berbeda dengan daerah Padang dan Pariaman yang banyak menggunakan suntiang.

“Suntiang ini adalah lambang tanggung jawab yang akan diampu seorang perempuan apabila telah menikah, maka tak heran suntiang ini cukup berat jika digunakan di atas kepala,” ujar Kak Mega.

Setelah banyak mengetahui tradisi, adat, dan budaya Minang, Kak Mega mengajak kami ke Museum Randang yang baru selesai dibangun tahun 2020. Di dalam museum itu ada banyak informasi mengenai rendang, di antaranya  sejarah rendang, rempah yang digunakan untuk membumbui rendang, serta alat yang digunakan untuk memasak rendang.

Secara rinci, Kak Mega menjelaskan bahwa rempah yang digunakan untuk memasak rendang itu memiliki arti. Misalnya kelapa memiliki arti golongan cendikiawan, cabai merah memiliki arti para alim ulama yang senantiasa menegur untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang.

Kelompok Modul Nusantara foto di Museum Adityawarman / Foto: Dok. Ulfah

Selain daging, randang juga bisa berasal dari daun-daunan, ikan-ikanan, dan lain-lain. Lama memasak randang ini adalah sekitar 8 jam dan harus terus diawasi. Meskipun cara masaknya cukup membutuhkan kesabaran, randang ini cukup awet dan bisa bertahan sekitar 40 hari.

Di Museum Adityawarman ini kami juga diperlihatkan koleksi teknologika dan koleksi hewan-hewan yang diawetkan. Kunjungan kami di Museum Adityawarman diakhiri dengan makan siang bersama di pelataran museum. Sebuah kesempatan yang amat menyenangkan dan menambah wawasan untuk bisa mengunjungi museum ini.

Sebagai mahasiswa pertukaran dari luar Sumatera, saya jadi banyak belajar mengenai kebudayaan Minangkabau. Saya menyadari bahwa setiap budaya di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri-sendiri. Sebagai orang Sunda saya juga menyadari kekhasan budaya Sunda yang berbeda dengan budaya Minang.

Setelah kunjungan ke museum tersebut saya banyak mengkomparasikan kebudayaan daerah, menggali keunikannya dan kemudian merasa bangga bisa terlahir di tanah yang kaya akan budaya dan tradisi ini, Tanah Air kita, Indonesia.[T]

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Cerita dari Lombok: Teater, Tenun dan MotoGP
Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja
Tags: MuseumperjalananSumatera Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Next Post

B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

Ulfah Nurul Wahidah

Ulfah Nurul Wahidah

Mahasiswa FIB Unpad yang saat ini sedang melakukan pertukaran mahasiswa di Universitas Andalas, Sumatera Barat. Akun Ig: ulfahnw__

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co