2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Adityawarman: Jejak Budaya Minangkabau yang Memukau

Ulfah Nurul Wahidah by Ulfah Nurul Wahidah
December 17, 2023
in Tualang
Museum Adityawarman: Jejak Budaya Minangkabau yang Memukau

Museum Adityawarman | Foto: Dok. Ulfah

TIGA September lalu, sebagai peserta pertukaran mahasiswa merdeka di Kota Padang bersama teman kelompok Modul Nusantara lain, saya berkesempatan mengunjungi Museum Adityawarman yang terletak di Kota Padang.  Meskipun panas matahari membakar tubuh dan rasa gerah menyerang kami sampai berkeringat, semangat kami tetap membara layaknya bara api yang berkobar.

Perjalanan terasa menyenangkan karena diselingi canda dan tawa sehingga tidak terasa membosankan. Sebelum sampai ke museum Adityawarman, kami sempat berhenti di Jembatan Siti Nurbaya untuk melakukan dokumentasi dan mendapat pengetahuan bahwa jembatan ini adalah pelabuhan tempat VOC dan Jepang pertama kali datang ke Padang.

(Dinamakan Jembatan Siti Nurbaya karena katanya di atas bukit dekat jembatan ini bersemayam makam Siti Nurbaya yang terkenal itu. Saya melihat tempat ini sebagai tempat bersejarah yang menyimpan banyak cerita di tengah Kota Padang.) Perjalanan menuju ke Museum Adityawarman dilanjutkan setelah kami berfoto ria di jembatan tersebut.

Kelompok Modul Nusantara foto di dekat Jembatan Siti Nurbaya / Foto: Dok. Ulfah

Ketika kami tiba di museum, jam telah menunjukkan pukul 09:50. Selanjutnya kami dikenalkan kepada kepada Kak Mega, salah seorang pemandu di Museum Adityawarman. Kami diajak berkeliling museum sembari mendengarkan penjelasan Kak Mega mengenai koleksi yang ada di museum.

Koleksi yang tersimpan di museum banyak menampilkan adat dan tradisi masyarakat Minang, mulai dari pakaian adat, aksesoris pernikahan, rumah adat asal Minang, dan rangkiang. Selain itu, museum ini juga menyimpan koleksi zaman purba, beberapa peninggalan zaman VOC, koleksi budaya Suku Mentawai, koleksi teknologika, serta museum khusus randang.

Museum Adityawarman dibangun atas inisiasi Gubernur Sumatera Barat, yaitu Harun Arrasyid pada tahun 1973. Selanjutnya, pada tahun 1977, museum ini diresmikan oleh Prof. Syarief Thayeb, Menteri Pendidikan Indonesia yang saat itu menjabat. Nama museum ini diambil dari nama raja Malayupura pada awal abad 14, yaitu Raja Adityawarman.

Museum Adityawarman masuk ke dalam kategori museum umum yang ada di bawah Dinas Kebudayaan Sumatera Barat. Untuk luas museum ini sekitar 2 hektare lebih. Sedangkan Koleksi museum ini meliputi sepuluh kategori, yaitu  geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filolo­gika, keramologika, seni rupa, dan teknologika.

***

Hal pertama yang diperlihatkan kepada kami adalah koleksi etnografika berupa adat dan kebudayaan Minangkabau. Kak Mega menjelaskan bahwa daerah Minang itu terbagi dua, yaitu daerah darek dan dan daerah rantau.

Daerah darek adalah daerah asli orang Minang yang meliputi daerah Tanah Datar, Agam, dan daerah Lima Puluh Kota. Sedangkan daerah rantau adalah daerah tempat orang Minang mencari penghasilan—daerah rantau ini adalah daerah selain dari tiga daerah darek tadi.

Selain menjelaskan perbedaan dua daerah tadi, Kak Mega juga mengatakan bahwa orang Minang yang menetap di rantau tidak boleh membangun rumah gadang atau rumah bagonjong, hal ini sebagai antisipasi jika orang rantau tak mau pulang. Maka, rumah gadang atau rumah bagonjong hanya bisa ditemui di daerah darek saja, tempat orang Minang pulang kampung.

Selanjutnya, Kak Mega menjelaskan mengenai kepemimpinan yang ada di lingkungan budaya Minang. “Luhak bapanghulu rantau barajo,”kata Kak Mega. Lebih lanjut Kak Mega mengartikan bahwa daerah darek itu dipimpin oleh seorang datuak dan daerah rantau itu dipimpin oleh seorang raja.

Pemilihan dan pengangkatan seorang datuak ini didasarkan pada tiga syarat kepemimpinan orang Minang, yaitu takah, tageh dan tokoh yang berarti berpenampilan baik, tegas, dan memiliki pengaruh di masyarakat.

Ketika seorang datuak dipilih dan diangkat, maka akan ada perayaan dengan menyembelih kerbau dan memasak randang atau rendang. Kemudian, Kak Mega menjelaskan bahwa pewaris gelar seorang datuak bukanlah anak kandung datuak, melainkan anak laki-laki dari saudara perempuan datuak. Tentulah hal ini dikarenakan budaya Minang yang menganut adat matrilineal, yaitu adat yang menilai hubungan kekerabatan bertumpu pada garis keturunan ibu.

Peran lain yang tak kalah penting dalam budaya Minang adalah adanya bundo kanduang—perempuan yang dituakan dan  bertanggung jawab atas kesejahteraan kaum. Seorang bundo kanduang memiliki hak dan kewajiban menjadi kepala para wanita yang tinggal di rumah gadang.

Seorang bundo kanduang tentulah harus wanita yang sudah menikah dan seorang bijaksana. Seorang bundo kanduang memiliki kedudukan penting dalam tradisi Minang

Selain sistem kepemimpinan dan adat matrilineal Minangkabau, kami juga diperlihatkan kepada rangkiang dan replika kamar khas Minang. Rangkiang adalah gudang penyimpanan yang memiliki pintu di atas. “Rangkiang ini adalah ciri dari pemikiran nenek moyang orang Minang yang bisa dikatakan visioner,” kata Kak Mega, menjelaskan.

Rangkiang ini tahan banjir, angin, dan pencuri karena jika ingin memasuki rangkiang haruslah memakai tangga terlebih dahulu. Selain itu, Kak Mega juga memberitahu kami bahwa dalam rumah gadang itu jumlah kamar disesuaikan dengan banyaknya anak perempuan dalam keluarga. Anak laki-laki tidak diberi kamar karena mereka tidur, belajar agama, dan silek di surau. Setelah beristri barulah laki-laki Minang ini memiliki kamar bersama istrinya.

Rangkiang di Museum Adityawarman / Foto: Dok. Ulfah

Setelah itu, kami diajak melihat berbagai aksesoris pernikahan dalam budaya Minang. Setiap daerah memiliki aksesoris dan perhiasan yang berbeda. Misalnya di daerah Agam, pakaian pengantin yang digunakan adalah baju Koto Gadang, hal ini tentu berbeda dengan daerah Padang dan Pariaman yang banyak menggunakan suntiang.

“Suntiang ini adalah lambang tanggung jawab yang akan diampu seorang perempuan apabila telah menikah, maka tak heran suntiang ini cukup berat jika digunakan di atas kepala,” ujar Kak Mega.

Setelah banyak mengetahui tradisi, adat, dan budaya Minang, Kak Mega mengajak kami ke Museum Randang yang baru selesai dibangun tahun 2020. Di dalam museum itu ada banyak informasi mengenai rendang, di antaranya  sejarah rendang, rempah yang digunakan untuk membumbui rendang, serta alat yang digunakan untuk memasak rendang.

Secara rinci, Kak Mega menjelaskan bahwa rempah yang digunakan untuk memasak rendang itu memiliki arti. Misalnya kelapa memiliki arti golongan cendikiawan, cabai merah memiliki arti para alim ulama yang senantiasa menegur untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang.

Kelompok Modul Nusantara foto di Museum Adityawarman / Foto: Dok. Ulfah

Selain daging, randang juga bisa berasal dari daun-daunan, ikan-ikanan, dan lain-lain. Lama memasak randang ini adalah sekitar 8 jam dan harus terus diawasi. Meskipun cara masaknya cukup membutuhkan kesabaran, randang ini cukup awet dan bisa bertahan sekitar 40 hari.

Di Museum Adityawarman ini kami juga diperlihatkan koleksi teknologika dan koleksi hewan-hewan yang diawetkan. Kunjungan kami di Museum Adityawarman diakhiri dengan makan siang bersama di pelataran museum. Sebuah kesempatan yang amat menyenangkan dan menambah wawasan untuk bisa mengunjungi museum ini.

Sebagai mahasiswa pertukaran dari luar Sumatera, saya jadi banyak belajar mengenai kebudayaan Minangkabau. Saya menyadari bahwa setiap budaya di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri-sendiri. Sebagai orang Sunda saya juga menyadari kekhasan budaya Sunda yang berbeda dengan budaya Minang.

Setelah kunjungan ke museum tersebut saya banyak mengkomparasikan kebudayaan daerah, menggali keunikannya dan kemudian merasa bangga bisa terlahir di tanah yang kaya akan budaya dan tradisi ini, Tanah Air kita, Indonesia.[T]

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Cerita dari Lombok: Teater, Tenun dan MotoGP
Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja
Tags: MuseumperjalananSumatera Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Next Post

B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

Ulfah Nurul Wahidah

Ulfah Nurul Wahidah

Mahasiswa FIB Unpad yang saat ini sedang melakukan pertukaran mahasiswa di Universitas Andalas, Sumatera Barat. Akun Ig: ulfahnw__

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co