13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Adityawarman: Jejak Budaya Minangkabau yang Memukau

Ulfah Nurul Wahidah by Ulfah Nurul Wahidah
December 17, 2023
in Tualang
Museum Adityawarman: Jejak Budaya Minangkabau yang Memukau

Museum Adityawarman | Foto: Dok. Ulfah

TIGA September lalu, sebagai peserta pertukaran mahasiswa merdeka di Kota Padang bersama teman kelompok Modul Nusantara lain, saya berkesempatan mengunjungi Museum Adityawarman yang terletak di Kota Padang.  Meskipun panas matahari membakar tubuh dan rasa gerah menyerang kami sampai berkeringat, semangat kami tetap membara layaknya bara api yang berkobar.

Perjalanan terasa menyenangkan karena diselingi canda dan tawa sehingga tidak terasa membosankan. Sebelum sampai ke museum Adityawarman, kami sempat berhenti di Jembatan Siti Nurbaya untuk melakukan dokumentasi dan mendapat pengetahuan bahwa jembatan ini adalah pelabuhan tempat VOC dan Jepang pertama kali datang ke Padang.

(Dinamakan Jembatan Siti Nurbaya karena katanya di atas bukit dekat jembatan ini bersemayam makam Siti Nurbaya yang terkenal itu. Saya melihat tempat ini sebagai tempat bersejarah yang menyimpan banyak cerita di tengah Kota Padang.) Perjalanan menuju ke Museum Adityawarman dilanjutkan setelah kami berfoto ria di jembatan tersebut.

Kelompok Modul Nusantara foto di dekat Jembatan Siti Nurbaya / Foto: Dok. Ulfah

Ketika kami tiba di museum, jam telah menunjukkan pukul 09:50. Selanjutnya kami dikenalkan kepada kepada Kak Mega, salah seorang pemandu di Museum Adityawarman. Kami diajak berkeliling museum sembari mendengarkan penjelasan Kak Mega mengenai koleksi yang ada di museum.

Koleksi yang tersimpan di museum banyak menampilkan adat dan tradisi masyarakat Minang, mulai dari pakaian adat, aksesoris pernikahan, rumah adat asal Minang, dan rangkiang. Selain itu, museum ini juga menyimpan koleksi zaman purba, beberapa peninggalan zaman VOC, koleksi budaya Suku Mentawai, koleksi teknologika, serta museum khusus randang.

Museum Adityawarman dibangun atas inisiasi Gubernur Sumatera Barat, yaitu Harun Arrasyid pada tahun 1973. Selanjutnya, pada tahun 1977, museum ini diresmikan oleh Prof. Syarief Thayeb, Menteri Pendidikan Indonesia yang saat itu menjabat. Nama museum ini diambil dari nama raja Malayupura pada awal abad 14, yaitu Raja Adityawarman.

Museum Adityawarman masuk ke dalam kategori museum umum yang ada di bawah Dinas Kebudayaan Sumatera Barat. Untuk luas museum ini sekitar 2 hektare lebih. Sedangkan Koleksi museum ini meliputi sepuluh kategori, yaitu  geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filolo­gika, keramologika, seni rupa, dan teknologika.

***

Hal pertama yang diperlihatkan kepada kami adalah koleksi etnografika berupa adat dan kebudayaan Minangkabau. Kak Mega menjelaskan bahwa daerah Minang itu terbagi dua, yaitu daerah darek dan dan daerah rantau.

Daerah darek adalah daerah asli orang Minang yang meliputi daerah Tanah Datar, Agam, dan daerah Lima Puluh Kota. Sedangkan daerah rantau adalah daerah tempat orang Minang mencari penghasilan—daerah rantau ini adalah daerah selain dari tiga daerah darek tadi.

Selain menjelaskan perbedaan dua daerah tadi, Kak Mega juga mengatakan bahwa orang Minang yang menetap di rantau tidak boleh membangun rumah gadang atau rumah bagonjong, hal ini sebagai antisipasi jika orang rantau tak mau pulang. Maka, rumah gadang atau rumah bagonjong hanya bisa ditemui di daerah darek saja, tempat orang Minang pulang kampung.

Selanjutnya, Kak Mega menjelaskan mengenai kepemimpinan yang ada di lingkungan budaya Minang. “Luhak bapanghulu rantau barajo,”kata Kak Mega. Lebih lanjut Kak Mega mengartikan bahwa daerah darek itu dipimpin oleh seorang datuak dan daerah rantau itu dipimpin oleh seorang raja.

Pemilihan dan pengangkatan seorang datuak ini didasarkan pada tiga syarat kepemimpinan orang Minang, yaitu takah, tageh dan tokoh yang berarti berpenampilan baik, tegas, dan memiliki pengaruh di masyarakat.

Ketika seorang datuak dipilih dan diangkat, maka akan ada perayaan dengan menyembelih kerbau dan memasak randang atau rendang. Kemudian, Kak Mega menjelaskan bahwa pewaris gelar seorang datuak bukanlah anak kandung datuak, melainkan anak laki-laki dari saudara perempuan datuak. Tentulah hal ini dikarenakan budaya Minang yang menganut adat matrilineal, yaitu adat yang menilai hubungan kekerabatan bertumpu pada garis keturunan ibu.

Peran lain yang tak kalah penting dalam budaya Minang adalah adanya bundo kanduang—perempuan yang dituakan dan  bertanggung jawab atas kesejahteraan kaum. Seorang bundo kanduang memiliki hak dan kewajiban menjadi kepala para wanita yang tinggal di rumah gadang.

Seorang bundo kanduang tentulah harus wanita yang sudah menikah dan seorang bijaksana. Seorang bundo kanduang memiliki kedudukan penting dalam tradisi Minang

Selain sistem kepemimpinan dan adat matrilineal Minangkabau, kami juga diperlihatkan kepada rangkiang dan replika kamar khas Minang. Rangkiang adalah gudang penyimpanan yang memiliki pintu di atas. “Rangkiang ini adalah ciri dari pemikiran nenek moyang orang Minang yang bisa dikatakan visioner,” kata Kak Mega, menjelaskan.

Rangkiang ini tahan banjir, angin, dan pencuri karena jika ingin memasuki rangkiang haruslah memakai tangga terlebih dahulu. Selain itu, Kak Mega juga memberitahu kami bahwa dalam rumah gadang itu jumlah kamar disesuaikan dengan banyaknya anak perempuan dalam keluarga. Anak laki-laki tidak diberi kamar karena mereka tidur, belajar agama, dan silek di surau. Setelah beristri barulah laki-laki Minang ini memiliki kamar bersama istrinya.

Rangkiang di Museum Adityawarman / Foto: Dok. Ulfah

Setelah itu, kami diajak melihat berbagai aksesoris pernikahan dalam budaya Minang. Setiap daerah memiliki aksesoris dan perhiasan yang berbeda. Misalnya di daerah Agam, pakaian pengantin yang digunakan adalah baju Koto Gadang, hal ini tentu berbeda dengan daerah Padang dan Pariaman yang banyak menggunakan suntiang.

“Suntiang ini adalah lambang tanggung jawab yang akan diampu seorang perempuan apabila telah menikah, maka tak heran suntiang ini cukup berat jika digunakan di atas kepala,” ujar Kak Mega.

Setelah banyak mengetahui tradisi, adat, dan budaya Minang, Kak Mega mengajak kami ke Museum Randang yang baru selesai dibangun tahun 2020. Di dalam museum itu ada banyak informasi mengenai rendang, di antaranya  sejarah rendang, rempah yang digunakan untuk membumbui rendang, serta alat yang digunakan untuk memasak rendang.

Secara rinci, Kak Mega menjelaskan bahwa rempah yang digunakan untuk memasak rendang itu memiliki arti. Misalnya kelapa memiliki arti golongan cendikiawan, cabai merah memiliki arti para alim ulama yang senantiasa menegur untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang.

Kelompok Modul Nusantara foto di Museum Adityawarman / Foto: Dok. Ulfah

Selain daging, randang juga bisa berasal dari daun-daunan, ikan-ikanan, dan lain-lain. Lama memasak randang ini adalah sekitar 8 jam dan harus terus diawasi. Meskipun cara masaknya cukup membutuhkan kesabaran, randang ini cukup awet dan bisa bertahan sekitar 40 hari.

Di Museum Adityawarman ini kami juga diperlihatkan koleksi teknologika dan koleksi hewan-hewan yang diawetkan. Kunjungan kami di Museum Adityawarman diakhiri dengan makan siang bersama di pelataran museum. Sebuah kesempatan yang amat menyenangkan dan menambah wawasan untuk bisa mengunjungi museum ini.

Sebagai mahasiswa pertukaran dari luar Sumatera, saya jadi banyak belajar mengenai kebudayaan Minangkabau. Saya menyadari bahwa setiap budaya di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri-sendiri. Sebagai orang Sunda saya juga menyadari kekhasan budaya Sunda yang berbeda dengan budaya Minang.

Setelah kunjungan ke museum tersebut saya banyak mengkomparasikan kebudayaan daerah, menggali keunikannya dan kemudian merasa bangga bisa terlahir di tanah yang kaya akan budaya dan tradisi ini, Tanah Air kita, Indonesia.[T]

Palembang: Kota Tua dan Rawa-Rawa
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Cerita dari Lombok: Teater, Tenun dan MotoGP
Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja
Tags: MuseumperjalananSumatera Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Next Post

B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

Ulfah Nurul Wahidah

Ulfah Nurul Wahidah

Mahasiswa FIB Unpad yang saat ini sedang melakukan pertukaran mahasiswa di Universitas Andalas, Sumatera Barat. Akun Ig: ulfahnw__

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

B-PART: Ragam Raga, Ruang, dan Kemungkinan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co