23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nopek Novian dan Orang-Orang Kenongorejo

Jaswanto by Jaswanto
November 7, 2023
in Khas
Nopek Novian dan Orang-Orang Kenongorejo

Nopek Novian dan youtuber Kenongorejo bersama Habib Ja'far | Foto: @nopeknovian

BEBERAPA hari belakangan, kanal YouTube Kulot Chanel ramai ‘diserbu’ netizen. Mereka menyerbu kanal tersebut bukan untuk menyerang, tapi mengapresiasi. Pasalnya, kanal YouTube milik seorang bapak bernama Didik itu, mengunggah sebuah video pendek berjudul Mapak Anak Wedok, Gak Krasan Neng Jakarta. Judul itu, kalau boleh diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, menjadi Jemput Anak Perempuan, Tidak Betah di Jakarta.

Sebenarnya, jika dipandang dari sisi sinematografi, tidak ada yang istimewa dan spesial dari video tersebut. Video tiga belas menit itu diambil secara apa adanya, polosan, jauh dari teknik-teknik dasar pengambilan video—bodoh amat dengan apa yang disebut angle selection, video stabilization, lighting setup, composition, camera movement, proper focus, sampai clear audio. Tetapi, teori-teori gawat seperti itu rasanya memang tidak berlaku bagi youtuber dari Desa Kenongorejo, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, itu.

Lantas, apa yang membuat video tersebut banyak ditonton netizen? Barangkali, mungkin, jawabannya adalah karena anak perempuan Didik memiliki paras yang cantik—beberapa netizen berkomentar anaknya Didik parasnya seperti orang Cina.

Pak Didik, begitu ia akrab dipanggil, memang salah satu youtuber medioker yang berasal dari Kampung Kenongorejo, tanah kelahiran stand up comedy-an yang sedang naik daun itu, Nopek Novian. Kulot Chanel, bersama kanal lain seperti Andik Nur Prabowo, Rian Vlog, Viga Doyok, Keluarga Zaki, Mak Sih Chanel, Dede Gembeng, Iwan Kumis, Blotong Family, dll, tahun ini memang sedang gencar-gencarnya—meminjam bahasa mereka—menggempur YouTube dengan video-video vlog sederhana yang berisi keseharian mereka. Vlog-vlog itu mereka sebut sebagai “konten kuantiti”.

Konten kuantiti adalah istilah yang dipopulerkan Nopek Novian pada tahun-tahun belakangan. Istilah itu disebut sebagai lawan dari konten kualiti—konten yang berkualitas dari segi apa pun. Melalui konten-konten kuantitinya itulah yang melambungkan nama Nopek Novian di jagat skena stand up comedy Indonesia maupun di jagat maya. Apalagi saat ia masih gencar-gencarnya ngevlog suasana dan orang-orang di kosnya di Jakarta—Kost The Raid, begitu mereka menyebutnya.

Ya, sebagai youtuber, Nopek memang lebih banyak mengunggah vlog sederhana, apa adanya. Alih-alih menggunakan kamera DSLR untuk merekam, ia cukup mengandalkan kamera telepon genggamnya. Alih-alih merekam tokoh-tokoh terkenal, ia lebih suka mengabadikan orang-orang biasa di sekitarnya. Jika youtuber pada umumnya lebih banyak memoles, mengedit sana-sini video-videonya, Nopek lebih nyaman membiarkan begitu saja video-video yang ia unggah di kanal YouTube-nya. Tetapi, di situlah keistimewaannya. Vlog Nopek menjadi sangat otentik, tak dibuat-buat, asli, tanpa banyak kepura-puraan, tak banyak kepalsuan—kata yang sering kita temukan di dunia lain bernama YouTube.

Dan diakui atau tidak, sosok Nopek Novian-lah yang memantik orang-orang Kenongorejo, kampung halamannya, untuk menjadi seorang youtuber. Ia, bersama sahabatnya Andik Nur Prabowo, didaulat sebagai founding father-nya youtuber-youtuber Kenongorejo. Bahkan, Nopek Novian sekarang disebut sebagai “wong pusat”, orang pusat, oleh orang-orang Kenongorejo yang pernah ia bantu dalam merintis karier sebagai youtuber—Nopek memang menjadi tumpuan para youtuber di kampungnya.

Berkat Nopek, orang-orang Kenongorejo mencoba peruntungan di “panggung” yang, siapa pun, sangat berpotensi menjadi “orang sukses dan diakui”. Ya, YouTube, juga platform digital lainnya, memang terbukti mampu menjadikan siapa pun, yang awalnya “bukan apa-apa”, “bukan siapa-siapa”, berubah menjadi orang yang diakui, ditokohkan, dielu-elukan, dihormati, ditiru, dijadikan inspirasi, dianggap sukses. Platform digital, seperti yang sudah umum terdengar, menjadi alternatif penyelamat.

Kita bisa berkaca pada tokoh utama kita, Nopek Novian dan orang-orang Kenongorejo, yang memilih untuk—meminjam bahasa Mumu Aloha—“lahir kembali”, dan membuka jalan baru bagi lahirnya inspirasi-inspirasi baru masyarakat, idola-idola baru bagi kalangan akar rumput, pahlawan-pahlawan baru untuk wong cilik.

Youtuber-Youtuber yang Menyenangkan

Kenongorejo hanyalah bagian kecil dari Madiun—apalagi Jawa Timur. Tetapi, meski kecil, pada dekade belakangan, namanya santer terdengar, setidaknya di wilayah Madiun dan sekitarnya. Kenongorejo menjadi terkenal setelah beberapa warganya menjadi youtuber-youtuber yang menyenangkan. Tidak berlebihan memang, sebab begitulah respon netizen atas vlog-vlog yang mereka telurkan. Bahkan, netizen yang mengikuti mereka merupakan jenis orang yang militan. Yang dahsyat, setiap kanal YouTube Kenongorejo memiliki fans dan julukan masing-masing.

Penonton dan subscriber Nopek Novian, misalnya, menyebut diri mereka sebagai Jama’ah Al-Nopekiyah dan Ultras Nopek. Mereka memanggil Nopek dengan sebutan Gus. Sedangkan penonton dan subscriber kanal YouTube Andik Nur Prabowo, menyebut diri mereka sebagai Sobat ANP. Tak hanya Nopek dan Andik, kanal YouTube yang lain juga memiliki sebutan sendiri untuk penonton dan subscriber-nya.

Youtuber-youtuber Kenongorejo tampaknya memang termasuk jenis orang yang menyenangkan. Selain memiliki kemampuan humor yang baik, humor khas orang-orang desa, mereka juga sering menunjukkan hubungan antarsesama yang harmonis—hubungan keluarga, kerabat, teman, dan tetangga. Di Kenongorejo, setidaknya yang sering ditunjukkan para youtubernya, relasi antara anak dan orang tua tampak sangat menyenangkan, seperti sahabat karib, tak ada batas antara keduanya. Begitupun relasi antara kerabat, teman, dan tetangga.

Berbicara kanal YouTube yang menyenangkan, selain orang-orang Kenongorejo, di Solo, ada kanal YouTube bernama Bakar Production. Berbeda dengan yang dilakukan youtuber Kenongorejo, Bakar Production dengan Kampung Riwil-nya, merupakan kanal yang dibangun secara serius, kualiti.

Kampung Riwil, sebagaimana dikatakan Mumu Aloha, adalah sebuah kampung fiktif dalam serial Balada Kampung Riwil yang setiap episodenya hadir dua kali seminggu sejak sekitar dua tahun lalu. Awalnya adalah cerita yang sudah umum terdengar tentang “dampak pandemi”. Gara-gara pandemi, komunitas seniman kethoprak di Solo yang biasa pentas di Taman Balekambang, tergabung dalam Seniman Muda Surakarta, kehilangan job.

Dan, lanjut Mumu, seperti cerita yang sudah umum terdengar pula, platform digital menjadi alternatif penyelamat. Dengan bendera Bakar Production, mereka membuat “sinetron” untuk ditayangkan di YouTube. Pemainnya adalah para seniman berbagai usia yang sebelumnya biasa main kethoprak. Dari yang sudah senior, remaja, hingga anak-anak berusia SD.

Jika Solo punya Kampung Riwil, maka Kediri punya lakon mereka sendiri, yang barangkali bisa dibilang lebih membahana, lewat bendera Woko Channel. Sama-sama menyajikan lakon komedi berbahasa Jawa, Woko Channel dikenal dengan gayanya yang lebih “slapstick” dibandingkan dengan Bakar Production. Dan, perbedaan nuansa “kehalusan” bahasa antara Solo (Jawa Tengah) dan Kediri (Jawa Timur) juga memberikan perbedaan pada sketsa kisah-kisah mereka (Mumu, 2022).

Namun, terlepas dari bagaimana Bakar Production dan Woko Channel menghasilkan konten-konten berkualitas, youtuber Kenongorejo memang memiliki ciri khasnya sendiri. Seperti Nopek, tokoh yang mereka banggakan, mereka juga mendeklarasikan diri sebagai “youtuber kuantiti”; tak peduli kualitas, yang penting produktif menghasilkan video—yang penting ngonten, kata mereka. Sebab, mereka percaya, semakin produktif semakin banyak mereka mendulang penghasilan, AdSense dari YouTube.

Youtuber-youtuber Kenongorejo barangkali bisa dikatakan youtuber yang otentik. Jika kebanyakan youtuber sibuk melapisi dirinya dengan kemasan yang menebal penuh dengan kepalsuan, maka youtuber otentik melepaskan lapis-lapis dirinya. Menelanjangi dirinya di depan netizen. Mereka menampilkan apa-apa dengan jujur, apa adanya. Kondisi rumah, menu makanan, dan segalanya, direkam, dieksplor, tanpa tedeng aling-aling.

Akhirnya, sekali lagi, mengutip Mumu Aloha, “dengan perangkat handphone murah di tangan, sambil makan di warung, ngarit di sawah, naik bus antarkota antarprovinsi, atau sambil menunggui kios di pasar”, orang-orang dengan mudah menyetel, menyaksikan, menyimak keseharian orang-orang Kenongorejo yang menyenangkan. Dan, dari layar HP yang dipantengi seseorang di warteg atau di suatu kios di sisi lorong pasar yang hiruk-pikuk, akan menggema suara khas: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… kembali lagi di channel YouTube saya… jadi ceritanya… bla bla bla.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Banyuning: Gudang Seni dan Youtuber di Bali Utara
“Youtube Artist” Vs “Artist Youtube”
Youtube, Instagram & Tiktok, Ladang Subur Kaum Milenial || Catatan Seorang Youtuber
Drama Dunia Youtuber Indonesia: Beramal di Zaman Milenial dengan Nonton Youtube
Tags: jawaJawa Timurmedia sosialyoutube
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komang Sujana, Menulis Puisi, Meraih Gerip Maurip

Next Post

Gerip Maurip dan Ruang Belajar Menulis Puisi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Gerip Maurip dan Ruang Belajar Menulis Puisi

Gerip Maurip dan Ruang Belajar Menulis Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co