5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerip Maurip dan Ruang Belajar Menulis Puisi

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
November 7, 2023
in Esai
Gerip Maurip dan Ruang Belajar Menulis Puisi

Wayan Esa Bhaskara

GERIP MAURIP menjadi ajang lomba menulis paling prestisius yang pernah saya ikuti. Gerip Maurip pun, bagi saya, menjadi penghargaan sastra paling penting yang pernah ada di Bali. Sebab, melalui ajang ini para penulis di Bali menjadi terpacu menulis dalam bahasa daerah mereka. Tentu ini bukan hal yang gampang.

Sebagai orang Bali, menulis dengan bahasa daerah ternyata tidak semudah menulis dengan bahasa Indonesia. Saya mengalaminya sendiri. Bagi saya, menulis dengan bahasa Bali sama susahnya dengan menulis dengan bahasa asing. Maka, kita semua hendaknya berterima kasih kepada Pustaka Ekspresi sebagai penggagas ajang ini sejak 2017.

Selain persoalan susahnya menulis dengan bahasa Bali, persoalan lain lagi adalah sastra Bali modern masih menjadi anak tiri dibandingkan seni tradisi semacam geguritan dan sejenisnya. Hal ini terlihat pada pembelajaran sastra di ruang-ruang kelas. Begitu pula di masyarakat, bahwa sastra Bali modern masih kalah pamor.

Fakta-fakta itu ternyata secara tidak langsung membuat saya tertantang mencoba menulis dengan bahasa Bali. Saya mencoba belajar menulis teks puisi, sebab sebelumnya memang sudah akrab dengan puisi berbahasa Indonesia.

Referensi pertama saya tentu saja jurnal online Suara Saking Bali yang digagas Putu Supartika. Berikutnya sisipan Orti Bali di Bali Post Minggu dan puisi-puisi berbahasa Bali di Pos Bali. Berikutnya barulah saya membaca buku-buku puisi yang kebetulan hampir seluruhnya adalah terbitan Pustaka Ekspresi.

Saya lupa kapan pastinya mulai serius menulis puisi berbahasa Bali. Beberapa kali sempat menulis dan mencoba mengirimnya untuk media cetak seperti Pos Bali dan Suara Saking Bali. Belakangan saya memberanikan mengirim puisi di Media Bali yang dijaga IK Eriadi Ariana yang saya kenal dengan nama Jero Penyarikan Duuran Batur dan Nusa Bali atas “undangan” sastrawan I Made Sugianto. Mengirim tulisan dan dimuat di media-media ini pun membuat saya memiliki percaya diri yang cukup.

Akhirnya, saya memberanikan diri untuk ikut mengirimkan manuskrip puisi di Gerip Maurip. Saya memulainya pada 2021, manuskrip yang saya kirimkan berjudul Dini Ditu. Naskah tersebut memuat 39 puisi berbahasa Bali dengan bermacam-macam tema. Sebuah kumpulan puisi yang menurut saya tidak jelas benang merahnya sehingga saya berikan judul Dini Ditu.

Pada Gerip Maurip 2021, manuskrip itu bersaing dengan 10 manuskrip lain, milik para penulis-penulis kelas berat semacam Made Edy Arudi, NW Adnyani, I Nyoman Agus Sudipta, dan senior Wayan Warsa. Tentu manuskrip Dini Ditu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan karya-karya para penulis tersebut, pikir saya.

Hasilnya sangat mengejutkan saya saat itu. Dini Ditu didapuk menjadi Jayanti 2 di bawah karya I Putu Suweka Oka S. Entah apa yang ada di pikiran para juri, Ibw Keniten, Idk Raka Kusuma (alm), dan Komang Berata saat itu.

Setelah pengumuman pemenang tahun itu, dua hal yang saya pikirkan dan saya ingat betul. Pertama, apakah puisi saya sudah bagus? Kedua, mengapa menulis puisi berbahasa Bali sesulit ini padahal bahasa Bali sering saya gunakan setiap hari. Sampai sekarang pun, saya belum menemukan pasti jawaban dari kedua pertanyaan itu. Hanya saja, saya selalu mencoba terus menulis dan mengirimkannya ke media. Syukur-syukur dimuat. Untuk hal ini saya kembali harus berterima kasih kepada para penjaga gawang kolom sastra seperti IK Eriadi Ariana (Media Bali), Putu Supartika (Suara Saking Bali) dan I Made Sugianto (Nusa Bali).

Menulis dengan bahasa Bali, saya seperti menulis dengan bahasa asing. Kadang saya menulis dengan bahasa Indonesia dulu, selanjutnya draf tersebut saya terjemahkan ke bahasa Bali dengan bantuan kamus. Yang membuat saya masih tidak percaya diri dengan puisi-puisi saya adalah terkait dengan sor singgih basa.

Contoh-contoh puisi yang saya baca sebagian besar menggunakan bahasa alus. Begitu pula tema-tema yang digunakan saya pikir sangat berat, seperti filsafat dan semacam pembacaan atas karya-karya sastra klasik. Untuk hal ini, saya merasa masih sangat kurang. Maka dari itu saya memutuskan menulis menggunakan bahasa kepara, alus madia, bahkan kosa kata campuran dan memasukkan istilah-istilah modern.

Setelah pencapaian di Gerip Maurip 2021, saya mencoba peruntungan lagi di tahun berikutnya. Saya mengirim Manuskrip Gong dan bersaing dengan 8 karya puisi lain, karya para senior seperti Ngakan Made Kasub Sidan, DN Sarjana, dan I Made Suarsa. Tentu membuat nyali saya semakin ciut.

Benar saja, tahun 2022 puisi-puisi saya tidak bisa menembus tiga besar. Pada titik itu, saya melakukan semacam evaluasi diri, di mana sebenarnya kekuatan puisi saya. Sebab kelemahan puisi saya tentu sudah banyak dan gampang ditemukan.

Tahun ini saya memberanikan diri untuk ikut kembali mengirimkan karya. Saya mengumpulkan puisi-puisi baru sepanjang 2023, dengan tema-tema sederhana dan tentu saja kosa kata yang sederhana. Sebab di sanalah kekuatan saya, begitu pikir saya.

Saya kirimkanlah manuskrip berjudul Pasisi, Lawar, lan Saké. Satu hal baru yang saya coba pada manuskrip ini adalah lebih banyak puisi yang saya buat tersusun atas tiga bait puisi. Ini disebabkan saya mulai senang membaca puisi-puisi dari penyair Tengsoet Tjahjono yang memang dikenal sebagai penggagas putiba (puisi tiga bait).

Pengumuman Gerip Maurip tahun ini membuat saya benar-benar terkejut. Sebab, Pasisi, Lawar, lan Saké dipilih menjadi Jayanti 2. Ya, berada di posisi yang sama seperti kali pertama keikutsertaan saya. Yang paling mengembirakan tentu, tahun ini manuskrip tersebut akan diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi. Tentu saja ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Di tengah proses belajar menulis puisi berbahasa Bali, ada apresiasi demikian.

Terlepas dari hasil tersebut, saya selalu menikmati proses belajar ini. Sejak beberapa tahun belakangan memang sedang mempelajari puisi Bali modern. Proses yang masih sangat pendek dan belum apa-apa dibandingkan dengan penulis lain, tentu saja. Belum banyak yang saya tahu, masih menulis dengan bantuan kamus, bahkan belasan kali melakukan revisi untuk satu puisi. Tetapi, Gerip Murip saya pikir telah menjadi lab bagi saya.[T]

Komang Sujana, Menulis Puisi, Meraih Gerip Maurip
Tags: puisi bali anyarsastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nopek Novian dan Orang-Orang Kenongorejo

Next Post

Workshop Musik dan Tari Tradisional Manggarai | Catatan dari Bali Nata Bhuwana II di Labuan Bajo, 8 November 2023

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails
Next Post
Workshop Musik dan Tari Tradisional Manggarai | Catatan dari Bali Nata Bhuwana II di Labuan Bajo, 8 November 2023

Workshop Musik dan Tari Tradisional Manggarai | Catatan dari Bali Nata Bhuwana II di Labuan Bajo, 8 November 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co