1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerip Maurip dan Ruang Belajar Menulis Puisi

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
November 7, 2023
in Esai
Gerip Maurip dan Ruang Belajar Menulis Puisi

Wayan Esa Bhaskara

GERIP MAURIP menjadi ajang lomba menulis paling prestisius yang pernah saya ikuti. Gerip Maurip pun, bagi saya, menjadi penghargaan sastra paling penting yang pernah ada di Bali. Sebab, melalui ajang ini para penulis di Bali menjadi terpacu menulis dalam bahasa daerah mereka. Tentu ini bukan hal yang gampang.

Sebagai orang Bali, menulis dengan bahasa daerah ternyata tidak semudah menulis dengan bahasa Indonesia. Saya mengalaminya sendiri. Bagi saya, menulis dengan bahasa Bali sama susahnya dengan menulis dengan bahasa asing. Maka, kita semua hendaknya berterima kasih kepada Pustaka Ekspresi sebagai penggagas ajang ini sejak 2017.

Selain persoalan susahnya menulis dengan bahasa Bali, persoalan lain lagi adalah sastra Bali modern masih menjadi anak tiri dibandingkan seni tradisi semacam geguritan dan sejenisnya. Hal ini terlihat pada pembelajaran sastra di ruang-ruang kelas. Begitu pula di masyarakat, bahwa sastra Bali modern masih kalah pamor.

Fakta-fakta itu ternyata secara tidak langsung membuat saya tertantang mencoba menulis dengan bahasa Bali. Saya mencoba belajar menulis teks puisi, sebab sebelumnya memang sudah akrab dengan puisi berbahasa Indonesia.

Referensi pertama saya tentu saja jurnal online Suara Saking Bali yang digagas Putu Supartika. Berikutnya sisipan Orti Bali di Bali Post Minggu dan puisi-puisi berbahasa Bali di Pos Bali. Berikutnya barulah saya membaca buku-buku puisi yang kebetulan hampir seluruhnya adalah terbitan Pustaka Ekspresi.

Saya lupa kapan pastinya mulai serius menulis puisi berbahasa Bali. Beberapa kali sempat menulis dan mencoba mengirimnya untuk media cetak seperti Pos Bali dan Suara Saking Bali. Belakangan saya memberanikan mengirim puisi di Media Bali yang dijaga IK Eriadi Ariana yang saya kenal dengan nama Jero Penyarikan Duuran Batur dan Nusa Bali atas “undangan” sastrawan I Made Sugianto. Mengirim tulisan dan dimuat di media-media ini pun membuat saya memiliki percaya diri yang cukup.

Akhirnya, saya memberanikan diri untuk ikut mengirimkan manuskrip puisi di Gerip Maurip. Saya memulainya pada 2021, manuskrip yang saya kirimkan berjudul Dini Ditu. Naskah tersebut memuat 39 puisi berbahasa Bali dengan bermacam-macam tema. Sebuah kumpulan puisi yang menurut saya tidak jelas benang merahnya sehingga saya berikan judul Dini Ditu.

Pada Gerip Maurip 2021, manuskrip itu bersaing dengan 10 manuskrip lain, milik para penulis-penulis kelas berat semacam Made Edy Arudi, NW Adnyani, I Nyoman Agus Sudipta, dan senior Wayan Warsa. Tentu manuskrip Dini Ditu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan karya-karya para penulis tersebut, pikir saya.

Hasilnya sangat mengejutkan saya saat itu. Dini Ditu didapuk menjadi Jayanti 2 di bawah karya I Putu Suweka Oka S. Entah apa yang ada di pikiran para juri, Ibw Keniten, Idk Raka Kusuma (alm), dan Komang Berata saat itu.

Setelah pengumuman pemenang tahun itu, dua hal yang saya pikirkan dan saya ingat betul. Pertama, apakah puisi saya sudah bagus? Kedua, mengapa menulis puisi berbahasa Bali sesulit ini padahal bahasa Bali sering saya gunakan setiap hari. Sampai sekarang pun, saya belum menemukan pasti jawaban dari kedua pertanyaan itu. Hanya saja, saya selalu mencoba terus menulis dan mengirimkannya ke media. Syukur-syukur dimuat. Untuk hal ini saya kembali harus berterima kasih kepada para penjaga gawang kolom sastra seperti IK Eriadi Ariana (Media Bali), Putu Supartika (Suara Saking Bali) dan I Made Sugianto (Nusa Bali).

Menulis dengan bahasa Bali, saya seperti menulis dengan bahasa asing. Kadang saya menulis dengan bahasa Indonesia dulu, selanjutnya draf tersebut saya terjemahkan ke bahasa Bali dengan bantuan kamus. Yang membuat saya masih tidak percaya diri dengan puisi-puisi saya adalah terkait dengan sor singgih basa.

Contoh-contoh puisi yang saya baca sebagian besar menggunakan bahasa alus. Begitu pula tema-tema yang digunakan saya pikir sangat berat, seperti filsafat dan semacam pembacaan atas karya-karya sastra klasik. Untuk hal ini, saya merasa masih sangat kurang. Maka dari itu saya memutuskan menulis menggunakan bahasa kepara, alus madia, bahkan kosa kata campuran dan memasukkan istilah-istilah modern.

Setelah pencapaian di Gerip Maurip 2021, saya mencoba peruntungan lagi di tahun berikutnya. Saya mengirim Manuskrip Gong dan bersaing dengan 8 karya puisi lain, karya para senior seperti Ngakan Made Kasub Sidan, DN Sarjana, dan I Made Suarsa. Tentu membuat nyali saya semakin ciut.

Benar saja, tahun 2022 puisi-puisi saya tidak bisa menembus tiga besar. Pada titik itu, saya melakukan semacam evaluasi diri, di mana sebenarnya kekuatan puisi saya. Sebab kelemahan puisi saya tentu sudah banyak dan gampang ditemukan.

Tahun ini saya memberanikan diri untuk ikut kembali mengirimkan karya. Saya mengumpulkan puisi-puisi baru sepanjang 2023, dengan tema-tema sederhana dan tentu saja kosa kata yang sederhana. Sebab di sanalah kekuatan saya, begitu pikir saya.

Saya kirimkanlah manuskrip berjudul Pasisi, Lawar, lan Saké. Satu hal baru yang saya coba pada manuskrip ini adalah lebih banyak puisi yang saya buat tersusun atas tiga bait puisi. Ini disebabkan saya mulai senang membaca puisi-puisi dari penyair Tengsoet Tjahjono yang memang dikenal sebagai penggagas putiba (puisi tiga bait).

Pengumuman Gerip Maurip tahun ini membuat saya benar-benar terkejut. Sebab, Pasisi, Lawar, lan Saké dipilih menjadi Jayanti 2. Ya, berada di posisi yang sama seperti kali pertama keikutsertaan saya. Yang paling mengembirakan tentu, tahun ini manuskrip tersebut akan diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi. Tentu saja ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Di tengah proses belajar menulis puisi berbahasa Bali, ada apresiasi demikian.

Terlepas dari hasil tersebut, saya selalu menikmati proses belajar ini. Sejak beberapa tahun belakangan memang sedang mempelajari puisi Bali modern. Proses yang masih sangat pendek dan belum apa-apa dibandingkan dengan penulis lain, tentu saja. Belum banyak yang saya tahu, masih menulis dengan bantuan kamus, bahkan belasan kali melakukan revisi untuk satu puisi. Tetapi, Gerip Murip saya pikir telah menjadi lab bagi saya.[T]

Komang Sujana, Menulis Puisi, Meraih Gerip Maurip
Tags: puisi bali anyarsastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nopek Novian dan Orang-Orang Kenongorejo

Next Post

Workshop Musik dan Tari Tradisional Manggarai | Catatan dari Bali Nata Bhuwana II di Labuan Bajo, 8 November 2023

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails
Next Post
Workshop Musik dan Tari Tradisional Manggarai | Catatan dari Bali Nata Bhuwana II di Labuan Bajo, 8 November 2023

Workshop Musik dan Tari Tradisional Manggarai | Catatan dari Bali Nata Bhuwana II di Labuan Bajo, 8 November 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co