26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komang Sujana, Menulis Puisi, Meraih Gerip Maurip

Jaswanto by Jaswanto
November 6, 2023
in Persona
Komang Sujana, Menulis Puisi, Meraih Gerip Maurip

Komang Sujana

“SETELAH merampungkan naskah Cangkit Den Bukit, saya terus menulis puisi.” Demikian ucap Komang Sujana kepada tatkala.co, Senin (6/11/2023) malam. Cangkit Den Bukit merupakan buku kumpulan puisi pertama yang ia telurkan. Buku puisi berbahasa Bali itu diterbitkan Mahima Institute Indonesia pada tahun 2023.

Komang Sujana lahir di Tajun, 28 Desember 1990. Sejak tahun 2021, setelah sempat bekerja sebagai Penyuluh Bahasa Bali tahun 2016-2017 dan menjadi perangkat Desa Tajun tahun 2017-2020, ia memutuskan menjadi guru di SMPN 2 Sawan sampai sekarang.

Komang, begitu ia akrab dipanggil, mulai belajar menulis puisi sejak tahun 2012—saat kuliah, katanya. Dan untuk pertama kalinya, pria yang memiliki hobi menonton pertandingan bola voli itu mengaku menulis puisi dengan judul Cangkit Den Bukit. Belakangan, entah kebetulan atau bagaimana, yang jelas ia tidak menyangka, pada akhirnya puisi tersebut menjadi judul buku antologi pertamanya.

“Tahun 2017 sempat menulis sedikit. Tapi setelah itu, sampai pertengahan tahun 2020, saya tidak menulis. Dan saya menyesali ini. Saya kembali menulis setelah resmi dinyatakan lolos CPNS Guru Bahasa Bali Desember 2020, sampai saat ini,” ujarnya.

Semangatnya dalam menulis, entah puisi atau esai, tak terlepas dari dukungan beberapa tokoh yang ia kenal. Sebut saja I Wayan Artika, Made Adnyana Ole, dan Komang Berata. Dalam sebuah acara akreditasi di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, sekitar tahun 2022, I Wayan Artika pernah berpesan kepadanya supaya terus menulis dan tak henti membaca supaya puisi yang ia hasilkan menjadi lebih baik.

Dalam prosesnya menjadi penulis, ia mengaku berterima kasih banyak kepada Made Adnyana Ole—penyair sekaligus Pemimpin Redaksi tatkala.co—yang telah mendorongnya menerbitkan buku puisi. “Saya awalnya tidak berani menerbitkan buku karena masih pemula. Puisi-puisi saya juga masih sederhana. Tetapi, berkat penguatan yang diberikan beliau [Made Adnyana Ole], akhirnya saya punya buku. Dan karena buku ini saya menjadi terus ingin belajar menulis,” ungkapnya.

Selain mendapat dukungan dari orang-orang yang namanya telah disebutkan, tidak jarang juga Komang berdiskusi dengan IBW Keniten—sebagaimana saran dari Made Sugianto—saat belajar menulis puisi.

Dalam hal menulis, Komang mengungkapkan bahwa tujuannya menulis puisi bukan karena ingin menjadi penyair atau terkenal sebagai penulis. Tetapi sebagai bentuk pertanggungjawaban moral seorang guru bahasa daerah kepada anak-anak didiknya di sekolah. “Selain itu, menulis juga memaksa saya untuk terus membaca dan menjadi lebih perhatian terhadap fenomena sekitar,” terangnya.

Pernyataan Komang terkait “pertanggungjawaban moral sebagai guru” adalah bentuk kerendahan hati sekaligus keseriusannya menjadi seorang guru.

Seharusnya memang demikian. Para guru adalah liga ilmu dan cinta sekaligus. Karenanya jejaknya panjang. Komang tentu paham, tak hanya ‘digugu’ dan ‘ditiru’, seorang guru jugalah yang mengenalkan kita pada dunia—atau ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan—dan kompleksitivitas pikiran manusia, tentu saja—yang membedakan kita dari mamalia lain, dan membuat dunia dan manusia seperti ini, tak lain adalah peran para guru itu.

Kita ingat kutipan terkenal Pramoedya Ananta Toer dalam novel klasik tetralogi Pulau Buru: “Seorang terpelajar harus adil sudah sejak dalam pikiran.” Dalam segala firmannya, Tuhan memerintahkan kita berbuat adil pada apa saja. Karena adil adalah sebenar-benarnya takwa. Sebab itu ia tak mudah. Hanya ilmu pengetahuan yang membuat kita bisa adil—bahkan sejak sebelum jadi tindakan. Sebab, Ilmu pengetahuan adalah dasar kebijaksanaan. Dan itu adalah jasa besar para guru.

Sepertinya, tanpa guru, cinta dan ilmu tak akan menyatu dalam satu liga, dalam pikiran dan hati kita. “Sebab cinta tanpa ilmu membuat kita buta, ilmu tanpa cinta menyebabkan ia semena-mena,” kata Bagja Hidayat. Oleh karena itu, menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah.

Namun, yang tak mudah bukan berarti tak bisa dicapai. Meski pada kenyataannya, masih banyak guru yang tak mampu sekaligus memiliki—meminjam apa yang dikatakan Komang Sujana—“pertanggungjawaban moral sebagai guru”. Komang, sebagai seorang guru, sesulit apa pun, akan tetap berusaha menjadi guru yang bertanggung jawab.

Tampaknya memang demikian. Sebagai guru bahasa daerah yang bertanggung jawab, geguritan yang ia tulis, Geguritan Puja Parisuda Buana, menjadi salah satu karya terpilih untuk dimuat dalam buku Sastra Saraswati Séwana Pamarisuddha Gering Agung yang diterbitkan oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud pada tahun 2021.

Selain itu, pada periode 2022, Komang kerap menjuarai perlombaan kepenulisan. Ia pernah menjadi Juara Wimbakara Nyurat Artikel Bulan Bahasa Bali Provinsi Bali Tahun 2022; Juara 1 Lomba Esai IGI Bali Competition Tahun 2022; Juara 3 Lomba Artikel Ilmiah IGI Bali Competition Tahun 2022; dan Juara 2 Saraswati Award Bidang Kompetitif Kategori Guru Tahun 2022.

Tak sampai di situ, ia juga meraih Anugerah Saraswati Award dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng Tahun 2022. Pada periode yang sama, 25 puisinya menjadi yang terbaik dalam lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh Gerakan Makanti Puisi. Pada 2023, ia lolos seleksi sebagai peserta luring Kongres Bahasa Indonesia XII.

Puisi-puisi Bali anyar yang ia tulis, terbit di Nusa Bali, Media Bali, Pos Bali, dan majalah Suara Saking Bali. Selain menulis puisi, Komang juga menulis esai dan artikel berbahasa Indonesia tentang pendidikan, revitalisasi bahasa daerah, dan desa, di tatkala.co—tempat artikel ini diterbitkan. “Terbitnya puisi-puisi sederhana itu di media massa, menjadi pemantik saya untuk terus menulis,” ujarnya.

Seperti tak mau pintar sendiri, Komang Sujana menginisiasi buku kumpulan puisi Bali anyar bertajuk Nyurat Rasa Ngupapira Basa (2023). Buku ini adalah kumpulan puisi peserta didiknya di sekolah sebagai hasil praktik baik revitalisasi bahasa daerah di SMP Negeri 2 Sawan.

Meraih Gerip Maurip

Sampai pada September 2023, Komang memilih 25 puisinya untuk diikutkan dalam sayembara “Gerip Maurip”—sayembara penulisan naskah buku berbahasa Bali yang diselenggarakan Pustaka Ekspresi sejak tahun 2017.

“Sebelum saya kirim ke panitia, mengenai judul saya sempat mohon masukan Pak Komang Berata. Beliaulah yang merekomendasikan judul Renganis. Renganis manis anggen judul buku, kata beliau dalam bahasa Bali,” ujar Komang, menirukan ucapakan Komang Berata. Dalam hal ini, menurutnya, Komang Berata sangat berjasa sebab turut menuntun proses kreatifnya. “Judul Cangkit Den Bukit juga rekomendasi dari beliau,” tambahnya.

Setelah ia merenung, ternyata judul Renganis yang diberikan oleh Komang Berata itu sejalan dengan sebagian besar puisi yang ia setorkan ke panitia sayembaran. Renganis, sebagai kesenian klasik dari Desa Pengelatan, Buleleng, katanya, menurut Wayan Sukerena—tokoh Renganis—berarti Reng Manis (suara manis) dan Reng Nis (suara dikesunyian). “Harapannya, puisi-puisi saya  semoga merepresentasikan suara-suara ‘manis ngemanesin’ dan suara kesunyian Den Bukit,” imbuhnya.

Menurut Komang, puisi-puisi yang ia tulis, secara umum, bertemakan realisme sosial. “Puisi saya lebih banyak berisi tentang kritik sosial,” katanya. Ia mencoba mengamati fenomena sosial-politik-budaya di sekitarnya, kemudian mencoba menuliskannya ke dalam puisi. Seperti puisinya yang berjudul Pesta Kembang Api, tentang seorang anak dengan ibunya yang menyaksikan pesta meriah peringatan ulang tahun sebuah kota. Sementara si anak dan ibunya tak tahu harus tidur di mana dan makan apa pada malam itu.

“Saya memiliki ketertarikan terhadap fenomena sosial-politik untuk bahan menulis. Sehingga hampir tidak ada puisi romantisme. Selain tidak tertarik, karena memang saya orangnya tidak romantis,” ucapnya, sembari tertawa.

Meski memuat tentang persoalan sosial-politik, pada saat acara bedah buku Cangkit Den Bukit di Rumah Belajar Komunitas Mahima beberapa bulan lalu, menurut Nurjaya PM sebagai pembedah dan Kadek Sonia Piscayanti sebagai moderator, saat itu sepakat mengatakan bahwa puisi-puisinya belum sepenuhnya menunjukkan karakternya yang agak keras.

“Tapi, mungkin puisi-puisi dalam antologi Renganis ini sejalan dengan karakter saya. Namun tentu ini penilaian sepihak saya. Setidaknya itu yang saya rasakan. Pembaca tentu nanti punya penilaian tersendiri,” ujarnya.

Namun, terlepas dari itu semua, 25 puisi yang dikirimkan kepada panitia sayembara, berhasil menjadi yang terbaik. Dan dengan begitu, ia berhak meraih penghargaan Gerip Maurip 2023.

“Gerip Maurip saya persembahkan kepada istri saya tercinta, Tri Suryani, dan dua buah hati saya yang cantik, Gita dan Gangga. Mereka yang senantiasa menghidupkan kata-kata dalam puisi saya. Juga kepada anak-anak didik saya di SMPN 2 Sawan,” ucapnya, dengan nada yang tulus dan penuh cinta.

Meraih Gerip Maurip 2023 tak membuat Komang lantas sesumbar dan mendaku bahwa puisi-puisinya sudah jauh dari kata bagus—atau super, katanya. Tidak! Alih-alih sesumbar, ia justru berkata, “Masih banyak yang harus saya pelajari—untuk selanjutnya konsisten menulis dan menjadikan puisi saya menjadi lebih baik.” Itu.[T]

Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya
Dek Cita: Aktivis ‘98, Politisi, dan Politik Keseimbangan
I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand
Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia
Tags: PenyairPuisipuisi bali anyarsastratokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Sastra Jawa Kuna Unud Lakukan Konservasi Lontar Masyarakat di ULU

Next Post

Nopek Novian dan Orang-Orang Kenongorejo

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Nopek Novian dan Orang-Orang Kenongorejo

Nopek Novian dan Orang-Orang Kenongorejo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co