28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dek Cita: Aktivis ‘98, Politisi, dan Politik Keseimbangan

Jaswanto by Jaswanto
September 16, 2023
in Persona
Dek Cita: Aktivis ‘98, Politisi, dan Politik Keseimbangan

Kadek Cita Ardana Yudi (Dek Cita)

SEJAK INDONESIA mengalami hyperinflasi pada 1967, saat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita hanya senilai $53; saat negara ini begitu melarat dan menjadi negara paling miskin di Asia; saat itulah, MPRS mencabut mandat Soekarno (Orde Lama) sebagai presiden dan menunjuk Soeharto (Orde Baru) sebagai pejabat presiden.

Pada tahun setelah goro-goro G30S-PKI itu, menurut data yang dirilis oleh World Bank, Indonesia berada di peringkat ke-3 sebagai negara termiskin di dunia (peringkat 1 di Asia), tepat satu tingkat di bawah Mali dan sejajar dengan negara-negara Afrika.

Kita lebih miskin dari India, Vietnam, bahkan negeri konflik macam Afghanistan. Gejolak politik dan ekonomi yang berujung pada kemiskinan membuat rezim Orde Lama dipaksa mundur dan diganti dengan rezim Orde Baru.

Namun, memiliki pemimpin baru nyatanya juga tidak membawa Indonesia menjadi lebih baik. Jatuhnya Seokarno dan didapuknya Seoharto menjadi presiden harus dibayar mahal dengan mengorbankan demokrasi. Pada 15 Januari 1974, saat mahasiswa melakukan demonstrasi yang berujung kerusuhan besar, Orde Baru mulai menampakkan wajah aslinya.

Peristiwa yang dikenal dengan istilah Malari—malapetaka 15 Januari—itu berawal dari rencana kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei ke Indonesia dan juga kisruh investasi asing saat itu. Jumlah korban peristiwa Malari adalah 11 orang tewas, 137 orang luka-luka, dan 750 orang ditangkap.

Setahun setelah peristiwa tersebut, jauh di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, tepatnya pada 15 November 1975, bersamaan dengan para pemimpin Perancis, Jerman Barat, Jepang, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat memulai pertemuan puncak ekonomi mereka di sebuah kastil 30 mil dari Paris dan Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) kembali menggunakan nama Korps Marinir, Dek Cita dilahirkan.

Dek Cita memiliki nama lengkap Kadek Cita Ardana Yudi. Ia lahir dari pasangan Ketut Pasar dan Nyoman Ranis. Ketut Pasar, bapaknya, selain sebagai petani, pada 1962 juga terpilih menjadi Kelian Subak—orang yang memimpin sistem pengairan sawah (irigasi) untuk bercocok tanam padi di Bali—di Desa Bila.

(Pada tahun itu, Indonesia sedang mengalami inflasi sampai 100% (year-on-year). Pemerintah secara serampangan mencetak uang untuk membayar utang dan mendanai proyek-proyek megah seperti Monas di Jakarta.)

“Saya lahir dari keluarga petani yang sederhana dan lumayan cukup pada masa itu. Pada tahun 1986-1994, bapak terpilih menjadi Kepada Desa Bila,” ujar Dek Cita, saat diwawancarai tatkala.co, Jumat (8/9/2023) sore.

Dek Cita adalah seorang advokat sekaligus politisi Partai Kebangkitan Nusantara (PKN). Jauh sebelum menjadi ahli hukum dan terjun di dunia politik, dulu Dek Cita adalah seorang aktivis mahasiswa yang berpengaruh di Bali.

Pria lulusan S1 Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana itu mengaku mulai tertarik menjadi aktivis mahasiswa sejak terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi pada 1994 dan setelah membaca buku Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie. “Rasanya belum menjadi aktivis mahasiswa kalau belum membaca buku itu,” katanya, sembari tertawa.

Catatan Seorang Demonstran (1983) merupakan buku harian Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa angkatan ’66 yang menjunjung tinggi idealismenya sampai wafat. Gie—sebagaimana judul film karya Riri Riza tahun 2005—menulis buku harian sejak duduk di bangku SMP. Saat itu dia baru berumur 15 tahun.

Gie menulis sampai dengan tanggal 10 Desember 1969, atau 6 hari sebelum kematiannya. (Daniel Dhakidae, yang ikut menyiapkan buku ini saat pra cetak mengatakan bahwa dalam buku ini catatan harian terakhir yang termuat adalah pada tanggal 8 Desember 1969.)

“Membaca buku itu membuat saya sadar, terkadang apa yang kita lakukan sekarang mungkin akan berdampak besar di kemudian hari, entah untuk diri sendiri, maupun untuk orang-orang di sekitar kita,” terang alumni SMA Negeri 3 Singaraja itu.

Karier Dek Cita sebagai aktivis mahasiswa tidak berhenti sampai di situ, pada tahun yang sama, ia juga dipercaya sebagai penanggung jawab Majalah Leucopsar, majalah mahasiswa jurusan Biologi UNUD. Dan berkat kesuksesannya memimpin mahasiswa di jurusannya, pada 1995 ia terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa FMIPA UNUD.

Selain aktif sebagai aktivis mahasiswa non-agama, Dek Cita juga aktif di organisasi mahasiswa keagamaan. Pada tahun 1994–1997, ia tercatat sebagai anggota FPMHD (Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma) UNUD dan pada 1995–1998 sebagai kader KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) Bali.

Pada 1998, saat menjelang jatuhnya rezim Orde Baru, Dek Cita ikut terlibat dalam memperjuangkan demokrasi. Pada saat itu, demonstrasi terus berlangsung setelah Presiden Soeharto turun dan menandai berakhirnya kekuasaan Orde Baru. Mahasiswa di Bali menuntut agar jejaring politik lokal yang saat itu berkuasa untuk mengundurkan diri. Salah satunya aksi puluhan ribu massa di gedung DPRD Bali yang berakhir dengan adanya pernyataan mundur dari Ketua DPRD Bali saat itu, Ketut Sundria.

“Kita tahu di masa Orde Baru demokrasi ‘dikebiri’. Kebebasan berserikat dan berpendapat diatur oleh negara. Dan sebagai seorang insan akademis, pada saat itu, kami beramai-ramai turun ke jalan menuntut hak-hak warga negara yang dibatasi,” kenang Dek Cita.

Pada tahun 2002, setelah melewati jalan terjal menjadi mahasiswa pergerakan, Dek Cita akhirnya lulus dan meraih gelar sarjana S1-nya. Sejalan dengan itu, ia bekerja sebagai Unit Manager Divisi Executive Asuransi Bumi Putra. Selesai di Bumi Putra, sampai tahun 2003 Dek Cita bekerja di Finansial Consultant pada Aliianz Life Insurance.                    

Terlibat Langsung dalam Politik

Tak terbayangkan oleh siapa pun bahwa Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur—sebagaimana ia lebih umum dikenal—dapat mengumpulkan cukup suara untuk dapat terpilih sebagai presiden pada tahun 1999.

Bagaimanapun, dalam pemilihan umum bulan Juni, Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati memenangkan lebih dari sepertiga suara. Partai Gus Dur sendiri—Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)—memperoleh kurang dari 13 persen suara, separo lebih sedikit dari yang diperoleh partai milik Habibie, Partai Golkar.

Narasi di atas ditulis oleh Greg Barton dalam prolognya di buku Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, buku yang ditulisnya dan terjemahannya diterbitkan LKiS tahun 2003.

Selang beberapa menit setelah voting pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 1999 selesai disiarkan langsung dari Jakarta Pusat, dengan kemenangan Gus Dur, masyarakat pendukung PDI-P di Bali, khususnya di Buleleng, mulai bereaksi negatif, seperti—meminjam istilah Prof. I Made Pageh—”Raja Singa” yang selama ini ”tertidur nyenyak” terbangun dan ngamuk, membumi-hanguskan berbagai fasilitas umum di Buleleng.

Di tengah sisa riak kerusuhan politik tersebut, menjelang Pemilu 2004, Dek Cita mendaftar dan lolos sebagai anggota KPU Kota Denpasar periode 2003–2008. Ini adalah awal ia terlibat dalam dunia politik secara langsung.

Tahun itu, sebagai anggota penyelenggara pemilu, Dek Cita termasuk orang yang berani. Mengingat, kondisi politik di Bali tahun itu memang sedang mencekam. Namun, berkat pengalaman dan pengetahuannya tentang politik dan sebagai seorang mantan aktivis mahasiswa, ia sudah tak heran dan kaget dengan kondisi demikian.

“Sebagai penyelenggara pemilu kami harus siap dengan kondisi apa pun. Dan benar, tahun 2000-an kondisi politik di Bali memang mencekam,” kenang Dek Cita.

Empat tahun setelah Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan Pemilu 2004 dan terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia—setelah mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi; Wiranto dan Salahuddin Wahid; Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo—Dek Cita terpilih sebagai Ketua KPU Kabupaten Buleleng periode 2008-2013. Dan setelah menamatkan kariernya di KPU, dari 2013 sampai 2018, selama lima tahun, ia dipercaya sebagai tenaga ahli Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Tak ingin hanya terlibat sebagai penyelenggara pemilu, setelah menjadi tim ahli DPR RI, pada tahun 2018 Dek Cita bergabung dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)—partai yang dirintis oleh Jend. TNI (Purn) Wiranto bersama para tokoh nasional seperti Dr. Fuad Bawazier, Yus Usman Sumanegara, dan beberapa pensiunan TNI, yang menggelar pertemuan di Jakarta pada tanggal 13 November 2006.

Selama berkarier di Hanura, Dek Cita pernah menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua DPD Hanura Bali. Namun, pada tahun 2022, setelah menjadi bagian dari Hanura, ia memilih hijrah ke Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) dan menjadi Sekretaris Pimpinan Daerah PKN Bali.

Tetapi, selain aktif di dunia politik, Dek Cita juga melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Hukum Ngurah Rai Denpasar dan meraih gelar magister hukum pada tahun 2020. Atas gelar yang didapatnya tersebut, saat ini ia menjadi seorang advokat/Office Manager Berdikari Law Office.

Politik Keseimbangan

Seorang politisi idealnya juga sekaligus seorang pemikir—atau setidaknya memiliki pemikiran. Seperti zaman dulu, nyaris tak ada politisi yang tidak memiliki pemikiran. Nama-nama besar seperti Soekarno, Hatta, Natsir, Syahrir, Tan, Aidit, dll, semua memiliki pemikiran-pemikiran terkait bangsa dan negara—terlepas pro-kontra atasnya.

Begitu pula dengan Dek Cita, sebagai seorang politisi, ia memiliki pemikiran dan memandang bahwa politik adalah keseimbangan.  Maksudnya, bahwa semua harus diatur sesuai porsinya masing-masing, seimbang, tidak berat-sebelah.

Ia mengaku, pikiran itu terinspirasi dari sosok Ketut Pasar, bapaknya, saat menjabat sebagai Kepala Desa Bila. Saat itu, katanya, bapaknya sering mendapat serangan dari lawan politik yang tidak suka dengan kebijakannya. Namun, alih-alih tersinggung, marah, atau balas menyerang, sikap bapaknya justru membuatnya kaget.

“Mendapat perlakuan seperti itu, bapak malah menjadikannya sebagai bahan pertimbangan. Dia malah mencoba mencari titik tengah atas apa yang dipersoalkan. Jadi, selama menjabat, bapak selalu menempatkan diri di tengah—benar-benar di tengah—menjadi penyeimbang,” jelasnya.

Dek Cita bercerita, politik di Bali tahun 80an, khususnya di Bila, terkesan sangat kaku. Persaingan atau pertarungan politik—untuk tidak mengatakan permusuhan—dipelihara secara turun-temurun.

“Pada saat bapak terpilih sebagai kepada desa, beberapa orang menuduhnya memiliki ilmu nyethik, bisa meracun,” ungkap Dek Cita. Dari bapaknya, ia mendapat pengalaman dan pelajaran tentang bagaimana sikap menjadi seorang politisi. Ia bahkan sampai mengerti bagaimana gestur orang-orang yang mendatangi rumahnya, dulu.

“Tapi bapak menganggap itu semua sebagai bentuk keseimbangan. Artinya, seberapa banyak orang yang menyukai kita, segitu juga orang yang tidak suka dengan kita,” imbuhnya, menjelaskan.

Puncak dari kesadarannya atas politik keseimbangan itu setelah mendengar cerita tentang bagaimana bapaknya terpilih sebagai kepala desa tahun ‘86 dengan kemenangan yang tipis. Bapaknya berkata, “Pemimpin itu tidak harus menang secara mutlak. Karena kalau mutlak ia bisa sombong dan semena-mena menggunakan kekuasaannya.” Kata-kata itu yang memantik dirinya untuk menjadi seorang politisi.

Pada akhirnya, Dek Cita menganggap bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah bentuk keseimbangan. Dalam demokrasi, misalnya, adanya koalisi dan oposisi adalah bentuk kewajaran, keniscayaan, sebagaimana ada kanan dan kiri, hitam dan putih, panas dan dingin, pro dan kontra. Maka, demokrasi yang seragam baginya adalah bentuk kemunduran. Sebab, demokrasi hadir bukan untuk menyeragamkan , tapi untuk memberi kebebasan dalam kehidupan yang beragam.[T]

Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: baliPartai Politikpolitisitokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sawidji Comes Home”, Ruang Kolektif, Dari Ubud ke Jantung Kota Denpasar

Next Post

Dialog Dini Hari dan Single Terbarunya, Miles Away

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Dialog Dini Hari dan Single Terbarunya, Miles Away

Dialog Dini Hari dan Single Terbarunya, Miles Away

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co