5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dek Cita: Aktivis ‘98, Politisi, dan Politik Keseimbangan

Jaswanto by Jaswanto
September 16, 2023
in Persona
Dek Cita: Aktivis ‘98, Politisi, dan Politik Keseimbangan

Kadek Cita Ardana Yudi (Dek Cita)

SEJAK INDONESIA mengalami hyperinflasi pada 1967, saat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita hanya senilai $53; saat negara ini begitu melarat dan menjadi negara paling miskin di Asia; saat itulah, MPRS mencabut mandat Soekarno (Orde Lama) sebagai presiden dan menunjuk Soeharto (Orde Baru) sebagai pejabat presiden.

Pada tahun setelah goro-goro G30S-PKI itu, menurut data yang dirilis oleh World Bank, Indonesia berada di peringkat ke-3 sebagai negara termiskin di dunia (peringkat 1 di Asia), tepat satu tingkat di bawah Mali dan sejajar dengan negara-negara Afrika.

Kita lebih miskin dari India, Vietnam, bahkan negeri konflik macam Afghanistan. Gejolak politik dan ekonomi yang berujung pada kemiskinan membuat rezim Orde Lama dipaksa mundur dan diganti dengan rezim Orde Baru.

Namun, memiliki pemimpin baru nyatanya juga tidak membawa Indonesia menjadi lebih baik. Jatuhnya Seokarno dan didapuknya Seoharto menjadi presiden harus dibayar mahal dengan mengorbankan demokrasi. Pada 15 Januari 1974, saat mahasiswa melakukan demonstrasi yang berujung kerusuhan besar, Orde Baru mulai menampakkan wajah aslinya.

Peristiwa yang dikenal dengan istilah Malari—malapetaka 15 Januari—itu berawal dari rencana kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei ke Indonesia dan juga kisruh investasi asing saat itu. Jumlah korban peristiwa Malari adalah 11 orang tewas, 137 orang luka-luka, dan 750 orang ditangkap.

Setahun setelah peristiwa tersebut, jauh di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, tepatnya pada 15 November 1975, bersamaan dengan para pemimpin Perancis, Jerman Barat, Jepang, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat memulai pertemuan puncak ekonomi mereka di sebuah kastil 30 mil dari Paris dan Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) kembali menggunakan nama Korps Marinir, Dek Cita dilahirkan.

Dek Cita memiliki nama lengkap Kadek Cita Ardana Yudi. Ia lahir dari pasangan Ketut Pasar dan Nyoman Ranis. Ketut Pasar, bapaknya, selain sebagai petani, pada 1962 juga terpilih menjadi Kelian Subak—orang yang memimpin sistem pengairan sawah (irigasi) untuk bercocok tanam padi di Bali—di Desa Bila.

(Pada tahun itu, Indonesia sedang mengalami inflasi sampai 100% (year-on-year). Pemerintah secara serampangan mencetak uang untuk membayar utang dan mendanai proyek-proyek megah seperti Monas di Jakarta.)

“Saya lahir dari keluarga petani yang sederhana dan lumayan cukup pada masa itu. Pada tahun 1986-1994, bapak terpilih menjadi Kepada Desa Bila,” ujar Dek Cita, saat diwawancarai tatkala.co, Jumat (8/9/2023) sore.

Dek Cita adalah seorang advokat sekaligus politisi Partai Kebangkitan Nusantara (PKN). Jauh sebelum menjadi ahli hukum dan terjun di dunia politik, dulu Dek Cita adalah seorang aktivis mahasiswa yang berpengaruh di Bali.

Pria lulusan S1 Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana itu mengaku mulai tertarik menjadi aktivis mahasiswa sejak terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi pada 1994 dan setelah membaca buku Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie. “Rasanya belum menjadi aktivis mahasiswa kalau belum membaca buku itu,” katanya, sembari tertawa.

Catatan Seorang Demonstran (1983) merupakan buku harian Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa angkatan ’66 yang menjunjung tinggi idealismenya sampai wafat. Gie—sebagaimana judul film karya Riri Riza tahun 2005—menulis buku harian sejak duduk di bangku SMP. Saat itu dia baru berumur 15 tahun.

Gie menulis sampai dengan tanggal 10 Desember 1969, atau 6 hari sebelum kematiannya. (Daniel Dhakidae, yang ikut menyiapkan buku ini saat pra cetak mengatakan bahwa dalam buku ini catatan harian terakhir yang termuat adalah pada tanggal 8 Desember 1969.)

“Membaca buku itu membuat saya sadar, terkadang apa yang kita lakukan sekarang mungkin akan berdampak besar di kemudian hari, entah untuk diri sendiri, maupun untuk orang-orang di sekitar kita,” terang alumni SMA Negeri 3 Singaraja itu.

Karier Dek Cita sebagai aktivis mahasiswa tidak berhenti sampai di situ, pada tahun yang sama, ia juga dipercaya sebagai penanggung jawab Majalah Leucopsar, majalah mahasiswa jurusan Biologi UNUD. Dan berkat kesuksesannya memimpin mahasiswa di jurusannya, pada 1995 ia terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa FMIPA UNUD.

Selain aktif sebagai aktivis mahasiswa non-agama, Dek Cita juga aktif di organisasi mahasiswa keagamaan. Pada tahun 1994–1997, ia tercatat sebagai anggota FPMHD (Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma) UNUD dan pada 1995–1998 sebagai kader KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) Bali.

Pada 1998, saat menjelang jatuhnya rezim Orde Baru, Dek Cita ikut terlibat dalam memperjuangkan demokrasi. Pada saat itu, demonstrasi terus berlangsung setelah Presiden Soeharto turun dan menandai berakhirnya kekuasaan Orde Baru. Mahasiswa di Bali menuntut agar jejaring politik lokal yang saat itu berkuasa untuk mengundurkan diri. Salah satunya aksi puluhan ribu massa di gedung DPRD Bali yang berakhir dengan adanya pernyataan mundur dari Ketua DPRD Bali saat itu, Ketut Sundria.

“Kita tahu di masa Orde Baru demokrasi ‘dikebiri’. Kebebasan berserikat dan berpendapat diatur oleh negara. Dan sebagai seorang insan akademis, pada saat itu, kami beramai-ramai turun ke jalan menuntut hak-hak warga negara yang dibatasi,” kenang Dek Cita.

Pada tahun 2002, setelah melewati jalan terjal menjadi mahasiswa pergerakan, Dek Cita akhirnya lulus dan meraih gelar sarjana S1-nya. Sejalan dengan itu, ia bekerja sebagai Unit Manager Divisi Executive Asuransi Bumi Putra. Selesai di Bumi Putra, sampai tahun 2003 Dek Cita bekerja di Finansial Consultant pada Aliianz Life Insurance.                    

Terlibat Langsung dalam Politik

Tak terbayangkan oleh siapa pun bahwa Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur—sebagaimana ia lebih umum dikenal—dapat mengumpulkan cukup suara untuk dapat terpilih sebagai presiden pada tahun 1999.

Bagaimanapun, dalam pemilihan umum bulan Juni, Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati memenangkan lebih dari sepertiga suara. Partai Gus Dur sendiri—Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)—memperoleh kurang dari 13 persen suara, separo lebih sedikit dari yang diperoleh partai milik Habibie, Partai Golkar.

Narasi di atas ditulis oleh Greg Barton dalam prolognya di buku Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, buku yang ditulisnya dan terjemahannya diterbitkan LKiS tahun 2003.

Selang beberapa menit setelah voting pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 1999 selesai disiarkan langsung dari Jakarta Pusat, dengan kemenangan Gus Dur, masyarakat pendukung PDI-P di Bali, khususnya di Buleleng, mulai bereaksi negatif, seperti—meminjam istilah Prof. I Made Pageh—”Raja Singa” yang selama ini ”tertidur nyenyak” terbangun dan ngamuk, membumi-hanguskan berbagai fasilitas umum di Buleleng.

Di tengah sisa riak kerusuhan politik tersebut, menjelang Pemilu 2004, Dek Cita mendaftar dan lolos sebagai anggota KPU Kota Denpasar periode 2003–2008. Ini adalah awal ia terlibat dalam dunia politik secara langsung.

Tahun itu, sebagai anggota penyelenggara pemilu, Dek Cita termasuk orang yang berani. Mengingat, kondisi politik di Bali tahun itu memang sedang mencekam. Namun, berkat pengalaman dan pengetahuannya tentang politik dan sebagai seorang mantan aktivis mahasiswa, ia sudah tak heran dan kaget dengan kondisi demikian.

“Sebagai penyelenggara pemilu kami harus siap dengan kondisi apa pun. Dan benar, tahun 2000-an kondisi politik di Bali memang mencekam,” kenang Dek Cita.

Empat tahun setelah Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan Pemilu 2004 dan terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia—setelah mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi; Wiranto dan Salahuddin Wahid; Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo—Dek Cita terpilih sebagai Ketua KPU Kabupaten Buleleng periode 2008-2013. Dan setelah menamatkan kariernya di KPU, dari 2013 sampai 2018, selama lima tahun, ia dipercaya sebagai tenaga ahli Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Tak ingin hanya terlibat sebagai penyelenggara pemilu, setelah menjadi tim ahli DPR RI, pada tahun 2018 Dek Cita bergabung dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)—partai yang dirintis oleh Jend. TNI (Purn) Wiranto bersama para tokoh nasional seperti Dr. Fuad Bawazier, Yus Usman Sumanegara, dan beberapa pensiunan TNI, yang menggelar pertemuan di Jakarta pada tanggal 13 November 2006.

Selama berkarier di Hanura, Dek Cita pernah menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua DPD Hanura Bali. Namun, pada tahun 2022, setelah menjadi bagian dari Hanura, ia memilih hijrah ke Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) dan menjadi Sekretaris Pimpinan Daerah PKN Bali.

Tetapi, selain aktif di dunia politik, Dek Cita juga melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Hukum Ngurah Rai Denpasar dan meraih gelar magister hukum pada tahun 2020. Atas gelar yang didapatnya tersebut, saat ini ia menjadi seorang advokat/Office Manager Berdikari Law Office.

Politik Keseimbangan

Seorang politisi idealnya juga sekaligus seorang pemikir—atau setidaknya memiliki pemikiran. Seperti zaman dulu, nyaris tak ada politisi yang tidak memiliki pemikiran. Nama-nama besar seperti Soekarno, Hatta, Natsir, Syahrir, Tan, Aidit, dll, semua memiliki pemikiran-pemikiran terkait bangsa dan negara—terlepas pro-kontra atasnya.

Begitu pula dengan Dek Cita, sebagai seorang politisi, ia memiliki pemikiran dan memandang bahwa politik adalah keseimbangan.  Maksudnya, bahwa semua harus diatur sesuai porsinya masing-masing, seimbang, tidak berat-sebelah.

Ia mengaku, pikiran itu terinspirasi dari sosok Ketut Pasar, bapaknya, saat menjabat sebagai Kepala Desa Bila. Saat itu, katanya, bapaknya sering mendapat serangan dari lawan politik yang tidak suka dengan kebijakannya. Namun, alih-alih tersinggung, marah, atau balas menyerang, sikap bapaknya justru membuatnya kaget.

“Mendapat perlakuan seperti itu, bapak malah menjadikannya sebagai bahan pertimbangan. Dia malah mencoba mencari titik tengah atas apa yang dipersoalkan. Jadi, selama menjabat, bapak selalu menempatkan diri di tengah—benar-benar di tengah—menjadi penyeimbang,” jelasnya.

Dek Cita bercerita, politik di Bali tahun 80an, khususnya di Bila, terkesan sangat kaku. Persaingan atau pertarungan politik—untuk tidak mengatakan permusuhan—dipelihara secara turun-temurun.

“Pada saat bapak terpilih sebagai kepada desa, beberapa orang menuduhnya memiliki ilmu nyethik, bisa meracun,” ungkap Dek Cita. Dari bapaknya, ia mendapat pengalaman dan pelajaran tentang bagaimana sikap menjadi seorang politisi. Ia bahkan sampai mengerti bagaimana gestur orang-orang yang mendatangi rumahnya, dulu.

“Tapi bapak menganggap itu semua sebagai bentuk keseimbangan. Artinya, seberapa banyak orang yang menyukai kita, segitu juga orang yang tidak suka dengan kita,” imbuhnya, menjelaskan.

Puncak dari kesadarannya atas politik keseimbangan itu setelah mendengar cerita tentang bagaimana bapaknya terpilih sebagai kepala desa tahun ‘86 dengan kemenangan yang tipis. Bapaknya berkata, “Pemimpin itu tidak harus menang secara mutlak. Karena kalau mutlak ia bisa sombong dan semena-mena menggunakan kekuasaannya.” Kata-kata itu yang memantik dirinya untuk menjadi seorang politisi.

Pada akhirnya, Dek Cita menganggap bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah bentuk keseimbangan. Dalam demokrasi, misalnya, adanya koalisi dan oposisi adalah bentuk kewajaran, keniscayaan, sebagaimana ada kanan dan kiri, hitam dan putih, panas dan dingin, pro dan kontra. Maka, demokrasi yang seragam baginya adalah bentuk kemunduran. Sebab, demokrasi hadir bukan untuk menyeragamkan , tapi untuk memberi kebebasan dalam kehidupan yang beragam.[T]

Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: baliPartai Politikpolitisitokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sawidji Comes Home”, Ruang Kolektif, Dari Ubud ke Jantung Kota Denpasar

Next Post

Dialog Dini Hari dan Single Terbarunya, Miles Away

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails
Next Post
Dialog Dini Hari dan Single Terbarunya, Miles Away

Dialog Dini Hari dan Single Terbarunya, Miles Away

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co