15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand

Jaswanto by Jaswanto
September 13, 2023
in Persona
I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand

I Ketut Suwela | Foto: Dok. Suwela

“Saya latihan di pantai. Medan berpasir sangat cocok untuk membentuk otot kaki.”

DI BULAN INI, Singaraja sedang panas-panasnya. Rata-rata suhunya mencapai 30 derajat Celcius, nyaris setiap hari. Panas yang dimaksud benar-benar panas yang terasa sampai membakar kulit. Dan di tengah suhu yang panas itu, seorang mantan atlet atletik tahun 80an sedang mengenang masa-masa emasnya dulu.

Di kantor pajak tempatnya bekerja sekarang, lelaki kelahiran Bebetin, 4 Juli 1966 itu duduk dengan tenang di kursi tunggu di teras kantor, nyaris tanpa berkedip. Ia seolah sedang menerawang kembali ingatan masa lampau yang jauh—yang mungkin sudah jarang dikunjunginya.

Sesaat setelah terdiam, akhirnya orang tua itu membuka mulut juga. Seorang yang baru saja datang menyapanya dan dia membalasnya dengan pertanyaan, “Mau ngurus pajak?” Orang itu mengangguk dan tersenyum. Sepertinya mereka saling mengenal. Sementara itu, penjaga keamanan kantor juga sempat menyapanya sebelum tubuhnya benar-benar ditelan pintu kantor.

I Ketut Suwela, namanya, seorang mantan atlet atletik yang sejak kecil sudah memiliki kemampun berlari sangat cepat.

“Saya lahir di Desa Bebetin, lalu merantau ke Singaraja, ikut orang tua. Di Bebetin saya sempat putus sekolah. Tapi saat tinggal di Singaraja, saya sekolah lagi,” ujarnya, mengawali cerita, kepada tatkala.co, Senin (11/9/2023) siang.

Di desa tempat kelahirannya, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, lelaki paruh baya itu mengaku putus sekolah saat masih kelas satu SD. Dan dia kembali sekolah setelah seorang polisi bernama Ketut Katon menyuruhnya. “Akhirnya saya masuk di SDN 4 Kampung Baru sana,” terangnya.

Dulu, bapak dua anak yang akrab dipanggil Suwela ini mengaku hidupnya serba kekurangan. Di Singaraja, bersama kedua orang tua dan kakanya ia tinggal di kos-kosan yang sempit. “Satu kamar berempat,” katanya. Hidup di Kampung Tinggi membuatnya merasa seperti gelandangan kecil ibu kota dalam film-film.

Tapi, nasib orang siapa yang tahu, berkat bakatnya yang luar biasa, pelan-pelan ia bisa mengerek nasibnya dan keluarganya. Benarlah pesan dalam kitab suci, “Sesungguhnya Tuhan tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

I Ketut Suwela (nomor tiga dari kiri) saat menerima penghargaan dari KONI Bueleleng 2023 / Foto: Dok. Suwela

Ya, bakat itu mulai tampak sejak ia duduk di bangku kelas 6 SD. Di usianya yang masih kanak itu, Suwela memulai mengasah bakatnya untuk menjadi seorang atlet atletik. “Saya tidak menyangka bisa menjadi atlet. Pasalnya, hidup kami serba kekurangan dari segi ekonomi,” kenangnya.

Ia mengaku bakatnya tumbuh secara alami. Tanpa latihan khusus, apalagi asupan gizi yang cukup, tentu tidak. Bayangkan, Suwela lahir pada zaman goro-goro, saat orang-orang PKI—atau yang dituduh PKI—dengan membabi buta diadili—untuk tidak mengatakan dibantai—tanpa kesempatan membela diri. Zaman itu Indonesia masih kisruh.

Pada pertengahan 1960an, kondisi politik dan ekonomi di Indonesia berada di dalam bencana. Harga sebutir telur ayam, misalnya, naik 2 kali lipat, yang semula Rp400 menjadi Rp800. Padahal, telur merupakan salah satu asupan wajib bagi seorang atlet. “Telur saja tidak terbeli, apalagi susu,” kata Suwela. Artinya, di zaman itu, sebagai seorang atlet, ia benar-benar hanya mengandalkan bakat dan tekad saja. Bodo amat dengan urusan gizi, dll.

“Setelah saya beberapa kali juara lari 100 meter, saat kelas 6 SD itu, baru saya dilirik seorang pelatih, Pak Suparna, namanya,” ungkapnya. Sejak saat itulah, Suwela mulai serius berlatih dengan menggunakan teknik, tak lagi mengandalkan kecepatan saja.

Selepas tamat SD, Suwela melanjutkan sekolah di SMPN 3 Singaraja. Sekadar informasi, di sekolah yang terletak di Jl. Pulau Kalimantan, Kampung Baru, Singaraja, itu, memang banyak melahirkan atlet di berbagai cabang olahraga, termasuk atlet tinju bernama Gede Rimbawa dan istrinya yang seorang atlet renang. (Tentang sosok Gede Rimbawa bisa dibaca DI SINI.)

“Saya latihan di pantai. Medan berpasir sangat cocok untuk membentuk otot kaki,” ujar Suwela.

Karier Suwela sebagai atlet atletik mulai dilirik setelah beberapa kali menjuarai kejuaraan Pekan Olahraga Seni dan Pelajar (Porsenijar) dan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Bali. Ia langganan juara lari 100 dan 200 meter. Atas prestasinya yang gemilang di daerah, pada 1981 ia terpilih sebagai atlet lari yang mewakili Provinsi Bali di PON X yang diselenggarakan di Jakarta. Pada saat itu, Bali berada di peringkat 9 setelah meraih 8 medali emas, 14 perunggu, dan 13 perak, total keseluruhan 35 medali.

Nasib baik seolah sedang berpihak kepadanya. Pada tahun 1984, setelah mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) di Jakarta selama 3 bulan, bersama 3 atlet lainnya ia terbang ke Phuket, Thailand, untuk mewakili negara di kejuaraan atletik tingkat pelajar ASEAN. Waktu itu ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Suwela bersama kawan-kawannya berhasil meraih juara tiga untuk cabor lari estafet 4 kali 100. “Lawan terberat saat itu atlet dari Malaysia dan Thailand. Tapi saya bangga bisa bertanding di sana,” katanya.

Tak sampai di situ, pada PON XI tahun 1985 yang juga diselenggarakan di Jakarta, Suwela kembali mewakili Bali—walaupun saat itu ia pulang tanpa medali. Setahun setelah pulang dari Jakarta, pada 1986, seolah menebus kegagalannya di PON, Suwela mendapat medali perak dalam Kejuaraan Atletik Terbuka Sirkuit Jawa-Bali. Dan untuk kejuaraan lari di Bali, Suwela mengaku tak pernah kalah.

“Sampai hari ini, untuk di Bali, rekor kecepatan saya di lari 100 meter belum terpecahkan,” ungkapnya dengan mata yang berbinar-binar.

Atas prestasinya tersebut, setahun setelah Reformasi 1998, Suwela diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di beberapa sekolah di Bali, di antaranya di Canggu, Sumberkelampok, dan Lemukih . “Karena saya memang lulusan SGO,” terangnya.

Dan pada momen peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2023, KONI Buleleng memberikan penghargaan kepadanya, Jumat (8/9/2023). Penghargaan tersebut diberikan atas prestasi di dunia atletik pada masa itu.

Kondisi Atletik Buleleng

Saat ditanya mengenai kondisi atletik Buleleng saat ini, Suwela terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Ia mengakui, dari segi infrastruktur pendukung kondisinya lebih baik daripada zamannya. Dan menurutnya sudah banyak atlet yang mampu memenuhi gizi secara mandiri. Hanya saja, porsi latihannya belum kontinu, terus-menerus, tidak seperti karate, kempo, atau cabor lainnya yang memiliki jadwal latihan tetap.

Padahal, baginya, Buleleng memiliki banyak bibit atlet yang bisa dibina secara serius. Hal itu terbukti pada ajang Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) Provinsi Bali 2023, cabor atletik Buleleng sukses menjadi penyumbang medali emas terbanyak.

“Jadi, PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) harus segera memikirkan hal ini. Supaya atlet tidak hanya latihan saat mau mengikuti kejuaraan saja. Sedangkan pelatih juga harus diambil yang profesional dan sesuai bidangnya. Kalau atlet lari jarak pendek ya dilatih sama orang yang profesional di bidang tersebut. Begitu juga dengan lari jarak jauh, estafet, lompat tinggi, atau lombat jauh,” jelas Suwela.

Menurut Suwela, atletik itu termasuk olahraga yang murah. Seorang atlet hanya butuh sepatu dan kemauan saja. Namun, untuk urusan kemauan dan kerja keras ini yang kadang menjadi masalah. Suwela sadar betul bahwa kondisi atlet di zamannya dengan hari ini sudah jauh berbeda.

Atlet di zamannya berani berlatih berdarah-darah untuk menjadi juara. Maksudnya, dulu, selain berlatih bersama pelatih, atlet biasa berlatih sendiri. Tapi sekarang, kata Suwela, tak banyak atlet yang punya inisiatif melatih dirinya sendiri.

“Anak-anak sekarang terlihat lebih manja daripada zaman kami dulu. Pelatih sekarang tidak berani keras melatih atlet, tidak seperti dulu. Dan saya akui, anak zaman sekarang godaannya memang lebih banyak daripada zaman saya,” ujarnya, semacam ada kekecewaan sekaligus penyesalan.

Kehadiran orang-orang seperti I Ketut Suwela dapat dibaca sebagai pertanda penting ketika kita membicarakan atletik di Indonesia secara keseluruhan. Kegigihan dan semangatnya dalam berlatih di tengah segala keterbatasan adalah tawaran alternatif untuk mempertahankan eksistensi daerah maupun negara di bidang atletik.[T]

Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: atletikKONI Bulelengolahraga atletiktokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Besaran Pajak Turunan Waris Dari Orang Tua Sebaiknya Dinolkan | Dari Sidang Tiga Ranperda DPRD Buleleng

Next Post

Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co