25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand

Jaswanto by Jaswanto
September 13, 2023
in Persona
I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand

I Ketut Suwela | Foto: Dok. Suwela

“Saya latihan di pantai. Medan berpasir sangat cocok untuk membentuk otot kaki.”

DI BULAN INI, Singaraja sedang panas-panasnya. Rata-rata suhunya mencapai 30 derajat Celcius, nyaris setiap hari. Panas yang dimaksud benar-benar panas yang terasa sampai membakar kulit. Dan di tengah suhu yang panas itu, seorang mantan atlet atletik tahun 80an sedang mengenang masa-masa emasnya dulu.

Di kantor pajak tempatnya bekerja sekarang, lelaki kelahiran Bebetin, 4 Juli 1966 itu duduk dengan tenang di kursi tunggu di teras kantor, nyaris tanpa berkedip. Ia seolah sedang menerawang kembali ingatan masa lampau yang jauh—yang mungkin sudah jarang dikunjunginya.

Sesaat setelah terdiam, akhirnya orang tua itu membuka mulut juga. Seorang yang baru saja datang menyapanya dan dia membalasnya dengan pertanyaan, “Mau ngurus pajak?” Orang itu mengangguk dan tersenyum. Sepertinya mereka saling mengenal. Sementara itu, penjaga keamanan kantor juga sempat menyapanya sebelum tubuhnya benar-benar ditelan pintu kantor.

I Ketut Suwela, namanya, seorang mantan atlet atletik yang sejak kecil sudah memiliki kemampun berlari sangat cepat.

“Saya lahir di Desa Bebetin, lalu merantau ke Singaraja, ikut orang tua. Di Bebetin saya sempat putus sekolah. Tapi saat tinggal di Singaraja, saya sekolah lagi,” ujarnya, mengawali cerita, kepada tatkala.co, Senin (11/9/2023) siang.

Di desa tempat kelahirannya, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, lelaki paruh baya itu mengaku putus sekolah saat masih kelas satu SD. Dan dia kembali sekolah setelah seorang polisi bernama Ketut Katon menyuruhnya. “Akhirnya saya masuk di SDN 4 Kampung Baru sana,” terangnya.

Dulu, bapak dua anak yang akrab dipanggil Suwela ini mengaku hidupnya serba kekurangan. Di Singaraja, bersama kedua orang tua dan kakanya ia tinggal di kos-kosan yang sempit. “Satu kamar berempat,” katanya. Hidup di Kampung Tinggi membuatnya merasa seperti gelandangan kecil ibu kota dalam film-film.

Tapi, nasib orang siapa yang tahu, berkat bakatnya yang luar biasa, pelan-pelan ia bisa mengerek nasibnya dan keluarganya. Benarlah pesan dalam kitab suci, “Sesungguhnya Tuhan tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

I Ketut Suwela (nomor tiga dari kiri) saat menerima penghargaan dari KONI Bueleleng 2023 / Foto: Dok. Suwela

Ya, bakat itu mulai tampak sejak ia duduk di bangku kelas 6 SD. Di usianya yang masih kanak itu, Suwela memulai mengasah bakatnya untuk menjadi seorang atlet atletik. “Saya tidak menyangka bisa menjadi atlet. Pasalnya, hidup kami serba kekurangan dari segi ekonomi,” kenangnya.

Ia mengaku bakatnya tumbuh secara alami. Tanpa latihan khusus, apalagi asupan gizi yang cukup, tentu tidak. Bayangkan, Suwela lahir pada zaman goro-goro, saat orang-orang PKI—atau yang dituduh PKI—dengan membabi buta diadili—untuk tidak mengatakan dibantai—tanpa kesempatan membela diri. Zaman itu Indonesia masih kisruh.

Pada pertengahan 1960an, kondisi politik dan ekonomi di Indonesia berada di dalam bencana. Harga sebutir telur ayam, misalnya, naik 2 kali lipat, yang semula Rp400 menjadi Rp800. Padahal, telur merupakan salah satu asupan wajib bagi seorang atlet. “Telur saja tidak terbeli, apalagi susu,” kata Suwela. Artinya, di zaman itu, sebagai seorang atlet, ia benar-benar hanya mengandalkan bakat dan tekad saja. Bodo amat dengan urusan gizi, dll.

“Setelah saya beberapa kali juara lari 100 meter, saat kelas 6 SD itu, baru saya dilirik seorang pelatih, Pak Suparna, namanya,” ungkapnya. Sejak saat itulah, Suwela mulai serius berlatih dengan menggunakan teknik, tak lagi mengandalkan kecepatan saja.

Selepas tamat SD, Suwela melanjutkan sekolah di SMPN 3 Singaraja. Sekadar informasi, di sekolah yang terletak di Jl. Pulau Kalimantan, Kampung Baru, Singaraja, itu, memang banyak melahirkan atlet di berbagai cabang olahraga, termasuk atlet tinju bernama Gede Rimbawa dan istrinya yang seorang atlet renang. (Tentang sosok Gede Rimbawa bisa dibaca DI SINI.)

“Saya latihan di pantai. Medan berpasir sangat cocok untuk membentuk otot kaki,” ujar Suwela.

Karier Suwela sebagai atlet atletik mulai dilirik setelah beberapa kali menjuarai kejuaraan Pekan Olahraga Seni dan Pelajar (Porsenijar) dan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Bali. Ia langganan juara lari 100 dan 200 meter. Atas prestasinya yang gemilang di daerah, pada 1981 ia terpilih sebagai atlet lari yang mewakili Provinsi Bali di PON X yang diselenggarakan di Jakarta. Pada saat itu, Bali berada di peringkat 9 setelah meraih 8 medali emas, 14 perunggu, dan 13 perak, total keseluruhan 35 medali.

Nasib baik seolah sedang berpihak kepadanya. Pada tahun 1984, setelah mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) di Jakarta selama 3 bulan, bersama 3 atlet lainnya ia terbang ke Phuket, Thailand, untuk mewakili negara di kejuaraan atletik tingkat pelajar ASEAN. Waktu itu ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Suwela bersama kawan-kawannya berhasil meraih juara tiga untuk cabor lari estafet 4 kali 100. “Lawan terberat saat itu atlet dari Malaysia dan Thailand. Tapi saya bangga bisa bertanding di sana,” katanya.

Tak sampai di situ, pada PON XI tahun 1985 yang juga diselenggarakan di Jakarta, Suwela kembali mewakili Bali—walaupun saat itu ia pulang tanpa medali. Setahun setelah pulang dari Jakarta, pada 1986, seolah menebus kegagalannya di PON, Suwela mendapat medali perak dalam Kejuaraan Atletik Terbuka Sirkuit Jawa-Bali. Dan untuk kejuaraan lari di Bali, Suwela mengaku tak pernah kalah.

“Sampai hari ini, untuk di Bali, rekor kecepatan saya di lari 100 meter belum terpecahkan,” ungkapnya dengan mata yang berbinar-binar.

Atas prestasinya tersebut, setahun setelah Reformasi 1998, Suwela diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di beberapa sekolah di Bali, di antaranya di Canggu, Sumberkelampok, dan Lemukih . “Karena saya memang lulusan SGO,” terangnya.

Dan pada momen peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2023, KONI Buleleng memberikan penghargaan kepadanya, Jumat (8/9/2023). Penghargaan tersebut diberikan atas prestasi di dunia atletik pada masa itu.

Kondisi Atletik Buleleng

Saat ditanya mengenai kondisi atletik Buleleng saat ini, Suwela terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Ia mengakui, dari segi infrastruktur pendukung kondisinya lebih baik daripada zamannya. Dan menurutnya sudah banyak atlet yang mampu memenuhi gizi secara mandiri. Hanya saja, porsi latihannya belum kontinu, terus-menerus, tidak seperti karate, kempo, atau cabor lainnya yang memiliki jadwal latihan tetap.

Padahal, baginya, Buleleng memiliki banyak bibit atlet yang bisa dibina secara serius. Hal itu terbukti pada ajang Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) Provinsi Bali 2023, cabor atletik Buleleng sukses menjadi penyumbang medali emas terbanyak.

“Jadi, PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) harus segera memikirkan hal ini. Supaya atlet tidak hanya latihan saat mau mengikuti kejuaraan saja. Sedangkan pelatih juga harus diambil yang profesional dan sesuai bidangnya. Kalau atlet lari jarak pendek ya dilatih sama orang yang profesional di bidang tersebut. Begitu juga dengan lari jarak jauh, estafet, lompat tinggi, atau lombat jauh,” jelas Suwela.

Menurut Suwela, atletik itu termasuk olahraga yang murah. Seorang atlet hanya butuh sepatu dan kemauan saja. Namun, untuk urusan kemauan dan kerja keras ini yang kadang menjadi masalah. Suwela sadar betul bahwa kondisi atlet di zamannya dengan hari ini sudah jauh berbeda.

Atlet di zamannya berani berlatih berdarah-darah untuk menjadi juara. Maksudnya, dulu, selain berlatih bersama pelatih, atlet biasa berlatih sendiri. Tapi sekarang, kata Suwela, tak banyak atlet yang punya inisiatif melatih dirinya sendiri.

“Anak-anak sekarang terlihat lebih manja daripada zaman kami dulu. Pelatih sekarang tidak berani keras melatih atlet, tidak seperti dulu. Dan saya akui, anak zaman sekarang godaannya memang lebih banyak daripada zaman saya,” ujarnya, semacam ada kekecewaan sekaligus penyesalan.

Kehadiran orang-orang seperti I Ketut Suwela dapat dibaca sebagai pertanda penting ketika kita membicarakan atletik di Indonesia secara keseluruhan. Kegigihan dan semangatnya dalam berlatih di tengah segala keterbatasan adalah tawaran alternatif untuk mempertahankan eksistensi daerah maupun negara di bidang atletik.[T]

Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: atletikKONI Bulelengolahraga atletiktokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Besaran Pajak Turunan Waris Dari Orang Tua Sebaiknya Dinolkan | Dari Sidang Tiga Ranperda DPRD Buleleng

Next Post

Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co