6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan

Jaswanto by Jaswanto
October 9, 2023
in Ulas Buku
Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan

Buku Sehat Ketawa ala Dokter Arya

JIKA SEORANG Mahbub Djunaidi bisa menulis hingga orang yang membaca tulisannya tertawa terpingkal-pingkal, padahal isinya cukup serius, maka seorang Dokter Putu Arya Nugraha pun, rasanya demikian.

Bedanya, Mahbub menulis esai-esai bernas, satire—dan lucu tentu saja—sedangkan dr. Arya menulis cerita-cerita atau kisah-kisah pendek tentang pasien yang lucu, konyol, dan menghibur. Namun, meski berbeda, Mahbub—pada kolom-kolomnya yang belum tertandingi oleh siapa pun—dan dr. Arya sepertinya sama-sama mampu mengubah tragedi menjadi komedi.

Benar. Lewat buku terbarunya yang bertajuk Sehat Ketawa ala Dokter Arya (2023), dr. Arya mampu menghadirkan humor di tengah orang-orang yang gampang menegangkan urat leher (untung tidak ‘anu’-nya yang gampang tegang).

Sekonyong-konyong, buku tipis 138 halaman itu muncul dengan mambawa perspektif (sudut pandang) berbeda dalam menyikapi persoalan-persoalan yang mungkin, bagi sebagian orang, terlalu berat diterima, apalagi dijalani.

Sebagai seorang editor yang dipercaya untuk mengedit tulisan-tulisan dalam buku Sehat Ketawa ala Dokter Arya, sebagaimana telah saya sampaikan dalam kata pengantar saya untuk buku tersebut, dari awal sampai akhir, saat mengedit buku ini saya tak bisa berhenti tertawa. Kelakar-kelakar dr. Arya selalu membuat perut saya terguncang. Tetapi, lebih daripada itu, selain humor, buku ini juga mengandung argumen kritis sekaligus mencerahkan.

Maka dari itu, tanpa ragu saya mengatakan bahwa buku ini adalah salah satu bukti kecerdasan—atau kebijaksanaan itu sendiri—dari dr. Arya, khususnya dalam hal menangani berbagai macam tingkah laku pasien yang berobat maupun berkonsultasi kepadanya. Dalam hal ini, saya kira, sebagai seorang dokter, ia paham betul bahwa bagi mereka yang memiliki keluhan atau divonis sakit, obat saja tak cukup.

Mereka butuh sesuatu daripada sekadar obat nyeri, misalnya, lebih dari itu, mereka juga membutuhkan penawar kekhawatiran atau potensi-potensi buruk lainnya setelah mendapatkan vonis. Dan saya kira, penawar itu adalah humor.

Ya, dr. Arya, dalam setiap penanganannya terhadap pasien, alih-alih memberi vonis-vonis seram—seperti yang dilakukan dokter-dokter pada umumnya—justru selalu berusaha mengajak pasien bercanda atau menertawakan apa yang telah mereka derita.

dr. Arya, secara tidak langsung, saya kira juga menganggap bahwa humor adalah obat itu sendiri. Ia seperti paham betul bagaimana cara membuat orang tertawa dan melupakan rasa sakitnya. Oleh karena itulah, sangat pas jika buku ini diberi judul Sehat Ketawa ala Dokter Arya.

Dari yang Humoris sampai yang Kritis

Soal humor, selain KH. Abdurrahman Wahid─atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur─saya juga teringat seorang filsuf dan pejabat publik Romawi Kuno bernama Marcus Tullius Cicero. Cicero gemar melempar joke saat berbicara dan berargumen di depan orang banyak.

Dianggap terlalu humoris untuk seorang pejabat publik di zamannya, seperti kata Ulwan Fakhri, Cicero pun dipandang bak badut. Wajar, kala itu, pendapat Plato dan Aristoteles bahwa tertawa cenderung terasosiasi dengan aktivitas kaum tak terhormat masih sangat dominan. “Humor,” kata Cicero, “bisa meruntuhkan perbedaan antara seorang orator dan komedian.”

Cicero dan dr. Arya berhasil membuktikan, ketika humor digunakan dengan kadar yang pas dan bijak di muka umum, kuasa sosial hingga politik bisa dimenangkan. Tetapi saat humor digunakan dengan sembrono di hadapan orang-orang, kita bisa saja dicap sebagai badut seperti Cicero─tanpa prestasi yang selevel dengannya.

Humor pada dasarnya hanya sebuah alat, sama seperti pisau. Mau dipakai untuk memasak makanan kesukaan orang yang ingin Anda bahagiakan, bisa. Mau ditodong-todongkan ke orang lain sembari tertawa puas menari-nari bahagia melihat muka tak nyaman mereka, bisa pula. Yang penting, mari lebih melek dan sadar dalam berhumor. Minimal, tahu apa yang sedang ingin Anda sendiri capai, meraup simpati atau untuk mengekspresikan diri.

Memang, humor—apalagi yang bersifat protes sosial—sangat digemari akhir-akhir ini. Orang-orang yang risau dan tidak puas terhadap keadaan masyarakat maupun polah-tingkah birokrat, demi menjaga keseimbangan jiwa, menumpahkan perasaan ketidakpuasan itu melalui tulisan-tulisan yang terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius.

Beberapa pengeluaran energi agresif yang bersifat primitif memang tidak bisa dituangkan begitu saja karena adanya batasan dalam masyarakat, maka desas-desus yang hendak disebarluaskan itu diubah dahulu ke dalam lelucon. Begitu pun dengan tulisan-tulisan dalam Sehat Ketawa ala Dokter Arya—yang barang kali sedang Anda baca saat ini.

Buku kelima karya dr. Arya ini memuat ratusan kisah lucu, beberapa tips kesehatan, dan opini pribadi—yang kritis tentu saja—tentang medis dan sedikit tentang sesuatu di luar dunia kedokteran. Kisah-kisah lucu yang dimaksud lebih banyak lahir dari interaksi antara dirinya sebagai dokter, di satu sisi, dengan pasien di sini lainnya.

Salah satu kisah lucu yang paling saya suka adalah kisah yang berjudul Bapak Sehat (hal.28). Kisah pendek ini bercerita tentang seorang suami pasien yang disuruh pulang oleh dr. Arya lantaran menghabiskan makanan istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Begini kisahnya:

…. Di suatu ruangan perawatan hari ini, saya lihat piring makan pasien seorang ibu, bersih. Saya suka, memujinya, dan mengizinkannya pulang. Tapi, suaminya menyela, “Maaf, Dok, istri saya makannya masih sedikit sekali, itu sebagian saya yang makan. Hehehe.”
“Ok, baiklah kalau begitu. Silakan bapak yang pulang!” jawab saya.

Ini kisah yang sangat pendek dan lucu. Tetapi, selain lucu, jika mau lebih teliti, ada soal lain daripada itu: pola pikir dr. Arya yang sederhana. Bayangkan, untuk melihat perkembangan kesehatan pasien, dia cukup melihat piring makannya. Mengenai hal tersebut, ia juga mengatakannya saat peluncuran buku ini di Singaraja Literary Festival, Minggu (1/10/2023).

“Kalau pasien makannya sudah lahap, atau sudah bisa merias wajahnya, biasanya sudah saya izinkan pulang dari rumah sakit,” ujarnya. Sikap seperti ini tentu tak semua dokter—atau orang pada umumnya—memiliki dan mampu melakukannya.

Selain kisah di atas, saya juga suka dengan kisah berjudul Saat Mata Bertatapan (hal.101). Kali ini dr. Arya bercerita tentang seorang bapak yang tanpa sengaja mengetahui isi pesan WhatsApp di grup yang diikutinya. Begini kisahnya:

Mohon maaf, saat berpraktek saya izin masih harus sesekali cek hp, terutama chat WA karena menerima laporan pasien RS atau urusan manajemen RS.
Nah, suatu ketika, saat pasien seorang ibu menuju bed periksa, ada notifikasi pesan WA. Pengantar pasien yang sudah bapak-bapak, yang duduk persis di depan saya, tak sengaja melirik chat WA yang masuk. Meskipun belum saya buka, namun cukup jelas bayangan konten video dewasa dari sebuah WAG.
Lalu maka kami bertatapan. Rencananya saya akan malu, tapi saya cepat punya ide. “Bapak mau saya share?”
Ia menjawab, “Oh, nggak, Dok. Terima kasih. Saya sudah punya.”

Saat membaca kisah di atas, seketika saya teringat alm. Prie GS. Suatu ketika, wartawan cum budayawan yang memiliki julukan “Sang Penggoda Indonesia” itu menulis begini: Jika keadaan begitu rumit, masuklah dalam hukum kesederhanaan. Menurut Pakde Prie—sebagaimana ia akrab dipanggil—tak hanya undang-undang yang bisa disederhanakan tetapi juga pikiran (omnibus thingking).

Jika dilihat dari perspektif Pakde Prie, humor dalam Saat Mata Bertatapan ini menakjubkan. Baik dr. Arya dan bapak yang memergokinya sama-sama memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan terutama, keduanya memiliki kesederhanaan prosedur.

Begitulah semestinya orang yang kepergok, kalau sudah jelas ketahuan, santai saja. Begitu juga dengan yang memergoki. Begitu telah tahu ia memergoki, hanya butuh humor sebagai pelampiasan. Selebihnya damai. Jika hukum kesederhanaan telah diperjalankan, kerumitan akan menepi dan tahu diri.

Seperti yang telah saya sampai di awal, bahwa buku ini tak hanya memuat kisah-kisah lucu, tapi juga beberapa opini kritis tentang dunia medis dan non-medis. Misalnya opini dalam Akreditasi (hal.41). Dalam tulisan tersebut, dr. Arya mengkritisi tentang dokumen-dokumen akreditasi rumah sakit yang banyak dan, katanya, “bertambah tebal dari waktu ke waktu.”

“Saya setuju dengan akreditasi, namun yang membawa spirit penyederhanaan, efektif, efisien… Dengan begitu, dokter dan paramedis lebih banyak mencurahkan perhatian dan waktunya untuk pasien… Dalam pengamatan saya, ironis sekali, saat ini perawat dihabiskan waktunya untuk mengisi dokumen-dokumen yang sangat banyak, seakan-akan menjauhkannya dari pesien…” (hal.42).

Atau opini kritis dalam Dalai Lama dan Logika Beragama (hal.121). Selain menguasai ilmu penyakit dalam, dr. Arya juga tidak segan beropini saat publik menggugat Dalai Lama sebab video suck my tongue viral di media seosial.

Ia dengan tegas menulis, “… Dan tidak cukup jelas, apakah lidah mereka memang bersentuhan? Kalau sampai diisap, rasanya tidak.” Dan “… Dalai Lama memang tokoh yang dikenal ringan dan santai. Membawa konsep spiritual menjadi begitu mudah dan sederhana. Memastikan agama mesti dikawal oleh logika.”

Hal tersebut membuktikan bahwa, selain lucu, dalam beberapa hal dr. Arya juga serius dan kritis. Meski demikian, opini-opini di dalam buku ini tidak semuanya bernada menghakimi atau mengandung kemarahan. Justru, sekali lagi, tetap mengandung humor.

Ya, tulisan-tulisan humor maupun anekdot dipilih sebagai media protes sosial yang paling pas— dikarenakan kecenderungan orang tidak suka dikritik secara langsung. Pihak yang dijadikan sasaran kritik tidak akan marah karena disampaikan dengan cara guyonan. Seperti kisah di bawah ini:

Suatu malam yang larut, di pelataran parkir hotel, dua perampok mengimpit seorang lelaki yang mengenakan setelan mahal.
“Berikan uangmu!” kata salah satu perampok.
Kaget dan gusar, lelaki kaya itu menyahut, “Kalian tidak akan bisa kabur. Kalian tahu siapa saya? Saya pejabat penting.”
Mendengar kalimat tersebut, sambil menodongkan pisau di tangannya, perampok kedua berkata, “Kalau begitu, berikan uang KAMI!”

Dengan demikian, sampai di sini, humor mampu memberikan kekuasaan. Dengan humor, kita dapat mengatasi ketakutan, ketidakberdayaan, dan keputusasaan. Sesuatu yang kita takutkan, namun kita dengar pada waktu lain sebagai humor, akan berubah lambat laun jadi tidak menakutkan lagi

Rasa takut hilang karena kita sudah menemukan humor di balik sesuatu yang sebelumnya membawa rasa takut pada hati kita. Di sini, humor telah dapat menemukan kekuatannya, sehingga dengannya kita dapat melihat kesulitan dengan perspektif yang berbeda. Maka dari itulah, hidup tak ubahnya hanya komedi bagi orang yang mau berpikir.[T]

Humor Adalah Obat | Catatan Pengantar Buku Sehat Ketawa ala Dokter Arya
Mindfulness dalam The Society of Minds: Menerjemahkan Pikiran Dokter Arya
Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter
Tags: Dokter Arya NugrahaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata Kembali Merumah di Singaraja

Next Post

Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co