23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata Kembali Merumah di Singaraja

Hamzah by Hamzah
October 8, 2023
in Esai
Kata Kembali Merumah di Singaraja

Sugi Lanus memberi kuliah umum dalam acara Singaraja Literary Festival | Foto: Dok. Singaraja Literary Festival/Omen

SAYA dan pacar saya tiba di Singaraja pada tanggal 29 September 2023, tepat di puncak hari. Minggu-minggu itu—bahkan sampai kalimat ini ditulis—memang sedang

panas-panasnya. Sembari meneguk air mineral yang sudah tidak dingin, saya dan kesayangan saya masuk ke Gedong Kirtya. Hari pertama Singaraja Literary Festival 2023 sedang bergulir. Kami kemudian berkeliling, menyaksikan forum-forum kecil membincangkan sastra dan kepenulisan. Kami memutuskan masuk mengelilingi museum dan mengomentari dokumentasi serta artefak.

Menurut rundown festival, kami baru saja melewati Lomba Baca Puisi Tingkat SD se-Bali. “Yah, sayang sekali…” ujar kekasih saya, “tidak bisa lihat anak-anak berpuisi.”

“Nanti malam ada upacara pembuka resminya, mau ke situ nggak nanti?” tawar saya. “Tentu!”

Kemudian kami ke hotel, mengistirahatkan diri sembari bersih-bersih. Rupanya, perjalanan hampir tiga jam menggunakan sepeda motor matic membuat kami terlelap sesudahnya.

Sementara kami terbenam dalam bantal, acara terus bergulir. Ada setidaknya lima lokakarya yang digelar sejak siang hingga sore hari. Tiga dari lima lokakarya tersebut melibatkan tulis menulis, dua lainnya merupakan permainan anak dan alih wahana tulisan ke seni pertunjukan. Guru, anak-anak, dan publik kena bagi ruang untuk belajar menulis.

Sugi Lanus memberikan kuliah umum dalam Singaraja Literary Festival | Foto: Dok Singaraja Literary Festival/Omen

Selain lokakarya, bedah buku, diskusi, dan kuliah umum digelar pula. Buku yang dibedah pada hari itu adalah buku dari seorang penulis dengan penjualan terbaik, Henry Manampiring. Bedah buku kemudian dilanjut dengan diskusi soal teks tubuh-lalu dan kini, yang membicarakan badan sebagai teks spasial dan temporal, digawangi oleh Carma Citrawati dan Suka Ardiyasa. Kuliah umum sendiri disampaikan oleh Sugi Lanus, ahli naskah lontar Bali dan Kawi.

Kami tiba ketika langit sudah mulai gelap di Gedong Kirtya, memirsakan upacara pembukaan secara resmi. Sembari mendengar sambutan-sambutan, dari Direktur Singaraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti hingga Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, S.Sos.,M.Si, kami menikmati sajian seni di sela-selanya.

Saya terngiang pernyataan yang terlontar malam itu, “Mengingat Singaraja menjadi tempat lahirnya banyak institusi dan infrastruktur literasi pertama bagi Indonesia, tepat belaka adanya gelaran Singaraja Literary Festival ini. Untuk menggaungkan kembali, literasi dan sastra geliatnya hidup di kota ini.” Bagi saya, fakta tersebut meneguhkan bahwa kata kembali merumah di Singaraja.

Sajian seni yang ditampilkan malam itu beragam macam. Ada sajian musik tradisional dari STAHN Mpu Kuturan Singaraja, hingga sandiwara oleh murid-murid SDN 3 Banjar Jawa, membawakan lakon Ayam Hitam. Penampilan yang terakhir disebut, adalah apa yang paling berkesan bagi kami. “Sayang, apakah pentas barusan cukup menuntaskan dahaga karena hajat melihat anak-anak berpuisi?” tanya saya ke adinda pacar.

“Lucu-lucu, ya, mereka!”

***

30 September 2023, pagi-pagi saya dan kekasih saya memutuskan untuk mandi di Air Terjun Sekumpul. Dua puluh kilometer dari tempat kami mandi, hari kedua Singaraja Literary Festival 2023 digelar. Lokakarya dan bedah buku tergelar sering dan berlanjut. Lomba puisi hari ini dipesertakan oleh remaja-remaja tanggung usia SMP.

Saya kemudian datang ke Gedong Kirtya sore harinya. Sendirian, kekasih sedang tidak kenan ke festival. Baiklah. Saya lompat dari diskusi ke diskusi yang tergelar di tiga sudut. Saya melihat kawan saya, Juli Sastrawan, memoderatori perbincangan dengan Gde Aryantha Soethama dan Made Sujaya tentang hikayat-hikayat dari Singaraja.

Jika berkenan, kamu bisa membaca apa-apa yang mereka diskusikan dalam antologi Singa Raja Berkisah (Mahima, 2023). Kemudian saya melompat ke diskusi soal alih wahana teks lama ke medium modern bernama film, yang dipantik oleh Made Suarbawa dan Maria Eka Risti. Aku mendengar Birus, panggilan Made Suarbawa, berbicara soal ambisinya untuk mengolah kembali cerita-cerita lama dan persisiannya dengan konteks kiwari.

Sonia Piscayanti (tengah) dan Henry Manampiring (kanan) dalam bedah buku Filosofi Teras di Singaraja Literary Festival | Foto: Dok. Singaraja Literary Festival/Omen

Selain kedua diskusi tadi, saya juga sempat menguping sebentar diskusi soal rempah dan kecantikan serta ihwal arsip dan pengembangan kesenian. Hari kedua saya juga bertemu rekan-rekan dari Balebengong yang habis pulang melali. Wajah-wajah familiar lainnya dan wajah baru juga terhampir, bercengkerama semenjana. Hari bergerak malam, saya mengecek gawai dan mendapati pacar menitip beli vitamin rambut berwarna hitam-merah muda. “Pokoknya harus black-pink!” tegasnya dalam pesan. Baiklah, saya mengeluarkan motor saya dari parkiran.

***

Saya dan pacar saya tiba di Gedong Kirtya pada tanggal 1 Oktober 2023, tepat di puncak hari. Minggu-minggu itu—bahkan sampai kalimat ini ditulis—memang sedang

panas-panasnya. Festival tentu saja akan terbantu jika ada yang berkenan menyumbangkan tenda atau—paling tidak, kipas dengan fitur embun. Sembari meneguk air mineral yang masih dingin, saya dan kesayangan saya masuk ke wahana festival. Hari terakhir Singaraja Literary Festival 2023 tengah bergulir.

Hari itu, gelaran lomba baca puisi diwarnai oleh jegeg dan bagus berusia SMA. Lokakarya tidak banyak digelar, namun diskusi sungguh padat dilaksanakan. Pementasan puncak juga digelar: mulai dari pembacaan dramatis satua-satua I Nengah Tinggen, hingga hasil-hasil lokakarya. Pengumuman juara juga diumumkan pada sore harinya, disambung dengan pementasan wayang kulit oleh Dalang Sembroli. Sayang, hari itu saya tidak bisa menghadiri semuanya.

Saya datang ke Gedong Kirtya untuk berpamitan kepada teman-teman yang hadir, sembari berharap semoga tahun depan ada gelaran Singaraja Literary Festival lagi. [T]

Opini Masyarakat Mengenai “Singaraja Literary Festival” : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti
Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring
Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki
Tags: balisastraSingarajaSingaraja Literary Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Opini Masyarakat Mengenai “Singaraja Literary Festival” : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti

Next Post

Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan

Hamzah

Hamzah

Lebih suka menyebut dirinya berlapis jamak seperti larik Walt Whitman. Laki-laki cis ini hidup nomaden sepanjang ingatannya. Kini semayam di Gianyar, Bali sebagai buruh nonprofit. Dapat dikunjungi di https://hamzah.id

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan

Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co