13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
September 30, 2023
in Khas
Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring

Acara bedah buku Filosofi Teras di Singaraja Literary Festival 2023 di Gedong Kirtya | Foto: Dok. Omen

“Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima.”

— Filosofi Teras

***

BERBICARA mengenai filsafat memang tak pernah ada habisnya. Dari sejak zaman Thales hingga hari ini, sebagai sebuah ilmu pengetahuan, filsafat masih terus dipelajari, dibicarakan, dan tak jarang juga diperdebatkan.

Dalam konteks pengetahuan atau filsafat sebagai cara, sosok bernama Henry Manampiring, masih mempelajari dan mengembangkannya menjadi tulisan-tulisan menarik yang konteks dengan kehidupan kita sebagai anak muda, khususnya.

Dalam bukunya yang berjudul Filosofi Teras, misalnya, lelaki yang akrab dipanggil Om Piring itu mampu menerjemahkan konsep stoic—filsafat Yunani-Romawi Kuno yang bagi saya pembahasannya memang berat—ke dalam sebuah buku dengan gaya bahasa ringan yang dapat dinikmati banyak kalangan.

Maka tak heran, buku yang diterbitkan Kompas pada 2019 itu, seketika menjadi semacam bacaan wajib bagi anak muda—yang hari-hari ini sepertinya memang lebih banyak mengeluh daripada bekerja keras.

Pada Jumat, (29/9/2023) sore, Om Piring hadir secara perdana di acara Singaraja Literary Festival di Kawasan Gedong Kirtya, Singaraja, Bali. Ia bersama Kadek Sonia Piscayanti, sastrawan sekaligus festival founder, membedah buku bukunya di hadapan anak-anak muda milenial dan penggemarnya di Bali.

Kadek Sonia Piscayanti dan Henry Manampiring pada sesi bedah buku Filosofi Teras serangkaian mata acara Singaraja Literary Festival 2023 / Foto: Dok. Saka

Sebelum acara dimulai, sempat saya bersalam sapa dengannya. Ramah, itu yang saya tangkap dari tutur kata tegas saat ia menyebutkan nama seraya menjabat tangan saya. Dalam hati saya begitu berdebar.. Hahaha. Siapa yang tidak deg-degan berjabat tangan dengan penulis terkenal?

Saat acara dimulai, bersama Bu Sonia, ia duduk tepat di depan saya. Bu Sonia, pada kesempatan tersebut, mulai membedah buku Filosofi Teras dengan menjelaskan tentang “trikotomi kendali”. Mendengar penjelasan tersebut, dalam hati saya bergumam, “Kenapa ini sepertinya sulit ya?”

“Kalau baca Filosofi Teras, kalian juga harus paham isinya,” begitu celetuk Bu Sonia kepada peserta bedah buku yang membludak sampai ada yang tidak kebagian kursi. Deg. Saya tiba-tiba merasa fomo. Berarti sekarang saya harus serius mendengarkan.

Bu Sonia kembali menjelaskan bahwa “trikotomi kendali” dalam Filosofi Teras menegaskan bahwa manusia di dalam hidupnya bisa hidup rileks namun bukan berarti menjadi malas. Dalam artian, manusia bisa sefleksibel mungkin menjalankan hidupnya. Fleksibel di sini artinya apa adanya, penerimaan atas segala sesuatu, semampunya, sewajarnya, dan bukan sebagai alasan untuk bermalas-malasan atau pasrah.

Mendengar penjelasan tersebut, seorang gadis berkebaya merah merasa tercerahkan dan kemudian berkata, “Kalau begini sebenarnya saya disadarkan, ya. Selama ini saya selalu bermalas-malasan.” Sedangkan saya bergumam, “Duh, saya ini sadar apa tidak ya?” pikir saya sembari menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

Semakin lama, penjelasan Bu sonia dan Om Piring semakin menyadarkan saya. Bu Sonia kembali menyinggung tentang Stoisisme yang ada pada buku Filosofi Teras. Ia menyampaikan bahwa manusia harus menggunakan nalar dan rasionalitas yang kemudian dihubungkan dengan “Trikotomi Kendali”. 

Sementara itu, Om Piring menimpali, bahwa dalam hal hidup, manusia kebanyakan menginginkan hidup yang bebas atau jauh dari emosi negatif. “Hal ini dapat dilakukan apabila manusia memiliki kendali terhadap dirinya sendiri,” begitu katanya, menegaskan, dengan gerak tangan dan muka serius.

Pada saat Om Piring berkata “Kalau saya hubungkan antara filosofi teras, filsafat, dan kegiatan literasi seperti ini, ada satu hal yang terjelaskan dalam pikiran saya” membuat saya penasaran sekali. “Memangnya filsafat dan literasi—apalagi bukunya—ada hubungan?”

Dan Om Piring melanjutkan, “Bahwa bagaimana sebuah ide bisa menembus zaman. Event-event literasi dan ilmu filsafat bisa dikatakan terus maju sesuai zaman yang terus berkembang pesat.” Ah, kenapa saya tidak berpikir sampai ke sana, ya? Kenapa saya malah berpikir bahwa filsafat itu terlalu sulit? Kenapa… kenapa… dan kenapa? Pikiran itu terus berputar dalam benak saya.

Filosofi Teras, Way of Life

Berdasarkan laman Dianns.org—website resmi dari Lembaga Pers Mahasiswa FIA UB—Filosofi Teras adalah buku yang ditulis Henry Manampiring karena ia pernah didiagnosis menderita Major Depressive Disorder atau depresi pada tahun 2017.

Pada masa pemulihan, Henry menemukan dan membaca sebuah buku yang berjudul How to Be a Stoic karya Massimo Pigliucci yang berisikan ajaran stoisisme atau filsafat stoa.

Dengan membaca dan mempraktikkan ajaran yang terdapat pada buku itulah, Henry merasa menjadi lebih tenang dan dapat mengendalikan emosi negatifnya. Hal itulah yang melatarbelakangi Henry Manampiring untuk menulis buku ini. Dengan menciptakan buku ini, Henry berharap bukunya dapat meningkatkan minat baik pembaca sehingga pembaca dapat memperoleh hidup yang lebih tenang.

Dalam buku ini, Henry tidak sedang membahas mengenai pikiran buruk orang-orang tentang filsafat, tapi justru mengenalkan salah satu ilmu filsafat bernama stoisisme atau yang sering disingkat dengan filsafat stoa. Filosofi teras sendiri merupakan terjemahan langsung dari filsafat stoa tersebut.

Henry menganggap bahwa filsafat stoa adalah sebuah way of life, jalan hidup. Filsafat seringkali dinilai sebagai cara berpikir yang ruwet dan njelimet, namun filsafat stoa justru berbeda. Filsafat stoa berisi ajaran untuk kita dapat berpikir lebih simpel.

Filsafat stoa dapat memberikan banyak pelajaran-pelajaran mengenai kehidupan bagi setiap kalangan tanpa memandang latar belakangnya apa. Stoisisme bersifat “dogmatis” karena filsafat ini bukan agama yang memiliki aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar, atau terdapat ancaman masuk neraka ketika dilanggar.

Filsafat ini tidak menjamin kita agar selalu hidup dalam kebahagiaan tetapi hidup dengan ketenangan hati dan pikiran. Hal tersebut selaras dengan tujuan dari filsafat stoa yaitu hidup bebas dari emosi negatif dan hidup mengasah kebajikan.

Dalam buku Filosofi Teras ini, dijelaskan mengenai prinsip utama dari stoisisme adalah in accordance with nature, yang berarti hidup selaras dengan alam. Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu makhluk bernalar.

Buku Filosofi Teras cetakan terbaru yang dijual saat bedah buku di Singaraja Literary Festival 2023 / Foto: Dok. Saka

Sederhananya, hidup selaras dengan alam berarti sebisa mungkin di setiap situasi hidup kita tidak kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang. Kehilangan nalar tersebut pada akhirnya berujung pada ketidakbahagiaan pada diri manusia itu sendiri.

Ah, saya paham sekarang. Sebenarnya Om Piring ingin pembacanya untuk memisahkan antara hal yang “bisa dikendalikan oleh diri dan tidak bisa dikendalikan oleh diri”  agar tidak selalu fokus pada hal-hal yang sebenarnya di luar kendali.

Henry mengemas buku ini dengan uraian-uraian yang begitu mudah dimengerti dengan memberikan contoh-contoh realistis dalam kehidupan sehari-hari. Benar yang dikatakan Bu Sonia, semakin membaca lembaran demi lembaran buku Filosofi Teras, akan semakin banyak mengerti bagaimana harus bersikap agar dapat hidup dengan pikiran yang tenang tanpa diikat dengan pikiran-pikiran yang menyiksa diri.

Saat scara selesai, saya melangkahkan kaki perlahan menuju tempat Om Piring dikerubungi penggemarnya. Mereka semua hendak meminta tanda tangan dan berfoto bersama—kerumunan itu tampak begitu rampai.

Kaki saya terus berpijak pada paving-paving dan melangkah kecil mendekati Om Piring. Sampai, pikir saya. Saya menunggu di belakang penggemarnya yang masih asyik berfoto dan bergurau. Hingga dua puluh menit berlalu, akhirnya sepi.

Saya mendekati Om Piring yang sedang menunduk mengambil tas. “Pak, terima kasih sudah datang. Saya disadarkan oleh buku Filosofi Teras ini. Saya jadi sadar bahwa selama ini saya sering malas dan menjalani hidup dengan pikiran sulit yang saya timbulkan sendiri,” ucap saya dengan dada penuh debar.

Ia mengangkat kepalanya, menatap tepat di bola mata saya. Ia tersenyum tulus sembari menjawab, “Terima kasih juga telah mendengarkan saya. Tetaplah hidup dan jadi manusia hebat,” katanya sembari menggendong tas dan menepuk bahu saya dua kali. “Saya duluan, ya,” katanya, melangkah pergi dan kembali bercengkerama dengan orang lain di lain tempat.

Saya membeku, ah dia baik sekali. Akhirnya saya melangkah pergi dari keramaian—tempat penggemar Henry Manampiring—menuju sepeda motor saya untuk bersiap pulang. Hah, hari yang menyenangkan. Saat perjalanan pulang, saya menikmati sepoi angin sore itu.[T]

Editor: Jaswanto

Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Tags: festivalGedong KirtyaSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Desa Sinabun, Ada Teknologi Inovasi Pengelolaan Sampah Bernama Trashkleng

Next Post

Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co