3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
March 4, 2019
in Ulasan
Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Foto tatkala

  • Judul   : Merayakan Ingatan (Catatan Seorang Dokter: Dari Bali Melanglang di Pedalaman Kalimantan)
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha, SpPD
  • Penerbit : Mahima Institute Indonesia dan Yayasan SeSama
  • Cetakan pertama: Februari 2019
  • Tebat: viii + 108 halaman
  • ISBN:  978-602-53892-5-2

.

“Semuanya adalah guru

saat aku selalu mau

menjadi murid disana,

setiap tempat adalah sekolah”

(dr. Putu Arya Nugraha, SpPD)

Kata di atas adalah pembuka buku “Merayakan Ingatan — Catatan Seorang Dokter: Dari Bali Melanglang di Pedalaman Kalimantan”. Kata-kata itu membuat saya penasaran apa yang sebenarnya ingin disajikan Pak Dokter dalam bukunya ini.

Saya menerka-nerka apakah Pak Dokter menulis tips hidup sehat ala pedalaman? Atau ia merangkum catatan masyarakat pedalaman lebih sehat hidupnya karena jauh dari ayam goreng impor instan yang di kota-kota disukai generasi micin.

Namun, prasangka dan praduga  ini harus saya adili. seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Pelajar itu harus adil sejak dalam pikiran”. Maka ditemani secangkir kopi, dengan suasana kosan yang sepi, senyap, saya mulai mengadili pikiran saya dengan membaca sajian tulisan Pak Dokter Arya lembar demi lembar dan sekarang saya coba tebar di tatkala.co

dr. Putu Arya Nugraha Lahir di kayuputih, 1 Juni 1975. Menyelesaikan S1 Kedokteran tahun 2000 dan ahli penyakit dalam tahun 2011. Dengan Modal mengikuti berbagai kongres Internasional ilmu penyakit dalam di maelbourne, Osaka, dan Berlin. Sehingga menjadikan dirinya ahli penyakit dalam di RSUD Buleleng. Dan juga aktif mengajar di beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Serta ia adalah pendiri Yayasan Sesama Singaraja yang konsen kegiatan kemanusiaan. Sepintas itu yang saya adili tentang profil dokter Arya.

Buku ini diawal bab yang menyajikan kisah liburan Dokter Arya ke New South Wales, Australia. Bersama keluarganya yaitu istri, anak dan kedua orang tuanya. Pada bagian ini saya menemukan penghormatan besar seorang dokter kepada kedua orang tua, terutama ibunya.  Pak Dokter menganggap kedua orang tuanya ialah malaikat, karena berkatnya ia bisa menjadi seorang dokter spesialis meski ayahnya hanya pensiunan guru SD dan ibunya tak sampai sekolah SMP.

Pak Dokter percaya bahwa apa yang ia tanam itulah yang akan ia tuai. Lalu, Apa sajakah yang telah ku tanam? Begitu penutup tulisan barisan terakhir yang membuat saya terus ingin mengadili pikiran.

Pada bagian kedua saya diseret kepada kisah awal 2001, Sungai Kayan, Kalimantan Utara. Sebuah kisah petualang akan segera dimulai oleh seorang dokter. Kalimantan dengan alamnya yang seperti surga membuat saya membayangkan keadaan awal 2001 penuh pohon-pohon hijau, sungai yang bersih dari plastik, dan masyarakatnya yang memperlakukan alam sama halnya ibu kandung sendiri. Seorang Dokter dipaksa bertahan hidup dengan tidur di bawah atap langit, berlantaikan pasir, angin sebagai dinding, suara aliran sungai sebagai musiknya, dan nyawa taruhannya.

Di dekat api yang menghantarkan kehangatan dan menebas kegelapan Dokter Arya mencoba lebih akrab dengan alam, yang ia anggap sebuah kemewahan. Karena sebelumnya ia tak jauh berbeda dari dokter pada umunya yang selalu berpenampilan klimis, rapi, berdasi, dan tidur di tempat empuk. Sekarang ia adalah seorang dokter pedalaman yang harus benar-benar menyatu dengan alam. Bukan itu saja, ia juga akan menghadapi segala hal yang baru, pasien-pasien yang berbeda dengan di kota. Di sana rasa kemanusiaan itu harus saya adili dalam pikiran.

Sebagai seorang dokter yang menulis hal ini tentu adalah nilai plus. Saya semakin memasuki sajian tulisannya yang sebagian mengadung muatan antropologis. Di sudut-sudut cerita per-bab saya menjumpai sesuatu yang tidak pernah saya tahu sebelumya dari Suku Dayak. semisal; Leto sebutan perempuan dayak, Amai-amai sebutan laki-laki dewasa dayak, atau tentang “migrasi penis” ketika perempuan dayak sakit hati. Tentang ngayau (ilmu memenggal leher). Wek panggilan untuk wanita dayak yang sudah bersuami.

Di balik semua itu, buku ini penuh dengan sisi kemanusiaan yang membuat kita akan betanya-tanya sisi humanis kita dengan manusia yang lain. Kegiatan (tourney) puskemas keliling dari satu desa ke desa yang lain dengan jalur transportasi utamanya ialah sungai telah menelan nyawa Dokter Ketut yang menjadi tantangan Dokter Arya untuk melanjutkan dan  melawan rasa takutnya melewati arus sungai yang kadang-kadang tidak bersahabat.

Selain itu seorang Dokter Arya harus melakukan apapun demi misi penyelamatan medis dengan peralatan yang terbatas. Contohnya, menyelamatkan ibu melahirkan dengan keadaan yang menegangkan, melakukan tindakan sunat kepada salah satu anak yang susah buang air kecil dengan “bius pegang” . Mengobati masyarakat penuh rasa kelembutan.

“Pernah mengabdi bertugas di pedalaman

adalah sebuah berkat.

Gemuruh air sungai, adalah ucapan selamat datang

untuk jiwa-jiwa yang bersahabat dengan alam,

pepohonan kayu tropis,

adalah atap berteduh dari lekang keserakahan hati.

lalu, insan-insan suku Dayak disana,

adalah harmoni nada-nada persaudaraan anak negeri,

selamanya, dokter adalah pelayan rakyat.

Dokter Arya juga menulis penuh dengan muatan kebajikan yang ia serap dari tokoh besar dunia dengan sarat filsafat. terutama kemanusiaan, semisal Gadhi dan Jalulludin Rumi. Pak Dokter tidak hanya sibuk melayani pasien yang sakit tetapi juga mengajar di SMP Kecamaatan Pujungan dengan mengajar dan memberi tugas sekaligus di kelas satu, dua, tiga dengan mata pelajaran yang berbeda-beda.

Di bagian akhir buku kita akan dicengangkan dengan keluhuran hati seorang dokter memberikan makan sarapan pagi kepada petugas sapu jalanan di kota Singaraja. Dan memberikan pelayanan kepada seorang ibu yang mengalami pembusukan di kakinya, bahkan mengasuh seorang bayi yang yatim piatu sejak lahir kedunia.

“Layaknya sastrawan

yang dicintai karena syair-syairnya,

atau musisi yang di kagumi,

karena nyanyiannya,

maka manusia dimuliakan

karena kemanusiaannya”.

Tulisan ini sengaja saya cukupkan disini untuk melukiskan catatan seorang Dokter Arya ketika bertugas di pedalaman. Karena untuk menikmati cerita lengkapnya anda bisa pesan bukunya dengan kepoin @kokoopikstore (WA : 082144719306). Selamat berburu!

NB: Semua hasil penjualan buku didonasikan untuk kegiatan sosial. [T]

Tags: Bukudokterkesehatanresensi
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Next Post

Waste Management Solution for Better Tourism

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Waste Management Solution for Better Tourism

Waste Management Solution for Better Tourism

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co