23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
March 4, 2019
in Ulasan
Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Foto tatkala

  • Judul   : Merayakan Ingatan (Catatan Seorang Dokter: Dari Bali Melanglang di Pedalaman Kalimantan)
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha, SpPD
  • Penerbit : Mahima Institute Indonesia dan Yayasan SeSama
  • Cetakan pertama: Februari 2019
  • Tebat: viii + 108 halaman
  • ISBN:  978-602-53892-5-2

.

“Semuanya adalah guru

saat aku selalu mau

menjadi murid disana,

setiap tempat adalah sekolah”

(dr. Putu Arya Nugraha, SpPD)

Kata di atas adalah pembuka buku “Merayakan Ingatan — Catatan Seorang Dokter: Dari Bali Melanglang di Pedalaman Kalimantan”. Kata-kata itu membuat saya penasaran apa yang sebenarnya ingin disajikan Pak Dokter dalam bukunya ini.

Saya menerka-nerka apakah Pak Dokter menulis tips hidup sehat ala pedalaman? Atau ia merangkum catatan masyarakat pedalaman lebih sehat hidupnya karena jauh dari ayam goreng impor instan yang di kota-kota disukai generasi micin.

Namun, prasangka dan praduga  ini harus saya adili. seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Pelajar itu harus adil sejak dalam pikiran”. Maka ditemani secangkir kopi, dengan suasana kosan yang sepi, senyap, saya mulai mengadili pikiran saya dengan membaca sajian tulisan Pak Dokter Arya lembar demi lembar dan sekarang saya coba tebar di tatkala.co

dr. Putu Arya Nugraha Lahir di kayuputih, 1 Juni 1975. Menyelesaikan S1 Kedokteran tahun 2000 dan ahli penyakit dalam tahun 2011. Dengan Modal mengikuti berbagai kongres Internasional ilmu penyakit dalam di maelbourne, Osaka, dan Berlin. Sehingga menjadikan dirinya ahli penyakit dalam di RSUD Buleleng. Dan juga aktif mengajar di beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Serta ia adalah pendiri Yayasan Sesama Singaraja yang konsen kegiatan kemanusiaan. Sepintas itu yang saya adili tentang profil dokter Arya.

Buku ini diawal bab yang menyajikan kisah liburan Dokter Arya ke New South Wales, Australia. Bersama keluarganya yaitu istri, anak dan kedua orang tuanya. Pada bagian ini saya menemukan penghormatan besar seorang dokter kepada kedua orang tua, terutama ibunya.  Pak Dokter menganggap kedua orang tuanya ialah malaikat, karena berkatnya ia bisa menjadi seorang dokter spesialis meski ayahnya hanya pensiunan guru SD dan ibunya tak sampai sekolah SMP.

Pak Dokter percaya bahwa apa yang ia tanam itulah yang akan ia tuai. Lalu, Apa sajakah yang telah ku tanam? Begitu penutup tulisan barisan terakhir yang membuat saya terus ingin mengadili pikiran.

Pada bagian kedua saya diseret kepada kisah awal 2001, Sungai Kayan, Kalimantan Utara. Sebuah kisah petualang akan segera dimulai oleh seorang dokter. Kalimantan dengan alamnya yang seperti surga membuat saya membayangkan keadaan awal 2001 penuh pohon-pohon hijau, sungai yang bersih dari plastik, dan masyarakatnya yang memperlakukan alam sama halnya ibu kandung sendiri. Seorang Dokter dipaksa bertahan hidup dengan tidur di bawah atap langit, berlantaikan pasir, angin sebagai dinding, suara aliran sungai sebagai musiknya, dan nyawa taruhannya.

Di dekat api yang menghantarkan kehangatan dan menebas kegelapan Dokter Arya mencoba lebih akrab dengan alam, yang ia anggap sebuah kemewahan. Karena sebelumnya ia tak jauh berbeda dari dokter pada umunya yang selalu berpenampilan klimis, rapi, berdasi, dan tidur di tempat empuk. Sekarang ia adalah seorang dokter pedalaman yang harus benar-benar menyatu dengan alam. Bukan itu saja, ia juga akan menghadapi segala hal yang baru, pasien-pasien yang berbeda dengan di kota. Di sana rasa kemanusiaan itu harus saya adili dalam pikiran.

Sebagai seorang dokter yang menulis hal ini tentu adalah nilai plus. Saya semakin memasuki sajian tulisannya yang sebagian mengadung muatan antropologis. Di sudut-sudut cerita per-bab saya menjumpai sesuatu yang tidak pernah saya tahu sebelumya dari Suku Dayak. semisal; Leto sebutan perempuan dayak, Amai-amai sebutan laki-laki dewasa dayak, atau tentang “migrasi penis” ketika perempuan dayak sakit hati. Tentang ngayau (ilmu memenggal leher). Wek panggilan untuk wanita dayak yang sudah bersuami.

Di balik semua itu, buku ini penuh dengan sisi kemanusiaan yang membuat kita akan betanya-tanya sisi humanis kita dengan manusia yang lain. Kegiatan (tourney) puskemas keliling dari satu desa ke desa yang lain dengan jalur transportasi utamanya ialah sungai telah menelan nyawa Dokter Ketut yang menjadi tantangan Dokter Arya untuk melanjutkan dan  melawan rasa takutnya melewati arus sungai yang kadang-kadang tidak bersahabat.

Selain itu seorang Dokter Arya harus melakukan apapun demi misi penyelamatan medis dengan peralatan yang terbatas. Contohnya, menyelamatkan ibu melahirkan dengan keadaan yang menegangkan, melakukan tindakan sunat kepada salah satu anak yang susah buang air kecil dengan “bius pegang” . Mengobati masyarakat penuh rasa kelembutan.

“Pernah mengabdi bertugas di pedalaman

adalah sebuah berkat.

Gemuruh air sungai, adalah ucapan selamat datang

untuk jiwa-jiwa yang bersahabat dengan alam,

pepohonan kayu tropis,

adalah atap berteduh dari lekang keserakahan hati.

lalu, insan-insan suku Dayak disana,

adalah harmoni nada-nada persaudaraan anak negeri,

selamanya, dokter adalah pelayan rakyat.

Dokter Arya juga menulis penuh dengan muatan kebajikan yang ia serap dari tokoh besar dunia dengan sarat filsafat. terutama kemanusiaan, semisal Gadhi dan Jalulludin Rumi. Pak Dokter tidak hanya sibuk melayani pasien yang sakit tetapi juga mengajar di SMP Kecamaatan Pujungan dengan mengajar dan memberi tugas sekaligus di kelas satu, dua, tiga dengan mata pelajaran yang berbeda-beda.

Di bagian akhir buku kita akan dicengangkan dengan keluhuran hati seorang dokter memberikan makan sarapan pagi kepada petugas sapu jalanan di kota Singaraja. Dan memberikan pelayanan kepada seorang ibu yang mengalami pembusukan di kakinya, bahkan mengasuh seorang bayi yang yatim piatu sejak lahir kedunia.

“Layaknya sastrawan

yang dicintai karena syair-syairnya,

atau musisi yang di kagumi,

karena nyanyiannya,

maka manusia dimuliakan

karena kemanusiaannya”.

Tulisan ini sengaja saya cukupkan disini untuk melukiskan catatan seorang Dokter Arya ketika bertugas di pedalaman. Karena untuk menikmati cerita lengkapnya anda bisa pesan bukunya dengan kepoin @kokoopikstore (WA : 082144719306). Selamat berburu!

NB: Semua hasil penjualan buku didonasikan untuk kegiatan sosial. [T]

Tags: Bukudokterkesehatanresensi
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Next Post

Waste Management Solution for Better Tourism

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Waste Management Solution for Better Tourism

Waste Management Solution for Better Tourism

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co