23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
March 4, 2019
in Ulasan
Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Foto tatkala

  • Judul   : Merayakan Ingatan (Catatan Seorang Dokter: Dari Bali Melanglang di Pedalaman Kalimantan)
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha, SpPD
  • Penerbit : Mahima Institute Indonesia dan Yayasan SeSama
  • Cetakan pertama: Februari 2019
  • Tebat: viii + 108 halaman
  • ISBN:  978-602-53892-5-2

.

“Semuanya adalah guru

saat aku selalu mau

menjadi murid disana,

setiap tempat adalah sekolah”

(dr. Putu Arya Nugraha, SpPD)

Kata di atas adalah pembuka buku “Merayakan Ingatan — Catatan Seorang Dokter: Dari Bali Melanglang di Pedalaman Kalimantan”. Kata-kata itu membuat saya penasaran apa yang sebenarnya ingin disajikan Pak Dokter dalam bukunya ini.

Saya menerka-nerka apakah Pak Dokter menulis tips hidup sehat ala pedalaman? Atau ia merangkum catatan masyarakat pedalaman lebih sehat hidupnya karena jauh dari ayam goreng impor instan yang di kota-kota disukai generasi micin.

Namun, prasangka dan praduga  ini harus saya adili. seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Pelajar itu harus adil sejak dalam pikiran”. Maka ditemani secangkir kopi, dengan suasana kosan yang sepi, senyap, saya mulai mengadili pikiran saya dengan membaca sajian tulisan Pak Dokter Arya lembar demi lembar dan sekarang saya coba tebar di tatkala.co

dr. Putu Arya Nugraha Lahir di kayuputih, 1 Juni 1975. Menyelesaikan S1 Kedokteran tahun 2000 dan ahli penyakit dalam tahun 2011. Dengan Modal mengikuti berbagai kongres Internasional ilmu penyakit dalam di maelbourne, Osaka, dan Berlin. Sehingga menjadikan dirinya ahli penyakit dalam di RSUD Buleleng. Dan juga aktif mengajar di beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Serta ia adalah pendiri Yayasan Sesama Singaraja yang konsen kegiatan kemanusiaan. Sepintas itu yang saya adili tentang profil dokter Arya.

Buku ini diawal bab yang menyajikan kisah liburan Dokter Arya ke New South Wales, Australia. Bersama keluarganya yaitu istri, anak dan kedua orang tuanya. Pada bagian ini saya menemukan penghormatan besar seorang dokter kepada kedua orang tua, terutama ibunya.  Pak Dokter menganggap kedua orang tuanya ialah malaikat, karena berkatnya ia bisa menjadi seorang dokter spesialis meski ayahnya hanya pensiunan guru SD dan ibunya tak sampai sekolah SMP.

Pak Dokter percaya bahwa apa yang ia tanam itulah yang akan ia tuai. Lalu, Apa sajakah yang telah ku tanam? Begitu penutup tulisan barisan terakhir yang membuat saya terus ingin mengadili pikiran.

Pada bagian kedua saya diseret kepada kisah awal 2001, Sungai Kayan, Kalimantan Utara. Sebuah kisah petualang akan segera dimulai oleh seorang dokter. Kalimantan dengan alamnya yang seperti surga membuat saya membayangkan keadaan awal 2001 penuh pohon-pohon hijau, sungai yang bersih dari plastik, dan masyarakatnya yang memperlakukan alam sama halnya ibu kandung sendiri. Seorang Dokter dipaksa bertahan hidup dengan tidur di bawah atap langit, berlantaikan pasir, angin sebagai dinding, suara aliran sungai sebagai musiknya, dan nyawa taruhannya.

Di dekat api yang menghantarkan kehangatan dan menebas kegelapan Dokter Arya mencoba lebih akrab dengan alam, yang ia anggap sebuah kemewahan. Karena sebelumnya ia tak jauh berbeda dari dokter pada umunya yang selalu berpenampilan klimis, rapi, berdasi, dan tidur di tempat empuk. Sekarang ia adalah seorang dokter pedalaman yang harus benar-benar menyatu dengan alam. Bukan itu saja, ia juga akan menghadapi segala hal yang baru, pasien-pasien yang berbeda dengan di kota. Di sana rasa kemanusiaan itu harus saya adili dalam pikiran.

Sebagai seorang dokter yang menulis hal ini tentu adalah nilai plus. Saya semakin memasuki sajian tulisannya yang sebagian mengadung muatan antropologis. Di sudut-sudut cerita per-bab saya menjumpai sesuatu yang tidak pernah saya tahu sebelumya dari Suku Dayak. semisal; Leto sebutan perempuan dayak, Amai-amai sebutan laki-laki dewasa dayak, atau tentang “migrasi penis” ketika perempuan dayak sakit hati. Tentang ngayau (ilmu memenggal leher). Wek panggilan untuk wanita dayak yang sudah bersuami.

Di balik semua itu, buku ini penuh dengan sisi kemanusiaan yang membuat kita akan betanya-tanya sisi humanis kita dengan manusia yang lain. Kegiatan (tourney) puskemas keliling dari satu desa ke desa yang lain dengan jalur transportasi utamanya ialah sungai telah menelan nyawa Dokter Ketut yang menjadi tantangan Dokter Arya untuk melanjutkan dan  melawan rasa takutnya melewati arus sungai yang kadang-kadang tidak bersahabat.

Selain itu seorang Dokter Arya harus melakukan apapun demi misi penyelamatan medis dengan peralatan yang terbatas. Contohnya, menyelamatkan ibu melahirkan dengan keadaan yang menegangkan, melakukan tindakan sunat kepada salah satu anak yang susah buang air kecil dengan “bius pegang” . Mengobati masyarakat penuh rasa kelembutan.

“Pernah mengabdi bertugas di pedalaman

adalah sebuah berkat.

Gemuruh air sungai, adalah ucapan selamat datang

untuk jiwa-jiwa yang bersahabat dengan alam,

pepohonan kayu tropis,

adalah atap berteduh dari lekang keserakahan hati.

lalu, insan-insan suku Dayak disana,

adalah harmoni nada-nada persaudaraan anak negeri,

selamanya, dokter adalah pelayan rakyat.

Dokter Arya juga menulis penuh dengan muatan kebajikan yang ia serap dari tokoh besar dunia dengan sarat filsafat. terutama kemanusiaan, semisal Gadhi dan Jalulludin Rumi. Pak Dokter tidak hanya sibuk melayani pasien yang sakit tetapi juga mengajar di SMP Kecamaatan Pujungan dengan mengajar dan memberi tugas sekaligus di kelas satu, dua, tiga dengan mata pelajaran yang berbeda-beda.

Di bagian akhir buku kita akan dicengangkan dengan keluhuran hati seorang dokter memberikan makan sarapan pagi kepada petugas sapu jalanan di kota Singaraja. Dan memberikan pelayanan kepada seorang ibu yang mengalami pembusukan di kakinya, bahkan mengasuh seorang bayi yang yatim piatu sejak lahir kedunia.

“Layaknya sastrawan

yang dicintai karena syair-syairnya,

atau musisi yang di kagumi,

karena nyanyiannya,

maka manusia dimuliakan

karena kemanusiaannya”.

Tulisan ini sengaja saya cukupkan disini untuk melukiskan catatan seorang Dokter Arya ketika bertugas di pedalaman. Karena untuk menikmati cerita lengkapnya anda bisa pesan bukunya dengan kepoin @kokoopikstore (WA : 082144719306). Selamat berburu!

NB: Semua hasil penjualan buku didonasikan untuk kegiatan sosial. [T]

Tags: Bukudokterkesehatanresensi
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Next Post

Waste Management Solution for Better Tourism

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Waste Management Solution for Better Tourism

Waste Management Solution for Better Tourism

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co