24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Putu Lilik Surya Ariani by Putu Lilik Surya Ariani
March 3, 2019
in Khas
Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Melasti Desa Pakraman Buleleng, Minggu 3/3/2019 (Foto: Rika/Koran Buleleng)

Saat melintas di Jalan Gajah Mada, Delod Peken, Kelurahan Kendran, Singaraja, Minggu (3/4/2019) sore, tak  sengaja berpapasan dengan rombongan krama Desa Pakraman Buleleng yang sedang melakukan upacara melasti serangkaian Perayaan Hari Raya Nyepi.

Karena malas menunggu krama yang mengular berakhir, saya memilih mengambil jalan alternative sedikit memutra lewat Banjar Jawa agar sampai ke Banyuning, karena sudah ditunggu ibu-ibu arisan.

Tapi yang mau saya bahas bukan soal arisan atau macet, melainkan tradisi Melasti di Buleleng yang mengalami ‘pergeseran tampilan’. Sebenarnya tulisan ini adalah kerinduan saya ikut upacara melasti. Saya yang lahir dan hingga kini berstatus anak dua di Buleleng, masih ingat betul bagaimana tradisi Melasti di Buleleng dari era sembilan puluhan.

Pergeseran tampilan yang saya maksudkan bukan soal esensi upacara, tatanan upacara, bebantenan atau menyoal ritual lainnya. Namun lebih ke tampilan fashion krama pemedek yang mengikuti upacara Melasti. Menurut saya, tampilan fashion krama saat melasti saat ini lebih ramah, simpel dan saling mengerti sesama. Untuk ikut ritual Melasti, krama desa terutama krama istri (anak-anak putri, remaja putri, ibu-ibu dan nenek-nenek) kini tak usah mengeluarkan kamen (kain) songket kebanggaannya yang disimpan di lemari. Tak perlu juga ke salon untuk sekedar memasang make up dan sanggul.

Kenapa demikian?

Mari kita kenang ritual Melasti sebelum tahun 2000-an. Dulu krama desa di Buleleng khususnya terutama krama istri sangat menanti-nanti ritual Melasti. Ibu-ibu dan remaja putri biasanya menyiapkan diri jauh-jauh hari sebelum melasti. Terutama persiapan baju kebaya, kamen songket yang akan digunakan lengkap dengan sandal dan booking salon untuk berhias.

Dulu upacara Melasti boleh dikatakan sebagai kesempatan krama istri untuk bersolek. Berbeda dengan saat ini, remaja dan ibu-ibu bisa pasnag alis sendiri setiap saat di rumah lengkap dengan blush on, eyeshadow dan gincu sesuai selera. Dulu mah ibu-ibu jarang bisa berias, sehingga saat odalan dan Melasti harus booking salon kecantikan dulu.

Melasti juga pada masa itu dijadikan ajang untuk unjuk diri, menunjukkan status sosial masyarakat. Dadya saya yang kebetulan ada di Banjar Tegal, masuk wilayah Desa Pakraman Buleleng. Jadi saat upacara Melasti yang ikut bareng nyuciang bhatara meliputi wilayah wewengkon Desa Pakraman Buleleng yang diempon oleh 14 Banjar Adat. Bisa dibayangkan berapa jumlah krama yang terlibat tumpah ruah ke jalan.

Yang menjadi pemandangan dan dinanti-nanti adalah pertunjukaan krama istri yang saling pajegegin (beradu cantik) dengan kain songket, perhiasan emas dan riasan make up dan kepala lengkap dengan bunga emas dari salon terbaik. Keluarga yang lebih berada biasanya memiliki kesempatan untuk menunjukkan diri melalui anak gadis dan istri mereka dari pakaian yang dikenakan. Maklum saja kain songket dan perhiasan emas harganya cukup mahal, keluarga yang kurang mampu jelas tak bisa membelinya.

Remaja putri dan ibu-ibu pun rela kaki mereka lecet datang dari Melasti karena menggunakan kain songket dengan benang emas yang keras. Selain itu ritual melasti ini juga dilakukan dengan berjalan kaki cukup jauh dari Pura Desa Pakraman Buleleng menuju Pura Segara di kawasan eks Pelabuhan Buleleng.

Namun apalah arti lecet yang bisa sembuh dibandingkan dengan kepuasan melasti menggunakan songket. Tak jarang, karena dilakukan pada Purnama Kadasa, ritual Melasti di Desa Pakraman Buleleng diiringi hujan deras. Hal itu pun dulu tak jarang membuat kain songket dan riasan make up blobor (luntur) karena tak boleh kena air.

Namun tontonan yang dapat mendatangkan wisatawan itu belakangan setelah tahun millennium semakin jarang terlihat dan kini bahkan tak ada sama sekali. Dari ribuan krama yang mengular ikut Melasti, Redite Paing Matal, Minggu (3/3) hampir tak ada krama yang ngiringan Ida Bhatara menggunakan kain songket.

Krama terlihat tampil sangat sederhana, dengan balutan kebaya mendominasi warna putih dan kuning dipadukan dnegan kain endek di bagian bawah. Meskipun saya yakin ada beberapa harga kain kebaya yang dikenakan krama harganya mahal hingga jutaan. Tak ada riasan wajah dan kepala yang mencolok. Meskipun ada paling mereka berias sendiri di rumah atau minta bantuan salon untuk riasan sederhana.

Pergeseran tampilan ini bagi saya berimplikasi pada beberapa hal, ada sisi positif dan juga negatifnya. Pergeseran tampilan yang bermula dari edaran PHDI yang mengatur tata busana persembahyangan bagi ternyata sangat efektif menghilangkan kesenjangan sosial. Dengan berpakaian warna senada dan tak berlebihan, mengaburkan strata masyarakat dari sei ekonomi.

Dengan begini tidak ada lagi krama yang merasa malu, minder dan berkecil hati, karena tak memiliki songket, perhiasan emas dan kebaya bagus saat Melasti. Hal itu juga membuat pikiran krama terfokus mengikuti ritual keagaman yang jauh dari pengaruh material. Ya lebih meminimalisir percakapan ibu-ibu dan remaja putri menyoal kebaya, songket dan perhiasan emas yang mereka pakai, beli dimana dan harga berapa.

Namun dampak negatifnya mungkin ada pengaruhnya terhadap pengerajin tenun songket yang ada di Kabupaten Buleleng. Dengan perkembangan mode dan fashion saat ini, hasil kerajinan tenun yang dikerjakan berbulan-bulan untuk menghasilkan kain songket minim pembeli. Kain songket yang terkesan barang mewah dan mahal hanya digunakan di waktu tertentu semakin tergerus dengan batasan penggunaan busana ke pura saat ini.

Meski begitu, tantangan itu bisa dijadikan pelecut pengerajin untuk mengupdate karyanya dengan model dna motif yang mengesuaikan dengan trend terkini. Seperti inovasi kain songket yang mulai merambah dunia fashion dan kerajinan tangan lainnya, justru peluangnya juga sangat luas. [T]

Tags: Hari Raya Nyepikain tradisionalMelastiPerempuan
Share182TweetSendShareSend
Previous Post

Menulislah Sebelum Kamu Ditulis di Batu Nisan

Next Post

Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Putu Lilik Surya Ariani

Putu Lilik Surya Ariani

Wartawan, ibu dua anak, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co