24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Radinna Nandakita by Radinna Nandakita
October 9, 2023
in Esai
Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Radina Nandakita

SINGARAJA memiliki beberapa cerita historis, yang bisa dikatakan, membuat bangga masyarakatnya. Sebut saja, Singaraja sebagai kota kelahiran ibu dari putra sang fajar (sebutan untuk Ir. Soekarno).

Kemudian setelah era kemerdekaan, Singaraja pernah menjadi pusat pemerintahan di Bali, hingga kemudian secara resmi dipindahkan ke Denpasar pada 23 Juni 1960. Dan yang terpenting menurut saya, Singaraja pernah mendapat julukan sebagai Kota Pendidikan karena di sekitar tahun 1980, berdiri Fakultas Keguruan pertama di Bali yang mana saat itu, masih menjadi salah satu bagian dari Universitas Udayana.

Dua sejarah terakhir yang saya sebutkan, sudah tidak lagi melekat pada kota kelahiran saya ini. Saya tidak yakin betul, kapan tepatnya brand image sebagai kota pendidikan ini mulai menghilang. Namun, ketika Singaraja Literary Festival membuat workshop untuk menulis gagasan apa yang bisa saya berikan untuk memajukan kota ini kedepannya, saya rasa ini kesempatan terbaik saya untuk bisa menyampaikan segala kegundahan, pendapat, saran serta keinginan saya untuk mengembalikan branding Singaraja sebagai Kota Pendidikan, dalam versi modern.

Tahun 2011, saya menamatkan pendidikan terakhir saya di SMA N 1 Singaraja. Seperti yang kita ketahui, SMA 1 Singaraja terkenal akan siswa-siswinya yang berprestasi dan cemerlang. Saya sangat jumawa saat itu, karena saya, orangtua saya, bahkan keluarga saya di desa, bisa dengan bangga menyebut dimana putri semata wayangnya bersekolah.

“Dije panake masuk?”

“Di SMANSA, nak kemula dueg ye.”

Ya, saat itu, nilai akademik dan prestasi saya cukup baik. Dan saya pikir, itu semua sudah cukup. Setelah menamatkan bangku SMA, saya akan kuliah dan memiliki karir yang cemerlang. Tapi ternyata, dunia nyata tidak bekerja sesederhana itu.

Dunia nyata, tidak cukup dengan orang-orang pintar yang memiliki sederet nilai A+. Dari pengalaman hidup yang saya jalani, pendidikan karakter dan pola pikir yang solutif jauh lebih penting, melampaui nilai akademik itu sendiri. Berapa banyak dari para siswa di sini, yang harus menyontek hanya agar bisa melampaui passing grade yang ditetapkan? Syukurnya sudah ada Kurikulum Merdeka yang sedang ditahap uji coba, tapi bagaimana jika kita mencoba berpikir jauh ke depan, mengenai sistem pendidikan kita?

Seberapa banyak teknologi sudah masuk kekehidupan kita  dalam 10 tahun terakhir? Lalu, sudah seberapa banyak perkembangan dunia pendidikan kita untuk beradaptasi dengan teknologi itu selama 10 tahun terakhir? Yes. Ada masalah dengan dunia pendidikan kita di Indonesia, karena kita hingga saat ini, belum menemukan formula yang tepat untuk bisa dikategorikan sebagai Negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

Jadi, gagasan saya untuk Kota Singaraja yang begitu saya cintai, salah satunya untuk berkonsentrasi pada dunia pendidikan dan mengembalikan julukan lamanya. Singaraja harus dikenal sebagai kota dimana banyak para orang-orang kreatif, cerdas dan terdidik tercipta. Kota yang menelurkan begitu banyak tokoh intelektual, budayawan dan juga seniman. Baik dulu, saat ini dan hingga ribuan masa mendatang.

Jika memungkinkan, suatu saat nanti, saya ingin mendirikan lembaga pendidikan formal dengan konsep boarding school mulai dari tingkat SD hingga SMA. Di sini, saya tidak mencari anak-anak pintar yang ingin nilainya sempurna. Saya mencari anak-anak yang ingin memberi dampak dan bermanfaat, bukan hanya untuk diri merek sendiri, tapi untuk orang-orang di sekitarnya. Anak-anak yang ingin saya didik untuk memiliki integritas, komitmen dan tentunya kecintaan untuk membangun negeri.

Metode pembelajaran yang akan saya gunakan adalah kombinasi Waldorf (metode pendidikan yang dirintis oleh Rudolf Steiner dari Austria)  dan Sariswara (metode pendidikan yang digagas oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara). Kedua metode ini mengedepankan aspek kesenian dalam proses pembelajarannya dan menumbuhkan rasa cinta belajar dari dalam diri anak-anak itu sendiri, bukan dari iming-iming hadiah liburan ke luar negeri.  

Penggabungan dua metode ini penting menurut saya untuk ditanamkan sejak dini untuk mengasah imajinasi, kreativitas dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri. Selain itu, saya meyakini bahwa Buleleng sangat berpotensi melahirkan generasi-generasi kreatif yang berdedikasi pada dunia seni.

Untuk menuju semua itu, saya akan mulai dengan membangun karakter dan rasa cinta mereka terhadap sekolah, di mulai dari tingkat Sekolah Dasar. Karena tidak jarang, anak-anak kelewat dimanja oleh orangtua mereka karena para orangtua tidak tahan pada rengekan. Mereka berlindung di balik kata ‘sayang’, tapi jika itu menjadi boomerang, bukankah kata ‘sayang’ tersebut pantas untuk dipertanyakan? Untuk bisa mengurangi rasa ‘sayang’ yang berlebihan dari orangtua, maka saya pikir konsep asrama adalah yang terbaik untuk dilakukan.

Selama 6 tahun di Sekolah Dasar, anak-anak akan fokus, bukan pada hitung-hitungan 1+1=2, melainkan pada pendidikan budi pekerti, empati, kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan bukan untuk citra diri, tapi menumbuhkan rasa bahagia dalam diri mereka sejak dini. Mereka akan belajar untuk menjawab : Kenapa 1+1=2 dengan segala imajinasi yang mereka bayangkan. Itu salah satu contoh idenya.

Lanjut ke tingkat Sekolah Menengah Pertama, anak-anak ini akan memasuki usia remaja dimana secara naluriah dan hormonal, mereka memang akan memiliki hasrat dan ketertarikan pada remaja lainnya.  And this is so normal!  Kita hanya harus mengarahkan mereka tentang konsep konsensual, mengajari mereka bagaimana cara untuk membagi waktu untuk diri mereka sendiri sebagai pelajar dan sebagai remaja. Membimbing mereka, untuk menjadi versi terbaik yang mereka bisa. Di tahap ini, akan ada banyak kegiatan extrakurikuler yang bisa mereka coba untuk lebih memahami potensi diri mereka di masa mendatang.

Berikutnya, tingkat Sekolah Menengah Akhir, dimana mereka akan dipersiapkan untuk menjadi orang dewasa sebelum pada akhirnya siap dilepas ke dunia nyata. Di fase ini, mereka sudah tidak lagi menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari teori di ruang kelas,  namun akan lebih banyak berkegiatan di luar sekolah. Mengerjakan proyek berkelompok ataupun secara individu, membuat riset atau karya ilmiah, membuat kegiatan hiburan rakyat untuk mengasah mental dan keterampilan dan masih banyak lagi.

Di tahun terakhir, mereka akan mendapat kesempatan magang di profesi yang mereka cita-citakan, untuk melihat langsung realita dunia kerja di lapangan, sebelum benar-benar memutuskan untuk lanjut kuliah di jurusan yang sebelumnya ingin mereka tuju.

Sebagai contoh, sebut saja Niluh, ingin menjadi dokter kandungan. Saat kelas 3 SMA, dia akan magang di klinik bersalin sebagai staff administrasi atau sekedar asisten bidan atau doula untuk para ibu yang akan melahirkan. Tentu sebelumnya mereka akan diberikan kesempatan untuk belajar dasar-dasar teorinya.

Namun, setelah melihat aksi dokter kandungan dalam jarak yang begitu dekat, Niluh baru menyadari kalau proses melahirkan membuatnya begitu ketakutan. Jerit histeris para ibu yang melawan sakit membuatnya merinding sepanjang hari. Setelah menyadari bahwa menjadi dokter kandungan mungkin bukanlah profesi yang tepat untuknya, ia masih berkesempatan untuk mengubah tujuan karirnya. Tentu saja dengan dibekali konseling oleh psikolog remaja yang ahli di bidangnya.

Akhir kata, sebagai orangtua, saya menyadari bahwa fondasi awal untuk pembentukan karakter anak-anak adalah melalui keluarganya. Namun, realitanya saya sadar bahwa berkarir sambil mendidik anak itu bukan tugas yang mudah dan jika ada lembaga pendidikan yang lebih kompeten untuk melakukannya, saya rasa tidak ada yang salah untuk menyerahkan pendidikan awal kepada orang yang ahli di bidang tersebut. [T]

  • Esai ini adalah salah satu hasil dari workshop menulis gagasan tentang Kota Singaraja pada acara Singaraja Literary Festival 2023
Kata Kembali Merumah di Singaraja
Opini Masyarakat Mengenai “Singaraja Literary Festival” : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti
Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring
Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki
Tags: PendidikanSingarajaSingaraja Literary Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan

Next Post

Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Radinna Nandakita

Radinna Nandakita

Lahir di Singaraja, Bali, sempat mukim di Jakarta, kini kembali tinggal di Singaraja. Mantan pramugari yang gila menulis. Tulisannya tentang "pramugalau" - kehidupan dirinya sebagai pramugari dan sebagai ibu yang super, digemari ribuan penggemar di radinnanandakita.blogspot.co.id

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co