2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Radinna Nandakita by Radinna Nandakita
October 9, 2023
in Esai
Singaraja Sebagai Kota Pendidikan Reborn

Radina Nandakita

SINGARAJA memiliki beberapa cerita historis, yang bisa dikatakan, membuat bangga masyarakatnya. Sebut saja, Singaraja sebagai kota kelahiran ibu dari putra sang fajar (sebutan untuk Ir. Soekarno).

Kemudian setelah era kemerdekaan, Singaraja pernah menjadi pusat pemerintahan di Bali, hingga kemudian secara resmi dipindahkan ke Denpasar pada 23 Juni 1960. Dan yang terpenting menurut saya, Singaraja pernah mendapat julukan sebagai Kota Pendidikan karena di sekitar tahun 1980, berdiri Fakultas Keguruan pertama di Bali yang mana saat itu, masih menjadi salah satu bagian dari Universitas Udayana.

Dua sejarah terakhir yang saya sebutkan, sudah tidak lagi melekat pada kota kelahiran saya ini. Saya tidak yakin betul, kapan tepatnya brand image sebagai kota pendidikan ini mulai menghilang. Namun, ketika Singaraja Literary Festival membuat workshop untuk menulis gagasan apa yang bisa saya berikan untuk memajukan kota ini kedepannya, saya rasa ini kesempatan terbaik saya untuk bisa menyampaikan segala kegundahan, pendapat, saran serta keinginan saya untuk mengembalikan branding Singaraja sebagai Kota Pendidikan, dalam versi modern.

Tahun 2011, saya menamatkan pendidikan terakhir saya di SMA N 1 Singaraja. Seperti yang kita ketahui, SMA 1 Singaraja terkenal akan siswa-siswinya yang berprestasi dan cemerlang. Saya sangat jumawa saat itu, karena saya, orangtua saya, bahkan keluarga saya di desa, bisa dengan bangga menyebut dimana putri semata wayangnya bersekolah.

“Dije panake masuk?”

“Di SMANSA, nak kemula dueg ye.”

Ya, saat itu, nilai akademik dan prestasi saya cukup baik. Dan saya pikir, itu semua sudah cukup. Setelah menamatkan bangku SMA, saya akan kuliah dan memiliki karir yang cemerlang. Tapi ternyata, dunia nyata tidak bekerja sesederhana itu.

Dunia nyata, tidak cukup dengan orang-orang pintar yang memiliki sederet nilai A+. Dari pengalaman hidup yang saya jalani, pendidikan karakter dan pola pikir yang solutif jauh lebih penting, melampaui nilai akademik itu sendiri. Berapa banyak dari para siswa di sini, yang harus menyontek hanya agar bisa melampaui passing grade yang ditetapkan? Syukurnya sudah ada Kurikulum Merdeka yang sedang ditahap uji coba, tapi bagaimana jika kita mencoba berpikir jauh ke depan, mengenai sistem pendidikan kita?

Seberapa banyak teknologi sudah masuk kekehidupan kita  dalam 10 tahun terakhir? Lalu, sudah seberapa banyak perkembangan dunia pendidikan kita untuk beradaptasi dengan teknologi itu selama 10 tahun terakhir? Yes. Ada masalah dengan dunia pendidikan kita di Indonesia, karena kita hingga saat ini, belum menemukan formula yang tepat untuk bisa dikategorikan sebagai Negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

Jadi, gagasan saya untuk Kota Singaraja yang begitu saya cintai, salah satunya untuk berkonsentrasi pada dunia pendidikan dan mengembalikan julukan lamanya. Singaraja harus dikenal sebagai kota dimana banyak para orang-orang kreatif, cerdas dan terdidik tercipta. Kota yang menelurkan begitu banyak tokoh intelektual, budayawan dan juga seniman. Baik dulu, saat ini dan hingga ribuan masa mendatang.

Jika memungkinkan, suatu saat nanti, saya ingin mendirikan lembaga pendidikan formal dengan konsep boarding school mulai dari tingkat SD hingga SMA. Di sini, saya tidak mencari anak-anak pintar yang ingin nilainya sempurna. Saya mencari anak-anak yang ingin memberi dampak dan bermanfaat, bukan hanya untuk diri merek sendiri, tapi untuk orang-orang di sekitarnya. Anak-anak yang ingin saya didik untuk memiliki integritas, komitmen dan tentunya kecintaan untuk membangun negeri.

Metode pembelajaran yang akan saya gunakan adalah kombinasi Waldorf (metode pendidikan yang dirintis oleh Rudolf Steiner dari Austria)  dan Sariswara (metode pendidikan yang digagas oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara). Kedua metode ini mengedepankan aspek kesenian dalam proses pembelajarannya dan menumbuhkan rasa cinta belajar dari dalam diri anak-anak itu sendiri, bukan dari iming-iming hadiah liburan ke luar negeri.  

Penggabungan dua metode ini penting menurut saya untuk ditanamkan sejak dini untuk mengasah imajinasi, kreativitas dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri. Selain itu, saya meyakini bahwa Buleleng sangat berpotensi melahirkan generasi-generasi kreatif yang berdedikasi pada dunia seni.

Untuk menuju semua itu, saya akan mulai dengan membangun karakter dan rasa cinta mereka terhadap sekolah, di mulai dari tingkat Sekolah Dasar. Karena tidak jarang, anak-anak kelewat dimanja oleh orangtua mereka karena para orangtua tidak tahan pada rengekan. Mereka berlindung di balik kata ‘sayang’, tapi jika itu menjadi boomerang, bukankah kata ‘sayang’ tersebut pantas untuk dipertanyakan? Untuk bisa mengurangi rasa ‘sayang’ yang berlebihan dari orangtua, maka saya pikir konsep asrama adalah yang terbaik untuk dilakukan.

Selama 6 tahun di Sekolah Dasar, anak-anak akan fokus, bukan pada hitung-hitungan 1+1=2, melainkan pada pendidikan budi pekerti, empati, kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan bukan untuk citra diri, tapi menumbuhkan rasa bahagia dalam diri mereka sejak dini. Mereka akan belajar untuk menjawab : Kenapa 1+1=2 dengan segala imajinasi yang mereka bayangkan. Itu salah satu contoh idenya.

Lanjut ke tingkat Sekolah Menengah Pertama, anak-anak ini akan memasuki usia remaja dimana secara naluriah dan hormonal, mereka memang akan memiliki hasrat dan ketertarikan pada remaja lainnya.  And this is so normal!  Kita hanya harus mengarahkan mereka tentang konsep konsensual, mengajari mereka bagaimana cara untuk membagi waktu untuk diri mereka sendiri sebagai pelajar dan sebagai remaja. Membimbing mereka, untuk menjadi versi terbaik yang mereka bisa. Di tahap ini, akan ada banyak kegiatan extrakurikuler yang bisa mereka coba untuk lebih memahami potensi diri mereka di masa mendatang.

Berikutnya, tingkat Sekolah Menengah Akhir, dimana mereka akan dipersiapkan untuk menjadi orang dewasa sebelum pada akhirnya siap dilepas ke dunia nyata. Di fase ini, mereka sudah tidak lagi menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari teori di ruang kelas,  namun akan lebih banyak berkegiatan di luar sekolah. Mengerjakan proyek berkelompok ataupun secara individu, membuat riset atau karya ilmiah, membuat kegiatan hiburan rakyat untuk mengasah mental dan keterampilan dan masih banyak lagi.

Di tahun terakhir, mereka akan mendapat kesempatan magang di profesi yang mereka cita-citakan, untuk melihat langsung realita dunia kerja di lapangan, sebelum benar-benar memutuskan untuk lanjut kuliah di jurusan yang sebelumnya ingin mereka tuju.

Sebagai contoh, sebut saja Niluh, ingin menjadi dokter kandungan. Saat kelas 3 SMA, dia akan magang di klinik bersalin sebagai staff administrasi atau sekedar asisten bidan atau doula untuk para ibu yang akan melahirkan. Tentu sebelumnya mereka akan diberikan kesempatan untuk belajar dasar-dasar teorinya.

Namun, setelah melihat aksi dokter kandungan dalam jarak yang begitu dekat, Niluh baru menyadari kalau proses melahirkan membuatnya begitu ketakutan. Jerit histeris para ibu yang melawan sakit membuatnya merinding sepanjang hari. Setelah menyadari bahwa menjadi dokter kandungan mungkin bukanlah profesi yang tepat untuknya, ia masih berkesempatan untuk mengubah tujuan karirnya. Tentu saja dengan dibekali konseling oleh psikolog remaja yang ahli di bidangnya.

Akhir kata, sebagai orangtua, saya menyadari bahwa fondasi awal untuk pembentukan karakter anak-anak adalah melalui keluarganya. Namun, realitanya saya sadar bahwa berkarir sambil mendidik anak itu bukan tugas yang mudah dan jika ada lembaga pendidikan yang lebih kompeten untuk melakukannya, saya rasa tidak ada yang salah untuk menyerahkan pendidikan awal kepada orang yang ahli di bidang tersebut. [T]

  • Esai ini adalah salah satu hasil dari workshop menulis gagasan tentang Kota Singaraja pada acara Singaraja Literary Festival 2023
Kata Kembali Merumah di Singaraja
Opini Masyarakat Mengenai “Singaraja Literary Festival” : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti
Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Filosofi Teras, Way of Life, dan Kendali Emosi Manusia ala Henry Manampiring
Upaya Perempuan Mempercantik Diri: Lontar, Rempah, dan Konstruksi Patriarki
Tags: PendidikanSingarajaSingaraja Literary Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan

Next Post

Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Radinna Nandakita

Radinna Nandakita

Lahir di Singaraja, Bali, sempat mukim di Jakarta, kini kembali tinggal di Singaraja. Mantan pramugari yang gila menulis. Tulisannya tentang "pramugalau" - kehidupan dirinya sebagai pramugari dan sebagai ibu yang super, digemari ribuan penggemar di radinnanandakita.blogspot.co.id

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Tirta dari 5 Gunung di Jawa dan Lombok Tiba di Pura Ulun Danu Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co