22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggupkah Media Meliput Pemilu 2024 Secara Proporsional? | Catatan Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024 Dewan Pers [1]

Jaswanto by Jaswanto
August 5, 2023
in Opini
Sanggupkah Media Meliput Pemilu 2024 Secara Proporsional? | Catatan Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024 Dewan Pers [1]

Paulus Tri Agung Kristanto dalam Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024 Dewan Pers, Senin (31/7/2023) | Foto: Dok. Tatkala.co

INDONESIA sudah mulai melaksanakan tahapan Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden, dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Salah satu kunci sukses penyelenggaraan ajang demokrasi tersebut adalah terciptanya ruang publik yang kondusif, sehat, dan bersih dari berita palsu (fake news) serta hoaks.

Saat ini, iklan dan pemberitaan tentang partai politik, calon legislatif dan kandidat Presiden/Wakil Presiden sudah bermunculan, bukan hanya di media, tapi juga banyak di ruang publik. Dan, penetrasi pemberitaan terkait pemilu melalui media, baik media cetak, media elektronik, serta media siber, lebih terasa di masyarakat karena menghadirkan kemasan yang beragam.

Dan sebagai pilar demokrasi, pers harus menjalankan peran edukasi melalui informasi yang proporsional tentang pemilu, sehingga masyarakat dapat diajak untuk berperan serta mengawasi tahapan persiapan pelaksanaan pemilu, penyelenggaran pemilu, termasuk peserta pemilu nantinya. Interaksi masyarakat dalam pemberitaan pemilu oleh pers juga akan sangat membantu untuk melihat parameter tingkat kesuksesan persiapan jelang Pemilu 2024.

Lalu, pertanyaannya apakah media mampu dan mau meliput Pemilu 2024 secara proporsional?

Dalam “Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024” yang diselenggarakan Dewan Pers—untuk meningkatkan kualitas peliputan media cetak dan media elektronik terhadap pemilu/pilkada 2024—di hotel Swiss-Belresort Watu Jimbar, Sanur, Denpasar, Bali, Senin (31/7/2023), Paulus Tri Agung Kristanto, Ketua Komisi Pendidikan dan Pengembangan Profesi Dewan Pers, mengatakan bahwa menjalankan peran edukasi melalui informasi tentang Pemilu yang proporsional memiliki tantangan yang berat.

Pasalnya, menurut Dewan Kehormatan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu, hari ini tak banyak insan pers yang memiliki kemampuan mengolah dan menyampaikan informasi secara mendalam, proporsional, seimbang. Akibatnya, banyak pemberitaan yang berat sebelah—dan tak jarang mis-komunikasi. “Jika Anda tidak membaca koran, Anda tidak mendapat informasi. Jika Anda membaca koran, Anda salah informasi,” ujarnya, mengutip Mark Twain, novelis Amerika Serikat.     

Tak hanya soal kompetensi jurnalis, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas itu juga menggarisbawahi persoalan media sekarang yang hanya mementingkan kecepatan dan sensasional semata. Menurutnya, berburu kecepatan membuat produk media “kurang benar”.

Jurnalisme Cepat dan Permasalahannya

Ya, jurnalisme profesional sedang menemukan dirinya dalam fase transisi fundamental. Perlu dipikirkan kembali (Peters dan Broersma, 2013 ) atau bahkan mungkin diciptakan kembali (Waisbord, 2013 ). Salah satu dari sekian banyak isu yang dihadapi jurnalisme adalah kekhawatiran fungsi sosial di era digital.

Dalam artikelnya Apakah Ada Masa Depan untuk Jurnalisme Lambat? (2015), Nico Drok dan Liesbet Hermans, menyatakan beberapa orang melihat proses digitalisasi sebagai alasan untuk menekankan penyebaran informasi yang cepat sebagai fungsi sentral, misalnya melalui strategi digital-first. Yang lain, sebaliknya, melihatnya sebagai insentif untuk memberi perhatian lebih pada fungsi penyediaan konteks. Kedua visi ini tidak serta merta mengecualikan satu sama lain, tetapi keduanya mewakili kerangka acuan yang berbeda untuk merefleksikan masa depan jurnalisme.

Kecepatan selalu menjadi komponen jurnalisme yang tak terpisahkan. Orang ingin diberi tahu tentang perubahan yang relevan di dunia sesegera mungkin—dan jurnalisme dapat memenuhi tuntutan ini sebagai “sistem peringatan dini” sosial. Oleh karena itu, kecepatan telah menjadi elemen budaya jurnalistik yang tidak dapat dicabut (Drok dan Hermans, 2015).

Deuze (2005) menganggap “kesegeraan” sebagai salah satu dari lima nilai sentral dalam jurnalisme, di samping objektivitas, otonomi, pelayanan publik, dan etika. Nilai yang ditempatkan pada kesegeraan tercermin dalam persepsi peran wartawan. Di seluruh dunia, jurnalis masih melihat penyebaran berita yang cepat sebagai tugas terpenting mereka: “melaporkan berita dengan cepat memiliki skor rata-rata tertinggi” (Weaver dan Willna, 2012).

Padahal, dalam konteks peliputan Pemilu, menurut Agung Kristanto, wartawan tak bisa terburu-buru. Dalam meliput pemilu, imbuhnya, seorang wartawan harus memiliki kemampuan untuk memahami aturan-aturan legal (regulatif), analisis, dan pengetahuan teknis—tiga kemampuan yang nyaris lenyap dalam diri jurnalis. “Ketiga hal ini sangat penting. Jadi, peliputan Pemilu itu susah-susah gampang,” katanya.

Peliputan Pemilu yang cepat dan terburu-buru berisiko penyederhanaan dan stereotip yang berlebihan. Selanjutnya, penekanan pada fastness Pemilu dapat memperkuat fiksasi pada benturan, kecelakaan atau sensasionalisme. Dan, menurut Laufer (2011), tampak jelas bahwa terlalu banyak penekanan pada fastness dapat merusak stok terpenting yang dimiliki seorang jurnalis dalam perdagangan: kredibilitas.

Sebuah studi dari Asosiasi Surat Kabar Dunia menunjukkan bahwa di bidang berita cepat (siapa, apa, di mana, kapan), telah muncul kelebihan muatan, “dengan nilai mendekati nol” (Erbsen et al., 2012). Menurut Drok dan Hermans (2015)  kelangkaan akan semakin meningkat di bidang keandalan, kebenaran, pelaporan dan analisis mendalam.

Jurnalisme hari ini tampaknya terjebak dalam logika pasar yang paradoks, di mana penceritaan mendalam yang berkualitas tinggi bisa menjadi proposisi penjualan yang unik, tetapi pada saat yang sama, penghematan biaya dan kecepatan digunakan sebagai senjata utama untuk meningkatkan daya saing.

Menurut Cooper (2009), ini mengarah pada semacam skizofrenia di kalangan jurnalis: “Di satu sisi wartawan dikirim ke konferensi jurnalistik untuk belajar bagaimana melakukan investigasi atau menulis cerita naratif. Di sisi lain, manajer bisnis—dan beberapa editor—mencari cerita yang lebih cepat, lebih cepat, dan lebih cepat—yang cakupannya semakin sempit.”

Loyalitas Jurnalis Kepada Warga

Setiap kali menjelang Pemilu, media massa, dari raksasa sampai yang ketengan, berlomba-lomba menulis dan menyiarkan berita perhelatan politik lima tahunan itu. Pemberitaan biasanya seputar sosok politikus yang menginspirasi atau kontroversi; seputar kampanye (pencitraan) calon, koalisi, analisa-analisa politik, dan survei elektabilitas.

Namun, meski banyak media massa yang memberitakan tentang serba-serbi Pemilu, nyatanya tak banyak media yang menjadikan rakyat sebagai subjek politik. Nyaris semua media sama-sama menempatkan Pemilu dalam koridor elitis dan formalis—dan tak sedikit berita yang seolah hanya notulensi agenda politik elit.

Berkaca pada Pemilu 2019, menurut laporan Remotivi, dalam headline di lima surat kabar—Republika, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan Jawa Pos—pada 26 Februari 2019 hingga 26 Maret 2019, terdapat total 222 buah berita dan 22 buah foto tentang Pemilu. Detailnya, Pemilu (20,5%) dan Lingkungan (17,6%) adalah dua topik yang paling banyak menjadi headline kelima koran dalam periode penelitian tersebut.

Di dalam topik Pemilu, tiga besar sub-topiknya adalah Debat Capres-Cawapres (24%), Kampanye (22%), dan Survei (14%). Sementara dua besar sub-topik Lingkungan adalah Bencana (86,05%) dan Sampah (11,63%).

Apa yang bisa kita pahami dari data-data tersebut? Seperti yang sudah disampaikan, bahwa corak pemberitaan mayoritas berorientasi ke politik elit.

Dalam esainya Peran Media dalam Politik Omong Kosong: Studi Atas Headline Lima Surat Kabar (2019), Roy Thaniago, Direktur Remotivi, menjelaskan bahwa pemberitaan yang berorientasi ke politik elit adalah pemberitaan yang berfokus merekam aspirasi, memfasilitasi komunikasi, dan memproduksi pengetahuan yang melayani kebutuhan para aktor yang berada dalam lingkup politik formal.

Corak pemberitaan semacam itu mereduksi politik dalam wilayah yang sempit. Media gagal mengenali politik warga, yakni bentuk politik yang menempatkan warga sebagai subjek sekaligus tujuan utama dalam proses demokrasi. Pada peliputan Pemilu 2019, tak ada media yang menunjukkan loyalitas jurnalisme kepada warga. Hal ini tentu bertentangan dengan sepuluh elemen jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2003).

Pentingnya Peliputan Pemilu

Paulus Tri Agung Kristanto dalam Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024 Dewan Pers menyampaikan bahwa setidaknya ada tujuh hal yang membuat peliputan Pemilu begitu penting. Pertama, Pemilu merupakan sarana pergantian kekuasaan secara damai dan beradab. Kedua, sarana kompetisi yang legal bagi warga negara untuk menjadi pelaksana kekuasaan negara.

Ketiga, ruang pendidikan politik rakyat secara langsung, terbuka, bebas, dan masal. Keempat, mekanisme bagi rakyat untuk memilih kepala negara dan anggota legislatif dengan bertanggungjawab. Kelima, media adalah pilar keempat demokrasi, four estate—sebagaimana dikemukakan Edmund Burke 230 tahun lalu—yang berkewajiban mengawal proses demokrasi yang beradab.

Keenam, media mainstream perlu banyak menyampaikan berita yang mencerahkan untuk menjaga agar ruang publik tetap sehat. Dan ketujuh, media mainstream adalah sarana untuk membangun wacana dan dialektika demi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Sebagaimana disampaikan pada poin kelima, keenam, dan ketujuh, melihat kondisi jurnalisme hari ini—seperti yang sudah diuraikan di atas—apakah media sanggup menyajikan laporan mendalam dan proporsional mengenai proses politik (Pemilu) 2024 mendatang? Semoga.[T]

  • BACA ARTIKEL TENTANG PEMILU 2024 DI SINI
Independensi Pers dalam Pusaran Oligarki Media dan Politik Praktis | Catatan Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024 Dewan Pers [2]
Sejak Awal Harus Dilakukan Mitigasi Potensi Hoaks Pemilu 2024
Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024
Pemilu 2024: Nahdliyin Adalah Kunci
Jokowisme, Strategi Politik PSI Jelang Pemilu 2024
Jurus Jitu Gaet Suara Desa Jelang Pemilu 2024
Tags: jurnalismejurnalisme wargajurnalistikpemiluPemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat

Next Post

Hakikat Peran Sebagai Solusi Atas Ketakutan Akan Kematian

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Hakikat Peran Sebagai Solusi Atas Ketakutan Akan Kematian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co