2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hakikat Peran Sebagai Solusi Atas Ketakutan Akan Kematian

Krisna Aji by Krisna Aji
August 1, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SALAH SATU ketakutan terbesar manusia adalah kematian. Akibat dari kematian yang seram, manusia selalu mencoba untuk mengalahkannya. Tetapi, kematian tetaplah masa depan yang mutlak sehingga usaha untuk mengalahkan akan kembali beralih ke penyangkalan. Penyangkalan yang pada akhirnya membawa manusia kembali pada ketakutan akan sebuah kepastian.

Ketakutan akan kematian dapat disebabkan oleh banyak hal. Beberapa contoh sebab adalah ketidaktahuan akan alam setelah kematian, berbagai pengalaman kehidupan yang belum memuaskan, hilangnya segala sesuatu yang melekat saat hidup, dan masih banyak lagi. Sebutkan saja.

Dari banyaknya versi, ada satu kemungkinan akan sebab ketakutan akan kematian, yang pernah dikatakan oleh Sogyal Riponche dalam bukunya yang berjudul The Tibetan Book of Living and Dying. Dalam buku tersebut, Sogyal Riponche menyebutkan bahwa—bisa jadi—ketakutan muncul akibat ketidaktahuan akan siapa diri kita setelah kematian.

Konsep ketidaktahuan akan siapa diri kita beranjak dari kenyataan bahwa identitas yang melekat pada diri kita didapatkan dari berbagai label yang melekat, seperti kepribadian yang sangat personal, unik, dan beda dengan orang lain.

Di luar itu, identitas diperkuat oleh perjalanan hidup—biografi—yang mencangkup pasangan, keluarga, rumah, pekerjaan, lingkungan, harta benda, atau apapun yang saat hidup sering kita banggakan—senada dengan pernyataan James Suzman dalam buku Work: A History of How We Spend Our Time. Padahal, semua itu berakhir saat kematian tiba. Semua identitas yang melekat, hilang tak tersisa.

Kondisi memang terlihat buruk saat kita kehilangan identitas. Apalagi, jika dipandang dari sisi yang berlawanan, identitas awalnya memang dibutuhkan. Hal ini berakar dari fungsi identitas sebagai pemberi makna hidup.

Lalu, makna hidup tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi individu untuk menjalani hidupnya. Bahkan, jika kita berkaca pada konsep logoterapi, kehilangan makna akan membuat seseorang lebih mungkin mengalami putus asa dan depresi dari pada kehilangan objek kelekatan—lost of love object.

Kedekatan antara makna hidup dan identitas sering kali menyeret manusia ke arah sengsara dengan cara yang halus. Hal tersebut disebabkan oleh pencarian makna hidup yang membuat kita semakin melekat pada identitas yang pada dasarnya tidak kekal. Kelekatan tersebut, pada akhirnya akan memunculkan sebuah kehilangan yang signifikan saat objek kelekatan bernama identitas menghilang bersama kematian.

Jika dilihat dengan seksama, muncul paradoks yang saling meniadakan. Memihak paradoks “identitas” akan memunculkan ketakutan akan kematian, sedangkan berdiri di paradoks “anti-identitas” dapat berujung pada hilangnya semangat untuk menjalani hidup. Lalu, bagaimana?

Bagaimana jika masalah bukan berada pada identitas, tetapi lebih kepada anggapan bahwa identitas adalah sama dengan diri yang sejati? Mungkinkah diri yang sejati dan identitas adalah hal yang berbeda?

Bagaimana dengan melakukan analogi sederhana kepada diri sendiri? Seperti, jika ini adalah kekayaanku, maka kekayaan ini bukanlah aku; jika ini adalah profesiku, maka profesi ini bukanlah aku; jika ini adalah namaku, maka nama ini bukanlah aku; jika ini adalah tubuhku, maka tubuh ini bukanlah aku; jika ini adalah pikiranku, maka pikiran ini bukanlah aku; jika ini adalah perasaanku, maka perasaan ini bukanlah aku.

Dengan semua analogi sederhana tersebut, akan tampak bahwa “aku” dan identitas adalah hal yang berbeda. Kehilangan akan identitas sejatinya tidak akan berdampak sama sekali terhadap “aku”. Dengan analogi itu pula, kematian pun tidak akan lagi menjadi hal yang mencekam bagi diri yang sejati.

Di sisi lain, analogi tersebut akan membuat paradoks yang lekat dengan identitas—pencarian makna—seperti melambai untuk memberi pertanyaan: apakah makna dari adanya “aku”? Sekilas, pertanyaan tersebut tampak menguatkan pertikaian kembali. Tetapi, sebenarnya pertanyaan itu dapat menjadi awal mula perdamaian. Lalu, bagaimana penjabarannya?

Analogi permainan peran dalam teater dapat digunakan untuk mempermudah penjabaran. Analogi ini mungkin akan cocok karena segala peran—dengan identitasnya—dalam pementasan tidak akan dibawa pulang oleh pemain saat peran tersebut selesai dimainkan.

Pementasan teater terdiri dari berbagai elemen peran yang hidup dan berinteraksi di dalamnya. Dalam hal ini pula, ukuran waktu adalah relatif. Bagi pentas teater secara keseluruhan, waktu dihitung dari keseluruhan waktu mulai dan selesainya pementasan. Tetapi, bagi tiap peran, waktu dihitung dari lama waktu peran tersebut masih dibutuhkan di panggung.

Waktu akan sangat berbeda antara peran satu dengan peran lainnya. Begitu pula dengan fungsi tiap peran. Fungsi peran akan jelas berbeda karena tiap peran adalah potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain untuk membentuk pementasan maha besar yang sempurna.

Dengan memandang bahwa tiap peran adalah potongan puzzle yang berfungsi untuk melengkapi keseluruhan pementasan, dapat dipahami bahwa masing-masing peran sebenarnya tidak berada pada hierarki superior-inferior.

Semua peran memiliki fungsi dan waktunya masing-masing, yang sama penting untuk dimainkan dengan sepenuh hati. Peran yang dimainkan dengan tidak semestinya seperti keluar dari pementasan sebelum waktunya, mengambil hak peran lain, atau tidak bersemangat dalam mensukseskan pementasan hanya akan membuat kekacauan.

Dengan sepenuhnya menyadari hal tersebut, menjalani peran dengan sepenuh hati dan meninggalkan peran tersebut dengan keiklasan saat tiba waktunya, adalah langkah yang dapat ditempuh untuk memeroleh makna yang paripurna.

Bermakna karena memiliki peran penting dalam sebuah cerita tanpa terikat dengan peran tersebut saat waktu pulang sudah tiba. Karena, peran dan pemain peran adalah hal yang berbeda. Sehingga, kematian tidak lagi menakutkan dan hidup tidak lagi membosankan.

***

Lalu, Siapakah “aku”—diri yang sejati?[T]

BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA DI SINI

Orang Tua Penyebab Hilangnya Tujuan Hidup Anak
Kesalahan dalam Mencari Makna Hidup
Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Tags: filsafatilmu filsafatkematianrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggupkah Media Meliput Pemilu 2024 Secara Proporsional? | Catatan Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024 Dewan Pers [1]

Next Post

Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co