12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hakikat Peran Sebagai Solusi Atas Ketakutan Akan Kematian

Krisna Aji by Krisna Aji
August 1, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SALAH SATU ketakutan terbesar manusia adalah kematian. Akibat dari kematian yang seram, manusia selalu mencoba untuk mengalahkannya. Tetapi, kematian tetaplah masa depan yang mutlak sehingga usaha untuk mengalahkan akan kembali beralih ke penyangkalan. Penyangkalan yang pada akhirnya membawa manusia kembali pada ketakutan akan sebuah kepastian.

Ketakutan akan kematian dapat disebabkan oleh banyak hal. Beberapa contoh sebab adalah ketidaktahuan akan alam setelah kematian, berbagai pengalaman kehidupan yang belum memuaskan, hilangnya segala sesuatu yang melekat saat hidup, dan masih banyak lagi. Sebutkan saja.

Dari banyaknya versi, ada satu kemungkinan akan sebab ketakutan akan kematian, yang pernah dikatakan oleh Sogyal Riponche dalam bukunya yang berjudul The Tibetan Book of Living and Dying. Dalam buku tersebut, Sogyal Riponche menyebutkan bahwa—bisa jadi—ketakutan muncul akibat ketidaktahuan akan siapa diri kita setelah kematian.

Konsep ketidaktahuan akan siapa diri kita beranjak dari kenyataan bahwa identitas yang melekat pada diri kita didapatkan dari berbagai label yang melekat, seperti kepribadian yang sangat personal, unik, dan beda dengan orang lain.

Di luar itu, identitas diperkuat oleh perjalanan hidup—biografi—yang mencangkup pasangan, keluarga, rumah, pekerjaan, lingkungan, harta benda, atau apapun yang saat hidup sering kita banggakan—senada dengan pernyataan James Suzman dalam buku Work: A History of How We Spend Our Time. Padahal, semua itu berakhir saat kematian tiba. Semua identitas yang melekat, hilang tak tersisa.

Kondisi memang terlihat buruk saat kita kehilangan identitas. Apalagi, jika dipandang dari sisi yang berlawanan, identitas awalnya memang dibutuhkan. Hal ini berakar dari fungsi identitas sebagai pemberi makna hidup.

Lalu, makna hidup tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi individu untuk menjalani hidupnya. Bahkan, jika kita berkaca pada konsep logoterapi, kehilangan makna akan membuat seseorang lebih mungkin mengalami putus asa dan depresi dari pada kehilangan objek kelekatan—lost of love object.

Kedekatan antara makna hidup dan identitas sering kali menyeret manusia ke arah sengsara dengan cara yang halus. Hal tersebut disebabkan oleh pencarian makna hidup yang membuat kita semakin melekat pada identitas yang pada dasarnya tidak kekal. Kelekatan tersebut, pada akhirnya akan memunculkan sebuah kehilangan yang signifikan saat objek kelekatan bernama identitas menghilang bersama kematian.

Jika dilihat dengan seksama, muncul paradoks yang saling meniadakan. Memihak paradoks “identitas” akan memunculkan ketakutan akan kematian, sedangkan berdiri di paradoks “anti-identitas” dapat berujung pada hilangnya semangat untuk menjalani hidup. Lalu, bagaimana?

Bagaimana jika masalah bukan berada pada identitas, tetapi lebih kepada anggapan bahwa identitas adalah sama dengan diri yang sejati? Mungkinkah diri yang sejati dan identitas adalah hal yang berbeda?

Bagaimana dengan melakukan analogi sederhana kepada diri sendiri? Seperti, jika ini adalah kekayaanku, maka kekayaan ini bukanlah aku; jika ini adalah profesiku, maka profesi ini bukanlah aku; jika ini adalah namaku, maka nama ini bukanlah aku; jika ini adalah tubuhku, maka tubuh ini bukanlah aku; jika ini adalah pikiranku, maka pikiran ini bukanlah aku; jika ini adalah perasaanku, maka perasaan ini bukanlah aku.

Dengan semua analogi sederhana tersebut, akan tampak bahwa “aku” dan identitas adalah hal yang berbeda. Kehilangan akan identitas sejatinya tidak akan berdampak sama sekali terhadap “aku”. Dengan analogi itu pula, kematian pun tidak akan lagi menjadi hal yang mencekam bagi diri yang sejati.

Di sisi lain, analogi tersebut akan membuat paradoks yang lekat dengan identitas—pencarian makna—seperti melambai untuk memberi pertanyaan: apakah makna dari adanya “aku”? Sekilas, pertanyaan tersebut tampak menguatkan pertikaian kembali. Tetapi, sebenarnya pertanyaan itu dapat menjadi awal mula perdamaian. Lalu, bagaimana penjabarannya?

Analogi permainan peran dalam teater dapat digunakan untuk mempermudah penjabaran. Analogi ini mungkin akan cocok karena segala peran—dengan identitasnya—dalam pementasan tidak akan dibawa pulang oleh pemain saat peran tersebut selesai dimainkan.

Pementasan teater terdiri dari berbagai elemen peran yang hidup dan berinteraksi di dalamnya. Dalam hal ini pula, ukuran waktu adalah relatif. Bagi pentas teater secara keseluruhan, waktu dihitung dari keseluruhan waktu mulai dan selesainya pementasan. Tetapi, bagi tiap peran, waktu dihitung dari lama waktu peran tersebut masih dibutuhkan di panggung.

Waktu akan sangat berbeda antara peran satu dengan peran lainnya. Begitu pula dengan fungsi tiap peran. Fungsi peran akan jelas berbeda karena tiap peran adalah potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain untuk membentuk pementasan maha besar yang sempurna.

Dengan memandang bahwa tiap peran adalah potongan puzzle yang berfungsi untuk melengkapi keseluruhan pementasan, dapat dipahami bahwa masing-masing peran sebenarnya tidak berada pada hierarki superior-inferior.

Semua peran memiliki fungsi dan waktunya masing-masing, yang sama penting untuk dimainkan dengan sepenuh hati. Peran yang dimainkan dengan tidak semestinya seperti keluar dari pementasan sebelum waktunya, mengambil hak peran lain, atau tidak bersemangat dalam mensukseskan pementasan hanya akan membuat kekacauan.

Dengan sepenuhnya menyadari hal tersebut, menjalani peran dengan sepenuh hati dan meninggalkan peran tersebut dengan keiklasan saat tiba waktunya, adalah langkah yang dapat ditempuh untuk memeroleh makna yang paripurna.

Bermakna karena memiliki peran penting dalam sebuah cerita tanpa terikat dengan peran tersebut saat waktu pulang sudah tiba. Karena, peran dan pemain peran adalah hal yang berbeda. Sehingga, kematian tidak lagi menakutkan dan hidup tidak lagi membosankan.

***

Lalu, Siapakah “aku”—diri yang sejati?[T]

BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA DI SINI

Orang Tua Penyebab Hilangnya Tujuan Hidup Anak
Kesalahan dalam Mencari Makna Hidup
Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Tags: filsafatilmu filsafatkematianrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggupkah Media Meliput Pemilu 2024 Secara Proporsional? | Catatan Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024 Dewan Pers [1]

Next Post

Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co