14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Tua Penyebab Hilangnya Tujuan Hidup Anak

Krisna Aji by Krisna Aji
July 9, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

REALITA YANG BERBEDA dari harapan akan ditanggapi dengan cara yang berlainan oleh tiap manusia. Bagi yang paham bahwa realita memang memiliki hak atas dirinya sendiri dan perlu untuk dihargai, kondisi itu akan ditanggapi dengan keiklasan. Tetapi, bagi seseorang yang melihat realita sebagai sesuatu yang harus dikontrol, hal itu akan dianggap sebagai kegagalan yang membahayakan keangkuhan.

Demi eksistensi keangkuhan, kegagalan harus bisa digagalkan. Cara paling jitu dalam menggagalkan kegagalan adalah dengan terus berjuang sampai final; terus mencoba sampai semua hal acak dapat diatur sesuai ambisi yang sudah terstruktur sedemikian rupa. Tetapi, bagaimana jika kegagalan tetap “ngeyel”?

Jika realita tetap bertahan seusai dengan kehendaknya sendiri, usaha yang dilakukan boleh berhenti sejenak, tetapi tidak dengan dendam yang tetap menyala.

Bagai bara dalam sekam, dendam tetap berpotensi mengobarkan api. Jika tidak saat ini, mungkin suatu saat nanti. Jika bukan sekarang, mungkin saat menjadi orang tua. Dan saat itulah, saat menjadi orang tua, seseorang bisa tergoda untuk melatih anak cucu agar dapat menjadi boneka demi balas dendam.

Contoh kasus dari hal tersebut adalah bintara yang dulu sangat ingin menjadi perwira lalu menuntut anaknya agar masuk akademi militer; pengusaha yang dulunya gagal masuk sekolah kedokteran kemudian menuntut anaknya agar menjadi dokter spesialis; seseorang yang merasa tidak dihargai di lingkungannya lalu terus menuntut agar anaknya selalu berprestasi dan bisa dijadikan piala kebanggaan.

Bisa jadi, orang tua akan berdalih bahwa semua itu dilakukan demi kesuksesan anak. Seolah, sukses hanya terbatas pada kaca mata kuda orang tua saja. Padahal, setiap anak memiliki hak untuk bebas menjalani kehidupannya sendiri.

Alih-alih kesuksesan yang didapat, dendam yang tidak terselesaikan ini malah akan berujung bencana yang tidak terlihat. Atau lebih tepatnya, tidak mau dilihat oleh orang tua. Untuk menyokong argumentasi tersebut, saya akan menggunakan teori dari salah satu tokoh psikoanalisis bernama Heinz Kohut.

Jika berkaca pada teori kohesi self oleh Kohut, terdapat dualisme intrapsikis: self yang ideal dan self yang ambisius. Self yang ideal muncul dari orang tua yang terlalu mengatur apa saja yang boleh dan tidak boleh, baik dan buruk, serta layak atau tidak layak.

Di sisi lain, self yang ambisius–self assertiveness, menitikberatkan narsisme seseorang yang menuntut eksplorasi dan kebebasan diri. Dalam hal ini, self yang bersifat ideal serupa dengan superego, sedangkan self yang ambisius serupa dengan Id. Kedua kutub ini perlu ada secara berimbang agar terjadi kohesi self yang baik sehingga menghasilkan mental yang sehat.

Terlalu berat ke salah satu kutub tentu saja memunculkan masalah. Terlalu condong ke arah self yang ambisius dan menekan sisi ideal akan membuat seseorang terlalu mementingkan diri sendiri serta tidak peduli kepada lingkungan.

Di sisi yang berlawanan, terlalu berat ke arah self yang bersifat ideal–di mana sisi ambisi ditekan, akan membuat seseorang mengalami ketergantungan pada keputusan figur omnipoten–self object, dalam hal ini orang tua–yang membuat keberanian anak dalam mengambil risiko dan kemerdekaan dalam menentukan pilihan menjadi bermasalah: ketidakjelasan akan tujuan hidup pun muncul.

Saat seseorang terlalu lama berada di posisi self yang ideal, bisa jadi, kebutuhan atas ambisi dan self assertiveness pun teriak untuk dilayani. Pada kondisi ini, dapat terjadi pemberontakan yang secara kasat mata mengarah ke pemenuhan ambisi dan self assertiveness.

Contoh dari hal ini adalah seseorang yang memutuskan untuk bekerja di luar rel yang sudah dipilihkan oleh orang tua demi membuktikan bahwa dirinya bukan boneka milik orang tua. Masalah tampak selesai, tetapi hanya di permukaan.

Walaupun pemberontakan dengan berpindah ke kutub ambisi dan self assertiveness sudah dilakukan, masalah masih tetap ada. Konflik muncul akibat tarikan dari kutub ideal yang masih sangat kuat sedangkan orang tersebut tidak terbiasa untuk menentukan keputusan bagi dirinya sendiri. Saat itu, gejala yang sama akan muncul: ketidakjelasan akan tujuan hidup.

Saat para orang tua tahu bahwa kesalahan pola asuh membuat anak-anaknya tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, bagaimana mereka menanggapinya? Jika beruntung, orang tua akan memahami dan mencoba memperbaiki kerusakan bersama-sama. Tetapi, sebagian orang tua akan menyangkal hal tersebut. Padahal, sangkalan tersebut juga merupakan sikap menutup mata terhadap kenyataan di mana para orang tua pun bermasalah. Bahkan, lebih bermasalah dari anak-anaknya karena rela menukar kehidupan diri dan keluarganya yang tenang dengan ambisi dan dendam yang semu. [T]

Catatan: Beberapa katatetap ditulis dalam Bahasa Inggris karena tidak ditemukan padanan Bahasa Indonesia yang dapat mewakili keutuhan makna.

  • BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI
Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental
Tags: anak-anakorang tuaPendidikanPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Surat Minggu untuk Penyair Nanoq da Kansas

Next Post

Mencoba Belajar Jujur Dari Sosok Aldi Taher

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Mencoba Belajar Jujur Dari Sosok Aldi Taher

Mencoba Belajar Jujur Dari Sosok Aldi Taher

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co