25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji by Krisna Aji
May 29, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

CITA-CITA TINGGI dan usaha keras untuk mengejarnya adalah hal alamiah yang dilakukan oleh manusia. Pola tersebut adalah salah satu penentu dari bertahannya homo sapiens sampai saat ini. Manusia perlu terus maju. Jika tidak, kebertahanan manusia sebagai kesatuan spesies dan individu akan dipertanyakan.

Tetapi, apakah target tinggi dan usaha keras untuk mendapatkannya akan sejalan dengan datangnya kebahagiaan? Misalkan, begini: bagaimana rasanya saat awal-awal target dan ambisi tersebut tergapai? Pasti senang sekali, kan?

Tidak perlu muluk-muluk berbicara kondisi di mana target sudah tercapai. Dengan sekedar berimajinasi akan target dan ambisi yang berhasil tercapai saja sudah cukup membuat kebahagiaan di dalam hati. Bisa jadi, kebahagiaan memang lekat dengan target tinggi dan ambisi.

Kegairahan saat berimajinasi inilah yang pada akhirnya menyalakan semangat dan tenaga berlebih–sering kali lebih besar dari yang bisa kita bayangkan–untuk mendaki puncak.

Energi besar sering meredam rasa sakit akibat beberapa kegagalan dalam setiap langkah kecil dalam proses pendakian. Energi ini serupa dengan adrenalin yang membuat petarung tidak merasakan sakit saat berada di atas ring sehingga ia dapat terus bertarung dan baru merasakan sakit setelah turun dari ring. Tetapi, ada beberapa kasus di mana kegagalan yang terlalu sering, ketahanan diri yang kurang dalam berproses, atau gabungan dari keduanya membuat keadaan tertekan, cemas, putus asa, bahkan gejala-gejala yang mengarah ke depresi klinis.

Target dan ambisi yang terlalu tinggi dan tidak bisa diakomodir dengan realita yang menginjak bumi pada akhirnya akan membuat diri sendiri tersakiti secara mental. Kondisi yang serupa dengan lost of love object pada depresi, terjadi: kehilangan objek “kelekatan” yang membuat seseorang putus asa.

Tapi, bagaimana jika hal baik yang muncul? Bagaimana jika harapan dan ambisi yang tinggi dapat terealisasi? Bisa dibayangkan bahwa kebahagiaan akan muncul pada saat itu. Tapi, apakah demikian? Kebahagiaan bisa jadi hanya muncul saat realisasi atas harapan dan ambisi masih dalam bentuk imajinasi. Tapi, bagaimana setelah target tersebut benar-benar tercapai?

Kebahagiaan memang akan muncul pada saat harapan dan ambisi tercapai. Tapi, kebahagiaan hanya bertahan sekejap. Euforia dan selebrasi hanya bertahan beberapa saat dan akan tergantikan oleh kebosanan. Saat kebosanan datang, target baru yang lebih tinggi mulai diciptakan dan terbentuk siklus yang serupa dengan sebelumnya: kelelahan yang serupa akan terulang kembali.

Memang benar, rasa bosan dan tidak pernah puas merupakan salah satu syarat agar manusia bisa terus bertahan di antara semesta. Dengan adanya rasa bosan, manusia akan terus maju dan mencari pencapaian baru. Kemajuan yang tidak berhenti adalah pola dasar dari keseimbangan semesta yang sama sekali tidak statis.

Terlepas dari kemajuan kongkrit yang materialis dan serba terukur, bagaimana dengan kondisi mental? Pernahkah kita menyadari bahwa secara mental, rasa tiap lapis langit itu sama saja? Mengejar lapis langit yang lebih tinggi sepertinya serupa dengan “kecanduan” pada dopamin, di mana kadar dopamin di jaras mesolimbik tidak akan memberikan dampak berarti dan memunculkan standar dopamin yang lebih tinggi untuk dicapai.

Pola yang serupa dengan kecanduan narkotika dan sumber kebahagiaan lainnya. Pola untuk terus mengejar level dopamin yang lebih tinggi dari sebelumnya tentu saja–jika melihat logika sebelumnya–akan membuang banyak sekali energi. Hal baik bagi perkembangan secara kongkrit, tetapi sangat menyengsarakan mental. Secara kasar, kata yang dapat mewakili hal ini adalah: serakah. Serakah yang menyengsarakan.

Diam, tidak bergerak, tidak menaruh target tinggi, dan menerima kondisi di saat ini tidak terlalu baik untuk kemajuan manusia sebagai spesies dan individu. Di sisi yang sangat berlawanan, bergerak maju tanpa henti pun tidak terlalu baik untuk keseimbangan mental. Berada di poros-poros paradoks akan selalu menimbulkan korban. Lalu, bagaimana solusinya? Bagaimana dengan berada di tengah-tengah?

Di antara dua paradoks selalu ada titik tengah keseimbangan. Biarkan kemajuan melaju dengan menggunakan variabel yang dapat diukur dengan tetap memberikan ruang pada mental untuk berjalan sendiri tanpa terjebak dalam putaran mesin kemajuan di dalam diri manusia. Berikan kebebasan pada mental untuk menikmati kekinian dalam setiap detik perjalanan ke depan.

Biarkan kemajuan diurus oleh faktor terukur seperti supir bus yang fokus mengemudi secara profesional, sedangkan mental seperti penumpang yang menikmati indahnya pemandangan perjalanan. Mental, hanya memiliki tugas untuk menikmati kekinian dari proses perjalanan. Caranya? Dengan kesadaran. [T]

  • BACA esai-esai lain dari penulis KRISNA AJI
Uang dan Kebutuhan Manusia yang Semu
Pendekatan untuk Menambah Imun Kesehatan Mental dan Jiwa Kita
Bicara Kesehatan Mental Lewat Buku “Introvert”
Kisah Roy dan Dunia Skizofrenianya
Tags: gaya hidupkesehatankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha

Next Post

Cerita, Buku dan Komunitas | Pidato Penutupan Tatkala May May May 2023

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita, Buku dan Komunitas | Pidato Penutupan Tatkala May May May 2023

Cerita, Buku dan Komunitas | Pidato Penutupan Tatkala May May May 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co