4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji by Krisna Aji
May 29, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

CITA-CITA TINGGI dan usaha keras untuk mengejarnya adalah hal alamiah yang dilakukan oleh manusia. Pola tersebut adalah salah satu penentu dari bertahannya homo sapiens sampai saat ini. Manusia perlu terus maju. Jika tidak, kebertahanan manusia sebagai kesatuan spesies dan individu akan dipertanyakan.

Tetapi, apakah target tinggi dan usaha keras untuk mendapatkannya akan sejalan dengan datangnya kebahagiaan? Misalkan, begini: bagaimana rasanya saat awal-awal target dan ambisi tersebut tergapai? Pasti senang sekali, kan?

Tidak perlu muluk-muluk berbicara kondisi di mana target sudah tercapai. Dengan sekedar berimajinasi akan target dan ambisi yang berhasil tercapai saja sudah cukup membuat kebahagiaan di dalam hati. Bisa jadi, kebahagiaan memang lekat dengan target tinggi dan ambisi.

Kegairahan saat berimajinasi inilah yang pada akhirnya menyalakan semangat dan tenaga berlebih–sering kali lebih besar dari yang bisa kita bayangkan–untuk mendaki puncak.

Energi besar sering meredam rasa sakit akibat beberapa kegagalan dalam setiap langkah kecil dalam proses pendakian. Energi ini serupa dengan adrenalin yang membuat petarung tidak merasakan sakit saat berada di atas ring sehingga ia dapat terus bertarung dan baru merasakan sakit setelah turun dari ring. Tetapi, ada beberapa kasus di mana kegagalan yang terlalu sering, ketahanan diri yang kurang dalam berproses, atau gabungan dari keduanya membuat keadaan tertekan, cemas, putus asa, bahkan gejala-gejala yang mengarah ke depresi klinis.

Target dan ambisi yang terlalu tinggi dan tidak bisa diakomodir dengan realita yang menginjak bumi pada akhirnya akan membuat diri sendiri tersakiti secara mental. Kondisi yang serupa dengan lost of love object pada depresi, terjadi: kehilangan objek “kelekatan” yang membuat seseorang putus asa.

Tapi, bagaimana jika hal baik yang muncul? Bagaimana jika harapan dan ambisi yang tinggi dapat terealisasi? Bisa dibayangkan bahwa kebahagiaan akan muncul pada saat itu. Tapi, apakah demikian? Kebahagiaan bisa jadi hanya muncul saat realisasi atas harapan dan ambisi masih dalam bentuk imajinasi. Tapi, bagaimana setelah target tersebut benar-benar tercapai?

Kebahagiaan memang akan muncul pada saat harapan dan ambisi tercapai. Tapi, kebahagiaan hanya bertahan sekejap. Euforia dan selebrasi hanya bertahan beberapa saat dan akan tergantikan oleh kebosanan. Saat kebosanan datang, target baru yang lebih tinggi mulai diciptakan dan terbentuk siklus yang serupa dengan sebelumnya: kelelahan yang serupa akan terulang kembali.

Memang benar, rasa bosan dan tidak pernah puas merupakan salah satu syarat agar manusia bisa terus bertahan di antara semesta. Dengan adanya rasa bosan, manusia akan terus maju dan mencari pencapaian baru. Kemajuan yang tidak berhenti adalah pola dasar dari keseimbangan semesta yang sama sekali tidak statis.

Terlepas dari kemajuan kongkrit yang materialis dan serba terukur, bagaimana dengan kondisi mental? Pernahkah kita menyadari bahwa secara mental, rasa tiap lapis langit itu sama saja? Mengejar lapis langit yang lebih tinggi sepertinya serupa dengan “kecanduan” pada dopamin, di mana kadar dopamin di jaras mesolimbik tidak akan memberikan dampak berarti dan memunculkan standar dopamin yang lebih tinggi untuk dicapai.

Pola yang serupa dengan kecanduan narkotika dan sumber kebahagiaan lainnya. Pola untuk terus mengejar level dopamin yang lebih tinggi dari sebelumnya tentu saja–jika melihat logika sebelumnya–akan membuang banyak sekali energi. Hal baik bagi perkembangan secara kongkrit, tetapi sangat menyengsarakan mental. Secara kasar, kata yang dapat mewakili hal ini adalah: serakah. Serakah yang menyengsarakan.

Diam, tidak bergerak, tidak menaruh target tinggi, dan menerima kondisi di saat ini tidak terlalu baik untuk kemajuan manusia sebagai spesies dan individu. Di sisi yang sangat berlawanan, bergerak maju tanpa henti pun tidak terlalu baik untuk keseimbangan mental. Berada di poros-poros paradoks akan selalu menimbulkan korban. Lalu, bagaimana solusinya? Bagaimana dengan berada di tengah-tengah?

Di antara dua paradoks selalu ada titik tengah keseimbangan. Biarkan kemajuan melaju dengan menggunakan variabel yang dapat diukur dengan tetap memberikan ruang pada mental untuk berjalan sendiri tanpa terjebak dalam putaran mesin kemajuan di dalam diri manusia. Berikan kebebasan pada mental untuk menikmati kekinian dalam setiap detik perjalanan ke depan.

Biarkan kemajuan diurus oleh faktor terukur seperti supir bus yang fokus mengemudi secara profesional, sedangkan mental seperti penumpang yang menikmati indahnya pemandangan perjalanan. Mental, hanya memiliki tugas untuk menikmati kekinian dari proses perjalanan. Caranya? Dengan kesadaran. [T]

  • BACA esai-esai lain dari penulis KRISNA AJI
Uang dan Kebutuhan Manusia yang Semu
Pendekatan untuk Menambah Imun Kesehatan Mental dan Jiwa Kita
Bicara Kesehatan Mental Lewat Buku “Introvert”
Kisah Roy dan Dunia Skizofrenianya
Tags: gaya hidupkesehatankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha

Next Post

Cerita, Buku dan Komunitas | Pidato Penutupan Tatkala May May May 2023

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Cerita, Buku dan Komunitas | Pidato Penutupan Tatkala May May May 2023

Cerita, Buku dan Komunitas | Pidato Penutupan Tatkala May May May 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co