4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Uang dan Kebutuhan Manusia yang Semu

Krisna Aji by Krisna Aji
September 11, 2021
in Esai
Uang dan Kebutuhan Manusia yang Semu

Foto ilustrasi: Jayen Photography

Banyak orang mengatakan bahwa uang adalah kebutuhan utama. Lebih baik menangis di dalam rumah mewah dari pada di dalam gubuk; tekanan akibat kebosanan akan lebih mudah diatasi saat memiliki uang; fasilitas akibat uang akan mengurangi tekanan yang hadir. Apa lagi? Uang tampaknya memang benar-benar memiliki kekuatan besar dalam memberikan kebahagiaan.

Tapi, benarkah demikian? Untuk menjawab hal tersebut, langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan menelusur asal mula terciptanya dan bagaimana uang–pada akhirnya–memengaruhi kebahagiaan.

Pada buku berjudul “Money” yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, dijelaskan bahwa awalnya manusia memenuhi kebutuhan yang tidak dimilikinya dengan cara bertukar barang atau barter. A yang memiliki gandum dan membutuhkan garam akan bertukar dengan B yang memiliki garam tetapi membutuhkan gandum. Barter–dalam konteks ini–tentu saja adalah tindakan untuk saling menukarkan barang yang memiliki nilai konsumtif yang jelas dan sama jika dilihat dari kebutuhan masing-masing pihak.

Misalkan, gandum dan garam yang dipertukarkan sama-sama dapat dikonsumsi. Atau, gandum dengan sandal yang dipertukarkan juga sama-sama memiliki nilai konsumsi yang jelas. Nilai konsumsi pada kedua barang pada akhirnya disepakati untuk memiliki “harga yang sama” agar patut dipertukarkan–dengan tambahan kondisi di mana kedua belah pihak memang saling membutuhkan barang yang tidak dimiliki: sepasang sandal yang terbuat dari kulit binatang adalah seharga 5 karung gandum pada pembuat sandal yang memerlukan gandum untuk dimakan dan petani gandum yang membutuhkan sandal untuk bercocok tanam.

Saat dipraktikan, cara tersebut menjadi makin rumit saat kebutuhan antara kedua belah pihak tidak sinkron. Contohnya: pada suatu musim panen gandum, seorang pengerajin sandal yang sudah terlalu banyak memiliki gandum berhadapan dengan petani yang ingin menukarkan gandumnya dengan jasa pembuatan sandal. Nah, apakah transaksi dari kedua kubu tersebut akan berhasil?

Pengrajin sandal tentu saja sukar untuk menerima gandum sebagai alat barter karena menumpuk gandum yang berlebihan–sehingga menyimpan gandum dalam jangka waktu yang lama–hanya akan membuat kelebihan gandum rusak dan tidak bisa dikonsumsi. Pengerajin sandal juga tidak dapat menukarkan kelebihan gandum yang dimilikinya ke orang lain di sekitarnya karena orang-orang tersebut juga sudah memiliki gandum yang berlimpah. Di titik ini terdapat masalah yang krusial: ketidakseimbangan antara kebutuhan dan harga tukar.

Sejalan dengan perkembangan zaman, solusi akan kekurangan dari barter mulai disiasati dengan dengan alat tukar yang disepakati bersama. Alat tukar ini–dalam perkembangannya disebut dengan “uang”–dapat menentukan persamaan nilai berbagai barang dengan lebih presisi.

Uang memiliki nilai yang relatif tetap, mudah disimpan, dan terbuat dari bahan yang tahan lama. Agar syarat tersebut berjalan, perlu adanya kesepakatan bersama mengenai nilai tukar uang yang dipakai secara umum–dengan konsekuensi mengesampingkan nilai konsumsi dari uang tersebut.

Koin yang terbuat dari emas atau logam–walaupun tahan lama–jelas saja tidak bisa dikonsumsi langsung seperti gandum atau garam. Koin menjadi berharga sebagai alat tukar karena adanya kesepakatan bersama yang biasanya ditentukan oleh otoritas di masyarakat–itu adalah salah satu alasan dari adanya gambar raja pada koin sebagai jaminan imperium akan alat tukar yang sah.

Di titik ini, nilai uang sudah mulai ditentukan oleh “kesepakatan komunal” walaupun alat tukar tersebut tidak memiliki nilai konsumsi yang nyata. Mulai dari konsep ini pula, pemikiran kritis pada tulisan ini–terkait dengan kebutuhan manusia yang terikat pada uang yang nisbi, imajiner, dan semu–dimulai.

Beranjak dari konsep bahwa kebutuhan manusia–menurut Maslow–berjenjang dari kebutuhan untuk bertahan hidup dan naik perlahan ke hal-hal yang lebih abstrak. Pada fase awal, individu melakukan transaksi untuk bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan sandang-pangan-papan. Setelah fase tersebut terlewati, kebutuhan akan kestabilan masa depan pun dicari dengan menggunakan uang sebagai sarana.

Kepemilikan atas uang adalah jaminan akan masa depan yang bebas dari kekurangan sandang- pangan-papan. Hal yang sama berlaku terhadap tabungan/asuransi yang menjamin untuk hari tua ataupun sakit di kemudian hari: semua untuk memastikan agar masa depan tetap aman. Pemenuhan dua kebutuhan awal yang terpenuhi kemudian beranjak ke kebutuhan untuk mendapatkan kasih sayang.

Pada tahapan ini, sebenarnya uang tidak lagi diperlukan. Walaupun demikian, bisa jadi lingkungan sosial yang “sepakat” bahwa kemampuan untuk membuat orang lain tercukupi dan merasa nyaman–dengan menggunakan uang–adalah salah satu variabel dari “penerimaan dan kasih sayang” dari orang-orang terdekat. Premis tersebutlah–salah satunya–yang mendasari argumentasi bahwa pernikahan perlu siap secara finansial agar keluarga tetap harmoni. Walaupun, hal tersebut tentu saja salah secara logika: kasih sayang tidak berkaitan sama sekali dengan “uang”.

Kebutuhan kemudian beranjak lagi ke konsep yang lebih tinggi: mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari lingkungan. Penghargaan dari lingkungan secara pragmatis dapat dipenuhi–salah satunya–jika seseorang memiliki uang yang banyak. Orang kaya akan menjadi figur yang utopis bagi orang-orang yang tidak pernah memiliki uang berlebih.

Orang kaya dapat membeli tawaran “semu” dari para kapital yang menjual barang-barang yang dapat menunjukan citra mewah dan berkelas walaupun barang tersebut memiliki nilai tukar yang tidak sebanding dengan nilai gunanya. Dan parahnya lagi, ilusi para kapital tersebut disetujui oleh mayoritas masyarakat dan menjadi dogma yang tidak pernah dipertanyakan.

Para kapital tentu saja paham dengan konsep ini tetapi tidak pada mayoritas masyarakat: mereka akhirnya mengontrol pandangan masyarakat dengan menyetir trend sesuai dengan kepentingan industri.

Lalu, apa yang terjadi saat pengakuan dari lingkungan akibat memiliki banyak uang telah didapatkan? Berhentikah di situ? Jelas, pencarian manusia akan lanjut ke tahapan teratas: aktualisasi diri.

Aktualisasi diri dapat terlihat dari para kapital super kaya yang sudah tidak lagi mencari pengakuan. Mereka sudah berada pada tahap melakukan aktualisasi diri dengan cara mengontrol dan menguasai trend atau isu di masyarakat agar sesuai dengan kepentingan mereka. Contoh lain yang lebih kasat mata adalah seseorang yang sudah sangat kaya kemudian terlihat “menghambur – hamburkan” uang untuk masuk ke dunia politik. Berpolitik, tercatat dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa, dan akhirnya: aktualisasi diri didapatkan.

Kesemua tahapan tersebut tampaknya hanya dapat menggunakan uang sebagai kereta utama untuk memenuhi kebutuhan. Tetapi, apakah hanya uang yang dapat dijadikan alat transportasi?

Uang, bisa jadi hanya berpengaruh secara krusial pada tahap pemenuhan kebutuhan dasar dan keamanan akan masa depan. Tahapan setelah itu proses pemenuhan kebutuhan sejatinya bebas dilakukan dengan media apapun. Uang sebagai kebutuhan manusia yang paripurna hanya delusi masal yang diyakini sebagian besar masyarakat. [T]

___

Baca esai dan opini lain dari penulis dr. Krisna Aji, SpKJ.

Tags: filsafatkeuanganuang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Landep: Keyakinan, Pikiran Hingga Mimpi

Next Post

Kekuatan Spiritual Doa dan Puasa Dari Sisi Neurosains

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Spiritual Doa dan Puasa Dari Sisi Neurosains

Kekuatan Spiritual Doa dan Puasa Dari Sisi Neurosains

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co