24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Landep: Keyakinan, Pikiran Hingga Mimpi

Putu Wisnu Nugraha Harta by Putu Wisnu Nugraha Harta
September 12, 2021
in Esai
Tumpek Landep: Keyakinan, Pikiran Hingga Mimpi

Foto ilustrasi tatkala.co | Model: Sattvika Pramesti | Jayen Photography [WA: 0815-5800-7393]

Ibarat sepasang suami istri, yang pekerjaannya sebagai petani, usia mereka sudah lanjut, yang suatu ketika, sejak awal membuat sebuah keputusan dengan didasari keyakinan hidup beserta latar belakang yang mereka pegang teguh, direfleksikan dan disepakati bersama dengan beberapa orang yang memiliki pendidikan tinggi (formal). 

Kemudian berselang waktu,  beberapa tahun, setelah keputusan itu mereka buat dan sepakati bersama, kemudian berusaha diubah lagi dengan bujuk rayu, dalam situasi yang tidak terduga dengan segala argumen pembenaran oleh beberapa orang yang sejak awal diajak membuat sebuah keputusan tersebut, yakni seorang ahli hukum (mengetahui aturan dasar hidup formal), seorang ahli kesehatan (mengetahui dasar tentang tubuh sehat dan sakit), seorang ahli bahasa (mengetahui dasar untuk bertutur kata secara formal) dan seorang ahli sastra (mengetahui dasar arti kata-kata). 

Bagaimana respon pasangan petani itu, yang sebenarnya sudah beristirahat dari pekerjaannya sebagai petani karena sudah berusia lanjut?  Bisa kita bayangkan apa yang dipikirkan pasangan suami istri saat itu? 

Namun walau dengan segala keterbatasan pengetahuan formal yang dimilikinya, bisa dikatakan hanya sampai tamat pendidikan dasar, sangat jauh tingkat pendidikan formalnya dengan beberapa orang ahli dibidangnya yang diajak berargumen, walau tanpa ada pihak yang menengahi dalam situasi itu dan apalagi sedikit membela mereka, dengan usia keduanya yang sudah lanjut, yang tentunya rentan dengan kondisi kesehatannya, pasangan suami istri yang dulunya bekerja sebagai petani itupun menjawab dan tetap teguh memegang keyakinan dan prinsip hidupnya walaupun berusaha diberikan berbagai penjelasan yang tentunya cenderung subyektif mengarahkan, yang didasari tujuan dan kepentingan, dengan kelihaian masing-masing yang memiliki pengetahuan pendidikan tinggi tingkat formal, hingga dengan berbagai balutan kata dan bahasa. 

Sejatinya, saat ahli hukum itu berbicara, dia telah melanggar aturan dasar atas kesepakatan yang sudah lama dibuat bersama sejak dulu, dan ahli bahasa menggunakan bahasa untuk sebagai pembenaran dengan berbalut kebaikan dipermukaan, kemudian ahli kesehatan bahkan tidak melihat dan berusaha mengerti kondisi kesehatan pasangan petani itu yang sudah usia lanjut itu, di saat itu terjadi, ahli sastra pun diam tanpa kata satupun, yang sebenarnya dia adalah ahli tentang arti kata. 

Mereka dengan sangat sadar dan sengaja telah mengorbankan  pengetahuannya sebagai “selimut tebal” dibalik representasi dunia materi yang sejatinya mendominasi pikiran orang-orang berpendidikan tersebut.

Dari ilustrasi di atas ini, jika sepintas dipikirkan mungkin akan terkesan sederhana, namun kalau direnungkan secara mendalam, maka sejatinya pengetahuan diharapkan untuk membuat kita bisa merasa terenyuh, berempati mengerti dan dapat memahami hakikat penghormatan atas keberadaan pengetahuan dalam pikiran itu sendiri melalui pengalaman hingga pemahaman diri sendiri atas hidup orang lain atau tentang sesuatu hal. 

Seringkali, hal itu terjadi dalam dunia sekarang. Bak cerita dalam sinetron hingga mungkin drama korea, memang cara berfikir orang berpendidikan formal tinggi pun, seringkali jika didalami, memang “terbalik”, yang jika direnungkan bahwa pengetahuan terkadang membuat jebakan tersendiri dalam pikiran seseorang hingga pada sebuah pemikiran. 

Sudah banyak kita saksikan yang tersaji di media massa hingga elektronik saat ini. 

Pun sebaliknya, ada kemurnian yang tersirat dari domain area cara berpikir, dari pasangan petani dalam ilustrasi di atas, yang walau cenderung dianggap tidak berpengetahuan di pendidikan tinggi tingkat formal, bahkan diasumsikan nihil (sejatinya murni) bagi mereka, justru pasangan petani tersebut dalam merefleksikan pikirannya telah didasari  keyakinan dan prinsip hidup yang mulia, mereka juga tetap menghargai dan menghormati  komitmen sebuah keputusan yang sejak awal disepakati bersama, sejatinya tersirat kemuliaan dalam pikiran pasangan petani tersebut, dimana dengan pengetahuan yang dimiliki sangat penting diselaraskan dengan kesungguhan hati nurani dalam menghadapi segala kenyataan hidup, sebagai sebuah ketulusan dan kemuliaan hati sesungguhnya.

Artinya, pengetahuan yang belum utuh dipahami dalam pendidikan formal secara nyata dalam kenyataannya telah merubah prinsip dasar hidup dan sekaligus menggoyahkan keyakinan dalam pikiran, akibat adanya kompleksitas arsir dominan dunia kepentingan, hingga menyelimuti dan membayangi pilihan kata-kata dan bahasa sebagai penghantar pengetahuan untuk pembenaran menuju pemenuhan kepentingan yang diharapkan. 

Keyakinan berbanding lurus dengan prinsip dalam berfikir. Keyakinan intisari pikiran dalam sukma, keyakinan terefleksi dalam sebuah prinsip, yang eksplesit dapat disaksikan. Kekokohan prinsip tentunya didasari keyakinan dalam pikiran itu sendiri. 

Ketajaman pikiran cenderung dan seringkali dikhianati oleh pengetahuan yang belum seutuhnya digunakan dalam hati, dalam hal ini pendidikan yang diraih dengan runutan antiklimaks, non alamiah, pun di tingkat tinggi formal, yang kemudian secara sadar seperti digunakan sebagai “alat” menggiring keyakinan dan prinsip orang/pihak lain yang sudah baku, aturan yang disepakati sebelumnya, kemudian berusaha dengan berbagai cara sengaja dan sadar merubah hingga melanggar, yang merupakan bagian dan hakikat dasar atas pengetahuan itu sendiri, hanya demi untuk menggapai kepentingan pribadi sesaat dan sesat dalam pikirannya.

Apakah pengetahuan atau pikiran yang “terbatas” ? 

Pastinya tidak, pengetahuan, ibarat kandungan, elemen, zat atau gelombang yang terhampar melimpah dalam semesta, dan pengetahuan yang ada di dalam pikiran , bagian yang melimpah ada dalam organ otak. 

Seberapa tajam dan tekun pikiran kita mengurai tanda dan gejala kehidupan di sekitar kita untuk mengasah pikiran itu sendiri yang kian mengalir diselimuti berbagai macam pemikiran ?

Pengetahuan yang coba diurai satu demi satu dari hamparan tidak terbatas dalam semesta, laksana kandungan elemen alam seperti terpancar seperti gelombang energi, berproses dengan sendiri di dalam setiap pikiran dalam otak, jamak bertebaran melengkapi dan tarik menarik diantara berjuta gelombang pengetahuan yang bertebaran, berdialektika antar pikiran melalui pemikiran, hingga berrefleksi multitafsir antar tekstual melalui teks, yang salah satunya pada sebuah pertarungan ego dan konflik hingga sampai pada area dunia materi di permukaan.

Walau ada yang kemudian sampai  pada kesadaran pikiran, penyadaran diri melalui pengetahuan itu sendiri yang membawa pikiran ke arah paripurna tentang hakikat alam, dan juga ada yang terus hanyut hingga tenggelam dengan ketidaksadaran dengan pembenaran dan kepentingan sesaat membebaninya, yang terbungkus pengetahuan tanpa pengalaman hidup yang alami, walau dalam kehidupan nyata sudah dianggap berpengetahuan pada tingkat pendidikan yang tinggi, ahli hingga profesor.

Andai kita renungkan kembali, bahwa kearifan budaya leluhur adalah alhasil dari sebuah pemikiran, pikiran yang “tajam, kukuh, kokoh dan mulia”.  Walau pengetahuan yang digapai tanpa melalui pendidikan formal sekalipun, namun pengetahuan dari hasil memahami tanda-tanda, gejala hingga dampak dalam alam semesta, terbukti telah banyak menghasilkan mahakarya pemikiran adi luhung pada jamannya, bahkan dijadikan sebagai tonggak pembabakan waktu, yang dikenang dan terkenang serta bermanfaat baik hingga hari ini dan untuk masa depan. 

Sejatinya pemikiran mewariskan berbagai hikmah kearifan budaya bagi pendukung dalam setiap kebudayaan suatu wilayah.

Ketajaman pikiran koneksitas kekuatan alam semesta 

Kembali pada ilustrasi pasangan suami istri petani di atas, bisa direnungkan kembali sebagai bahan refleksi. 

Bagaimana seringkali pengetahuan digunakan sebagai jalan pintas untuk mencapai tujuan yang diharapkan dengan instan tanpa ingin melalui proses secara alami. 

Sesungguhnya, secara jelas dalam konsep alam, secara logis, ketika memilih “jalan pintas”, saat itu pula telah dengan sengaja dan secara sadar telah meninggalkan alur area arsir kehidupan yang semestinya kita lalui. Disisi lain, telah mengambil atau memotong alur hidup orang lain. 

Hingga akhirnya alur area arsir, yang sengaja ditingggalkan itu,  yang merupakan bagian alur hidup sesungguhnya, akan tetap kembali hadir dan  menunggu di depan dengan berbagai macam bentuk dan ragam alur area arsir kehidupan, dan cenderung lebih tidak diharapkan sebagai sebuah akumulasi destruktif jalan pintas itu sendiri. 

Ketajaman dan kekuatan pikiran, sejatinya pikiran kita sendirilah yang mengasah dan memeliharanya dengan pengetahuan yang alamiah, yang utama.

Ketajaman pikiran dapat terefleksi pada sebuah wujud benda, dunia materi, hingga juga pada sebuah “mimpi” melaui keyakinan.

Semua berawal dari mimpi yang disertai keyakinan, keikhlasan, usaha dan ketekunan. Ketajaman pikiran dasar pencapaian sebuah mimpi dalam hidup.  Pembuktian kemurnian dan ketulusan keyakinan hidup kita adalah kehidupan generasi kita di masa depan.

Selamat merayakan Rahina Tumpek Landep. [T]

Tags: balihinduilmuPendidikanpikirantumpek landep
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

Next Post

Uang dan Kebutuhan Manusia yang Semu

Putu Wisnu Nugraha Harta

Putu Wisnu Nugraha Harta

Mahasiswa Jurusan Antropologi FS-UNUD (1998-2003) Ketua Senat Fakultas Sastra UNUD (2000-2001) Divisi Sekretariat Mahasiswa Bali (Skema-B 1998-2003) Deputi Program Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali (2000-2001) Field Coordinator Centre For Electoral Reform (Cetro) Bali (2002) Analis dan Manager di beberapa Perusahaan Swasta (2003-2008) Abdi Negara di Pemerintah Provinsi Bali (2009-sekarang)

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Uang dan Kebutuhan Manusia yang Semu

Uang dan Kebutuhan Manusia yang Semu

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co