13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
September 8, 2021
in Khas
Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

Hiruk pikuk di pelataran di Taman Dompu, Rumah Intaran, Desa Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali, Sabtu, 4 September 2021. Orang-orang bercengkrama satu sama lain sembari menunggu kedatangan seniman-seniman yang saat itu akan tampil dalam acara kolaborasi peragaan busana seni dengan tema “Tutur Bumi” antara Tjok Istri Ratna, Rumah Intaran  dan Seniman Buleleng mulai Dek Geh, Jro Dalang Sembroli dan Kadek Sonia Piscayanti.

Hari itu untuk kali kedua saya melihat pertunjukan yang disutradai oleh Tjok Istri Ratna, dua tahun sebelumnya dia pernah melaksanakan kegiatan serupa di Taman Dompu. Hanya saja yang membuat sedikit berbeda adalah, pertunjukan kali ini saya bersama teman-teman yang lain ikut berpartisipasi secara langsung, dengan memerankan diri sebagai tukang petik kelapa, sementara yang lainnya mendapatkan peran seperti pencari kayu bakar, pembawa kungkungan, penjual tempe bungkus daun dan lain sebagainya, sama sekali pementasan ini tidak didahului dengan persiapan, semua yang terlibat hanya perlu mendengarkan kata pengantar dari sutradara. Sementara property yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami yang identik dengan Rumah Intaran seperti alat tenun, pewarna alami, tas anyaman hingga kungkungan.

Putu Yudi, seorang filmmaker juga terlibat dalam acara ini. Dia dibantu oleh beberapa fotografer seperti Komang Jayen telihat sangat sibuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk merekam setiap adegan yang akan ditampilkan. Suasana sangat cerah, jadi diperlukan peralatan tambahan seperti V-Light untuk bisa mengatur pencahayaan di sekitar tempat pengambilan video.

Nampak saat itu Tjok Istri Ratna sedang membuka sebuah album tebal yang berisi lembaran-lembaran lusuh seputaran hasil penelitan yang dia lakukan untuk menemukenali kembali pengetahuan di balik keberadaan Wastra Bebali. “Tutur Bumi” sendiri merupakan pilihan kata yang mewakili mantra terdalam setiap entitas bernama “manusia” tentang kehadirannya dalam lintasan semesta, karya ini sendiri sudah dibuatnya sekitar dua tahun yang lalu.

Ada hal yang menarik tersirat dari untaian kata yang dilontarkan oleh Tjok Istri Ratna ketika menyampaikan kata pengantarnya di bawah pohon intaran, “Dan kenapa Krisna, dan kenapa Dompu, dan kenapa Rumah Intaran, wastra-wastra inilah yang memilihnya”. Suasana menjadi hening, seolah semua yang nampak hadir mengamini dan mempercayai bahwa energi dari wastra-wastra kuno ini yang telah memilih Rumah Intaran sebagai tempat diselenggarakannya acara ini.

Wastra Bebali adalah produk pemikiran tua yang tersurat dalam setiap tahapan upacara yang kini telah mengalami fase reflektifitas, pembacaan ulang praktik sosial secara terus menerus, diuji dan diubah berdasarkan informasi yang masuk, pencapaian efisiensi. Eksistensi wastra bebali nyaris hilang tanpa jejak, digerus oleh modernitas. Hanya saja sosok Tjok Istri Ratna memiliki keyakinan, keteguhan untuk senantiasa merajut pesan-pesan terdalam yang tertuang dalam beranekragam bahan dan motif di balik lembaran-lembaran wastra-wastra kuno yang dia temukan di balik rumah-rumah tetua, sulinggih yang tersimpan sejak ratusan tahun yang lalu.

Terdapat enam bagian dalam karya Tutur Bumi yang merupakan siklus kehidupan, pertama adalah jana yang mengambil saripati proses upacara tiga bulanan umat hindu di Bali, yang menjadi momentum pertama kalinya sosok manusia mulai bisa menangkap rasa melalui panca indra yang melekat dalam tubuhunya. Karya keduanya adalah atarwa, yang merupakan mantra penolak bala. Karya ketiga rawikara berarti berkah sinar matahari, keagungan raja dan ratu, menembus pikiran, sensorik panca indra. Karya keempatnya adalah santika, santika adalah karya mantra atau energi kekuatan spiritual perisai diri, banteng pemikiran. Karya kelima taraka yang berarti bintang bermata bintang, bintang di kejauhan dan ketajaman yang menembus pikiran dalam bentuk aneka rase bintang dan yang terakhir adalah jarih yang berarti bumi, dimana fase kebekuaan pikiran berhenti tanpa daya menghentikan pikiran daya.

Selanjutnya Tjok Istri Ratna mempersilahkan para peserta untuk melihat beberapa koleksi wastra-wastra kuno yang dibuat seratus hingga dua ratus tahun tahun yang lalu. Kaki kami melangkah menuju Pengalaman Rasa, ruangan yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu-tamu yang berkunjung ke Rumah Intaran. Disana saya melihat, jejeran kain tua yang sudah dipersiapkan oleh Tjok Istri Ratna untuk nantinya akan dikenakan oleh para peserta yang akan ikut ambil bagian dalam acara peragaan busana “Tutur Bumi”.

Karena didorong oleh rasa penasaran, saya memegang satu diantara kain-kain yang ada, memang terasa tekstur kain agak kaku, kurang lentur. Tjok Istri Ratna menyampaikan jika itulah ciri dari wastra tradisonal, bahan wastra umumnya terbuat dari kapas Bali. Kerapatan dalam setiap helai wastra dipengaruhi oleh teknik-teknik penyisiran benang yang dilakukan saat proses penenunan, semakin halus sisiran, semakin rapat tesktur kain yang dihasilkan.

Satu diantara wastra yang diperkenalkan oleh Tjok Istri Ratna adalah kain milik koleksi keluarga Putu, salah satu staf Rumah Intaran yang berasal dari Julah. Konsep geometris lekat dengan desain-desain tua yang ada dalam wastra tradisonal itu, hal itu nampaknya menyiratkan pemaknaan spiritual akan hubungan proses penciptaan, hubungan antara manusia dan tuhan. Wastra tradisonal khas Julah ini digunakan sebagai sarana upakara dalam upacara pernikahan.

Hal yang mencengangkan yang mesti harus disadari dalam penemuan informasi yang didapatkan oleh Tjok Istri Ratna adalah, bahwa selama ini sangat jarang sekali masyarakat yang mengetahui makna philosofi yang tersirat di balik karya-karya wastra tradisonal. Ada keterputusan informasi, karena mereka para pengrajin jaman dahulu hanya sibuk dalam urusan penenunan, sementara informasi tentang motif desain dan juga kegunaannya tersimpan di griya atau kaum brahmana yang memesan kain tersebut.

Waktu berlalu begitu saja, jam menunjukan pukul 14.30. Panitia meminta para peserta untuk menikmati makan siang yang sudah dipersiapkan, menunya sangat special, tidak lain adalah nasi jinggo ayam kampung. Kami menikmati makan siang sembari menunggu giliran untuk menggunakan wastra kuno yang akan digunakan.

Terlihat satu persatu peserta keluar dari kamar ganti, suasana berubah menjadi semakin klasik, lebih-lebih arsitektur areal Rumah Intaran yang sangat cocok sekali dengan motif yang kami gunakan kala itu, terlihat sangat old style. Seakan berada di dimensi waktu berbeda, menjadi pribadi yang berbeda dengan balutan kain wastra tua yang membungkus tubuh.

Setelah selesai, kami berkumpul di Taman Dompu. Taman ini sangat indah dengan dekorasi batu-batu alam yang tersusun rapi, mengelilingi areal pertunjukan yang kerap digunakan untuk menggelar pertunjukan-pertunjukan seni di Rumah Intaran. Sang sutradara, Tjok Istri Ratna memberikan arahan tentang alur pertunjukan, bagaimana setiap orang yang terlibat melakonkan peran mereka. Tidak ada persiapan, semua spontanitas.

Tukang petik kelapa, itulah peran yang saya dapatkan. Kala itu, saya membawa empat buah kelapa yang saya pinggul dengan menggunakan sebatang pelepah daun kelapa. Terasa aneh, tapi saya benar-benar berusaha menikmati peran yang diberikan, tidak ada gerakan khusus, semua itu mengikuti alur alami laku keseharian saja.

Berduyun-duyun dengan jarak yang diatur agar tidak berkerumun, kami masuk melalui pintu masuk sebelah timur untuk berjalan perlahan melintasi jembatan Taman Dompu, saat itu saya berada di urutan kedua, di depan saya nampak seorang perempuan muda yang memegang dan mengibaskan beberapa helai daun intaran sebagai penanda dimulainya pertunjukan.

Semua peserta mencari tempat duduknya masing-masing, kemudian Tjok Istri Ratna memutar lagu yang dibawakan oleh Sujiwo Tedjo sebagai lagu pembuka yang mengatarkan para model busana utama memasuki areal pertunjukan ditemani oleh gerakan-gerakan eksotis dan menawan dari sosok seniman muda Dek Geh yang meliuk-liuk di atas jembatan Taman Dompu.

Semua seniman yang terlibat nampaknya sudah sangat menjiwai acara ini, tanpa pembekalan yang banyak mereka menampilkan karya-karya mereka, seperti Jro Dalang Sembroli yang memainkan cerita kelahiran tokoh Tualen dan Merdah yang terlahir ke dunia ini. Merdah bertanya kepada Tualen, “Siapa kita??, Mau kemana kita???, Kemana jalan kita pulang??” disertai dengan nynanyian satu bait pupuh Sucita-Subudi : “Sujatinya ada nyamar, nyilib tan tangehang gumi, ento ane manguripang, sarwa ne ade di hati, nanging keweh mamedasin, wireh sepi suwung samun, tanpa rawat tanpa matra, lesing kangkong, kadi gni jroning sela”.

Sementara Kadek Sonia Piscayanti membacakan puisi yang dia buat langsung saat itu, puisi ini terkait tentang makna manusia hidup di dunia, memberi makna ada menuju tiada dan kita hidup hanya sementara.

Gede Krena pemilik Rumah Intaran menyampaikan rasa terima kasih kepada Tjok Istri Ratna, yang telah memberikan kehormatan kepada Rumah Intaran untuk menjadi tuan rumah pagelaran wastra kuno bebali yang sudah berusia ratusan tahun, di Taman Dompu, Rumah Intaran. Dia berharap, pegelaran wastra kuno bebali serupa bisa dilaksanakan di Bali Utara kedepannya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Bintang Lara Mem-vandal Tembok Puri

Next Post

Tumpek Landep: Keyakinan, Pikiran Hingga Mimpi

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep: Keyakinan, Pikiran Hingga Mimpi

Tumpek Landep: Keyakinan, Pikiran Hingga Mimpi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co