14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Bintang Lara Mem-vandal Tembok Puri

I Putu Supartika by I Putu Supartika
September 8, 2021
in Esai
I Bintang Lara Mem-vandal Tembok Puri

Foto ilustrasi: Ole

I Bintang Lara adalah sosok yang pemberani dan jantan. Ia berani mem-vandal alias mencorat-coret tembok puri miliki Ida Anak Agung sekaligus mengakui perbuatannya sendiri di depan Ida Anak Agung tanpa takut dihukum. Tapi sayang ini bukan kisah nyata, hanya sebuah satua Bali atau dongeng. Seandainya ini kisah nyata dan terjadi hari ini, tentu I Bintang Lara akan menjadi sosok yang viral di media sosial.

Sosok I Bintang Lara merupakan tokoh dalam satua Bali yang berjudul sama dengan nama tokohnya. Satua ini bisa dibaca dalam buku Kembang Rampe Kasusatraan Bali Purwa yang dihimpun I Gusti Ngurah Bagus bersama I Ketut Ginarsa dan diterbitkan Balai Bahasa Provinsi Bali tahun 2013.

Dikisahkan jika I Bintang Lara merupakan anak dari Men Bekung yang lahir dengan cara yang tidak masuk akal. Konon, Men Bekung bersama Pan Bekung pergi ke tengah hutan untuk mencari kayu bakar. Karena rasa hausnya yang tak tertahankan, Men Bekung mencari air dan menemukan batok kelapa yang berisi air hujan. Tanpa pikir panjang, air itu pun diminum.

Tiba-tiba saja, setelah meminum air itu, secara ajaib Men Bekung menjadi hamil. Entah bagaimana caranya air di batok kelapa bisa membuat seorang perempuan yang selama ini tak bisa hamil tiba-tiba hamil. Jikapun di air itu tercampur sperma manusia, burung, atau hewan hutan, tentu secara ilmu reproduksi kejadian sangat sulit untuk dijelaskan. Dan dari perut Men Bekung lahirlah seorang anak yang diberi nama I Bintang Lara.

Setelah remaja, dikisahkan I Bintang Lara berjalan-jalan di luar tembok puri, dan kebetulan sudah sejak lama permaisuri dari Ida Anak Agung sakit keras tanpa ada yang bisa mengobatinya. Entah karena iseng, atau karena mendapat pawisik dari Ida Sang Hyang Suwung, I Bintang Lara mencoret tembok puri itu. Isi coretan itu seperti ini: sajawining gagak petak ané anggona nambanin rabin Ida Anaké Agung tusing ja lakar kénak, yén gagak petak anggona nambanin janten kénak! Kurang lebih tulisan itu memiliki arti: selain gagak putih yang digunakan untuk mengobati permaisuri Ida Anak Agung tidak akan sembuh, jika gagak putih yang digunakan untuk mengobati pasti sembuh!

Tentu saja ulah I Bintang Lara membuat Ida Anak Agung berang dan meminta kepada parekan-nya untuk membawanya menghadap ke istana. Dengan jantan, I Bintang Lara datang ke istana meskipun dirinya merasa tak memiliki kesalahan kepada Ida Anak Agung. Dan bahkan saat diinterogasi, ia mengaku bahwa dirinyalah yang membuat tulisan di tembok puri tanpa sebuah alibi untuk mencari pembenaran.

Ida Anak Agung pun memberi hukuman pada I Bintang Lara, dimana ia diminta mencari burung gagak putih yang dimaksud. Jika ia tak berhasil mendapat gagak putih yang konon bisa menyembuhkan permaisuri itu maka ia akan dibunuh. Sebuah tugas yang sangat berat karena selama ini kita tahu bahwa yang namanya gagak umumnya berwarna hitam dan jikapun ada itu adalah gagak albino yang sulit ditemukan.

Tentu saja bukan satua Bali namanya jika I Bintang Lara gagal dalam menjalankan tugas dan nyawanya berakhir di ujung pedang Ida Anak Agung. Karena sesuai cerita, pada akhirnya ia berhasil mendapatkan gagak putih itu dan bahkan ia diangkat menjadi raja setelah Ida Anak Agung mangkat.

Hari ini, mungkin apa yang dilakukan oleh I Bintang Lara oleh beberapa orang dianggap sebagai mural, grafiti atau yang lainnya. Namun ada juga yang akan memberi cap sebagai aksi vandalisme. Apalagi sampai berani mencorat-coret tembok puri atau istana kerajaan. Dan seandainya I Bintang Lara hidup hari ini, bisa saja ia tidak mencoret tembok puri lagi, bisa saja ia mencoret tembok Kantor Desa/Lurah, Kantor Camat, Kantor Bupati atau bahkan Kantor Gubernur dan sangat mustahil bisa mencoret tembok Istana Presiden.

Dan dengan adanya CCTV di sana sini, aksinya pasti akan mudah dilacak, apalagi dalam cerita dikisahkan dengan polosnya ia mencoret tembok puri tanpa menggunakan cadar, atau melakukannya saat dini hari ketika penghuni puri terlelap, melainkan saat siang hari dan dilihat oleh parekan Ida Anak Agung. Mungkin saja I Bintang Lara akan viral di media sosial berkat rekaman CCTV itu yang kemudian disambut dengan berbagai macam komentar yang pro maupun kontra. Atau mungkin dari aksinya itu kemudian akan lahir sebuah perlombaan membuat grafiti atau mural di tembok kantor pemerintah.

Karena mudahnya menemukan wajah I Bintang Lara lewat rekaman CCTV itu, setidaknya ia akan didatangi oleh aparat lalu digelandang ke kantor dan diminta berdiri di depan logo kantor itu, dan dengan latar belakang logo kantor, di depan kamera ia diminta membuat sebuah klarifikasi disertai permintaan maaf dan juga rasa penyesalan dengan wajah tak bersemangat, sedikit menunduk, kedua tangan berada di perut sambil memainkan ibu jari atau kuku, serta meminta orang lain tak menirukan aksinya. Atau bisa juga I Bintang Lara diseret ke pengadilan dan dikenai sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) dengan dasar Perda Ketertiban Umum dan setidaknya ia tidak diberikan hukuman berupa tugas berat yang disertai ancaman akan dihukum mati jika gagal menunaikan tugas itu.

Sayangnya I Bintang Lara tak hidup pada jaman dulu maupun jaman sekarang, karena ia hanya hidup di negeri dongeng tanpa sekat jaman. Sehingga ia tak merasakan bagaimana rasanya menjadi viral di media sosial, atau merasa degdegan di depan hakim menunggu putusan denda saat sidang Tipiring.

Atau mungkin saja tanpa kita sadari, I Bintang Lara sudah lahir ke dunia dan menjadi inisiator grafiti yang viral belakangan ini. Pastinya tak ada yang tahu jika dini hari, saat orang-orang tengah menggulung tubuhnya dengan selimut, I Bintang Lara mendatangi tembok kosong di pinggir jalan dan menulis: Tuhan Aku Lapar atau Wabah Sebenarnya Adalah Kelaparan. [T]

Catatan: Bagi yang ingin membaca cerita utuh I Bintang Lara, bisa dibaca di Majalah Suara Saking Bali edisi 59 yang akan terbit pertengahan September 2021 ini.

Tags: baliCerpenPendidikansastraSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kapankah Wabah Covid-19 Akan Berakhir?

Next Post

Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co