3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Bintang Lara Mem-vandal Tembok Puri

I Putu Supartika by I Putu Supartika
September 8, 2021
in Esai
I Bintang Lara Mem-vandal Tembok Puri

Foto ilustrasi: Ole

I Bintang Lara adalah sosok yang pemberani dan jantan. Ia berani mem-vandal alias mencorat-coret tembok puri miliki Ida Anak Agung sekaligus mengakui perbuatannya sendiri di depan Ida Anak Agung tanpa takut dihukum. Tapi sayang ini bukan kisah nyata, hanya sebuah satua Bali atau dongeng. Seandainya ini kisah nyata dan terjadi hari ini, tentu I Bintang Lara akan menjadi sosok yang viral di media sosial.

Sosok I Bintang Lara merupakan tokoh dalam satua Bali yang berjudul sama dengan nama tokohnya. Satua ini bisa dibaca dalam buku Kembang Rampe Kasusatraan Bali Purwa yang dihimpun I Gusti Ngurah Bagus bersama I Ketut Ginarsa dan diterbitkan Balai Bahasa Provinsi Bali tahun 2013.

Dikisahkan jika I Bintang Lara merupakan anak dari Men Bekung yang lahir dengan cara yang tidak masuk akal. Konon, Men Bekung bersama Pan Bekung pergi ke tengah hutan untuk mencari kayu bakar. Karena rasa hausnya yang tak tertahankan, Men Bekung mencari air dan menemukan batok kelapa yang berisi air hujan. Tanpa pikir panjang, air itu pun diminum.

Tiba-tiba saja, setelah meminum air itu, secara ajaib Men Bekung menjadi hamil. Entah bagaimana caranya air di batok kelapa bisa membuat seorang perempuan yang selama ini tak bisa hamil tiba-tiba hamil. Jikapun di air itu tercampur sperma manusia, burung, atau hewan hutan, tentu secara ilmu reproduksi kejadian sangat sulit untuk dijelaskan. Dan dari perut Men Bekung lahirlah seorang anak yang diberi nama I Bintang Lara.

Setelah remaja, dikisahkan I Bintang Lara berjalan-jalan di luar tembok puri, dan kebetulan sudah sejak lama permaisuri dari Ida Anak Agung sakit keras tanpa ada yang bisa mengobatinya. Entah karena iseng, atau karena mendapat pawisik dari Ida Sang Hyang Suwung, I Bintang Lara mencoret tembok puri itu. Isi coretan itu seperti ini: sajawining gagak petak ané anggona nambanin rabin Ida Anaké Agung tusing ja lakar kénak, yén gagak petak anggona nambanin janten kénak! Kurang lebih tulisan itu memiliki arti: selain gagak putih yang digunakan untuk mengobati permaisuri Ida Anak Agung tidak akan sembuh, jika gagak putih yang digunakan untuk mengobati pasti sembuh!

Tentu saja ulah I Bintang Lara membuat Ida Anak Agung berang dan meminta kepada parekan-nya untuk membawanya menghadap ke istana. Dengan jantan, I Bintang Lara datang ke istana meskipun dirinya merasa tak memiliki kesalahan kepada Ida Anak Agung. Dan bahkan saat diinterogasi, ia mengaku bahwa dirinyalah yang membuat tulisan di tembok puri tanpa sebuah alibi untuk mencari pembenaran.

Ida Anak Agung pun memberi hukuman pada I Bintang Lara, dimana ia diminta mencari burung gagak putih yang dimaksud. Jika ia tak berhasil mendapat gagak putih yang konon bisa menyembuhkan permaisuri itu maka ia akan dibunuh. Sebuah tugas yang sangat berat karena selama ini kita tahu bahwa yang namanya gagak umumnya berwarna hitam dan jikapun ada itu adalah gagak albino yang sulit ditemukan.

Tentu saja bukan satua Bali namanya jika I Bintang Lara gagal dalam menjalankan tugas dan nyawanya berakhir di ujung pedang Ida Anak Agung. Karena sesuai cerita, pada akhirnya ia berhasil mendapatkan gagak putih itu dan bahkan ia diangkat menjadi raja setelah Ida Anak Agung mangkat.

Hari ini, mungkin apa yang dilakukan oleh I Bintang Lara oleh beberapa orang dianggap sebagai mural, grafiti atau yang lainnya. Namun ada juga yang akan memberi cap sebagai aksi vandalisme. Apalagi sampai berani mencorat-coret tembok puri atau istana kerajaan. Dan seandainya I Bintang Lara hidup hari ini, bisa saja ia tidak mencoret tembok puri lagi, bisa saja ia mencoret tembok Kantor Desa/Lurah, Kantor Camat, Kantor Bupati atau bahkan Kantor Gubernur dan sangat mustahil bisa mencoret tembok Istana Presiden.

Dan dengan adanya CCTV di sana sini, aksinya pasti akan mudah dilacak, apalagi dalam cerita dikisahkan dengan polosnya ia mencoret tembok puri tanpa menggunakan cadar, atau melakukannya saat dini hari ketika penghuni puri terlelap, melainkan saat siang hari dan dilihat oleh parekan Ida Anak Agung. Mungkin saja I Bintang Lara akan viral di media sosial berkat rekaman CCTV itu yang kemudian disambut dengan berbagai macam komentar yang pro maupun kontra. Atau mungkin dari aksinya itu kemudian akan lahir sebuah perlombaan membuat grafiti atau mural di tembok kantor pemerintah.

Karena mudahnya menemukan wajah I Bintang Lara lewat rekaman CCTV itu, setidaknya ia akan didatangi oleh aparat lalu digelandang ke kantor dan diminta berdiri di depan logo kantor itu, dan dengan latar belakang logo kantor, di depan kamera ia diminta membuat sebuah klarifikasi disertai permintaan maaf dan juga rasa penyesalan dengan wajah tak bersemangat, sedikit menunduk, kedua tangan berada di perut sambil memainkan ibu jari atau kuku, serta meminta orang lain tak menirukan aksinya. Atau bisa juga I Bintang Lara diseret ke pengadilan dan dikenai sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) dengan dasar Perda Ketertiban Umum dan setidaknya ia tidak diberikan hukuman berupa tugas berat yang disertai ancaman akan dihukum mati jika gagal menunaikan tugas itu.

Sayangnya I Bintang Lara tak hidup pada jaman dulu maupun jaman sekarang, karena ia hanya hidup di negeri dongeng tanpa sekat jaman. Sehingga ia tak merasakan bagaimana rasanya menjadi viral di media sosial, atau merasa degdegan di depan hakim menunggu putusan denda saat sidang Tipiring.

Atau mungkin saja tanpa kita sadari, I Bintang Lara sudah lahir ke dunia dan menjadi inisiator grafiti yang viral belakangan ini. Pastinya tak ada yang tahu jika dini hari, saat orang-orang tengah menggulung tubuhnya dengan selimut, I Bintang Lara mendatangi tembok kosong di pinggir jalan dan menulis: Tuhan Aku Lapar atau Wabah Sebenarnya Adalah Kelaparan. [T]

Catatan: Bagi yang ingin membaca cerita utuh I Bintang Lara, bisa dibaca di Majalah Suara Saking Bali edisi 59 yang akan terbit pertengahan September 2021 ini.

Tags: baliCerpenPendidikansastraSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kapankah Wabah Covid-19 Akan Berakhir?

Next Post

Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

Tutur Bumi di Rumah Intaran | Seni, Wastra, dan Siklus Kehidupan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co