24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapankah Wabah Covid-19 Akan Berakhir?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 8, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Saya yakin, ini pertanyaan dalam pikiran setiap orang saat ini. Atau mungkin lebih tepatnya harapan, bukan pertanyaan. Memang acap kali kita menyamarkan maksud untuk menjaga sikap kita agar tetap terlihat tenang, netral atau tabah. Segala harapan telah menempatkan diri kita pada sudut yang lemah dan segenap kekecewaan siap menumpahi hati, pikiran bahkan jiwa kita. Maka, ketimbang harapan, pertanyaan membuat pikiran kita tampak lebih ilmiah dan hati kita lebih kokoh.

Disadari atau tidak, penyamaran-penyamaran seperti ini sering menyelamatkan. Hal yang lumrah dipraktekkan para agen rahasia. Yang muncul sebagai wujud sosok-sosok yang tenang, adaptatif dan selalu optimis. Bahkan di saat nyawanya terancam. Mereka terlatih untuk berkamuflase, tersembunyi dari jati diri dan perasaan aslinya, sebuah bentuk lain dari “mutasi”. Lalu mereka selamat dan bertahan. Dan hal ini menyadarkan kita, persis, virus corona strain SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, lestari karena rangkaian mutasi yang terus dilakukannya sampai hari ini.

Mutasi telah mengganggu teori mengenai wabah akan usai ketika minimal 70% populasi kebal. Sebetulnya teori herd immunity ini sangat logis dan realistis. Dengan terbentuknya kekebalan pada sebagian besar populasi maka sisa populasi yang rentan akan terlindungi. Hanya dengan penyebaran alamiah saja pun, peluang ini dapat terwujud. Namun tentu dengan risiko jumlah kematian yang cukup banyak dari perhitungan kurang lebih 5% dikalikan jumlah populasi yang terpapar.

Swedia adalah salah satu negara yang nekat sejak awal ingin mewujudkan herd immunity yang membiarkan penularan dengan sengaja tanpa menerapkan prokes Covid-19. Hasilnya, baru satu semester wabah merebak, negeri dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta itu telah kehilangan setidaknya 7 ribu wargaanya yang meninggal akibat Covid-19. Itulah alasannya, sebagin besar negara kurang sepakat dengan skema demikian. Termasuk kita di Indonesia, pemerintah mengambil pilihan prokes (masker, cuci tangan dan PPKM) sambil menunggu pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang pada akhirnya terwujud sedemikian cepat.

Tak sampai setahun, vaksin berhasi diciptakan. Optimisme masyarakat dunia, berkat keberhasilan studi klinis berbagai paltform vaksinasi Covid-19, sempat menjadi kenyataan pada trimester pertama tahun ini saat vaksinasi masal dilakukan di mana-mana. Secara konsisten dalam enam pekan berturut-turu, kasus baru mengalami penurunan sampai pada titik terendah selama pandemi, begitu pula angka kematiannya.

Sampai hantaman gelombang kedua akibat mutan varian Delta memporak-porandakan hati dan tubuh warga dunia. India bahkan disapu tsunami dengan kematian melampaui 2.000 dalam sehari dan penambahan kasus positif harian mencapai 300 ribu lebih, dengan angka positif hingga 36%. Demikian pula negara-negara lain seperti Brasil di Amerika Selatan juga kita di Indonesia.

Indonesia termasuk negara terparah dihantam gelombang kedua. Hunian RS rujukan Covid-19 melampaui kapasitas sampai harus dirawat di ruang-ruang atau tenda-tenda darurat. Wisma atlet yang sempat sepi kembali diserbu kesibukan nakes siang malam tiada jeda. Horor makin mengerikan seakan mimpi buruk yang tak memberi kesempatan kita bangun dari tidur saat pasokan oksigen tak mampu memenuhi kebutuhan yang mencuat begitu tiba-tiba. Akibatnya, sebanyak 53 orang pasien meninggal dalam sehari di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

Cuma negara-negara Eropa dan Amerika Utara yang tak merasakan ganasnya gelombang Delta ini. Bahkan perhelatan Euro 2020 yang diselenggarakan tahun ini mempertontonkan bagaimana stadion-stadion di berbagai kota di Eropa dipenuhi suporter bola nyaris tanpa menerapkan prokes. Meski kemudian terjadi beberapa kasus positif, namun hampir tak pernah dibahas karena masih dianggap sangat wajar. Tak berpengaruh signifikan terhadap kehidupan bangsa-bangsa Eropa dan Amerika Serikat yang mulai bergulir normal.

Bahkan saat ini ajang tenis US Open berlangsung sedang seru-serunya dan penuh kejutan karena capaian pemain-pemain muda belasan tahun yang merontokkan banyak pemain-pemain senior. Hampir dapat dipastikan, situasi kondusif ini terwujud berkat cakupan vaksin yang sudah sangat luas dan dengan efikasi yang lebih tinggi seperti vaksin produk Pfizer, Moderna atau Johnson. Satu bukti, kegemilangan sains dan ilmu pengetahuan adalah salah satu jalan menuju keselamatan. Tentu saja dapat pula untuk menciptakan sebuah kehancuran. Maka, jalan sains harus selalu dituntun cahaya etika dan moralitas yang kuat dan penuh kemuliaan.

Indonesia telah mengambil jalan yang cukup baik, penerapan prokes, PPKM fleksibel dan gesit melaksanakan vaksinasi. Hasilnya cukup mengesankan, kasus mulai melandai lagi. Namun belum apa-apa, telah terjadi lagi satu mutan baru yang dinamai varian Mu. Pertama kali diidentifikasikan di Kolombia dan kini sudah menyebar ke 40 negara.

Banyak yang cemas vaksinasi yang telah dilakukan secara masif ini akan sia-sia. Mutasi ini tentu saja dapat menurunkan efikasi dari vaksinasi yang dirancang sedikit berbeda dengan varian-varian baru yang akan terbentuk. Namun, varian-varian ini tidaklah seutuhnya virus baru yang bukan SARS-CoV-2. Artinya sebagian besar komponen proteinnya masih sama sehingga vaksin tetap akan memberi proteksi. Jangan diragukan pula, sains pun akan dengan sendirinya ikut “bermutasi” untuk menemukan rancangan zat antigenik yang dapat menyerupai segala mutan virus Corona baru yang terbentuk. Zat inilah yang kelak membangun imunitas spesifik tubuh manusia melawan virus tertentu.

Maka pilihan terbaik kita sebagai masyarakat awam adalah, mengikuti kebijakan pemerintah dan meyakini upaya all out para ilmuwan. Hingga saat ini integritas etika & moralitas mereka terbukti dalam sejarah lebih memihak peradaban ketimbang kejahatan. Dan harus selalu diyakini, segala organisme selalu akan melakukan mutasi dalam rangkaian evolusi yang terus bergerak ke depan demi menjaga kelestariannya.

Hal ini semudah memahami kenapa misalnya hewan-hewan di kutub akan cenderung berbulu lebat dan berlemak tebal akibat suhu yang lebih dingin. Atau saudara-saudara kita yang pipinya kemerahan karena tinggal di dataran tinggi akibat kadar oksigen yang lebih tipis membuat sel darah mereka diproduksi lebih banyak. Bahkan jika kita periksa kadar sel darah merah seorang perokok, akan cenderung lebih banyak, sebagai respon terhadap masuknya zat karbon monoksida ke dalam tubuhnya.

Tubuh perlu memproduksi sel darah merah lebih banyak untuk mengikat oksigen melawan karbon monoksida yang menjeratnya. Memahami sains dan ilmu pengetahuan, tidak hanya sebuah jalan menuju pada keselamatan, juga kerendahan hati dan keikhlasan. Keikhlasan membuat kita lebih mudah menerima Covid-19 untuk hidup berdampingan sebagai endemi, end of epidemy, akhir wabah. [T]

Tags: covid 19kesehatanpandemivirus corona
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Raja Kuu Merindukan Rasa

Next Post

I Bintang Lara Mem-vandal Tembok Puri

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
I Bintang Lara Mem-vandal Tembok Puri

I Bintang Lara Mem-vandal Tembok Puri

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co