4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan dalam Mencari Makna Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
June 30, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

PERNAHKAH terpikir bahwa sebagai manusia, kita membutuhkan makna? Kebutuhan akan makna ternyata bukanlah hal yang remeh. Bahkan, menurut Victor Frankl, depresi lebih mungkin diakibatkan oleh kehilangan makna daripada kehilangan objek cinta–lost of love object. Karena, keberadaan makna dapat menjadi api semangat yang membuat manusia punya alasan untuk terus hidup. Lalu, bagaimana proses terciptanya makna?

Dimulai dari manusia sebagai subjek yang menciptakan keadaan ada–das sein, jika mengutip Martin Heidegger dari interpretasinya terhadap objek yang ditemui. Dalam hal ini, penciptaan ada dapat disebut dengan fenomenologi, di mana kemunculan ada akan sangat subjektif dan tergantung dari masing-masing individu. Jika masih rumit, mari kita bahas menggunakan contoh kotoran sapi di tengah jalan.

Saat ada pejalan kaki dengan panca indera yang tidak bermasalah, berpapasan dengan kotoran sapi di tengah jalan, ia memiliki kebebasan untuk mengartikan kotoran sapi tersebut. Akibat bau, bentuk visual, bising lalat yang berputar di atas kotoran sapi, serta latar belakang si pejalan kaki di mana sejak kecil ditanamkan bahwa kotoran sapi adalah objek yang buruk, maka ia akan memandang bahwa kotoran sapi di depannya sebagai objek yang negatif.

Hal yang berbeda mungkin akan terjadi pada pejalan kaki yang memiliki pekerjaan sebagai produsen pupuk kandang: kotoran sapi akan dilihat sebagai hal positif.

Lalu, bagaimana dengan seseorang yang melewati jalan dengan menjadi penumpang mobil yang sama sekali tak bisa melihat, membaui, bahkan mendengar bising lalat kotoran sapi yang dilaluinya?

Tentu saja, kotoran sapi tidak ada. Pada ketiga contoh tersebut, kotoran sapi sebagai objek dan manusia sebagai subjek tetap hadir dan hanya dibedakan dari munculnya interpretasi akibat pertemuan subjek dan objek.

Jika diperluas lagi, sejatinya manusia memiliki kontrol dalam memunculkan fenomenologi dalam keseharian walaupun realita–objek–tetap menggelinding apa adanya; yang membedakan hanyalah interpretasi. Kebebasan dalam memunculkan interpretasi ini kerap disebut dengan free will.

Dari kebebasan memunculkan interpretasi–free will, selanjutnya manusia memiliki kebebasan untuk memberikan makna bagi setiap interpretasi kecil dalam tiap jengkal perjalanan hidupnya–dikenal dengan will of meaning.

Makna kecil akan interpretasi tersebut pada akhirnya dapat diperluas sebagai makna bagi hidup manusia seutuhnya–meaning of life. Contoh dari kebebasan melakukan interpretasi dan berujung pada kebebasan memaknai hidup dapat dilihat pada kasus berikut:

Ada seorang perwira angkatan laut yang harus putus dari pacarnya akibat pacar tersebut terus menuntut untuk dinikahi. Ia menunda untuk menikah karena memang tidak ada pilihan lain. Kedua adiknya masih sekolah dan kedua orang tuanya sudah pensiun sehingga ia harus menjadi tulang punggung keluarga.

Dari titik itu, perwira laut tersebut menganggap bahwa ia melakukan pengorbanan kecil untuk keluarganya. Lebih luas lagi, perwira laut tersebut mendapatkan makna hidup yang melampaui kehidupannya yang monoton: menjadi pahlawan bagi keluarga.

***

Pencarian makna hidup memang mudah secara teori tetapi jarang dilakukan dengan benar dalam keseharian. Kebanyakan dari kita biasanya akan menempuh cara instan–berakhir dengan salah–tanpa perlu bertanya pondasi filosofis dari pencarian makna tersebut. Misalkan, pencarian makna yang dilekatkan pada pekerjaan dan profesi.

Menurut James Suzan, pekerjaan dapat mendefinisikan manusia. Hal tersebut terjadi karena pekerjaan akan mendikte tentang di mana dan dengan siapa manusia tersebut akan menghabiskan sebagian besar waktu. Secara subtil, pekerjaan akan memberikan “nilai diri” dan bagaimana posisi manusia di lingkungan sosial.

Kondisi tersebut mulai marak sejak revolusi industri di mana manusia terpisah dari komunitas lamanya karena menghabiskan sebagian besar waktu di pabrik. Di pabrik, komunitas baru, para pekerja tidak lagi membawa identitas diri yang pada awalnya melekat saat berada di komunitas lama. Ketiadaan identitas diri itu pada akhirnya menuntut manusia untuk mencari identitas baru dengan mencari posisi di mana sebagian besar waktunya dihabiskan pekerjaan.

Lebih jauh lagi, identitas baru tidak hanya berlaku di tempat kerja saja, tetapi juga melebar ke keseharian.

Contoh kasus adalah hirarki yang masih terasa saat bertemu dengan atasan tempat kerja walau pertemuan tersebut terjadi di luar ruang-ruang profesional; panggilan “Prof” saat bertemu dengan guru besar di kolam pemancingan; panggilan “Dokter” yang disematkan oleh redaktur yang berbalas pesan dengan seorang penulis karbitan yang berprofesi sebagai dokter–secara pribadi, ini membuat saya sangat sungkan saat berbalas pesan dengan redaktur Tatkala.

Padahal, atasan berperan sebagai pembeli saat berada di minimarket; profesor menjadi tukang pancing saat berada di kolam pemancingan; dokter bukan lagi dokter ketika tidak sedang berpraktik. Walau tampak sederhana, jika tetap dilakukan, kondisi itu tentu saja memiliki banyak sekali sisi negatif yang dapat menghancurkan. Salah satu yang paling sering adalah post power syndrome.

Post power syndrome terjadi akibat hilangnya pekerjaan yang dijadikan pegangan untuk mendefinisikan diri; tempat makna dilekatkan sudah waktunya pergi. Tidak sampai di situ, ternyata ada hal yang lebih fundamental pada post power syndrome–yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan kesimpulan dalam memahami konsep kemaknaan dengan lebih jelas.

Pada kondisi post power syndrome, manusia mengalami dua hal sekaligus: tidak adanya kemaknaan dan lost of love object akan kemaknaan itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena adanya bias akan konsep kemaknaan di mana konsep dasar bahwa free will yangseharusnya tetap terpaku pada realita di masa kini ternyata bergeser menjadi kelekatan terhadap ilusi masa lalu atau masa depan yang penuh harapan. Harapan akan masa lalu dengan selebrasi posisi yang ingin diulang kembali, atau masa depan dengan cita-cita tinggi yang ingin diraih untuk pertama kali.

Jika berbicara mengenai pencarian makna yang lebih luas dan tidak hanya terpaku pada konteks pekerjaan semata, menaruh makna pada harapan adalah tindakan menempatkan kebahagiaan pada kondisi yang semu. Karena, satu-satunya kenyataan adalah kekinian–yang terus berubah–di mana kekinian tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan harapan. Dalam hal ini, adaptasi persepsi terhadap kekinian yang temporer adalah jalan keluar dari kesalahan pencarian makna yang menjerumuskan.

Free of will, will of meaning, meaning of life.[T]

Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental
Tags: filsafatkemanusiaanManusia BaliPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Semadhi Yasa Desa Ababi Karangasem “Bersuara” Sejak 1928

Next Post

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co