3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan dalam Mencari Makna Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
June 30, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

PERNAHKAH terpikir bahwa sebagai manusia, kita membutuhkan makna? Kebutuhan akan makna ternyata bukanlah hal yang remeh. Bahkan, menurut Victor Frankl, depresi lebih mungkin diakibatkan oleh kehilangan makna daripada kehilangan objek cinta–lost of love object. Karena, keberadaan makna dapat menjadi api semangat yang membuat manusia punya alasan untuk terus hidup. Lalu, bagaimana proses terciptanya makna?

Dimulai dari manusia sebagai subjek yang menciptakan keadaan ada–das sein, jika mengutip Martin Heidegger dari interpretasinya terhadap objek yang ditemui. Dalam hal ini, penciptaan ada dapat disebut dengan fenomenologi, di mana kemunculan ada akan sangat subjektif dan tergantung dari masing-masing individu. Jika masih rumit, mari kita bahas menggunakan contoh kotoran sapi di tengah jalan.

Saat ada pejalan kaki dengan panca indera yang tidak bermasalah, berpapasan dengan kotoran sapi di tengah jalan, ia memiliki kebebasan untuk mengartikan kotoran sapi tersebut. Akibat bau, bentuk visual, bising lalat yang berputar di atas kotoran sapi, serta latar belakang si pejalan kaki di mana sejak kecil ditanamkan bahwa kotoran sapi adalah objek yang buruk, maka ia akan memandang bahwa kotoran sapi di depannya sebagai objek yang negatif.

Hal yang berbeda mungkin akan terjadi pada pejalan kaki yang memiliki pekerjaan sebagai produsen pupuk kandang: kotoran sapi akan dilihat sebagai hal positif.

Lalu, bagaimana dengan seseorang yang melewati jalan dengan menjadi penumpang mobil yang sama sekali tak bisa melihat, membaui, bahkan mendengar bising lalat kotoran sapi yang dilaluinya?

Tentu saja, kotoran sapi tidak ada. Pada ketiga contoh tersebut, kotoran sapi sebagai objek dan manusia sebagai subjek tetap hadir dan hanya dibedakan dari munculnya interpretasi akibat pertemuan subjek dan objek.

Jika diperluas lagi, sejatinya manusia memiliki kontrol dalam memunculkan fenomenologi dalam keseharian walaupun realita–objek–tetap menggelinding apa adanya; yang membedakan hanyalah interpretasi. Kebebasan dalam memunculkan interpretasi ini kerap disebut dengan free will.

Dari kebebasan memunculkan interpretasi–free will, selanjutnya manusia memiliki kebebasan untuk memberikan makna bagi setiap interpretasi kecil dalam tiap jengkal perjalanan hidupnya–dikenal dengan will of meaning.

Makna kecil akan interpretasi tersebut pada akhirnya dapat diperluas sebagai makna bagi hidup manusia seutuhnya–meaning of life. Contoh dari kebebasan melakukan interpretasi dan berujung pada kebebasan memaknai hidup dapat dilihat pada kasus berikut:

Ada seorang perwira angkatan laut yang harus putus dari pacarnya akibat pacar tersebut terus menuntut untuk dinikahi. Ia menunda untuk menikah karena memang tidak ada pilihan lain. Kedua adiknya masih sekolah dan kedua orang tuanya sudah pensiun sehingga ia harus menjadi tulang punggung keluarga.

Dari titik itu, perwira laut tersebut menganggap bahwa ia melakukan pengorbanan kecil untuk keluarganya. Lebih luas lagi, perwira laut tersebut mendapatkan makna hidup yang melampaui kehidupannya yang monoton: menjadi pahlawan bagi keluarga.

***

Pencarian makna hidup memang mudah secara teori tetapi jarang dilakukan dengan benar dalam keseharian. Kebanyakan dari kita biasanya akan menempuh cara instan–berakhir dengan salah–tanpa perlu bertanya pondasi filosofis dari pencarian makna tersebut. Misalkan, pencarian makna yang dilekatkan pada pekerjaan dan profesi.

Menurut James Suzan, pekerjaan dapat mendefinisikan manusia. Hal tersebut terjadi karena pekerjaan akan mendikte tentang di mana dan dengan siapa manusia tersebut akan menghabiskan sebagian besar waktu. Secara subtil, pekerjaan akan memberikan “nilai diri” dan bagaimana posisi manusia di lingkungan sosial.

Kondisi tersebut mulai marak sejak revolusi industri di mana manusia terpisah dari komunitas lamanya karena menghabiskan sebagian besar waktu di pabrik. Di pabrik, komunitas baru, para pekerja tidak lagi membawa identitas diri yang pada awalnya melekat saat berada di komunitas lama. Ketiadaan identitas diri itu pada akhirnya menuntut manusia untuk mencari identitas baru dengan mencari posisi di mana sebagian besar waktunya dihabiskan pekerjaan.

Lebih jauh lagi, identitas baru tidak hanya berlaku di tempat kerja saja, tetapi juga melebar ke keseharian.

Contoh kasus adalah hirarki yang masih terasa saat bertemu dengan atasan tempat kerja walau pertemuan tersebut terjadi di luar ruang-ruang profesional; panggilan “Prof” saat bertemu dengan guru besar di kolam pemancingan; panggilan “Dokter” yang disematkan oleh redaktur yang berbalas pesan dengan seorang penulis karbitan yang berprofesi sebagai dokter–secara pribadi, ini membuat saya sangat sungkan saat berbalas pesan dengan redaktur Tatkala.

Padahal, atasan berperan sebagai pembeli saat berada di minimarket; profesor menjadi tukang pancing saat berada di kolam pemancingan; dokter bukan lagi dokter ketika tidak sedang berpraktik. Walau tampak sederhana, jika tetap dilakukan, kondisi itu tentu saja memiliki banyak sekali sisi negatif yang dapat menghancurkan. Salah satu yang paling sering adalah post power syndrome.

Post power syndrome terjadi akibat hilangnya pekerjaan yang dijadikan pegangan untuk mendefinisikan diri; tempat makna dilekatkan sudah waktunya pergi. Tidak sampai di situ, ternyata ada hal yang lebih fundamental pada post power syndrome–yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan kesimpulan dalam memahami konsep kemaknaan dengan lebih jelas.

Pada kondisi post power syndrome, manusia mengalami dua hal sekaligus: tidak adanya kemaknaan dan lost of love object akan kemaknaan itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena adanya bias akan konsep kemaknaan di mana konsep dasar bahwa free will yangseharusnya tetap terpaku pada realita di masa kini ternyata bergeser menjadi kelekatan terhadap ilusi masa lalu atau masa depan yang penuh harapan. Harapan akan masa lalu dengan selebrasi posisi yang ingin diulang kembali, atau masa depan dengan cita-cita tinggi yang ingin diraih untuk pertama kali.

Jika berbicara mengenai pencarian makna yang lebih luas dan tidak hanya terpaku pada konteks pekerjaan semata, menaruh makna pada harapan adalah tindakan menempatkan kebahagiaan pada kondisi yang semu. Karena, satu-satunya kenyataan adalah kekinian–yang terus berubah–di mana kekinian tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan harapan. Dalam hal ini, adaptasi persepsi terhadap kekinian yang temporer adalah jalan keluar dari kesalahan pencarian makna yang menjerumuskan.

Free of will, will of meaning, meaning of life.[T]

Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental
Tags: filsafatkemanusiaanManusia BaliPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Semadhi Yasa Desa Ababi Karangasem “Bersuara” Sejak 1928

Next Post

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co