15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan dalam Mencari Makna Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
June 30, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

PERNAHKAH terpikir bahwa sebagai manusia, kita membutuhkan makna? Kebutuhan akan makna ternyata bukanlah hal yang remeh. Bahkan, menurut Victor Frankl, depresi lebih mungkin diakibatkan oleh kehilangan makna daripada kehilangan objek cinta–lost of love object. Karena, keberadaan makna dapat menjadi api semangat yang membuat manusia punya alasan untuk terus hidup. Lalu, bagaimana proses terciptanya makna?

Dimulai dari manusia sebagai subjek yang menciptakan keadaan ada–das sein, jika mengutip Martin Heidegger dari interpretasinya terhadap objek yang ditemui. Dalam hal ini, penciptaan ada dapat disebut dengan fenomenologi, di mana kemunculan ada akan sangat subjektif dan tergantung dari masing-masing individu. Jika masih rumit, mari kita bahas menggunakan contoh kotoran sapi di tengah jalan.

Saat ada pejalan kaki dengan panca indera yang tidak bermasalah, berpapasan dengan kotoran sapi di tengah jalan, ia memiliki kebebasan untuk mengartikan kotoran sapi tersebut. Akibat bau, bentuk visual, bising lalat yang berputar di atas kotoran sapi, serta latar belakang si pejalan kaki di mana sejak kecil ditanamkan bahwa kotoran sapi adalah objek yang buruk, maka ia akan memandang bahwa kotoran sapi di depannya sebagai objek yang negatif.

Hal yang berbeda mungkin akan terjadi pada pejalan kaki yang memiliki pekerjaan sebagai produsen pupuk kandang: kotoran sapi akan dilihat sebagai hal positif.

Lalu, bagaimana dengan seseorang yang melewati jalan dengan menjadi penumpang mobil yang sama sekali tak bisa melihat, membaui, bahkan mendengar bising lalat kotoran sapi yang dilaluinya?

Tentu saja, kotoran sapi tidak ada. Pada ketiga contoh tersebut, kotoran sapi sebagai objek dan manusia sebagai subjek tetap hadir dan hanya dibedakan dari munculnya interpretasi akibat pertemuan subjek dan objek.

Jika diperluas lagi, sejatinya manusia memiliki kontrol dalam memunculkan fenomenologi dalam keseharian walaupun realita–objek–tetap menggelinding apa adanya; yang membedakan hanyalah interpretasi. Kebebasan dalam memunculkan interpretasi ini kerap disebut dengan free will.

Dari kebebasan memunculkan interpretasi–free will, selanjutnya manusia memiliki kebebasan untuk memberikan makna bagi setiap interpretasi kecil dalam tiap jengkal perjalanan hidupnya–dikenal dengan will of meaning.

Makna kecil akan interpretasi tersebut pada akhirnya dapat diperluas sebagai makna bagi hidup manusia seutuhnya–meaning of life. Contoh dari kebebasan melakukan interpretasi dan berujung pada kebebasan memaknai hidup dapat dilihat pada kasus berikut:

Ada seorang perwira angkatan laut yang harus putus dari pacarnya akibat pacar tersebut terus menuntut untuk dinikahi. Ia menunda untuk menikah karena memang tidak ada pilihan lain. Kedua adiknya masih sekolah dan kedua orang tuanya sudah pensiun sehingga ia harus menjadi tulang punggung keluarga.

Dari titik itu, perwira laut tersebut menganggap bahwa ia melakukan pengorbanan kecil untuk keluarganya. Lebih luas lagi, perwira laut tersebut mendapatkan makna hidup yang melampaui kehidupannya yang monoton: menjadi pahlawan bagi keluarga.

***

Pencarian makna hidup memang mudah secara teori tetapi jarang dilakukan dengan benar dalam keseharian. Kebanyakan dari kita biasanya akan menempuh cara instan–berakhir dengan salah–tanpa perlu bertanya pondasi filosofis dari pencarian makna tersebut. Misalkan, pencarian makna yang dilekatkan pada pekerjaan dan profesi.

Menurut James Suzan, pekerjaan dapat mendefinisikan manusia. Hal tersebut terjadi karena pekerjaan akan mendikte tentang di mana dan dengan siapa manusia tersebut akan menghabiskan sebagian besar waktu. Secara subtil, pekerjaan akan memberikan “nilai diri” dan bagaimana posisi manusia di lingkungan sosial.

Kondisi tersebut mulai marak sejak revolusi industri di mana manusia terpisah dari komunitas lamanya karena menghabiskan sebagian besar waktu di pabrik. Di pabrik, komunitas baru, para pekerja tidak lagi membawa identitas diri yang pada awalnya melekat saat berada di komunitas lama. Ketiadaan identitas diri itu pada akhirnya menuntut manusia untuk mencari identitas baru dengan mencari posisi di mana sebagian besar waktunya dihabiskan pekerjaan.

Lebih jauh lagi, identitas baru tidak hanya berlaku di tempat kerja saja, tetapi juga melebar ke keseharian.

Contoh kasus adalah hirarki yang masih terasa saat bertemu dengan atasan tempat kerja walau pertemuan tersebut terjadi di luar ruang-ruang profesional; panggilan “Prof” saat bertemu dengan guru besar di kolam pemancingan; panggilan “Dokter” yang disematkan oleh redaktur yang berbalas pesan dengan seorang penulis karbitan yang berprofesi sebagai dokter–secara pribadi, ini membuat saya sangat sungkan saat berbalas pesan dengan redaktur Tatkala.

Padahal, atasan berperan sebagai pembeli saat berada di minimarket; profesor menjadi tukang pancing saat berada di kolam pemancingan; dokter bukan lagi dokter ketika tidak sedang berpraktik. Walau tampak sederhana, jika tetap dilakukan, kondisi itu tentu saja memiliki banyak sekali sisi negatif yang dapat menghancurkan. Salah satu yang paling sering adalah post power syndrome.

Post power syndrome terjadi akibat hilangnya pekerjaan yang dijadikan pegangan untuk mendefinisikan diri; tempat makna dilekatkan sudah waktunya pergi. Tidak sampai di situ, ternyata ada hal yang lebih fundamental pada post power syndrome–yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan kesimpulan dalam memahami konsep kemaknaan dengan lebih jelas.

Pada kondisi post power syndrome, manusia mengalami dua hal sekaligus: tidak adanya kemaknaan dan lost of love object akan kemaknaan itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena adanya bias akan konsep kemaknaan di mana konsep dasar bahwa free will yangseharusnya tetap terpaku pada realita di masa kini ternyata bergeser menjadi kelekatan terhadap ilusi masa lalu atau masa depan yang penuh harapan. Harapan akan masa lalu dengan selebrasi posisi yang ingin diulang kembali, atau masa depan dengan cita-cita tinggi yang ingin diraih untuk pertama kali.

Jika berbicara mengenai pencarian makna yang lebih luas dan tidak hanya terpaku pada konteks pekerjaan semata, menaruh makna pada harapan adalah tindakan menempatkan kebahagiaan pada kondisi yang semu. Karena, satu-satunya kenyataan adalah kekinian–yang terus berubah–di mana kekinian tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan harapan. Dalam hal ini, adaptasi persepsi terhadap kekinian yang temporer adalah jalan keluar dari kesalahan pencarian makna yang menjerumuskan.

Free of will, will of meaning, meaning of life.[T]

Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental
Tags: filsafatkemanusiaanManusia BaliPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Semadhi Yasa Desa Ababi Karangasem “Bersuara” Sejak 1928

Next Post

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co