24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan dalam Mencari Makna Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
June 30, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

PERNAHKAH terpikir bahwa sebagai manusia, kita membutuhkan makna? Kebutuhan akan makna ternyata bukanlah hal yang remeh. Bahkan, menurut Victor Frankl, depresi lebih mungkin diakibatkan oleh kehilangan makna daripada kehilangan objek cinta–lost of love object. Karena, keberadaan makna dapat menjadi api semangat yang membuat manusia punya alasan untuk terus hidup. Lalu, bagaimana proses terciptanya makna?

Dimulai dari manusia sebagai subjek yang menciptakan keadaan ada–das sein, jika mengutip Martin Heidegger dari interpretasinya terhadap objek yang ditemui. Dalam hal ini, penciptaan ada dapat disebut dengan fenomenologi, di mana kemunculan ada akan sangat subjektif dan tergantung dari masing-masing individu. Jika masih rumit, mari kita bahas menggunakan contoh kotoran sapi di tengah jalan.

Saat ada pejalan kaki dengan panca indera yang tidak bermasalah, berpapasan dengan kotoran sapi di tengah jalan, ia memiliki kebebasan untuk mengartikan kotoran sapi tersebut. Akibat bau, bentuk visual, bising lalat yang berputar di atas kotoran sapi, serta latar belakang si pejalan kaki di mana sejak kecil ditanamkan bahwa kotoran sapi adalah objek yang buruk, maka ia akan memandang bahwa kotoran sapi di depannya sebagai objek yang negatif.

Hal yang berbeda mungkin akan terjadi pada pejalan kaki yang memiliki pekerjaan sebagai produsen pupuk kandang: kotoran sapi akan dilihat sebagai hal positif.

Lalu, bagaimana dengan seseorang yang melewati jalan dengan menjadi penumpang mobil yang sama sekali tak bisa melihat, membaui, bahkan mendengar bising lalat kotoran sapi yang dilaluinya?

Tentu saja, kotoran sapi tidak ada. Pada ketiga contoh tersebut, kotoran sapi sebagai objek dan manusia sebagai subjek tetap hadir dan hanya dibedakan dari munculnya interpretasi akibat pertemuan subjek dan objek.

Jika diperluas lagi, sejatinya manusia memiliki kontrol dalam memunculkan fenomenologi dalam keseharian walaupun realita–objek–tetap menggelinding apa adanya; yang membedakan hanyalah interpretasi. Kebebasan dalam memunculkan interpretasi ini kerap disebut dengan free will.

Dari kebebasan memunculkan interpretasi–free will, selanjutnya manusia memiliki kebebasan untuk memberikan makna bagi setiap interpretasi kecil dalam tiap jengkal perjalanan hidupnya–dikenal dengan will of meaning.

Makna kecil akan interpretasi tersebut pada akhirnya dapat diperluas sebagai makna bagi hidup manusia seutuhnya–meaning of life. Contoh dari kebebasan melakukan interpretasi dan berujung pada kebebasan memaknai hidup dapat dilihat pada kasus berikut:

Ada seorang perwira angkatan laut yang harus putus dari pacarnya akibat pacar tersebut terus menuntut untuk dinikahi. Ia menunda untuk menikah karena memang tidak ada pilihan lain. Kedua adiknya masih sekolah dan kedua orang tuanya sudah pensiun sehingga ia harus menjadi tulang punggung keluarga.

Dari titik itu, perwira laut tersebut menganggap bahwa ia melakukan pengorbanan kecil untuk keluarganya. Lebih luas lagi, perwira laut tersebut mendapatkan makna hidup yang melampaui kehidupannya yang monoton: menjadi pahlawan bagi keluarga.

***

Pencarian makna hidup memang mudah secara teori tetapi jarang dilakukan dengan benar dalam keseharian. Kebanyakan dari kita biasanya akan menempuh cara instan–berakhir dengan salah–tanpa perlu bertanya pondasi filosofis dari pencarian makna tersebut. Misalkan, pencarian makna yang dilekatkan pada pekerjaan dan profesi.

Menurut James Suzan, pekerjaan dapat mendefinisikan manusia. Hal tersebut terjadi karena pekerjaan akan mendikte tentang di mana dan dengan siapa manusia tersebut akan menghabiskan sebagian besar waktu. Secara subtil, pekerjaan akan memberikan “nilai diri” dan bagaimana posisi manusia di lingkungan sosial.

Kondisi tersebut mulai marak sejak revolusi industri di mana manusia terpisah dari komunitas lamanya karena menghabiskan sebagian besar waktu di pabrik. Di pabrik, komunitas baru, para pekerja tidak lagi membawa identitas diri yang pada awalnya melekat saat berada di komunitas lama. Ketiadaan identitas diri itu pada akhirnya menuntut manusia untuk mencari identitas baru dengan mencari posisi di mana sebagian besar waktunya dihabiskan pekerjaan.

Lebih jauh lagi, identitas baru tidak hanya berlaku di tempat kerja saja, tetapi juga melebar ke keseharian.

Contoh kasus adalah hirarki yang masih terasa saat bertemu dengan atasan tempat kerja walau pertemuan tersebut terjadi di luar ruang-ruang profesional; panggilan “Prof” saat bertemu dengan guru besar di kolam pemancingan; panggilan “Dokter” yang disematkan oleh redaktur yang berbalas pesan dengan seorang penulis karbitan yang berprofesi sebagai dokter–secara pribadi, ini membuat saya sangat sungkan saat berbalas pesan dengan redaktur Tatkala.

Padahal, atasan berperan sebagai pembeli saat berada di minimarket; profesor menjadi tukang pancing saat berada di kolam pemancingan; dokter bukan lagi dokter ketika tidak sedang berpraktik. Walau tampak sederhana, jika tetap dilakukan, kondisi itu tentu saja memiliki banyak sekali sisi negatif yang dapat menghancurkan. Salah satu yang paling sering adalah post power syndrome.

Post power syndrome terjadi akibat hilangnya pekerjaan yang dijadikan pegangan untuk mendefinisikan diri; tempat makna dilekatkan sudah waktunya pergi. Tidak sampai di situ, ternyata ada hal yang lebih fundamental pada post power syndrome–yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan kesimpulan dalam memahami konsep kemaknaan dengan lebih jelas.

Pada kondisi post power syndrome, manusia mengalami dua hal sekaligus: tidak adanya kemaknaan dan lost of love object akan kemaknaan itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena adanya bias akan konsep kemaknaan di mana konsep dasar bahwa free will yangseharusnya tetap terpaku pada realita di masa kini ternyata bergeser menjadi kelekatan terhadap ilusi masa lalu atau masa depan yang penuh harapan. Harapan akan masa lalu dengan selebrasi posisi yang ingin diulang kembali, atau masa depan dengan cita-cita tinggi yang ingin diraih untuk pertama kali.

Jika berbicara mengenai pencarian makna yang lebih luas dan tidak hanya terpaku pada konteks pekerjaan semata, menaruh makna pada harapan adalah tindakan menempatkan kebahagiaan pada kondisi yang semu. Karena, satu-satunya kenyataan adalah kekinian–yang terus berubah–di mana kekinian tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan harapan. Dalam hal ini, adaptasi persepsi terhadap kekinian yang temporer adalah jalan keluar dari kesalahan pencarian makna yang menjerumuskan.

Free of will, will of meaning, meaning of life.[T]

Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental
Tags: filsafatkemanusiaanManusia BaliPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Semadhi Yasa Desa Ababi Karangasem “Bersuara” Sejak 1928

Next Post

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co