27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Sekadar Seksualitas, Novel-novel Ayu Utami Juga Menyuarakan “Sang Liyan”

Jaswanto by Jaswanto
July 28, 2023
in Khas
Tak Sekadar Seksualitas, Novel-novel Ayu Utami Juga Menyuarakan “Sang Liyan”

Dari kiri ke kanan: Alif Iman, Ayu Utami, Sebastian Partogi, dan I Made Sujaya | Foto: Ist

NOVEL-NOVEL Ayu Utami tak bisa dilepaskan dari konteks Reformasi 1998. Saman dan Larung yang mengantarkan Ayu Utami ke arena sastra Indonesia muncul pada masa-masa akhir kekuasaan Orde Baru dan awal Reformasi dan menggunakan masa-masa itu sebagai latar cerita.

Namun, selama ini tatapan terhadap karya-karya perempuan pengarang yang juga jurnalis itu umumnya pada aspek eksplorasi seksualitas. Padahal, novel-novelnya juga memiliki kecenderungan menyuarakan suara-suara lain atau suara-suara “sang liyan” (the Other).

Pandangan ini mengemuka dalam diskusi Temu Buku Beranda Pustaka serangkaian Festival Seni Bali Jani V di Studio FTV, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kamis (27/7/2023).

Diskusi yang merupakan kerja sama panitia Beranda Pustaka FSBJ V dan Komunitas Utan Kayu, Jakarta ini bertajuk “25 Tahun Reformasi, Menimbang Buku-buku Ayu Utami” itu menampilkan pembicara dosen sastra dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, I Made Sujaya; penulis, mantan jurnalis, dan penerjemah yang bermukim di Ubud, Sebastian Partogi; serta sang pengarang, Ayu Utami.

Dari kiri ke kanan: Alif Iman (moderator), Ayu Utami, Sebastian Partogi, dan I Made Sujaya / Foto: Ist

Dalam diskusi yang dipandu pendiri Prakarsa Media Parakata dan Ketua Gerakan Indonesia Kita, Alif Iman itu turut hadir sejumlah sastrawan dan budayawan, antara lain Goenawan Mohamad, Hartanto, Warih Wisatsana, Idayati, Putu Suasta, serta Ngurah Aryadimas Hendratmo. Mengawali diskusi ditampilkan juga pembacaan petikan novel Saman oleh seorang mahasiswa ISI Denpasar yang kerap tampil sebagai pembaca puisi, Ayu Chu.

Ayu Chu saat membaca petikan novel Saman / Foto: Ist

Sujaya menilai novel Saman muncul pada momentum yang tepat di ujung akhir Orde Baru dan awal Reformasi yang diikuti dengan euforia kebebasan di tengah-tengah masyarakat. Dengan gaya ungkap dan bahasa yang lebih terbuka, Saman yang terbit tahun 1998 dan disusul Larung pada tahun 2001 seolah mewakili gejolak perasaan masyarakat Indonesia, setidak-tidaknya sebagian orang yang selama ini tak bisa bersuara atau sang Liyan (the Other).

Selain kaum perempuan yang berada di bawah hegemoni budaya patriarkhi, Saman dan Larung juga memberi ruang bagi kelompok-kelompok marginal, seperti korban penindasan negara dan milter, kaum biseksual, termasuk korban-korban tragedi 1965.

Menurut Sujaya, dalam pembicaraan sastra Indonesia pasca-Reformasi, sulit mengabaikan sosok dan karya-karya Ayu Utami. Faktanya, karya-karya yang mengeksplorasi seksualitas atau perayaan tubuh perempuan sempat mewarnai arena sastra Indonesia pada awal-awal Reformasi, bahkan sejurus menjadi semacam arus utama. Adanya label “sastrawangi”, bahkan “Gerakan Syahwat Merdeka” justru menegaskan eksistensi karya-karya semacam itu.

Pada perkembangan selanjutnya, sejarah sastra Indonesia pasca-Reformasi juga mencatat kemunculan kembali karya sastra religius bernuansa Islami yang oleh sejumlah peneliti dilabeli sebagai “sastra Islami”. Selain itu, tumbuh karya-karya tentang kisah sukses atau dikenal sebagai “sastra inspirasi” yang belakangan justru mendominasi pemasaran buku-buku sastra di Indonesia.

Suasana peserta Temu Buku Beranda Pustaka / Foto: Ist

Belakangan, Ayu Utami juga menggeser tema-tema karyanya pada eksplorasi tema-tema spiritual, tetapi dilabelinya dengan sebutan “spiritualisme kritis”, seperti tampak pada seri novel Bilangan Fu (2008).

Istilah “spiritualisme kritis” dimaknai Ayu Utami sebagai sikap spiritual yang tidak mengkhianati nalar kritis. Latar belakang istilah spiritualisme kritis, menurut Ayu Utami, lahir dari keprihatinannya terhadap makin meningkatnya kekerasan atas nama agama di Indonesia dan terorisme di dunia. Penggalian tentang spiritualisme kritis itu dilakukan Ayu Utami melalui pembacaan terhadap teks-teks sastra tradisional, khususnya Jawa yang mengantarkannya pada konsep rasa.

“Apakah tawaran karya-karya berlabel spiritualisme kritis ini bisa berterima dan menangguk sukses seperti Saman dan menjadi arus utama lagi dalam sastra Indonesia? Tentu masih perlu kita tunggu perkembangannya,” kata Sujaya.

Sujaya juga mengapresiasi upaya Ayu Utami menghadirkan wajah Bali yang lain dalam novel-novelnya, terutama Larung. Dalam konteks tragedi 1965, imbuh Sujaya, Ayu Utami melalui novel Larung memilih korban dari Bali. Sebelumnya, ini jarang digarap para sastrawan dan setelah novel Ayu Utami tema tentang korban tragedi 1965 di Bali makin banyak kita temukan dalam sastra Indonesia.

“Bali dalam Larung bukanlah Bali yang eksotik atau penuh daya keindahan turistik, tapi Bali dengan sisi gelapnya yang mengajak pembaca berpikir dan memahami Bali yang lebih utuh,” tandas Sujaya.

Sebastian Partogi juga mempertanyakan kecenderungan banyak orang melihat karya-karya Ayu Utami dari sisi seksualitas. Padahal, dari hasil pembacaannya, karya-karya Ayu Utami banyak sekali lapis-lapisnya. Novel-novel Ayu Utami juga menyajikan soal-soal dilema etis.

“Dalam Saman, tokoh utamanya yang dulunya pastur, lalu dia melihat begitu banyaknya kekejaman yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit. Dia akhirnya mempertanyakan, memang Tuhan benar ada? Kok ada penderitaan dan kekejaman seperti itu tapi tidak ada yang menolong. Lahannya dibakar, terus perempuan diperkosa oleh pihak-pihak yang merebut lahan mereka,” ujar Partogi.

Suasana peserta Temu Buku Beranda Pustaka / Foto: Ist

Menurut Partogi, karya-karya Ayu Utami selalu menstimulasi pikiran yang membuatnya berbeda denga novel-novel bernuansa agama yang pesan-pesannya cenderung verbal.  Novel-novel Ayu Utami, ujarnya, mengajak pembaca mempertanyakan apa yang sudah mapan.

Ayu Utami mengakui dirinya dikenal orang karena Saman. Novel itu menjadi best seller atau kontroversial serta dianggap menjadi tren sehingga Saman diterima sebagai kisah sukses. Namun, Ayu Utami menyatakan dirinya tidak pernah berbuat untuk mencapai kesuksesan. Sukses itu datang bersama momentum. Menurutnya, dia juga mengalami kegagalan. Tahun 1994, dia gagal jadi aktivis dan sempat dipecat setelah majalah Tempo, tempatnya bekerja, dibreidel.

Ayu Utami tak mengelak jika karya-karyanya dilatarbelakangi oleh dinamika masyarakat. Selain Saman dan Larung yang merespons represi Orde Baru, novel Bilangan Fu juga merespons menguatnya intoleransi dan terorisme.

Mengenai persaingan dalam pasar buku-buku sastra di tengah kembali menguatnya novel-novel religius dan inspiratif, Ayu Utami menilai itu juga berkaitan atau terjadi dalam bidang-bidang lain. Menurutnya, pasar buku-buku sastra tidak menjadi sesuatu yang terpisah dengan dinamika masyarakat.

Ayu Utami mengaku bersyukur jika karya-karyanya diterima sebagai ajakan untuk berpikir dan mempertanyakan kembali sesuatu yang mapan seperti dirasakan Partogi. Dalam konteks situasi terkini, kesadaran untuk memeriksa kembali sesuatu yang dianggap mapan, sukses atau hebat, sangat perlu dilakukan. “Saman dianggap sukses. Kesuksesan adalah cermin kemapanan sehingga perlu juga untuk diperiksa kembali,” tandas Ayu Utami.[T]

Membaca Goenawan Mohamad: Sebuah Pembacaan yang Meleset
Mewujudkan “Bali International Book Fair”: Tidak Mudah, tapi Bali Punya Modal Kuat
Tiga Sastrawan Berbagi Proses Kreatif: Platform Menulis Makin Beragam, Tapi Tetap Kontrol Diri
Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea
Tags: Ayu Utamibedah bukuBukuFestival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2023
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Yang Muda yang Cerdas Memilih Tontonan

Next Post

Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co