3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Goenawan Mohamad: Sebuah Pembacaan yang Meleset

Jaswanto by Jaswanto
July 26, 2023
in Khas
Membaca Goenawan Mohamad: Sebuah Pembacaan yang Meleset

Dari kiri ke kanan: Alif Iman sebagai moderator, Arif Bagus Prasetyo dan Prof. Dr. I Wayan Adnyana sebagai pembicara

ABAD 21 sedang merangkak menapaki jalan peradaban yang cepat, buru-buru, berkelok, menanjak, penuh lubang jebakan zaman, dengan galau dan kilaunya sendiri. Dan Indonesia, sebagai sebuah negara yang merdeka, pada abad 20 sampai 21, sudah dua dekade menikmati demokrasi—walau dengan kenyataan pahit bahwa generasi saat ini mulai tak punya ingatan tentang peristiwa-peristiwa penting pada abad ke-20 yang mengantar Indonesia menuju gerbang demokrasi.

Pada akhir tahun 2022, terbit sebuah buku tentang sosok sastrawan, jurnalis, tokoh pembebasan dan pemikir, yang berjudul Membaca Goenawan Mohamad. Ya, buku yang berisi naskah dari 16 penulis itu mencoba menelisik secara mendalam pemikiran GM—begitu ia biasa dipanggil—dalam konteks pemikiran sastra, filsafat, dan demokrasi.

Buku yang diluncurkan sebagai salah satu wujud perayaan ulang tahun Goenawan Mohamad ke-80 pada tahun 2021 itu, pada Rabu (26/7/2023) sore, kembali didiskusikan di Ruang Lap Prodi FTV Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dalam mata acara Festival Seni Bali Jani 2023.

Diskusi buku yang menghadirkan Prof. Dr. I Wayan Adnyana—atau yang akrab dipanggil Prof. Kun—dan Arif Bagus Prasetyo sebagai pembicara dan Alif Iman sebagai moderator itu, dihadiri langsung oleh GM dan Ayu Utami.

Acara Temu Buku: Membaca Goenawan Mohamad—yang oleh Alif Iman disebut sebagai diskusi “GM yang dikenal dan yang tak dikenal”—banyak memberi pengetahuan tentang sosok GM yang dipandang dari banyak kacamata sampai kritik atas lebih-kurangnya Membaca Goenawan Muhamad (2022)—buku yang ditulis Rizal Mallarangeng, Nirwan Dewanto, Ayu Utami, Ulil Abshar Abdalla, dkk.

Dari kiri ke kanan: Made Sujaya, Arif Bagus Prasetyo, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, dan Goenawan Muhamad

Ayu Utami, yang didapuk sebagai editor, sebelum diskusi diakhiri, mengatakan bahwa penerbitan buku ini bertujuan untuk kembali membangun ingatan generasi abad-21 atas peristiwa yang terjadi pada abad ke-20 seperti Perang Dunia dan Perang Dingin, misalnya.

Generasi masa kini diajak kembali membaca jejak peperangan tersebut pada rezim militer di lndonesia, penderitaan, serta semangatnya. Juga memperlihatkan bagaimana runtuhnya komunisme di tahun 1990-an.

Di balik itu, kapitalisme seolah menjadi penguasa, sehingga pers dan industri kreatif pun semakin dikuasai logika kapitalistis. Surat kabar bahkan televisi, tak lagi punya wibawa intelektual sebesar dulu, dan setiap orang bisa menjadi citizen journalist.

Pembacaan yang Meleset

Prof. Kun, Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar cum kurator seni rupa, berpendapat bahwa karya-karya GM selalu memiliki konteks waktu yang dinamis. Apa yang ditulis GM memiliki konteks waktu yang panjang—tak lekang oleh waktu, selalu relevan, katanya. “Sebab, pikiran-pikiran GM mengandung semacam rasa dan pandangan ke depan perihal peristiwa,” ujarnya.

Dalam acara temu buku sore tadi, seniman dan intelektual yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali periode 2019-2021 itu, memang tak banyak membahas isi buku yang memuat tulisan-tulisan yang berasal dari Seminar Membaca Goenawan Mohamad yang diadakan untuk memperingati ulang tahun GM yang ke-80.

Kun Adnyana lebih banyak menyampaikan pandangan atau penilaian pribadinya atas sosok Goenawan Mohamad—tokoh yang dipanggilnya Mas itu. “Seorang tokoh harus menjadi bagian dari peradaban. GM sosok yang bisa membangun bahasanya sendiri. Pemikirannya selalu mengandung konteks yang dinamis,” katanya.

Berbeda dengan Prof. Kun, Arif Bagus Prasetyo, yang notabene dikenal sebagai kritikus sastra, penyair, penerjemah, cum kurator seni rupa, lebih banyak menyampaikan catatan kritis atas buku Membaca Goenawan Muhamad (2022). Menurut Arif, buku gemuk 464 halaman yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia itu agak meleset, atau kurang lengkap, dalam membaca GM sebagai penyair, wartawan, tokoh pembebasan, dan pemikir dengan dasar filsafat Barat.

“Dari 16 esai hanya ada satu tulisan saja yang membahas GM sebagai wartawan. Itu pun hanya berfokus pada sosok GM dan kiprahnya dalam mendirikan Tempo, tak ada bahasan tentang pikiran GM tentang dunia jurnalistik,” ujar penyair yang mendapat hadiah Kritik Sastra Tahun 2007 dan Kritik Seni Rupa Tahun 2005 dari Dewan Kesenian Jakarta itu.

Menurut Arif, tulisan dalam buku yang ditulis mereka yang tumbuh dengan membaca tulisan-tulisan GM serta terinspirasi secara langsung olehnya—terutama mereka yang lahir di tahun 1960-an atau awal 1970-an atau yang menghidupi dunia kesusasteraan dan kewartawanan dan sedikit sisanya adalah para sarjana filsafat generasi lebih kini yang diminta untuk mengkaji bagaimana GM menafsir pada pemikir kontemporer kontinental—lebih banyak membahas pikiran GM tentang filsafat dan sastra, seperti Ulil yang tertarik menulis pikiran GM tentang ketuhanan alih-alih menulis tentang pandangan GM tentang sejarah bangsa, misalnya. Bahkan, dengan kritis Arif mengatakan, “beberapa penulis malah sibuk mempromosikan dirinya sendiri, seperti Martin Suryajaya”.

Terkait pandangan tentang sejarah bangsa, hidup Goenawan Mohamad, bisa dibilang, memang menggambarkan sejarah Indonesia itu sendiri. GM lahir di Batang pada tahun 1941. Ketika umurnya belum setahun, balatentara Jepang masuk ke wilayah Indonesia. Ayahnya, seorang pejuang kemerdekaan republik, wafat dibunuh militer Belanda yang datang kembali setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II.

Dalam deskripsi singkat tentang GM, Gramedia menulis, GM tumbuh dewasa di masa Perang Dingin, saat Presiden Sukarno menerapkan Demokrasi Terpimpin. Ketika itu PKI (Partai Komunis Indonesia) menguat. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), badan kesenian di bawah PKI, mendesakkan pendekatan Realisme Sosialis dalam kesenian. Bersama beberapa seniman dan pemikir yang tak setuju atas pemaksaan politik atas seni—seperti Arief Budiman, Wiratmo Soekito, Taufik Ismail—GM ikut merumuskan dan menandatangani Manifes Kebudayaan (1963). Akibatnya, mereka diintimidasi dan sebagian kehilangan pekerjaan. Goenawan muda memutuskan mencari beasiswa ke Eropa.

Ketika GM kembali ke Indonesia, situasi telah berbalik. Di bawah Presiden Jenderal Soeharto, PKI dihancurkan dan anggotanya diania—tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Goenawan mendirikan majalah Tempo, dan menjadi pemimpin redaksinya. Sekalipun dulu diintimidasi, ia menampung dalam grup majalah Tempo beberapa sastrawan mantan anggota Lekra yang telah dibebaskan dari tahanan politik, suatu hal yang sebetulnya dilarang oleh rezim militer ketika itu.

Goenawan tidak menunjukkan dendam apapun pada PKI atau Lekra, dan tidak menentang pemberian hadiah Magsaysay pada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang merupakan tokoh Lekra. GM termasuk salah satu tokoh seni yang diminta gubernur Jakarta Ali Sadikin untuk mendirikan Taman Ismail Marzuki (1968).

Tak hanya menyampaikan pandangan kritis atas buku Membaca Goenawan Muhamad (2022), Arif juga menganggap bahwa tulisan-tulisan GM sangat transformatif. Menurutnya, tak banyak penulis Indonesia yang memiliki kemampuan semacam ini. “Selain GM, yang tulisan-tulisannya terdapat banyak sayap, Nirwan Dewanto juga demikian,” katanya.

Dan saat menjawab pertanyaan ada tidaknya pemikiran GM tentang filsafat Nusantara dari salah satu peserta diskusi, Arif mengatakan, “setahu saya, GM hanya membahas filsafat Barat”. Dia mengaku kurang tahu dan tidak menemukan pemikiran GM yang membahas filsafat Nusantara dalam konteks filsafat yang ketat. “Namun, dalam konteks filsafat yang longgar, GM pernah membahas misalnya Gatoloco,” tambahnya.

Sebelum mengakhiri diskusi, Alif Iman sebagai moderator memberikan pertanyaan terakhir kepada Arif tentang relevansi Goenawan Mohamad. Dengan sedikit tertawa Arif menjawab, “relevansi GM terletak pada stailis tulisannya. GM seolah tidak mau mengerangkeng tulisannya dengan definisi-definisi. Beliau mengajak setiap orang untuk terus berpikir”.

Diskusi tentang sosok penulis “Catatan Pinggir”—esai pendek khas GM di majalah Tempo, yang sangat berpengaruh pada generasi intelektual sesudah dirinya—, pendiri Yayasan Lontar (1987), Teater Utan Kayu—lalu disebut Komunitas Utan Kayu—sekitar tahun 1996, Komunitas Salihara (2008) itu, juga dihadiri Oka Rusmini, sastrawan cum wartawan, dan I Made Sujaya, wartawan, sastrawan, dosen, dan pengelola balisaja.com.[T]

Mewujudkan “Bali International Book Fair”: Tidak Mudah, tapi Bali Punya Modal Kuat
Tiga Sastrawan Berbagi Proses Kreatif: Platform Menulis Makin Beragam, Tapi Tetap Kontrol Diri
Animasi dan Kartun, Peluang dan Tantangannya
Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea
Tags: bedah bukuBukuFestival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2023Goenawan Mohamad
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gelora Cerita Kita’’ dalam Parade Monolog yang Mengesankan

Next Post

“Nguber Berita ka Nusa”, Drama Teater Persembahan Wartawan Budaya

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
“Nguber Berita ka Nusa”, Drama Teater Persembahan Wartawan Budaya

“Nguber Berita ka Nusa”, Drama Teater Persembahan Wartawan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co