7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Sekadar Seksualitas, Novel-novel Ayu Utami Juga Menyuarakan “Sang Liyan”

Jaswanto by Jaswanto
July 28, 2023
in Khas
Tak Sekadar Seksualitas, Novel-novel Ayu Utami Juga Menyuarakan “Sang Liyan”

Dari kiri ke kanan: Alif Iman, Ayu Utami, Sebastian Partogi, dan I Made Sujaya | Foto: Ist

NOVEL-NOVEL Ayu Utami tak bisa dilepaskan dari konteks Reformasi 1998. Saman dan Larung yang mengantarkan Ayu Utami ke arena sastra Indonesia muncul pada masa-masa akhir kekuasaan Orde Baru dan awal Reformasi dan menggunakan masa-masa itu sebagai latar cerita.

Namun, selama ini tatapan terhadap karya-karya perempuan pengarang yang juga jurnalis itu umumnya pada aspek eksplorasi seksualitas. Padahal, novel-novelnya juga memiliki kecenderungan menyuarakan suara-suara lain atau suara-suara “sang liyan” (the Other).

Pandangan ini mengemuka dalam diskusi Temu Buku Beranda Pustaka serangkaian Festival Seni Bali Jani V di Studio FTV, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kamis (27/7/2023).

Diskusi yang merupakan kerja sama panitia Beranda Pustaka FSBJ V dan Komunitas Utan Kayu, Jakarta ini bertajuk “25 Tahun Reformasi, Menimbang Buku-buku Ayu Utami” itu menampilkan pembicara dosen sastra dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, I Made Sujaya; penulis, mantan jurnalis, dan penerjemah yang bermukim di Ubud, Sebastian Partogi; serta sang pengarang, Ayu Utami.

Dari kiri ke kanan: Alif Iman (moderator), Ayu Utami, Sebastian Partogi, dan I Made Sujaya / Foto: Ist

Dalam diskusi yang dipandu pendiri Prakarsa Media Parakata dan Ketua Gerakan Indonesia Kita, Alif Iman itu turut hadir sejumlah sastrawan dan budayawan, antara lain Goenawan Mohamad, Hartanto, Warih Wisatsana, Idayati, Putu Suasta, serta Ngurah Aryadimas Hendratmo. Mengawali diskusi ditampilkan juga pembacaan petikan novel Saman oleh seorang mahasiswa ISI Denpasar yang kerap tampil sebagai pembaca puisi, Ayu Chu.

Ayu Chu saat membaca petikan novel Saman / Foto: Ist

Sujaya menilai novel Saman muncul pada momentum yang tepat di ujung akhir Orde Baru dan awal Reformasi yang diikuti dengan euforia kebebasan di tengah-tengah masyarakat. Dengan gaya ungkap dan bahasa yang lebih terbuka, Saman yang terbit tahun 1998 dan disusul Larung pada tahun 2001 seolah mewakili gejolak perasaan masyarakat Indonesia, setidak-tidaknya sebagian orang yang selama ini tak bisa bersuara atau sang Liyan (the Other).

Selain kaum perempuan yang berada di bawah hegemoni budaya patriarkhi, Saman dan Larung juga memberi ruang bagi kelompok-kelompok marginal, seperti korban penindasan negara dan milter, kaum biseksual, termasuk korban-korban tragedi 1965.

Menurut Sujaya, dalam pembicaraan sastra Indonesia pasca-Reformasi, sulit mengabaikan sosok dan karya-karya Ayu Utami. Faktanya, karya-karya yang mengeksplorasi seksualitas atau perayaan tubuh perempuan sempat mewarnai arena sastra Indonesia pada awal-awal Reformasi, bahkan sejurus menjadi semacam arus utama. Adanya label “sastrawangi”, bahkan “Gerakan Syahwat Merdeka” justru menegaskan eksistensi karya-karya semacam itu.

Pada perkembangan selanjutnya, sejarah sastra Indonesia pasca-Reformasi juga mencatat kemunculan kembali karya sastra religius bernuansa Islami yang oleh sejumlah peneliti dilabeli sebagai “sastra Islami”. Selain itu, tumbuh karya-karya tentang kisah sukses atau dikenal sebagai “sastra inspirasi” yang belakangan justru mendominasi pemasaran buku-buku sastra di Indonesia.

Suasana peserta Temu Buku Beranda Pustaka / Foto: Ist

Belakangan, Ayu Utami juga menggeser tema-tema karyanya pada eksplorasi tema-tema spiritual, tetapi dilabelinya dengan sebutan “spiritualisme kritis”, seperti tampak pada seri novel Bilangan Fu (2008).

Istilah “spiritualisme kritis” dimaknai Ayu Utami sebagai sikap spiritual yang tidak mengkhianati nalar kritis. Latar belakang istilah spiritualisme kritis, menurut Ayu Utami, lahir dari keprihatinannya terhadap makin meningkatnya kekerasan atas nama agama di Indonesia dan terorisme di dunia. Penggalian tentang spiritualisme kritis itu dilakukan Ayu Utami melalui pembacaan terhadap teks-teks sastra tradisional, khususnya Jawa yang mengantarkannya pada konsep rasa.

“Apakah tawaran karya-karya berlabel spiritualisme kritis ini bisa berterima dan menangguk sukses seperti Saman dan menjadi arus utama lagi dalam sastra Indonesia? Tentu masih perlu kita tunggu perkembangannya,” kata Sujaya.

Sujaya juga mengapresiasi upaya Ayu Utami menghadirkan wajah Bali yang lain dalam novel-novelnya, terutama Larung. Dalam konteks tragedi 1965, imbuh Sujaya, Ayu Utami melalui novel Larung memilih korban dari Bali. Sebelumnya, ini jarang digarap para sastrawan dan setelah novel Ayu Utami tema tentang korban tragedi 1965 di Bali makin banyak kita temukan dalam sastra Indonesia.

“Bali dalam Larung bukanlah Bali yang eksotik atau penuh daya keindahan turistik, tapi Bali dengan sisi gelapnya yang mengajak pembaca berpikir dan memahami Bali yang lebih utuh,” tandas Sujaya.

Sebastian Partogi juga mempertanyakan kecenderungan banyak orang melihat karya-karya Ayu Utami dari sisi seksualitas. Padahal, dari hasil pembacaannya, karya-karya Ayu Utami banyak sekali lapis-lapisnya. Novel-novel Ayu Utami juga menyajikan soal-soal dilema etis.

“Dalam Saman, tokoh utamanya yang dulunya pastur, lalu dia melihat begitu banyaknya kekejaman yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit. Dia akhirnya mempertanyakan, memang Tuhan benar ada? Kok ada penderitaan dan kekejaman seperti itu tapi tidak ada yang menolong. Lahannya dibakar, terus perempuan diperkosa oleh pihak-pihak yang merebut lahan mereka,” ujar Partogi.

Suasana peserta Temu Buku Beranda Pustaka / Foto: Ist

Menurut Partogi, karya-karya Ayu Utami selalu menstimulasi pikiran yang membuatnya berbeda denga novel-novel bernuansa agama yang pesan-pesannya cenderung verbal.  Novel-novel Ayu Utami, ujarnya, mengajak pembaca mempertanyakan apa yang sudah mapan.

Ayu Utami mengakui dirinya dikenal orang karena Saman. Novel itu menjadi best seller atau kontroversial serta dianggap menjadi tren sehingga Saman diterima sebagai kisah sukses. Namun, Ayu Utami menyatakan dirinya tidak pernah berbuat untuk mencapai kesuksesan. Sukses itu datang bersama momentum. Menurutnya, dia juga mengalami kegagalan. Tahun 1994, dia gagal jadi aktivis dan sempat dipecat setelah majalah Tempo, tempatnya bekerja, dibreidel.

Ayu Utami tak mengelak jika karya-karyanya dilatarbelakangi oleh dinamika masyarakat. Selain Saman dan Larung yang merespons represi Orde Baru, novel Bilangan Fu juga merespons menguatnya intoleransi dan terorisme.

Mengenai persaingan dalam pasar buku-buku sastra di tengah kembali menguatnya novel-novel religius dan inspiratif, Ayu Utami menilai itu juga berkaitan atau terjadi dalam bidang-bidang lain. Menurutnya, pasar buku-buku sastra tidak menjadi sesuatu yang terpisah dengan dinamika masyarakat.

Ayu Utami mengaku bersyukur jika karya-karyanya diterima sebagai ajakan untuk berpikir dan mempertanyakan kembali sesuatu yang mapan seperti dirasakan Partogi. Dalam konteks situasi terkini, kesadaran untuk memeriksa kembali sesuatu yang dianggap mapan, sukses atau hebat, sangat perlu dilakukan. “Saman dianggap sukses. Kesuksesan adalah cermin kemapanan sehingga perlu juga untuk diperiksa kembali,” tandas Ayu Utami.[T]

Membaca Goenawan Mohamad: Sebuah Pembacaan yang Meleset
Mewujudkan “Bali International Book Fair”: Tidak Mudah, tapi Bali Punya Modal Kuat
Tiga Sastrawan Berbagi Proses Kreatif: Platform Menulis Makin Beragam, Tapi Tetap Kontrol Diri
Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea
Tags: Ayu Utamibedah bukuBukuFestival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2023
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Yang Muda yang Cerdas Memilih Tontonan

Next Post

Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co