16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Sekadar Seksualitas, Novel-novel Ayu Utami Juga Menyuarakan “Sang Liyan”

Jaswanto by Jaswanto
July 28, 2023
in Khas
Tak Sekadar Seksualitas, Novel-novel Ayu Utami Juga Menyuarakan “Sang Liyan”

Dari kiri ke kanan: Alif Iman, Ayu Utami, Sebastian Partogi, dan I Made Sujaya | Foto: Ist

NOVEL-NOVEL Ayu Utami tak bisa dilepaskan dari konteks Reformasi 1998. Saman dan Larung yang mengantarkan Ayu Utami ke arena sastra Indonesia muncul pada masa-masa akhir kekuasaan Orde Baru dan awal Reformasi dan menggunakan masa-masa itu sebagai latar cerita.

Namun, selama ini tatapan terhadap karya-karya perempuan pengarang yang juga jurnalis itu umumnya pada aspek eksplorasi seksualitas. Padahal, novel-novelnya juga memiliki kecenderungan menyuarakan suara-suara lain atau suara-suara “sang liyan” (the Other).

Pandangan ini mengemuka dalam diskusi Temu Buku Beranda Pustaka serangkaian Festival Seni Bali Jani V di Studio FTV, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kamis (27/7/2023).

Diskusi yang merupakan kerja sama panitia Beranda Pustaka FSBJ V dan Komunitas Utan Kayu, Jakarta ini bertajuk “25 Tahun Reformasi, Menimbang Buku-buku Ayu Utami” itu menampilkan pembicara dosen sastra dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, I Made Sujaya; penulis, mantan jurnalis, dan penerjemah yang bermukim di Ubud, Sebastian Partogi; serta sang pengarang, Ayu Utami.

Dari kiri ke kanan: Alif Iman (moderator), Ayu Utami, Sebastian Partogi, dan I Made Sujaya / Foto: Ist

Dalam diskusi yang dipandu pendiri Prakarsa Media Parakata dan Ketua Gerakan Indonesia Kita, Alif Iman itu turut hadir sejumlah sastrawan dan budayawan, antara lain Goenawan Mohamad, Hartanto, Warih Wisatsana, Idayati, Putu Suasta, serta Ngurah Aryadimas Hendratmo. Mengawali diskusi ditampilkan juga pembacaan petikan novel Saman oleh seorang mahasiswa ISI Denpasar yang kerap tampil sebagai pembaca puisi, Ayu Chu.

Ayu Chu saat membaca petikan novel Saman / Foto: Ist

Sujaya menilai novel Saman muncul pada momentum yang tepat di ujung akhir Orde Baru dan awal Reformasi yang diikuti dengan euforia kebebasan di tengah-tengah masyarakat. Dengan gaya ungkap dan bahasa yang lebih terbuka, Saman yang terbit tahun 1998 dan disusul Larung pada tahun 2001 seolah mewakili gejolak perasaan masyarakat Indonesia, setidak-tidaknya sebagian orang yang selama ini tak bisa bersuara atau sang Liyan (the Other).

Selain kaum perempuan yang berada di bawah hegemoni budaya patriarkhi, Saman dan Larung juga memberi ruang bagi kelompok-kelompok marginal, seperti korban penindasan negara dan milter, kaum biseksual, termasuk korban-korban tragedi 1965.

Menurut Sujaya, dalam pembicaraan sastra Indonesia pasca-Reformasi, sulit mengabaikan sosok dan karya-karya Ayu Utami. Faktanya, karya-karya yang mengeksplorasi seksualitas atau perayaan tubuh perempuan sempat mewarnai arena sastra Indonesia pada awal-awal Reformasi, bahkan sejurus menjadi semacam arus utama. Adanya label “sastrawangi”, bahkan “Gerakan Syahwat Merdeka” justru menegaskan eksistensi karya-karya semacam itu.

Pada perkembangan selanjutnya, sejarah sastra Indonesia pasca-Reformasi juga mencatat kemunculan kembali karya sastra religius bernuansa Islami yang oleh sejumlah peneliti dilabeli sebagai “sastra Islami”. Selain itu, tumbuh karya-karya tentang kisah sukses atau dikenal sebagai “sastra inspirasi” yang belakangan justru mendominasi pemasaran buku-buku sastra di Indonesia.

Suasana peserta Temu Buku Beranda Pustaka / Foto: Ist

Belakangan, Ayu Utami juga menggeser tema-tema karyanya pada eksplorasi tema-tema spiritual, tetapi dilabelinya dengan sebutan “spiritualisme kritis”, seperti tampak pada seri novel Bilangan Fu (2008).

Istilah “spiritualisme kritis” dimaknai Ayu Utami sebagai sikap spiritual yang tidak mengkhianati nalar kritis. Latar belakang istilah spiritualisme kritis, menurut Ayu Utami, lahir dari keprihatinannya terhadap makin meningkatnya kekerasan atas nama agama di Indonesia dan terorisme di dunia. Penggalian tentang spiritualisme kritis itu dilakukan Ayu Utami melalui pembacaan terhadap teks-teks sastra tradisional, khususnya Jawa yang mengantarkannya pada konsep rasa.

“Apakah tawaran karya-karya berlabel spiritualisme kritis ini bisa berterima dan menangguk sukses seperti Saman dan menjadi arus utama lagi dalam sastra Indonesia? Tentu masih perlu kita tunggu perkembangannya,” kata Sujaya.

Sujaya juga mengapresiasi upaya Ayu Utami menghadirkan wajah Bali yang lain dalam novel-novelnya, terutama Larung. Dalam konteks tragedi 1965, imbuh Sujaya, Ayu Utami melalui novel Larung memilih korban dari Bali. Sebelumnya, ini jarang digarap para sastrawan dan setelah novel Ayu Utami tema tentang korban tragedi 1965 di Bali makin banyak kita temukan dalam sastra Indonesia.

“Bali dalam Larung bukanlah Bali yang eksotik atau penuh daya keindahan turistik, tapi Bali dengan sisi gelapnya yang mengajak pembaca berpikir dan memahami Bali yang lebih utuh,” tandas Sujaya.

Sebastian Partogi juga mempertanyakan kecenderungan banyak orang melihat karya-karya Ayu Utami dari sisi seksualitas. Padahal, dari hasil pembacaannya, karya-karya Ayu Utami banyak sekali lapis-lapisnya. Novel-novel Ayu Utami juga menyajikan soal-soal dilema etis.

“Dalam Saman, tokoh utamanya yang dulunya pastur, lalu dia melihat begitu banyaknya kekejaman yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit. Dia akhirnya mempertanyakan, memang Tuhan benar ada? Kok ada penderitaan dan kekejaman seperti itu tapi tidak ada yang menolong. Lahannya dibakar, terus perempuan diperkosa oleh pihak-pihak yang merebut lahan mereka,” ujar Partogi.

Suasana peserta Temu Buku Beranda Pustaka / Foto: Ist

Menurut Partogi, karya-karya Ayu Utami selalu menstimulasi pikiran yang membuatnya berbeda denga novel-novel bernuansa agama yang pesan-pesannya cenderung verbal.  Novel-novel Ayu Utami, ujarnya, mengajak pembaca mempertanyakan apa yang sudah mapan.

Ayu Utami mengakui dirinya dikenal orang karena Saman. Novel itu menjadi best seller atau kontroversial serta dianggap menjadi tren sehingga Saman diterima sebagai kisah sukses. Namun, Ayu Utami menyatakan dirinya tidak pernah berbuat untuk mencapai kesuksesan. Sukses itu datang bersama momentum. Menurutnya, dia juga mengalami kegagalan. Tahun 1994, dia gagal jadi aktivis dan sempat dipecat setelah majalah Tempo, tempatnya bekerja, dibreidel.

Ayu Utami tak mengelak jika karya-karyanya dilatarbelakangi oleh dinamika masyarakat. Selain Saman dan Larung yang merespons represi Orde Baru, novel Bilangan Fu juga merespons menguatnya intoleransi dan terorisme.

Mengenai persaingan dalam pasar buku-buku sastra di tengah kembali menguatnya novel-novel religius dan inspiratif, Ayu Utami menilai itu juga berkaitan atau terjadi dalam bidang-bidang lain. Menurutnya, pasar buku-buku sastra tidak menjadi sesuatu yang terpisah dengan dinamika masyarakat.

Ayu Utami mengaku bersyukur jika karya-karyanya diterima sebagai ajakan untuk berpikir dan mempertanyakan kembali sesuatu yang mapan seperti dirasakan Partogi. Dalam konteks situasi terkini, kesadaran untuk memeriksa kembali sesuatu yang dianggap mapan, sukses atau hebat, sangat perlu dilakukan. “Saman dianggap sukses. Kesuksesan adalah cermin kemapanan sehingga perlu juga untuk diperiksa kembali,” tandas Ayu Utami.[T]

Membaca Goenawan Mohamad: Sebuah Pembacaan yang Meleset
Mewujudkan “Bali International Book Fair”: Tidak Mudah, tapi Bali Punya Modal Kuat
Tiga Sastrawan Berbagi Proses Kreatif: Platform Menulis Makin Beragam, Tapi Tetap Kontrol Diri
Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea
Tags: Ayu Utamibedah bukuBukuFestival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2023
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Yang Muda yang Cerdas Memilih Tontonan

Next Post

Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails
Next Post
Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Ketua DPRD Buleleng:  Perlu Terobosan Peningkatan APBD Untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co