13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater “Otonan”, Perjalanan Menuju Hari Lahir

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 17, 2023
in Ulas Pentas
Teater “Otonan”, Perjalanan Menuju Hari Lahir

Pentas/Dramatic Reading naskah Otonan di Komunitas Mahima | Foto: Jason Aditya

When I was younger, I thought life is simpler. Can I have more time. To realize how far I am from understanding.

Itu adalah salah satu kalimat yang akan menutup pentas Otonan yang saya tulis. Mengapa saya menuliskan kalimat ini, karena pada akhirnya, kita semua sedang mencari makna, mencari cara, mencari sudut pandang atas apa yang terjadi pada kita. Untuk menyadari betapa jauh kita dari kata ‘paham’.

Kesadaran saat masa menjadi ibu, di awal kelahiran anak saya, telah mengubah saya menjadi manusia yang berbeda. Proses kelahiran telah mengubah sudut pandang saya sebagai perempuan menjadi lebih kaya, lebih beragam.

Pemahaman saya soal diri berkembang, karena saya tahu ketika proses melahirkan itu tiba, dalam konteks senyata-nyatanya, saya merasa bahwa kehidupan saya telah bukan lagi tentang saya semata, tapi tentang anak yang akan saya lahirkan. Tentang dia, dan tentang semua itu, saya rela untuk mengorbankan nyawa.

Saya ingat betul ketika proses kelahiran terjadi, di atas rasa sakit yang tidak tertanggungkan itu, saya sempat berpikir mati, dan jika Tuhan harus menentukan, saya memilih sayalah yang mati daripada anak saya. Totalitas penyerahan diri semacam itu ketika proses kelahiran terjadi telah mengubah semua sudut pandang saya tentang makna diri dan seterusnya.

Kelahiran telah membuat kehidupan yang terlihat fana ini menjadi sedetik yang abadi, yang menciptakan dunia baru yang tak terbayangkan sebelumnya. Rasa sakit yang tiada dapat dilukiskan itu telah menjadikan seorang ibu menjadi manusia yang kuat, daripada yang dia pernah bayangkan.

Anak-anak yang memainkan naskah Otonan sedang latihan di Komunitas Mahima | Foto: Jason Aditya

Naskah Otonan ini saya tulis ketika ada sebuah penawaran program dari Penastri (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia) yaitu KalamPuan dengan tema Menafsir Ritual yang mensyaratkan peserta mengikuti workshop perempuan menulis naskah dan diakhiri dengan penulisan naskah.

Ketika saya melamar program ini saya telah menyiapkan konsep pementasan. Dan ketika dinyatakan sebagai salah satu yang lolos, saya telah merancang naskah ini sebagai naskah yang akan saya kembangkan hingga akhir workshop.

Program ini berlangsung sejak Agustus 2022 hingga kini memasuki tahap akhir yaitu dramatic reading. Para pengisi workshop di antaranya para budayawan, penulis dan akademisi, seperti Naomi Srikandi, Prof. Melani Budianta, dan Brigitta Isabella.

Naskah kami digodok dan mendapat masukan untuk perbaikan di sepanjang proses penulisan. Naskah Otonan juga mengalami perbaikan dan penguatan di sana-sini sehingga menjadi bentuknya saat ini meskipun juga masih terdapat ruang perbaikan setelah proses dramatic reading.

Otonan adalah ritual hari lahir di Bali, dan saya menulis naskah ini karena saya percaya bahwa ritual memiliki tujuan yang mulia, memberi pemaknaan kembali pada diri, kepada semesta, kepada kekuatan di luar diri yang senantiasa menjaga dan melindungi.

Konsep pementasan ini menggunakan pendekatan realistic sekaligus non realistic karena sesuai dengan esensinya, ritual selalu berhubungan dengan dua hal ini. Dan kedua kekuatan ini menyeimbangkan narasi yang ingin dicapai dalam naskah.

Salah satunya adalah elemen kidung yang memperkuat naskah. Kidung yang sarat filosofi ini menjadi sebuah penanda bahwa kita tak boleh berhenti belajar dan menjadi bermakna bagi semesta.

Maka sayapun mencantumkan beberapa kidung di sini sebagai pengingat betapa ikhlasnya semesta menjaga kita, mulai dari matahari dan bulan yang silih berganti menerangi bumi.

sang hyang candra tarāngganā pinaka dīpa mamaḍangi ri kālaning wĕngi
sang hyang surya sĕḍĕng prabhāsa maka dīpa mamaḍangi ri bhūmi maṇḍala

Maknanya kurang lebih begini,

Hyang bulan bersinar amat terang, bagai cahaya menerangi malam
Hyang matahari terang benderang bagai lampu menerangi bumi

Lalu manusia yang rapuh namun sombong ini nyaris selalu lupa pada semesta dan berkali kali harus diingatkan untuk menjadi penjaga semesta yang baik.

Anak-anak yang memainkan naskah Otonan sedang latihan di Komunitas Mahima | Foto: Jason Aditya

Dan dalam naskah inipun saya  mencantumkan tembang Bibi Anu. Tembang ini sangat baik digunakan sebagai wejangan kepada diri sendiri, untuk berjaga pada kemungkinan apapun, menggunakan kecerdasan dan kemawasan sebagai landasan dan kekuatan hidup.

Bibi Anu
Lamun payu luas manjus
Antenge tekekang
Yatnain ngabe masui
Tiuk puntul
Bawang anggo pasikepan

Dalam konteks ritual seorang ibu yang mengupacarai anaknya dengan otonan, pesannya sudah jelas, bahwa di luar kekuatan ibu, ada kekuatan lain yang menjaga sang anak selain Tuhan dan leluhur, yaitu empat saudara yang dibawanya sejak lahir; air ketuban, darah, lemak, dan ari-ari.

Keempat saudara inilah yang membersamai janin dari dalam rahim hingga keluar dari rahim. Mereka juga terus menjaga sang anak hingga dewasa dan hingga tutup usia.

Ritual otonan digunakan untuk memberi penghormatan kepada keempat saudara ini sekaligus juga untuk memberi perlindungan menyeluruh kepada sang anak.

Proses latihan teater/dramatic reading naskah Otonan

Ada semacam harapan kepada anak agar senantiasa kuat dalam menjalani hidup seperti dalam sesontengan atau sejenis mantra seperti ini,

Ne cening magelang benang, apang mauwat kawat mabalung besi

Artinya, ini nak, kamu memakai gelang dari benang, supaya ototmu seperti kawat, dan tulangmu seperti besi.

Ritual ini tak hanya kaya dengan makna dan filosofi namun kaya dengan perspektif. Semakin dalam kita mempelajari unsur-unsurnya, semakin dalam ketidakpahaman kita.

Naskah ini adalah cara saya berdialog dengan diri dan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah usai. Keindahan ritual dalam naskah ini menjadi sederet perspektif yang perlu dimaknai kembali. Dan perjalanan masih panjang kepada pemahaman seperti yang saya gunakan sebagai penutup.

….. To realize how far I am from understanding.

Dan ya meskipun semua ini masih pemahaman yang sementara sifatnya, namun sebagai proses belajar, maka saya meyakini catatan ini penting dibagikan. Sebagai pembuka bagi yang ingin memaknai ritual sebagai teks yang terbuka, teks yang rendah hati dibuka.

Dramatic reading Otonan ini dipentaskan oleh Komunitas Mahima dan UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dapat disaksikan di kanal youtube Komunitas Mahima secara live pada 20 Februari 2023. [T]

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Teater-Dongeng Komunitas Mahima: Mengalirlah Bahasa Bali-Kawi-Indonesia-Inggris di Atas Panggung
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Tags: Hindu BaliKomunitas MahimaRitual OtonanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

Next Post

Peran Software Distribusi dalam Menuntaskan Tantangan Distribusi Global di Masa Depan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Peran Software Distribusi dalam Menuntaskan Tantangan Distribusi Global di Masa Depan

Peran Software Distribusi dalam Menuntaskan Tantangan Distribusi Global di Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co