23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Guru Abal-Abal

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
February 12, 2023
in Opini
Bukan Guru Abal-Abal

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

HUJAN SEMAKIN menjadi-jadi pada Sasih Kawulu ini. Gerombolan burung gereja yang kedinginan berusaha menyelipkan tubuhnya di sebuah lubang kayu lembah kaldera, menghindar dari guyuran hujan yang tak kenal ampun. Angin dan kabut dingin yang membekukan deretan hari, menusuk-nusuk ke tulang berhembus menyesakkan dahan-dahan.

Tubuh saya terasa remuk, tak tentu bentuk, beberapa tulang lenganku tersumbur keluar, darahku telah membeku di atas motor tunggangan. Ini tak menyurutkan tekad untuk menemui anak-anak yang sangat butuh materi resensi di kelas.

Dari sini kelas akan saya mulai di tengah Sasih Kawulu yang pekat. Saya harus memulai dan mengerjakan proyek belajar ini. Singkat cerita mengisi pekatnya Sasih Kawulu ini, pada saat saya mengajarkan tentang materi resensi, dari sini tergali betapa suramnya minat membaca siswa.

Materi resensi bagi saya tidak sekadar berteori tentang resensi. Tidak sekadar apa itu resensi? Unsur-unsur resensi, kaidah kebahasaan resensi, dan lain sebagainya terkait resensi.

Saya mengatakan kepada siswa, jika hanya deretan teori itu tujuan pembelajaran yang harus dikuasai, diberbagai referensi, di google, sangat banyak. Karena itu, peran guru untuk menyampikan teori ini tak terlalu penting. Karena dengan googling, dengan menonton video tutorial sangat mudah untuk ditemukan diberbagai media. Jadi, pembelajaran seperti ini bisa dilakukan secara konstruktivis.

Begitu pula dengan asessesmen dan penilain. Jika setelah belajar materi resensi dan materi-materi yang lainnya, dievaluasi dengan soal uraian atau soal pilihan, a, b, c, dan seterusnya, itu hal yang memang biasa selama ini dilakukan acap kali pembelajaran dianggap selesai. Itu pakem yang memang baku. Lantas siswa bisa menjawab dengan benar berapapun jumlah soal yang diberikan oleh guru dan mendapatkan hasil 100.

Artinya, siswa sangat hebat dan setelah itu urusan materi resensi sudah selesai. Sudah habis dan sudah tak ada kabar selanjutnya.

Apa yang ingin saya sampaikan dari hal ini? Jika pembelajaran seperti ini ternyata sangat sederhada dan gampang. Hanya mengukur ranah kognitif secara kuantitatif. Tetapi jika mau diperdalam lagi secara “lebih” bermakna, urusan belajar tidak sekadar mengukur dan mengisi diri dengan ranah pengetahuan. Hanya sekadar mengukur tingkat pengetahuan dengan deretan teori lalu diukur dengan deretan soal, persoalan belajar sudah selesai dan sudah habis.

Bagi saya belajar tak saja selesai pada ranah kognitif dan nilai 100. Lalu saya kenjar secara lebih autententik pembelajaran itu, hingga siswa merasakan betapa hebatnya belajar tanpa batas, tanpa sebatas teori, atau melulu berteori.

Di sinilah saya menemukan persoalan itu yang sangat mendasar. Persoalan mendasar tentang kecakapan literasi siswa, “miskinnya” koleksi bacaan murid, dan yang paling mengenaskan siswa kering membaca bahkan nihil membaca. Di sinilah persoalan itu saya temukan yang harus saya kerjakan secara lebih mendasar. Persoalan yang selama ini dilupakan, pembiaran, hingga pembelajaran pada ranah psikomotor menjadi tanpa roh, tak berdaya, dan mati.

Ketika saya melakukan projek meresensi buku pada siswa dengan limit waktu yang begitu lama dan bisa dilakukan tanpa terbatas ruang dan waktu. Artinya tak sebatas di sekolah 2 jam pembelajaran. Projek ini lalu saya asessesmen dan evaluasi, hasilnya sangat pencengangkan. Seorang siswa berkata “membaca begitu melelahkan, sulit dan malas”.

Saya katakan selama ini apa yang kalian lakukan terkait belajar. Apakaah belajar tanpa membaca, atau sekadar baca hanya untuk urusan menjawab soal ulangan, atau sepotong teori jika perlu saja? 

Persoalan ini sangat miris. Jika siswa tingkat menengah kondisinya sangat berat kalau berhadapan dengan persoalan baca. Berarti selama ini siswa begitu hampa dan gelap karena membaca begitu tak berdaya.

Membaca bagi siswa atau bagi orang bukan keterampilan yang sertamerta. Bukan sebuah kodrat yang jatuh begitu saja dari langit. Tetapi keterampilan membaca akan terbentuk dengan pembiasaan yang dibudayakan hingga menjadi “menu” dalam hidup. Jika sampai saat ini siswa belum mengenal Putu Wijaya, AA Panji Tisna, Oka Rusmini, dan sastrawan lain Bali, itu sangat menyedihkan. Bahkan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang plang namanya masih terpampang  di Toya Bungkah, Kaldera, Kintamani, Bali, mereka tidak kenal walaupun itu sekadar nama atau jejak langkahnya di Toyabungkah, Bali.

Dalam konteks yang saya bicarakan ini, mungkin sudah masuk urusan yang lebih ekstrim bagi sebagaian murid. Karena yang sederhana saja seperti mana buku fiksi dan non fiksi masih terlalu asing bagi murid.

Dari mana saya harus memulai untuk persoalan ini. Jika secara mendasar saja mereka masih begitu hampa. Siswa tahu sebenarnya “hanya dengan membaca bisa membuka jendela dunia”, “membaca adalah guru yang terbuka setiap saat”. Tetapi toh juga mereka tak melakukan gerakan membaca minimal untuk kehidupan pribadinya.

Membaca memang bukan persoalan mendatangkan uang, bukan persoalan bisnis, bukan pula persoalan sukses. Namun, Perlu diingat, dengan membaca akan membuka peluang bisnis, peluang sukses, dan peluang-peluang yang lainnya.

Tidak ada cara lain, tidak ada cara hebat untuk menjadi hebat kecuali dengan melakukan gerakan membaca. Jangan kalian anggap saya sebagai guru sekadar guru, guru abal-abal. Yang sekadar berteori di kelas. Misalnya, selesai pada urusan teori pada mareri resensi lalu tesnya pada soal soal a, b, c, d,. Setelah itu, kalian mendapatkan nilai 100. Selanjutnya, urusan materi akan selesai, tanpa makna lagi.

Kapan siswa mau tahu dan tahu tentang jejak langkah dan gerakan-gerakan STA di Toya Bungkah. Kapan mereka mau tahu PPutu Wijaya, Aryantha Soethama, kapan mereka tahu Pramoedya Ananta Toer, sastrawan hebat sepanjang abad yang pernah dipenjara di Pulau Buru? Kapan mereka tahu tentang Bali dengan segala kegelapan dan terang, lewat baca buku-buku pengarang itu.

Murid terlalu nyaman pada zona yang begitu tenang. Tenang dan nyaman jika belajar sekadar membaca sepotong halaman buku. Murid menganggap urusan sekolah terutama belajar hanya selesai pada nilai 100, lalu tanpa makna karena sampai tamat, satu buku pun belum pernah terbaca. Ini ironis. Satu buku Pramoedya yang murid baca akan membekas dan terpahat maknanya dalam hidupnya sepanjang masa, ketimbang nilai 100 yang diperoleh hanya dengan menebak jawaban a, b, c, atau d.

Sekali lagi, dimana persoalannya? Persoalan itu ada pada kata “belajar autentik”. Membiarkan hidup murid tanpa keterampilan mumpuni dari proses membaca secara autentik. Membiarkan hidup yang tenang pada zona nayaman. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah tidak nyaman dan dirong-rong oleh “kemiskinan” dan ketidakberdayaan membaca. Hidup siswa telah direnggut rasa cemas yang berkepanjangan karena tidak melakukan gerakan untuk mengisi  nutrisi otak dengan bacaan-bacaan yang penuh diferensiasi.

Sebagai guru, walau hanya sebatas guru, persoalan ini tidak akan saya biarkan. Entah saya dianggap guru yang mencari sensasi, saya tidak peduli. Yang lebih saya pedulikan untuk mengentaskan “kemiskinan” membaca untuk membangun paling tidak sumber daya dirinya.

Untuk gerakan yang nyata, yang autentik. Saya bukan guru abal-abal yang hanya sekadar sok berteori lalu urusan membaca siswa selesai. Dari peristiwa belajar resensi siswa akhirnya tahu rasa mual karena harus terpaksa membaca. Mulai uring-uringan karena mulai bersentuhan dengan buku, dan memilih buku. Mulai mengatakan “saya baru tahu arti penting membaca”.

Atau baru mau mengatakan dengan jujur “saya baru belajar membaca”. Miris mendengar ini. Sedih dan sekaligus perjuangan hebat yang perlu saya kerjakan. Tentu dengan gerakan nyata, gerakan riil yang tanpa pernah ada rasa atau pretensi untuk mendapatkan apa apa selain menyasarkan dan membangun belajar membaca murid yang selama ini merasa ada pada zona nyaman. [T]

BACA artikel lain dari penulis I GEDE EKA PUTRA ADNYANA

Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?
Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli
Tags: guruLiterasiliterasi sekolahPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan

Next Post

“Colors Is In The Atmosphere” — 3 Perupa Bali Dalam Pameran “Love Is In The Air ” di Teh Villa Gallery Surabaya

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
“Colors Is In The Atmosphere” — 3 Perupa Bali Dalam Pameran “Love Is In The Air ” di Teh Villa Gallery  Surabaya

"Colors Is In The Atmosphere" -- 3 Perupa Bali Dalam Pameran "Love Is In The Air " di Teh Villa Gallery Surabaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co