25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Masa Lalu dan Masa Depan Dalam “Langit Dibelah Dua” Karya Gde Aryantha Soethama

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 21, 2022
in Ulas Buku
Dilema Masa Lalu dan Masa Depan Dalam “Langit Dibelah Dua” Karya Gde Aryantha Soethama

Buku naskah lakon Langit Dibelah Dua karya Gde Aryantha Soethama

WAKTU ADALAH suatu hal yang tidak dapat ditentukan oleh manusia, waktu bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bisa juga menjadi sesuatu yang menakutkan bagi setiap orang.

Setiap orang akan selalu berhadapan dengan berbagai rintangan dan juga hambatan dalam setiap perjalanan, namun semua itu akan dapat dilalui jika orang itu berani untuk melangkah. Jika memulai untuk melangkah saja amatlah susah, maka perjalanan kita akan tersendat dan tidak akan ke mana-mana.

“Tidurlah untuk bermimpi yang indah, kemudian bangunlah untuk mewujudkannya”.

“Langit Dibelah Dua”. Buku dua lakon sebabak karya Gde Aryantha Soethama ini merupakan salah satu buku yang bagus, karena isinya yang ringkas dan alurnya yang menarik. Dalam buku ini terdapat dua lakon, yang pertama yakni berjudul “Langit Dibelah Dua” dan yang kedua berjudul “Pulau Penyu”.

Judul “Langit Dibelah Dua” mewakili dua lakon dalam buku ini. Dua lakon di dalamnya mengangkat dua hal yang berlawanan. Dalam lakon pertama menceritakan tentang kebencian menghadapi masa depan dan terlalu terbuai dengan masa lalu, sedangkan lakon kedua menceritakan tentang mimpi masa depan yang amat terlalu besar, dengan mudahnya terbuai dengan berbagai iming-iming, sampai-sampai kehilangan segala hal termasuk orang-orang terkasihnya.

Dua lakon di dalam buku ini mengangkat tema yang berbeda, lakon pertama “Langit Dibelah Dua” mengangkat tentang kebencian menghadapi masa depan dan kerinduan yang menggebu-gebu selalu pada masa silam. Sedangkan lakon yang kedua “Pulau Penyu” mengangkat tentang dampak pariwisata terhadap lingkungan dan juga kehidupan sosial masyarakat setempat.

Pada lakon yang pertama diceritakan tokoh Ikun (wanita 35 tahun) ini memandang masa lalu sebagai sesuatu yang sudah pasti, banyak kenangan manis. Sedangkan masa depan itu ruwet, membuat panik, penuh tanda tanya dan ketidakmengertian. Kendati masa depan itu menjanjikan kebahagiaan, kenikmatan, kekayaan, Ikun tidak peduli. Baginya itu tetap ruwet.

Ikun selalu mengusik ibunya untuk menceritakan berbagai masa lalunya dan sangat tidak senang apabila ada yang membicarakan atau membahas masa depan terlebih lagi membahas usia. Ia sangat tidak senang saat ulang tahunnya dirayakan, karena Ikun menganggap itu merupakan suatu hal untuk menyambut masa depan yang selama ini ia anggap ruwet, bahkan ia tidak mau menikah karena beranggapan menikah hanya akan menambah beban saja dan membuat hidupnya semakin ruwet.

Melalui problematika tersebut dapat diartikan bahwa lakon yang pertama menceritakan tentang orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang sering disebut dengan anti sosial atau Social anxiety yaitu ketakutan atau kecemasan ketika berada dalam lingkungan sosial dan ketakutan menghadapi masa depan. Dapat diartikan juga dengan gangguan kepribadian, yang dimana terjadi penyimpangan perilaku dari norma-norma, yang terus dilakukan dari waktu ke waktu, dan mengarah pada perbuatan yang berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Dalam lakon “Langit Dibelah Dua” Ikun diceritakan selalu bersikap layaknya seperti anak kecil, padahal usianya sudah menyentuh kepala tiga yakni 35 tahun. Ikun merupakan seorang yang digambarkan cantik dan pintar. Ia kerap kali didatangi oleh Tuan Samudra (teman ayah Ikun) sampai empat kali hanya untuk menawarkan pekerjaan sebagai sekretaris bahkan menjadi direktur di perusahaannya.

Namun Ikun selalu menolak kesempatan tersebut bahkan menganggap Tuan Samudra sebagai orang yang cerewet dan memaksakan, padahal Tuan Samudra hanya ingin membalas budi Ayahnya karena banyak membantu Tuan Samudra mengembangkan usahanya.

Pada titik ini mungkin sebagian pembaca akan geram dengan tingkah laku Ikun yang selalu menolak kesempatan emas yang bisa saja membuat masa depannya cerah, namun prinsip Ikun tidak dapat digoyahkan, ia tetap konsisten dengan kebenciannya terhadap masa depan yang menurutnya ruwet itu, dan ia selalu terbelenggu oleh buaian masa lalunya. Padahal tanpa adanya masa depan maka tidak akan ada masa lalu yang tercipta.

Mungkin saja tokoh Ikun mengalami trauma yang mendalam sehingga membuatnya benci dengan masa depan dan mempengaruhi kejiwaannya, yaitu mengalami kecemasan sosial yang berlebihan.

Tokoh Suhadak (teman masa kecil Ikun) dalam lakon ini datang saat ulang tahun Ikun dengan memberikan hadiah boneka yang dulu pernah diberikan Ikun 10 tahun yang lalu. Suhadak justru membuat Ikun semakin terbuai dengan masa lalu dan semakin membenci masa depan, dengan diiming-imingi kisah yang seakan-akan menggambarkan betapa ruwetnya masa depan itu.

Suhadak bahkan menyarankan Ikun untuk menceritakan segala keluh kesahnya kepada boneka yang diberikannya. Jelas hal tersebut dianggap tidak wajar oleh Ibu dan Pelayan Ikun, karena dengan hal itu gangguan kejiwaan Ikun semakin menjadi-jadi.

Dari keseluruhan alur lakon “Langit Dibelah Dua”selain social anxiety dapat diartikan bahwa tokoh Ikun mengidap gangguan kejiwaan Syndrome Peter Pan, gangguan ini cenderung banyak diderita oleh kaum pria, namun pada cerita “Langit Dibelah Dua”yang menderita gangguan ini adalah wanita yaitu Ikun.

Umumnya pengidap Syndrome Peter Pan ini mereka akan takut dengan komitmen dan tanggung jawab besar yang harus dipikul, sehingga memilih bersikap kekanak-kanakan dan selalu bergantung pada orang lain, dan akan berdampak pada orang-orang disekitarnya.

Terbukti dari tokoh Ikun yang selalu bergantung pada ibunya dan selalu menolak tua, menghindari masa lalu, tidak mau menikah, selalu menganggap masa depan sebagai hal yang menakutkan dan lain sebagainya.

Kemudian pada lakon kedua “Pulau Penyu”bercerita tentang dampak pariwisata terhadap kehidupan sosial masyarakat setempat. Pariwisata yang memberi iming-iming besar dan melambung tinggi, tanpa disadari bisa menjerumuskan orang-orang pada jurang bencana, cengkeram kejahatan dan perilaku buruk.

Diceritakan tokoh utama Gantus dan Kacong, dua anak muda yang bermimpi besar mengubah dan membangun Pulau Penyu. Gantus yang bekerja sebagai pedagang acung dan Kacong bekerja sebagai pemandu wisata (guide), Gantus bermimpi ingin memiliki artshop penyu dan Kacong bermimpi memiliki museum penyu.

Mereka diceritakan kerap kali mengalami kemalangan, mulai dari tanah pulau yang menyempit karena habis dijual, populasi penyu hampir habis karena selalu diburu untuk dijual dan lain sebagainya. Bahkan mereka saking ingin mewujudkan impian besarnya, mereka rela melepaskan segala hal yang mereka cintai termasuk kekasihnya, karena janji manis Tuan Bunciang (seorang germo) yang telah menipu mereka dengan tipu muslihatnya.

Mereka beranggapan Tuan Bunciang adalah orang yang baik sekaligus amat berjasa karena mengangkat derajat dan martabat pulau mereka, mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang ditipu dan berhadapan dengan seorang muncikari kelas kakap buronan polisi.

Gantus dan Kacong selalu berbicara tentang masa depan mereka yang cerah, gemilang, sukses, hingga terkenal ke seluruh jagat. Mereka bahkan menganggap bahwa mimpi mereka sudah menjadi kenyataan, seperti kata-kata Kacong ; “Aku sudah menjadi tuan besar di sebuah museum” dan Gantus ; “Aku sudah jadi eksportir kaya” (hal.61). Sampai-sampai membuat pedagang acung lainnya keheranan dengan tingkah laku mereka.

Kemudian datanglah polisi yang menanyakan keberadaan buronan yang ternyata itu adalah Tuan Bunciang, ia kerap kali menyamar dengan mengganti-ganti namanya. Ia memang seorang eksportir, namun eksportir perempuan atau seorang germo (muncikari). Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, mereka terlalu percaya bahwa Tuan Bunciang adalah orang yang bisa memperbaiki kehidupan mereka ternyata justru malah sebaliknya, mereka percaya dan rela untuk dibodoh-bodohi oleh Tuan Bunciang yang licik.

Mereka hanya bisa meratapi nasibnya yang malang dan berusaha mengejar Tuan Bunciang Bersama polisi untuk menyelamat sisa harapan mereka, yaitu kekasihnya. Mengutip kata-kata dari tokoh pedagang acung II ; “Kasihan Gantus dan Kacong, sudah kehilangan rezeki, kehilangan mimpi, kehilangan kekasih. Itulah nasib anak muda yang tak selalu gemilang” (hal.67).

Dari cerita lakon kedua “Pulau Penyu” ini, dapat diartikan bahwa Gantus dan Kacong mengalami Maladaptive Daydreaming atau ketika khayalan menjadi adiksi. Maladaptive daydreaming adalah ketika kondisi seseorang terjebak dalam khayalan mereka dalam waktu yang lama, sehingga mengabaikan hubungan dan kewajiban di dunia nyata. 

Penyebab maladaptive daydreaming terjadi ketika seseorang mengalami trauma, kekerasan, maupun kesepian. Mereka mencari cara untuk ‘kabur’ dari penderitaannya dengan cara berkhayal selama berjam-jam. Perbedaan berkhayal biasa dengan berkhayal maladaptive terletak dari bagaimana khayalan ini dapat membuat keterikatan emosional yang kuat dengan individu.

Keterikatan emosional biasanya dapat menggantikan perasaan sakit hati atau trauma di dunia nyata. Saking lelah dan bosan dengan kehidupan di dunia nyata, penderitanya bisa menghabiskan waktu untuk melamun dan memikirkan cerita menarik yang membuat dirinya merasa bahagia. 

Bahasa yang kerap diungkapkaan oleh anak muda masa kini yaitu “halu”. Halu atau melamun dalam batas wajar sah-sah aja, yang terpenting masih tetap bisa membedakan dunia khayalan dengan dunia nyata. Paling terpenting, tidak menarik diri dari dunia nyata. 

Tingkah laku tokoh Gantus dan Kacong ini bisa saja dikategorikan sebagai maladaptive daydreaming karena dari hakikat dan ciri-cirinya itu terdapat pada tokoh Gantus dan Kacong.

Mereka mengalami tekanan yang begitu banyak yang mungkin saja dapat menyebabkan depresi seperti tanah mereka yang mulai menyempit karena banyak dijual untuk dijadikan tambak, turis yang jarang berdatangan ke pulau mereka, tanah banyak dibeli orang luar sehingga mereka hanya akan menjadi kuli di tanah sendiri, kehilangan ratusan dolar karena turis tidak jadi ke pulau dan terhalang menikah karena biaya menikah yang begitu besar. Bisa saja dengan berbagai problematika tersebut membuat mereka agak sedikit kehilangan arah dan berkhayal berlebihan atau berimajinasi yang berlebihan. Dalam kenyataannya, banyak sekali orang-orang yang seperti itu, sama halnya dengan politisi yang gagal nyaleg.

Kedua lakon tersebut ceritanya sangat dekat sekali dengan kehidupan masyarakat, mulai dari takut dengan masa depan yang rumit dan menakutkan, serta kehidupan sosial sehari-hari masyarakat yang dapat mempengaruhi mental karena beratnya beban hidup dimasa kini terutama dalam ekonomi terlebih lagi karena pariwisata dan masyarakat bisa terjerumus ke dalam berbagai hal yang membahayakan seperti prostitusi atau perdagangan manusia (human trafficking).

Konflik yang dihadirkan pada kedua lakon ini juga sangat menarik emosional pembaca karena dekat dengan masyarakat dan lumayan susah ditebak akan berjalan dan berakhir seperti apa.

Kedua lakon itu sangat bagus jika digarap lebih dalam lagi pada sebuah pertunjukan teater ataupun drama terutama lakon “Pulau Penyu” dengan latar alam Bali selatan.

Akhir cerita dari kedua lakon tersebut kurang lebih hampir sama, yakni menggantung begitu saja tanpa akhiran yang jelas ataupun mendetail. Pada lakon pertama diakhiri dengan Ikun yang terus menerus berbicara dengan bonekanya, sedangkan pada lakon kedua diakhiri dengan pertikaian pedagang acung yang berbeda pendapat mengenai turis atau tibum yang mereka lihat dari kejauhan.

Mungkin akan lebih bagus jika ditutup dengan akhir dari perjalanan tokohnya, seperti lakon pertama, apakah tokoh Ikun akan selamanya kukuh dengan pendiriannya dan terganggu seperti itu? Dan pada lakon kedua apakah tokoh Gantus dan Kacong berhasil dalam pengejarannya ataukah mereka gagal dan meratapi nasib sialnya selamanya atau mungkin kembali ke pulau dan merintis usaha bersama, dan lain sebagainya?

Secara keseluruhan buku dua lakon sebabak “Langit Dibelah Dua” ini merupakan salah satu dari sekian banyaknya karya dari Gde Aryantha Soethama yang bagus dan pencinta drama atau naskah drama akan senang membaca bacaan seperti ini.

Jika biasanya lakon dipentaskan dipanggung, sementara dalam buku ini lakon dipentaskan melalui naskah yang dapat dibayangkan atau diimajinasikan sendiri oleh pembacanya. Tentu saja lakon yang ditulis bisa saja digarap dan dikembangkan lagi untuk menjadi sebuah pertunjukkan atau pementasan drama di atas panggung, dengan alur dan konflik cerita yang unik seperti itu, biasanya akan membuat penonton terhanyut dan larut dalam ceritanya. [T]

Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Konflik Kasta dan Adat Dalam Kesusastraan Bali Modern
Ida Waluh di Lereng Gunung Agung
Tags: BukuGde Aryantha Soethamanahkah dramaresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog “Aku, Istri Munir”: Dari Ingatan Keluarga ke Ingatan Kolektif Bangsa

Next Post

Mengejar Ilmu Menulis ke Samarinda: Cita-cita Naik Pesawat, Kini Ingin Jadi Penulis Profesional

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Mengejar Ilmu Menulis ke Samarinda: Cita-cita Naik Pesawat, Kini Ingin Jadi Penulis Profesional

Mengejar Ilmu Menulis ke Samarinda: Cita-cita Naik Pesawat, Kini Ingin Jadi Penulis Profesional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co