14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
in Ulas Buku
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59
  • Judul Buku: 23:59
  • Penulis Buku: Brian Khrisna
  • Penerbit: Media Kita
  • Tahun Terbit: 2023
  • Halaman: 232 hlm

“Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang berakhir dengan penuh tanda tanya.” Kutipan ini berasal dari sinopsis buku novel berjudul “23:59”. Buku itu ditulis oleh penulis Brian Khrisna — penulis yang sama dengan buku “Seporsi Mie  Ayam Sebelum Mati” dan “Sisi Tergelap Surga”.

Buku ini menceritakan seorang wanita bernama Ami, yang akan menikahi pria yang sangat mencintainya. Namun dia masih mencintai mantannya dengan banyak pertanyaan dalam hatinya. Raga — Si Mantan, hadir di keadaan yang membuat Ami hampir menjadi gila.

Cinta Ami kepada Raga adalah kisah cinta ironis. Banyak yang mempertanyakan mengapa Ami sangat mencintai Raga. Sampai-sampai gosip terkait guna-guna dan pelet dilontarkan ke pria bajingan yang tega meninggalkan sosok perempuan sempurna itu. Istilah “Pria Bajingan” bukanlah sebatas kata-kata hinaan semata. Kata itu adalah akibat dari pilihan Raga yang harus diterimanya.

Keputusasaan membawa Ami pada sebuah perjalanan imajinasi. Dimana  Ami justru menikah dengan Raga, dan bersikap seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Perjalanan dunia paralel ini menciptakan nostalgia, rasa haru, serta jawaban dari atas kepergian Raga darinya.

Judul 23:59 tidak hanya judul buku biasa, ia adalah konsep yang lahir dengan makna. Pukul 23;59 diibaratkan dengan sebuah arti dari pergantian hari dan perpisahan di hari kemarin. Seperti Ami dan Raga yang harus berpisah di hubungan kemarin, dan terus bangun di hubungan hari ini.

Banyak pembaca yang menyadari konsep ini dari judul buku dan detail-detail angka yang diselipkan oleh Brian Khrisna. Namun bagi saya, buku ini memiliki satu konsep yang sangat menginspirasi. Yaitu “belajar menerima konsekuensi.”

Pilihan dan kehidupan sangat berkaitan erat. Dikatakan, manusia membuat keputusan setiap harinya. Keputusan untuk bangun dari tidur, keputusan untuk makan di jam tertentu, keputusan untuk bekerja dan belajar, dll. Keputusan adalah pilihan-pilihan yang berhasil “putus”. Menjadikan pilihan akhir sebagai Ke”putus”an.

Pilihan membentuk 2 aspek, takdir dan konsekuensi. Takdir bergerak sebagai “ketetapan Tuhan” yang menjadi realita. Dan konsekuensi bekerja sebagai “hukuman realita”.

Ketika kita memilih sebuah pilihan, maka takdir akan terbentuk diikuti dengan konsekuensi. Konsekuensi adalah proses manusia dalam menjalani pilihannya. Dan itu tidak bisa dihindari.

Dalam buku “23:59”, Raga memutuskan hubungan dengan wanita yang ia  cintai. Walaupun dia tahu apa resiko dari keputusannya itu, dia gagal dalam menjalani konsekuensi dari keputusannya. Ketika ia mendapati Ami akan menikah dengan pria lain, Raga makin menjadi pecundang dengan terus menghindari Ami tanpa memikirkan perasaannya sendiri — bahwa ia masih mencintai Ami.

Konsep “belajar menerima konsekuensi” makin ditekankan ketika Brian Khrisna membawa konsep dunia paralel di cerita. Bagi saya, itu tidak hanya gambaran rasa rindu Ami, namun juga sebagai gambaran  bagaimana pilihan bisa mempengaruhi takdir sekaligus konsekuensi dari masing-masing individu.

Di dunia paralel, walaupun mereka bersama, ada pihak-pihak yang menolak hubungan mereka. Menjadikan perjalan rumah tangga mereka tak semulus yang dipikirkan. Raga mengalami diskriminasi dari pihak-pihak yang tak menyukai hubungan itu.

Namun Ami dan Raga di dunia paralel menerima konsekuensi itu. Menjalani kehidupan mereka sebagai suami istri pada umumnya. Berbelanja, menanam buah strawberry, hingga bisa membangun rumah impian. Mereka menjalani konsekuensi, karena itulah pilihan yang mereka ambil.

Tentu dunia nyata dan paralel itu memiliki perbedaan dari pilihan mereka dalam memilih dan mengorbankan sesuatu. Tentu ada harga dari sebuah pilihan.  Nasib dari hubungan Ami dan Raga ada di pilihan yang mereka pilih, sama halnya dengan kita—manusia pada umumnya.

Manusia sebagian besar tidak memikirkan pilihan mereka, dan akhirnya tenggelam dalam lautan air mata dari penyesalan mereka. Masalahnya, cakupan pilihan tersebut sangat luas. Menciptakan sebuah paradoks (paradox of choice), sehingga banyak pilihan justru malah membuat kegelisahan dan ketidakpuasan.

Dalam konteks percintaan, ada sebuah pola yang menentukan nasib dari pasangan tersebut. Sepasang kekasih adalah dua orang yang memilih keputusan untuk saling mencintai dan merobohkan tembok masing-masing. Sehingga sudah dipastikan akan ada keterlanjangan yang menciptakan ketidaksinambungan dalam hubungan tersebut. Ketidaksambungan ini akan memunculkan reasksi, dan reaksi akan menimbulkan sebuah tegangan dalam hubungan.

Ketegangan ini akan menciptakan pilihan — melanjutkan atau selesai. Dan dari dua pilihan, akan banyak konsekuensi yang dipikirkan. Banyak pikiran membuat rasa kepercayaan diri seseorang menjadi menurun.  Dan rasa percaya diri yang menurun akan menurunkan kemampuan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan.

Pola ini tidak hanya berlaku pada hubungan percintaan, tapi hubungan lainnya seperti kemitraan, keluarga, bahkan dengan lingkungan. Keraguan akan menciptakan keputusan yang tak maksimal.

Ini yang membuat manusia mengalami keputusasaan dari keputusan yang mereka ambil. Selain karena tekanan, banyaknya konsekuensi yang terjadi terasa seperti “hantu” yang menggentayangi. Bukannya menciptakan kebebasan, namun malah membuat kurungan baru bagi diri kita.

Namun berita baiknya, dari buku novel ini, kita bisa memahami perspektif menerima konsekuensi atau bahkan hidup berdampingan dengan konsekuensi. Apa yang sudah Ami dan Raga lakukan dalam menerima konsekuensi dari pilihan masing-masing sangat menginspirasi. Walaupun dengan hasrat cinta yang membara dan intensitas seksual yang cukup mengganggu saya, buku ini tetap memberikan sebuah refleksi mendalam bagi saya. Terkait bagaimana memikirkan pilihan dan menerima konsekuensinya. [T]

Penulis: Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: BukucintaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda —Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Next Post

Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails
Next Post
Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co