2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
in Ulas Buku
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59
  • Judul Buku: 23:59
  • Penulis Buku: Brian Khrisna
  • Penerbit: Media Kita
  • Tahun Terbit: 2023
  • Halaman: 232 hlm

“Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang berakhir dengan penuh tanda tanya.” Kutipan ini berasal dari sinopsis buku novel berjudul “23:59”. Buku itu ditulis oleh penulis Brian Khrisna — penulis yang sama dengan buku “Seporsi Mie  Ayam Sebelum Mati” dan “Sisi Tergelap Surga”.

Buku ini menceritakan seorang wanita bernama Ami, yang akan menikahi pria yang sangat mencintainya. Namun dia masih mencintai mantannya dengan banyak pertanyaan dalam hatinya. Raga — Si Mantan, hadir di keadaan yang membuat Ami hampir menjadi gila.

Cinta Ami kepada Raga adalah kisah cinta ironis. Banyak yang mempertanyakan mengapa Ami sangat mencintai Raga. Sampai-sampai gosip terkait guna-guna dan pelet dilontarkan ke pria bajingan yang tega meninggalkan sosok perempuan sempurna itu. Istilah “Pria Bajingan” bukanlah sebatas kata-kata hinaan semata. Kata itu adalah akibat dari pilihan Raga yang harus diterimanya.

Keputusasaan membawa Ami pada sebuah perjalanan imajinasi. Dimana  Ami justru menikah dengan Raga, dan bersikap seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Perjalanan dunia paralel ini menciptakan nostalgia, rasa haru, serta jawaban dari atas kepergian Raga darinya.

Judul 23:59 tidak hanya judul buku biasa, ia adalah konsep yang lahir dengan makna. Pukul 23;59 diibaratkan dengan sebuah arti dari pergantian hari dan perpisahan di hari kemarin. Seperti Ami dan Raga yang harus berpisah di hubungan kemarin, dan terus bangun di hubungan hari ini.

Banyak pembaca yang menyadari konsep ini dari judul buku dan detail-detail angka yang diselipkan oleh Brian Khrisna. Namun bagi saya, buku ini memiliki satu konsep yang sangat menginspirasi. Yaitu “belajar menerima konsekuensi.”

Pilihan dan kehidupan sangat berkaitan erat. Dikatakan, manusia membuat keputusan setiap harinya. Keputusan untuk bangun dari tidur, keputusan untuk makan di jam tertentu, keputusan untuk bekerja dan belajar, dll. Keputusan adalah pilihan-pilihan yang berhasil “putus”. Menjadikan pilihan akhir sebagai Ke”putus”an.

Pilihan membentuk 2 aspek, takdir dan konsekuensi. Takdir bergerak sebagai “ketetapan Tuhan” yang menjadi realita. Dan konsekuensi bekerja sebagai “hukuman realita”.

Ketika kita memilih sebuah pilihan, maka takdir akan terbentuk diikuti dengan konsekuensi. Konsekuensi adalah proses manusia dalam menjalani pilihannya. Dan itu tidak bisa dihindari.

Dalam buku “23:59”, Raga memutuskan hubungan dengan wanita yang ia  cintai. Walaupun dia tahu apa resiko dari keputusannya itu, dia gagal dalam menjalani konsekuensi dari keputusannya. Ketika ia mendapati Ami akan menikah dengan pria lain, Raga makin menjadi pecundang dengan terus menghindari Ami tanpa memikirkan perasaannya sendiri — bahwa ia masih mencintai Ami.

Konsep “belajar menerima konsekuensi” makin ditekankan ketika Brian Khrisna membawa konsep dunia paralel di cerita. Bagi saya, itu tidak hanya gambaran rasa rindu Ami, namun juga sebagai gambaran  bagaimana pilihan bisa mempengaruhi takdir sekaligus konsekuensi dari masing-masing individu.

Di dunia paralel, walaupun mereka bersama, ada pihak-pihak yang menolak hubungan mereka. Menjadikan perjalan rumah tangga mereka tak semulus yang dipikirkan. Raga mengalami diskriminasi dari pihak-pihak yang tak menyukai hubungan itu.

Namun Ami dan Raga di dunia paralel menerima konsekuensi itu. Menjalani kehidupan mereka sebagai suami istri pada umumnya. Berbelanja, menanam buah strawberry, hingga bisa membangun rumah impian. Mereka menjalani konsekuensi, karena itulah pilihan yang mereka ambil.

Tentu dunia nyata dan paralel itu memiliki perbedaan dari pilihan mereka dalam memilih dan mengorbankan sesuatu. Tentu ada harga dari sebuah pilihan.  Nasib dari hubungan Ami dan Raga ada di pilihan yang mereka pilih, sama halnya dengan kita—manusia pada umumnya.

Manusia sebagian besar tidak memikirkan pilihan mereka, dan akhirnya tenggelam dalam lautan air mata dari penyesalan mereka. Masalahnya, cakupan pilihan tersebut sangat luas. Menciptakan sebuah paradoks (paradox of choice), sehingga banyak pilihan justru malah membuat kegelisahan dan ketidakpuasan.

Dalam konteks percintaan, ada sebuah pola yang menentukan nasib dari pasangan tersebut. Sepasang kekasih adalah dua orang yang memilih keputusan untuk saling mencintai dan merobohkan tembok masing-masing. Sehingga sudah dipastikan akan ada keterlanjangan yang menciptakan ketidaksinambungan dalam hubungan tersebut. Ketidaksambungan ini akan memunculkan reasksi, dan reaksi akan menimbulkan sebuah tegangan dalam hubungan.

Ketegangan ini akan menciptakan pilihan — melanjutkan atau selesai. Dan dari dua pilihan, akan banyak konsekuensi yang dipikirkan. Banyak pikiran membuat rasa kepercayaan diri seseorang menjadi menurun.  Dan rasa percaya diri yang menurun akan menurunkan kemampuan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan.

Pola ini tidak hanya berlaku pada hubungan percintaan, tapi hubungan lainnya seperti kemitraan, keluarga, bahkan dengan lingkungan. Keraguan akan menciptakan keputusan yang tak maksimal.

Ini yang membuat manusia mengalami keputusasaan dari keputusan yang mereka ambil. Selain karena tekanan, banyaknya konsekuensi yang terjadi terasa seperti “hantu” yang menggentayangi. Bukannya menciptakan kebebasan, namun malah membuat kurungan baru bagi diri kita.

Namun berita baiknya, dari buku novel ini, kita bisa memahami perspektif menerima konsekuensi atau bahkan hidup berdampingan dengan konsekuensi. Apa yang sudah Ami dan Raga lakukan dalam menerima konsekuensi dari pilihan masing-masing sangat menginspirasi. Walaupun dengan hasrat cinta yang membara dan intensitas seksual yang cukup mengganggu saya, buku ini tetap memberikan sebuah refleksi mendalam bagi saya. Terkait bagaimana memikirkan pilihan dan menerima konsekuensinya. [T]

Penulis: Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: BukucintaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda —Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Next Post

Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co