12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Kasta dan Adat Dalam Kesusastraan Bali Modern

Gde Aryantha Soethama by Gde Aryantha Soethama
October 13, 2019
in Opini
Konflik Kasta dan Adat Dalam Kesusastraan Bali Modern

Gde Aryantha Soethama (duduk paling kanan) saat menjadi pembicara dalam acara Seminar Internasional Sastra Indonesia di Bali 10-13 Oktober 2019

Kritikus sastra Bali modern, Nyoman Darma Putra, mengungkapkan kegundahan sastrawan Bali menghadapi kenyataan sekitar, banyak yang dikembangkan menjadi karya fiksi dengan latar belakang konflik kasta dan adat. Darma mencatat, kegalauan itu sudah muncul sejak tahun 1926, tatkala majalah Surya Kanta yang terbit di Bali Utara memuat drama berjudul “Kesetiaan Perempuan”. Sejalan dengan makin banyaknya lahir pengarang Bali, karya- karya yang menggarap masalah kasta dan adat pun kian ramai. Majalah Surya Kanta dikenal kukuh menentang feodalisme dan menyajikan pemikiran reformis, terbit dari Oktober 1925 sampai September 1927.

Mengapa pengarang Bali getol menggarap masalah adat dan kasta? Mengapa mereka seperti memiliki kesepakatan atau keterikatan untuk terus menerus mengungkap masalah-masalah tradisi itu tanpa khawatir terjadi kejenuhan? Apa yang mereka cari dari tema-tema yang monoton itu? Mengapa tema adat dan kasta memiliki daya pikat luar biasa bagi pengarang Bali?

Bali sering dipuji karena memiliki masyarakat dengan komunitas saling menghargai, penuh tenggang rasa, hidup dalam pola keseimbangan antara alam, pribadi-pribadi dan Tuhan. Namun sejak lama pula orang-orang tahu kehidupan adat dan kasta di Bali adalah sumber konflik di tengah masyarakat. Konflik-konflik adat itu bentuknya beraneka ragam, sangat kompleks, berlarut-larut, dan sering tergelincir menjadi dendam atau pertentangan sangat tajam antar-kelompok. Banyak warga desa adat yang terjebak dalam perselisihan ruwet yang sangat peka, yang kalau dirunut awal penyebabnya hanyalah masalah sepele, seperti perselisihan anak muda yang kemudian membawa-bawa nama desa adat.

Kehidupan adat dan kasta di Bali memang kaya ketenteraman, namun juga kaya konflik. Seorang pengarang sangat membutuhkan konflik agar cerita tampil memikat. Dalam pelajaran mengarang prosa paling dasar pun sudah diketengahkan, cerita yang datar, tanpa konflik, tak akan pernah menarik, pasti menjemukan. Sebaliknya, cerpen, novel, roman, yang sangat kaya konflik, memiliki peluang besar menjadi masterpiece. Konflik dianggap esensi sebuah cerita. Jika si pengarang lihai, ia bisa mengolah konflik itu menjadi bermacam sumber pertentangan, bermacam gaya pertikaian, yang kalau diramu dengan penokohan, akan menjadi cerita penuh pesona yang sangat menggairahkan untuk dikunyah pembaca sampai habis. Kisah Mahabharata atau perang mahadahsyat Bharatayudha, adalah contohnya.

Sungguh tak mudah mencari tema cerita yang kaya konflik. Banyak pengarang berhari- hari mencari inspirasi untuk mendapatkan konflik itu, namun tak kunjung memperolehnya. Sementara masalah adat dan kasta di Bali justru menyuguhkan konflik yang kompleks itu, yang memiliki peluang lebar untuk dimekarkan dalam cerpen atau novel.

Konflik-konflik adat dan kasta itu tidak terpaku sebagai pertentangan antar-individu, atau antar-kelompok, namun juga menjadi konflik terbuka dengan konflik batin tokoh-tokoh cerita. Keberhasilan meramu konflik-konflik adat dengan konflik batin ini tentu menghasilkan cerita yang khas daya tariknya. Seperti itulah antara lain keunggulan yang dimiliki cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya Nyoman Rastha Sindu yang dinobatkan sebagai cerpen terbaik majalah sastra Horison tahun 1969.

Tatkala buku antologi cerpenis Bali dalam bahasa Inggris, Bali Behind the Scene, yang dikerjakan oleh penerjemah Vern Cork, diluncurkan di Ubud, Agustus 1996, seorang kolektor lukisan, pemilik museum dan galeri, Sutedja Neka, berbincang dengan pemerhati kebudayaan Bali, Putu Suasta, ketika rehat minum jus. Sutedja Neka berkata pada Suasta, bahwa peluncuran antologi pengarang Bali dalam bahasa Inggris itu merupakan peristiwa besar, karena baru kali itu diperkenalkan aneka karya fiksi tentang Bali oleh orang Bali atau mereka yang bermukim lama di Bali.

Putu Suasta melengkapi pendapat Sutedja Neka itu dengan mengatakan, bahwa karya-karya fiksi tentang Bali dalam bahasa asing (Inggris) sudah lumayan banyak, namun harus diakui tidak sebanyak karya nonfiksi. Banyak antropolog, sosiolog, dokter, ahli linguistik, penulis pariwisata, penari, sejarawan, koreografer, musisi, yang menulis kehidupan masyarakat Bali dalam bahasa asing. Banyak diantara buku itu yang dicetak ulang berkali-kali, menjadi best seller, bahkan menjadi buku klasik, tersebar luas, dicari-cari oleh mahasiswa, para pakar, dan pembaca umum dari berbagai bangsa.

Tapi, mengapa sedikit cerpenis, novelis asing yang menulis tentang Bali? Kesulitan apakah yang mereka hadapi? Padahal cukup banyak pengarang asing yang pernah tinggal lama di Bali. Mereka justru kemudian menulis catatan perjalanan atau tulisan yang mengarah pada pengkajian antropologi atau sosiologi yang cenderung menjadi tulisan populer.

Adat istiadat Bali, tentu termasuk hal ihwal kasta di dalamnya, punya keunikan sangat menarik untuk diamati, namun justru tidak gampang untuk ditulis dalam bentuk fiksi oleh orang luar. Dalam karya nonfiksi si penulis bisa berdiri bebas dengan kacamata objektivitas, menulis dengan kaidah yang sudah teruji, dengan teori-teori klasik atau modern yang sudah mereka kuasai. Mereka punya jarak dengan objek yang ditulis, karena mereka menggunakan pengamatan tanpa perlu melibatkan perasaan. Kalau ingin sukses menulis cerpen atau novel tentang komunitas di Bali, mereka mesti melibatkan perasaan.

Karena adat istiadat Bali kompleks dan ruwet, perlu waktu pendalaman cukup lama untuk bisa masuk memahaminya, agar bisa menghadirkan tokoh cerita yang terlibat dalam kemelut konflik adat dan kasta itu. Soal pematangan inilah yang menyebabkan karya-karya pengarang fiksi dari Barat tentang China atau Jepang tidak sanggup menyuguhkan irama seindah kalau ditulis sendiri oleh pengarang China atau Jepang. Karya-karya Pearl S. Buck tentang masyarakat Tiongkok tidak seindah karya pengarang China. Shogun karya James Clavel kalah indah dan kalah memikat tinimbang Musashi atau Oshin, tidak sekuat karya-karya Yasunari Kawabata dan Yukio Mishima.

Itulah kelebihan karya fiksi. Ia menjadi karya otentik, khas, karena tidak seperti karya ilmiah yang menggunakan metode sudah ada milik orang lain. Karena itu, karya-karya yang punya orientasi kultural tampaknya jauh lebih bagus kalau digarap oleh mereka yang mengalaminya langsung, oleh mereka yang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang mereka tulis.

Ditilik dari peluang untuk menghasilkan cerita yang bagus, sebenarnya bersyukurlah para pengarang Bali, karena mereka memiliki adat istiadat yang tak hanya terus menerus menjadi penyangga harmoni kehidupan, tetapi juga merupakan sebuah warisan yang memiliki banyak titik terciptanya konflik. Namun, kendati konflik-konflik itu sudah tersedia di depan hidung seorang pengarang, tetap saja dituntut keterampilan tinggi untuk menuliskannya untuk menjadi cerita memikat, tidak terjerembab menjadi cerita hasutan. Salah menuliskan, konflik adat dan kasta yang menarik dari kaca mata pengarang fiksi, bisa menjadi alat memperparah keadaan anti-kemapanan.

Sebaliknya, keberhasilan mengangkatnya menjadi cerita menarik, akan meluruskan kekeliruan pemahaman tentang nilai-nilai tradisi, dan memperjelas pengertian posisi dan peran kasta. Ia akan menjadi kisah-kisah kemanusiaan tentang masyarakat yang memperjuangkan harkat dan kebebasan mereka. Sebab, banyak adat istiadat ketinggalan zaman yang dipertahankan, tanpa diiringi kemampuan mengaktualisasikannya, yang justru memperkeruh keadaan, dan menyuburkan feodalisme. [T]

*Tulisan ini disampaikan Gde Aryantha Soethama dalam Seminar Internasional Sastra Indonesia di Bali yang diselenggarakan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar-Bali, 10-13 Oktober 2019

Tags: balikonflikkonflik adatsastrasastra bali modernSeminar Internasional Sastra Indonesia di Bali
Share71TweetSendShareSend
Previous Post

[Pidato Umbu Landu Paranggi] – KemBali ke Bali: KemBali ke Kedalaman Akar-Dasar Sastra

Next Post

Upah Tenaga Kerja, “Upah Besi” dan Hukum Pasar

Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama

Dikenal sebagai wartawan kawakan, penulis esai dan cerpen. Bukunya Bolak Balik Bali ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006). Tahun 2016 diberi penghargaan Kesetiaan Berkarya oleh Kompas.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

Upah Tenaga Kerja, “Upah Besi” dan Hukum Pasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co