25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengepak di Tengah Badai 

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
in Ulas Buku
Mengepak di Tengah Badai 

Sampul buku Kepak Sayap Bunda

  • Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!”
  • Penulis : A. Kusairi, dkk.
  • Editor : Dyah Nkusuma & Erndra Achaer
  • Penerbit : Gerbang Literasi Nusantara, Jakarta
  • Cetakan : I, Desember 2025 
  • Tebal : 542 halaman
  • QRCBN : 62-159-3341-228

Di tengah belantara persoalan anak dan perempuan yang kian rumit di Indonesia, mulai dari kekerasan domestik, kemiskinan struktural, hingga rapuhnya sistem perlindungan sosial, sastra kembali memperlihatkan watak dasarnya sebagai ruang keberpihakan. Ia tidak sekadar menjadi panggung keindahan bahasa, melainkan medan kesaksian, empati, dan perlawanan yang halus namun mengendap lama di kesadaran pembaca. Dalam lanskap inilah antologi Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” menegaskan relevansi sosialnya sekaligus membuka medan uji estetik yang tidak ringan.

Peluncuran buku setebal 542 halaman ini yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, mengandung simbolisme yang kuat. Hari Ibu tidak direduksi menjadi seremoni sentimental, melainkan dimaknai sebagai momentum refleksi tentang peran ibu sebagai fondasi keberanian, ketahanan batin, dan arah moral anak-anak bangsa. Dengan melibatkan ratusan kontributor dari beragam latar, antologi ini menjelma menjadi semacam orkestrasi suara kolektif yang memotret luka, harapan, serta daya lenting kemanusiaan.

Dukungan dari unsur pemerintah, sebagaimana disampaikan dalam sambutan perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mempertegas bahwa proyek ini bukan sekadar perayaan literasi, tetapi ikhtiar etik untuk mengangkat isu kemanusiaan ke ruang publik yang lebih luas. Sastra, dalam konteks ini, diposisikan sebagai mitra kesadaran sosial, bukan ornamen kebudayaan yang steril dari realitas.

Namun, justru pada titik keberpihakan itulah problem estetik mulai menuntut pembacaan kritis. Antologi ini memikul beban pesan ideologis yang besar: membela anak, meneguhkan keberanian, dan melawan kekerasan struktural. Pada sejumlah karya, misi moral tersebut terasa terlalu menekan ekspresi artistik, sehingga bahasa kerap bergerak lurus, deklaratif, dan minim lapisan imajinatif. Kita menemukan larik-larik hipotetik semacam, “Jangan gentar, hadapilah dengan tawakal/ Sesungguhnya, kesulitan sesuai kemampuan/” (hlm 52) atau “Jangan kaulupakan rahmat Allah/ Dalam rumitnya kehidupan/ Ingatlah Dia/ Tuhanmu” (hlm 28). Beberapa puisi tampil seperti slogan motivasi yang efektif menggugah emosi, tetapi kurang memberi pengalaman puitik yang mendalam. Bahasa menjadi alat khotbah, bukan wahana permenungan.

Gejala serupa tampak dalam beberapa cerpen yang cenderung didaktik. Alur bergerak sederhana, konflik dipetakan secara hitam-putih, dan penyelesaian dihadirkan sebagai simpulan moral yang eksplisit. Kepastian nilai yang terlalu terang justru menutup kemungkinan ambiguitas psikologis, padahal wilayah abu-abu itulah yang sering menjadi napas sastra. Misalnya dalam dialog penutup hipotetik, “Semoga generasi Rahman, generasi Gen Z kampung Tanjung Ara menjadi anak Merah Putih yang sehat, terbebas dari narkoba, tetap semangat untuk membangun kampungnya juga membangun bangsanya” (hlm 456). Ketika tokoh hanya berfungsi sebagai corong pesan, bukan sebagai manusia dengan kerumitan batin, cerita kehilangan daya hidupnya.

Meski demikian, antologi ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam kecenderungan normatif. Di antara kepadatan suara, muncul karya-karya yang mampu menjaga jarak kreatif antara pesan dan ekspresi. Beberapa puisi memilih jalur simbolik dan metaforis, menghadirkan luka bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai bisikan batin yang menggetarkan. Metafora bekerja membuka ruang tafsir, mengajak pembaca berdiam sejenak dalam kontemplasi, bukan sekadar menerima pesan secara mentah. Misalnya melalui citraan, “Luka itu lentera yang tak pernah padam/ meski sering digoda angin malam” (hlm 30).

Sejumlah karya juga menunjukkan kedalaman psikologis yang lebih matang. Konflik tidak disederhanakan sebagai pertarungan antara benar dan salah, melainkan dipahami sebagai pergulatan batin yang berlapis. Tokoh tidak serta-merta menjadi berani, melainkan melewati keraguan dan ketakutan yang berlapis, seperti tergambar dalam puisi, “Kembalilah anakku/ pada pelukan ibumu/ demi mendekap asa/ yang berjalan bersimbah masa/” (hlm 221). Di titik inilah sastra menemukan martabatnya: menghadirkan kompleksitas hidup tanpa menggurui.

Persoalan lain yang patut dicatat adalah aspek kurasi. Dengan jumlah kontributor yang sangat besar, kualitas artistik terasa belum sepenuhnya konsisten. Karya-karya yang kuat dalam metafora, penokohan, dan irama bahasa berdampingan dengan teks yang masih mentah, sarat diksi klise, dialog informatif, serta karakter yang tipologis. Antologi ini lebih menyerupai panorama semangat kolektif daripada pameran mutu estetik yang dikurasi secara ketat.

Namun, justru di situlah nilai dokumenternya menguat. Buku ini merekam denyut kesadaran sosial para penulis dalam merespons isu anak dan perempuan pada zamannya. Ia menjadi arsip moral yang memperlihatkan keberanian sekaligus keterbatasan bahasa sastra ketika berhadapan dengan luka sosial yang kompleks dan berlapis.

Pada akhirnya, membaca Kepak Sayap Bunda berarti memasuki wilayah tegangan antara etika dan estetika. Ketika keduanya bertemu dalam keseimbangan, karya menjadi hidup, berumur panjang, dan memberi resonansi mendalam. Sebaliknya, ketika salah satunya mendominasi, sastra berisiko tergelincir menjadi pamflet yang cepat kehilangan daya pikat.

Bagaimanapun, antologi ini tetap layak diapresiasi sebagai upaya hangat dan relevan untuk merawat nurani publik. Ia mengingatkan bahwa sastra bukan hanya urusan keindahan bahasa, melainkan juga cara manusia menjaga kepekaan moral di tengah dunia yang kerap abai. Buku ini tidak sekadar menghimpun puisi dan cerpen, tetapi menyerukan keberanian anak-anak bangsa untuk terus mengepakkan sayapnya, meski angin kehidupan kerap berembus tidak ramah. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: antologi puisiBukubuku cerpenbuku puisiresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teknologi Membuat Hidup Tak Terbatas, Tapi Juga Membatasi Hidup

Next Post

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co