2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

I Putu Aryawan by I Putu Aryawan
January 19, 2026
in Esai
KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Hooykaas dan Geertz | Sumber foto: Google

PERSELISIHAN intelektual antara Christiaan Hooykaas dan Clifford Geertz mengenai pemahaman agama dan tradisi Bali merepresentasikan salah satu kontestasi epistemologis paling menarik dalam kajian Indonesia kontemporer. Pertarungan ini bukan sekadar perbedaan interpretasi parsial, melainkan cerminan dari dua paradigma fundamental yang berbeda secara diametral dalam cara memandang, membaca, dan memahami realitas budaya. Di satu sisi berdiri tradisi filologi Eropa dengan keanggunan metodologisnya yang teliti terhadap teks, di sisi lain hadir antropologi interpretatif Amerika dengan kepekaan etnografisnya terhadap praktik sosial. Keduanya mengklaim otoritas dalam mengungkap “Bali yang sesungguhnya”, namun melalui jalan yang bertolak belakang.

Hooykaas, sebagai pewaris tradisi filologi klasik, membangun pemahaman tentang Bali melalui penelusuran mendalam terhadap lontar, kakawin, kidung, dan berbagai manuscript kuno yang tersimpan dalam perpustakaan puri, grya maupun pura. Baginya, esensi peradaban Bali terletak pada kontinuitas tekstual yang menghubungkan praktik kontemporer dengan akar filosofis Hindu-Buddha yang termaktub dalam kesusastraan klasik. Pendekatan ini mengandaikan bahwa kebenaran budaya dapat diakses melalui rekonstruksi filologis yang cermat, di mana setiap ritual, setiap praktik keagamaan, harus ditelusuri genealogi intelektualnya hingga ke sumber-sumber tekstual yang otoritatif. Metodologi ini mensyaratkan penguasaan bahasa Bali Kuno, Sansekerta, dan Jawa Kawi, serta pemahaman mendalam tentang tradisi literasi yang panjang dan kompleks.

Geertz, sebaliknya, mengoperasikan paradigma antropologi simbolik yang memperlakukan budaya sebagai “jaring-jaring makna” yang ditenun oleh manusia sendiri. Karyanya yang monumental, terutama The Interpretation of Cultures dan Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali, menggunakan metode “thick description” untuk membaca praktik-praktik sosial sebagai teks yang dapat ditafsirkan. Sabung ayam, dalam pandangan Geertz, bukan sekadar hiburan atau perjudian, melainkan narasi dramatis tentang status, kehormatan, dan hierarki sosial yang dikodekan dalam ritual yang tampaknya profan. Ia mencari makna bukan dalam manuskrip yang tersimpan rapi di perpustakaan, melainkan dalam kehidupan sehari-hari yang berlangsung di arena publik, di pasar, di pura pada saat odalan, di lapangan sabung ayam.

Kritik Hooykaas terhadap Geertz bertumpu pada tuduhan reduksionisme dan superfisialitas. Hooykaas menganggap bahwa fokus Geertz pada fenomena eksoteris seperti sabung ayam mengabaikan kedalaman sistem kepercayaan yang terstruktur dalam teks-teks suci. Agama Hindu-Bali, dalam pandangan Hooykaas, bukanlah semata-mata sistem simbolik yang dapat dibaca dari perilaku eksternal, melainkan tradisi intelektual yang koheren dengan kosmologi, ontologi, dan soteriologi yang rumit. Menjelaskan Bali tanpa merujuk pada konsep-konsep teologis fundamental seperti Tri Hita Karana, Rwa Bhineda, atau Panca Yadnya yang termaktub dalam literatur klasik, adalah seperti menjelaskan Kristianitas tanpa merujuk pada Alkitab atau teologi Patristic.

Lebih jauh, Hooykaas mempertanyakan legitimasi epistemologis pengamatan partisipatif yang menjadi andalan Geertz. Bagaimana mungkin seorang peneliti asing, yang menghabiskan waktu terbatas di lapangan, dapat mengklaim memahami sistem makna yang telah berkembang selama berabad-abad dan terkodekan dalam bahasa yang asing baginya? Bukankah pemahaman sejati memerlukan penguasaan terhadap arsip tekstual yang menjadi referensi normatif bagi para brahmana, pedanda, dan elit intelektual Bali sendiri? Dalam perspektif ini, etnografi Geertz dianggap sebagai proyeksi interpretatif yang lebih mencerminkan kerangka teoritis Barat kontemporer daripada realitas kognitif masyarakat Bali.

Namun, dari sudut pandang antropologis, kritik Hooykaas juga dapat dipandang sebagai manifestasi dari fetisisme tekstual yang mengabaikan dimensi performatif dan dinamis dari praktik budaya. Geertz dapat berargumen bahwa teks-teks yang menjadi obsesi Hooykaas adalah produk dari elit literati tertentu pada periode historis tertentu, dan tidak serta-merta mencerminkan pemahaman religius masyarakat luas yang mayoritas buta huruf hingga abad ke-20. Sabung ayam, ritual ngaben, atau persembahan di pura, adalah praktik yang hidup dan berkembang sesuai dengan konteks sosial yang terus berubah, tidak terikat secara kaku pada preskripsi tekstual yang mungkin sudah berusia berabad-abad.

Lebih mendasar lagi, Geertz mempertanyakan asumsi bahwa makna budaya harus selalu ditelusuri ke sumber tekstual yang otoritatif. Bukankah makna itu diproduksi, direproduksi, dan ditransformasi melalui praktik sosial itu sendiri? Bukankah sebagian besar orang Bali mengalami dan memahami agama mereka bukan melalui pembacaan lontar, melainkan melalui partisipasi dalam ritual, festival, dan interaksi sosial sehari-hari? Dalam kerangka ini, tuduhan superfisialitas dapat dibalik: bukankah pendekatan filologis yang terlalu terpaku pada teks justru mengabaikan kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang berlangsung di luar perpustakaan dan pura?

Yang tragis dari perdebatan ini adalah kecenderungan untuk memperlakukan kedua pendekatan sebagai saling meniadakan, padahal keduanya sesungguhnya komplementer. Hooykaas memberikan kita akses ke tradisi intelektual yang terstruktur, ke genealogi ide yang menghubungkan praktik kontemporer dengan akar filosofis klasik. Tanpa perspektif ini, kita kehilangan kedalaman historis dan kontinuitas kultural yang menjelaskan mengapa Bali mempertahankan identitas yang begitu kuat di tengah gelombang modernisasi.

Geertz, di sisi lain, mengingatkan kita bahwa budaya bukanlah museum teks yang membeku dalam waktu, melainkan proses kreatif yang terus-menerus di mana makna dinegosiasikan, dikontestasikan, dan ditransformasi. Tanpa sensibilitas etnografis ini, kita berisiko jatuh pada esensialisme yang mengabaikan agensi kreatif masyarakat dalam merespons perubahan zaman.

Pertarungan antara Hooykaas dan Geertz pada akhirnya mengajak kita untuk melampaui dikotomi artifisial antara teks dan praktik, antara elite dan massa, antara kontinuitas dan perubahan. Pemahaman yang komprehensif tentang Bali, atau budaya apa pun, memerlukan perhatian simultan terhadap arsip tekstual yang menjadi referensi normatif dan praktik sosial yang menghidupkan, memodifikasi, bahkan kadang-kadang mengkhianati teks tersebut. Kritik tajam Hooykaas mengingatkan kita akan bahaya reduksionisme etnografis, sementara inovasi metodologis Geertz membebaskan kita dari tirani teks yang dapat menjauhkan kajian budaya dari kehidupan yang sesungguhnya. Dalam dialektika ini, Bali dengan segala kompleksitas, kedalaman, dan vitalitasnya terus menantang, memikat, dan mengundang pemahaman yang lebih kaya dan nuansanya. [T]

Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliClifford GeertzEfistemologiHooykaas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengepak di Tengah Badai 

Next Post

Menyalakan Harapan di Tengah Luka Warga yang Menganga

I Putu Aryawan

I Putu Aryawan

Pengamat atau akademisi, aktif sebagai dosen di fakultas filsafat dan ilmu agama UNHI Denpasar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Menyalakan Harapan di Tengah Luka Warga yang Menganga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co